
Sesampainya di parkiran apartemen, Adit membangunkan Ciki dengan menepuk pelan pipi Ciki.
"Sudah sampai ya, Pak." Tanya Ciki.
"Iyah,"Ujar Adit.
Adit mengambil belanjaan di bagasi mobil, dan membawanya masuk ke dalam apartemen Ciki.
"Kakak udah pulang. Eh, kakak ipar." Ujar Fitri.
"Iyah, Fitri sudah makan ?" Tanya Ciki.
"Belum, nunggu kakak." Jawab Fitri.
"Nih, ambil. Bantuin kakak masak di dapur. Saya mau ganti baju dulu." Ujar Ciki menyerahkan belanjaan nya ke Fitri.
"Bapak, duduk dulu. " Ujar Ciki ke Adit.
Adit mengangguk sembari duduk di sofa suang keluarga sambil menunggu Ciki selesai memasak.
Fitri berlalu ke dapur sedangkan Ciki ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, kemudian ke dapur bergabung dengan sang Adit untuk memasak.
Setelah masak Ciki memanggil Adit untuk makan bersama. Selesai makan Adit membantu Ciki mencuci piring.
Adit melirik jam tangannya, sudah menunjukan pukul delapan malam.
"Sudah larut malam, kalau begitu saya pulang dulu." Ujar Adit yang di jawab dangan anggukan oleh Ciki.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Ekhem." Adit terbatuk kecil dan berdehem berkali kali, dia mendekatkan wajahnya pada Ciki, matanya hampir terpejam. Tapi Ciki mulai panik, dia bergegas masuk ke dapur, Adit ke bingungan melihatnya.
Dia kenapa ? Batin Adit.
Tidak lama, Ciki kembali dengan membawa segelas air putih. " Ini Pak." Ujar Ciki memberikan gelas itu ke pada Adit.
Adit menerimanya, walaupun Adit kebingungan. Kenapa Ciki memberinya air minum. Ciki mengangguk mempersilahkan Adit untuk minum. Tapi Adit mengerutkan dahinya. "Buat apa ?" Tanya Adit.
"Kok buat apa ? Ya, buat di minum lah Pak. Kan tadi bapak tersedak." Ujar Ciki dengan polosnya.
Kenapa saya bisa mencintai wanita polos seperti, Ciki. Batin Adit menjerit.
*Kenapa Ciki tidak peka ? Padahal saya mencium atau di cium oleh Ciki, seperti pasangan pada umumnya jika kekasihnya akan pulang maka ada ciuman walaupum sebatas cium pipi saja sudah cukup. Maka dari itu saya memberikan kode padanya, tapi yang ada Ciki salah mengartikan kodenya.
Apa aku salah kasih kode yah* ? Batin Adit.
"Pak, di minum dulu airnya." Perintah Ciki. Dengan berat hati, Adit meneguk habis air putih itu. " Lain kali hati hati, jangan sampai tersedak lagi, Pak." Ujar Ciki. Adit hanya mengangguk.
Nasib punya pacar polos. Batin Adit.
"Saya pulang dulu." Ujar Adit sembari berjalan ke pintu yang di ikuti oleh Ciki.
"Iyah hati hati, sayang." Ujar Ciki. Adit membalikkan badannya berhadapan dengan Ciki, Ia menatap kekasihnya itu dengan lembut."
"Liat wajahku." Perintah Adit.
"Kenapa ?" Tanya Ciki sembari mengikuti perintah Adit untuk mendongak melihat wajah tampan kekasihnya, karena berhubung Adit mempunyai perbedaan tinggi yang sangan berbada dan jika ingin melihat wajah Adit, otomatis Ciki harus mendongak.
Cup!
"Selamat malam sayang." Adit segera berjalan menuju parkiran. Sedangkan Ciki masih mematung di tempatnya. Dia memegang dadanya dengan tangan kanannya karena jantung nya terasa berdebar hebat, sedangkan tangan kirinya menyentuh bibirnya yang baru saja di cium oleh Adit. Kemudian dia melirik kedalam rumahnya, takut kalau ada Fitri melihatnya. Tapi Ciki bisa menghela nafas lega saat keduanya tidak ada di sana. Ciki tersenyum senang.
"I love you My Boss Kutub." Gumam Ciki. Tanpa Ciki tahu, Fitri telah mengintip lewat lobang pintu kamarnya.
Fitri keluar dari persembunyian nya saat memastikan Adit sudah benar benar pulang.
"Ekhm, ada yang lagi kasmaran nih.Mentang mentang punya pacar main sosor aja di depan orang jomblo." Ujar Fitri yang tengah bersandar di pintu kamarnya sembari menaik turunkan alisnya menghoda sang kakak.
Betapa kagetnya Ciki, ternyata Fitri melihat kejadian tadi. Mukanya berubah menjadi merah merona.
"Idih, galak amat. Katanya gak bakalan suka sama kakak ipar yang angkuh, dingin itu, tau taunya udah main cium aja." Ujar Fitri ngelek.
"Emang saya pernah bilang gitu." Ujar Ciki pura pura lupa.
"Idih, mendadak amnesia nih, kakak gue. Tapi tenang saja adikmu ini merestui hubungan kalian." Ujar Fitri.
Ciki hanya tersenyum malu.
"Ngomong ngomong hubungan kakak udah sampai mana, kakak udah pernah ngapai aja sama kakak ipar ?" Tanya Fitri yang terus menggoda kakaknya itu.
" Fitri." Teriak Ciki, Fitri langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya rapat rapat sembari tertawa senang melihat kakaknya malu malu itu.
Soal pacaran Fitri memang lebih berpengalaman di banding kakaknya yang hanya mempunyai satu mantan.
****
"Ciki, keruangan saya." Perintah Adit sembari berlalu memasuki ruangannya. Ciiki yang mendengar perintah Bossnya itu, seketika berdiri dan berjalan menuju ruangan sang Boss sekaligus kekasihnya itu.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." Ujar Adit dari dalam ruangan.
Ciki masuk, kemudian menutup kembali pintu ruangan dan mendekat ke meja Bossnya.
"Ada apa, Pak ?" Tanya Ciki.
"Duduk dulu," Ujar Adit sembari berdiri dan menarik tangan Ciki ke sofa yang berada di ruangan.
"Hari ini, saya ingin berkunjung ke rumah keluargamu." Ujar Adit lembut.
"Mau apa, Pak." Tanya Ciki.
"Ayah dan Ibu saya ingin melihatmu." Ujar Adit.
"Kalau mau melihatku, gak perlu ke rumah keluargaku juga kan, Pak." Ujar Ciki.
"Orang tua ku ingin mengenal keluargamu, sayang." Ujar Adit dengan nada lembut.
"Saya tidak punya keluar selain Fitri, dan keluarga kak Stefan." Ujar Ciki.
"Kamu siap kan, kalau dekat dekat ini keluar dari kantor ?" Tanya Adit sembari tersenyum lembut ke arah Ciki. Dia mengelus pelan pipi Ciki.
"Ke- kenapa ?" Tanya Ciki, hatinya merasa tidak enak.
"Saya ingin melamarmu sayang." Ujar Adit. Ciki terkejut dengan pernyataan Adit, ia tidak mengira Adit benar benar serius padanya.
"Melamar ?" Tanya Ciki memastikan. Adit hanya mengangguk seraya tersenyum.
"Saya sudah tidak mudah lagi, Ciki. Bukan waktunya untuk saya berpacaran, saya mau segerah menikah." Ujar Adit. " Saya ingin mempunyai anak, bermain dengan sang buah hati saat hari libur." Sambung Adit sembari tersenyum membayangkannya.
"Saya belum menghubungi, mami dan papi. Bagaimana kalau besok baru di bicarakan lagi, setelah saya membicarakan dengan mami dan papi. Takutnya mereka sibuk." Ujar Ciki meminta waktu untuk membicarakan dengan keluarga Stefan yang sudah Ciki anggap sebagai keluarga.
"Baiklah," Ujar Adit menyetujui.
"Tapi bisakah saya meminta waktu sebulan lagi, untuk berfikir lagi." Ujar Ciki.
"Baiklah, saya akan memberikan kamu waktu untuk mempertimbangkan nya. Tapi jangan sebulan, itu terlalu lama sayang. Bagaimana kalau seminggu." Ujar Adit.
"Baiklah, makasih Pak." Ciki memeluk Adit erat, Adit menerima pelukannya. Walaupun sebenarnya Adit tidak bisa untuk menunggu terlalu lama, ingin segera cepat cepat menikah. Tapi setidaknya dia harus memikirkan perasaan Ciki, mungkin Ciki memang membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan keputusannya.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊