My Boss Is Ice Cold

My Boss Is Ice Cold
Chapter 21



Surat pengunduran diri. Keputusan itu tiba tiba saja muncul di dalam benak Ciki, setibanya di kantor Ciki langsung mengetik surat pengunduran dirinya secara resmi untuk di ajukan kepada Pak Adit sang atasan siang ini juga.


Saya harus mengambil langkah, sebelum hubungan tidak jelas kami semakin tak jelas arah dan tujuan.


"Cik, lo ada masalah ?" Tanya Renata yang dari tadi memperhatikan temannya itu murung.


"Gak kok." Jawab Ciki singkat.


"Kalau ada masalah jangan di simpan sendiri, kamu cerita, siapa tau saya bisa bantu." Ujar Renata.


"Gak apa apa ko, I am fine. No problem." Jawab Ciki berusaha senyum.


"Ya sudah, kalau kamu gak bisa cerita gak apa apa. Asal lo tau aja kalau gue selalu ada buat lo." Ujar Renata.


"Makasih yah." ujar Ciki dengan senyuman yang di buat buat.


Akhirnya Renata berhenti bertanya dan kembali ke kubinelnya melanjutkan pekerjaannya.


Derap langkah kaki pak Adit terdengar, seperti biasa ia langsung masuk ke ruangannya begitu saja. Telfon Renata berdering, Pak Adit memintanya masuk ke ke dalam. Renata melirik Ciki sekilas sebelum akhirnya menghilang di balik pintu ruangan Pak Adit. Renata keluar dari ruanggan Pak Adit dan langsung mendekat ke arah mejaku.


"Pak Adit minta tukar uang dalam bentuk Dollar Cik, kok jadi ke gue sih ?" Tanya Renata. Ciki hanya menjawab dengan gelengan kepala. "Lo sama Boss lagi berantem yah ?" Tanya Renata. Mata Ciki mendelik tajam ke arah Renata. Renata yang mendapat tatapan tajam hanya nyengir ngeri.


"Hehehe. Iya iya gue gak tanya lagi soal Boss, sory, sory. By the way ini tukarnya di mana ?" Tanya Renata lagi.


"Tanya mba Maya." Jawab Ciki singkat.


Ciki memprint out surat pengunduran dirinya.


Semoga saja tidak ada masalah dalam hal ini. Sepanjang hari Pak Adit tidak mau berkomunikasi secara langsung dengan saya, semua di sampaikan melalui Renata dan mba Maya. Entah mengapa dia membuat seolah olah saya yang bersalah dalam hal ini. Batin Ciki.


Mendekati pukul empat sore baru lah Pak Adit memanggil Ciki masuk ke dalam ruangannya. Ciki sudah bersiap siap dengan penginduran dirinya.


"Saya pergi minggu depan ke singapura selama lima hari, kamu tidak mengajukan payment buat minggu depan ?" Tanya Adit.


"Belum ada, Pak." Jawab Ciki singkat, menolak melihat langsung ke arah atasannya itu.


"Saldo petty cash kamu masih cukup ?"Tanya Adit lagi, yang dijawab dengan anggukan oleh Ciki.


"Kalau ada payment mendadak, seperti biasa kamu buat saja dulu di e-bangking, saya online di sana buat menyetujui." Ujar Adit.


"Baik, Pak." Jawab Ciki singkat.


"Ada lagi yang mendesak ?" Tanya Adit.


Ciki membaca Basmalah dalam hati, menarik nafas panjang dan menyerahkan surat pengunduran dirinya. Dahi pak Adit berkerut, membuka amplop pemberian Ciki itu perlahan dan seketika wajahnya memerah, rahangnya mengeras. " Ini apa ?" Tanya Adit dengan nada tinggi.


"Kenapa tiba tiba ?" Tanya Adit.


"Saya mendapat tawaran kerja di tempat lain, Pak." Jawab Ciki.


Hening sesaat, Pak Adit bersandar pada kursi kebesarannya. " Ciki, lihat saya."


Ciki mengangkat wajahnya perlahan, melihat ke arah Pak Adit.


"Kamu masih marah sama saya perihal kejadian kemarin ?" Tanya Adit dengan nada mulai melembut.


Ciki terdiam, dia menggigit bibir bawahnya hingga memerah. " Bapak sudah melewati batas," Ujar Ciki dengan suara pelan.


Pak Adit menarik nafas panjang. " Batas seperti apa ?" Pancing Adit. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Saya tidak mengerti kenapa bapak tiba tiba mengganggu kencan buta saya kemarin. Bapak lupa kalau hubungan kita itu hanya sebatas atasan dan bawahan, bapak bukan pacar saya dan juga bukan kerabat saya, yang bisa mengatur urusan pribadi saya. Bapak tidak punya hak mengacaukan segalanya." Celoteh Ciki begitu saja. Kini Ciki menatap Pak Adit dengan berani. "Bapak tuh bikin saya pusing, bingung dan enggak ngerti maksud bapak apa dengan semua ini. Bapak bikin semua orang salah paham dengan sikap bapak, termasuk saya." Celoteh Ciki menggebu gebu.


"Salah paham yang seperti apa, nona Citra Kirana ? Apa yang mau kamu dengar soal pertanyaan kamu, apa yang membuat kamu bingungdl dengan sikap saya kepada kamu ?Tanyakan denga saya dengan jelas sekarang, Ciki." Ujar Adit.


Jantung Ciki mulai berdetak tak beraturan, memompa dengan cepat. Pak Adit mencondongkan tubuhnya ke arah Ciki, bersyukur masih ada pembatas meja besar yang menjaga jarak antara dirinya denga Pak Adit.


"Yang kamu mau dengar adalah perasaan terhadap kamu, begitu kan." Tantang Adit. Ciki mungkin lupa dengan karakter Bossnya, bahwa Bossnya itu tipikal orang yang to the point, tidak suka basa basi, embel embel dan segala macamnya. Kata kata Ciki barusan malah membuat nyalinya ciut. Dia mendorong kursi kebelakang agak menjauh dari meja, kemudian berdiri.


"Saya resign, titik." Ujar Ciki. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah satu kata 'kabur' dengan gerakan cepat ciki berusaha pergi dari ruangan itu, entah kenapa jarak menuju pintu malah terasa sangat jauh. Saat akhirnya Ciki berhasil menyentuh handle pintu, tangannya tertahan oleh tangan kekar dari belakang yang sudah dapat di pastikan itu adalah tangan Pak Adit.


Pak Adit mendekat dan mengunci pergerakan Ciki dengan kedua lengannya yang di tempelkan ke pintu.


"Saya suka sama kamu nona Citra Kirana." Ujar Adit. Suaranya pelan, tepat di telinga Ciki seakan menembus jantungnya. Kakinya bergetar hebat. Hal ini jauh lebih mengerikan di bandingkan saat Nandar memutuskan dirinya.


Ciki mendorong dada bidang Pak Adit sekuat tenaga, kemudian dengan cepat membuka pintu dan berlari menjauh dari ruangan yang membuat jantungnya seakan meronta ingin keluar dari tempatnya.


Ciki mengemas barang barang pribadinya yang ada di kantor, dia benar benar sudah memutuskan untuk resign dari kantor itu. Walaupun dirinya menyayangkan kalau harus keluar dari perusahaan yang memiliki gaji cukup besar untuk menghidupi dirinya denga adiknya. Tapi dia tidak ingin terlibat dengan orang orang yang berkuasa, dirinya sudah cukup di permainkan dengan orang orang berada. Dia kembali mengingat kejadian saar Nandar menyatakan cinta pada dirinya, seakan semuanya terasa nyata. Nandar memperlakukan dirinya dengan baik, memperhatikan dirinya. Ciki merasa dirinya paling beruntung di sukai oleh pria sempurna, sebelum akhirnya kejadian menyakitkan itu datang. Nandar memutuskannya saat kekasih masa kecilnya kembali, dirinya seakan di jadikan pemeran pengganti saat pemeran utama lagi sibuk. Ciki berfikir Pak Adit juga menjadikan dirinya sebagai hiburan saat waktunya tiba dia akan di buang seperti barang yang tidak berguna lagi.


"Aku benci sama Pak Adit." Batin Ciki.


********


Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..


Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.


jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊