
Adit dan Ciki ke butik untuk memesan baju pengantin mereka. Adit sangat senang dan tidak sabar lagi akan hari pernikahan mereka. Sesampai di butik Ciki dan Adit mulai memilih milih yang akan mereka gunakan nanti di hari spesialnya.
Adit terpesona saat Ciki keluar dari ruang ganti dan memakai gaun pengantinnya, gaun kebaya coklat itu akan dia kenakan saat akad nikah nanti. Ciki tampak cantik, Adit sampai tak rela beralih pandangannya walau hanya berkedip sekali pun.
"Bagus, gak ?" Tanya Ciki.
"Cantiknya perfect." Ujar Adit memuji sembari mengcungkan ke dua jari jempolnya. Ciki tersenyum malu malu mendapat respon berlebihan dari Adit.
"Ayo, coba gaun yang satu lagi." Ujar pegawai butik menyadarkan mereka dari tatap tatapan penuh cinta yang membuat iri para kaum jomblo.
Ciki segera masuk kembali ke ruang ganti, beberapa menit kemudian Ciki keluar dengan gaun pengantin keduanya yang berwarnah putih, kecantikan Ciki semakin bertambah.
"Kalau begini, saya jadi mau menikahimu hari ini." Bisik Adit pada Ciki. Ciki semakin merona dengan gombalan Adit. Adit mendekatkan wajahnya ke wajah Ciki, sedikit lagi bibirnya akan menyentuh bibir Ciki. Tapi-
"Baju ke tiga, mau di coba sekarang ?" Tanya pegawai butik. Adit menghela nafas kesal, lagi lagi pegawai itu mengganggu momennya.
Gue salah apa sih, sama ni orang. Ganggu melulu, sirik kali nih. Batin Adit kesal.
"Iyah." Ujar Ciki, dan segera menjauh dari Adit. Ciki lebih baik menghindar dari pada di seret ke kantor polisi karena di tuduh berbuat mesum.
"Saya memang tidak salah memilih istri cantik kaya kamu." Ujar Adit setelah Ciki keluar dari ruang ganti yang ke tiga kalinya. Bagi Adit Ciki memakai baju apapun tetap cantik.
Setelah selesai mencoba gaun pengantin yang akan mereka pakai saat hari spesial, Adit dan Ciki segera keluar dari butik.
"Mau singgah makan dulu, sayang." Tanya Adit setelah berada di dalam mobil.
"Langsung pulang saja, mas. Saya ingin masakin kamu." Ujar Ciki tersenyum, yang tentu saja Adit senang karena akan memakan masakan wanitanya.
"Oke, segera meluncur." Ujar Adit sembari menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran butik itu.
"Kamu, sukanya makan apa ?" Tanya Ciki.
"Em, saya paling suka makan semur jengkol sih. Tapi masakan apapun yang kamu masak pasti aku suka." Ujar Adit menggoda Ciki.
"Baiklah, kalau begitu kita singgah di pasar dulu beli jengkol." Ujar Ciki.
"Kamu bisa masak semur jengkol ?" Tanya Adit.
"Kamu remehin saya ? Jangan salah yah, walaupun saya jarang masak tapi kalau soal masakan tradisional, gak bakalan kalah sama masakan nenek nenek dulu." Ujar Ciki membanggakan dirinya.
"Sudah cantik, pintar masak. Perfect, idaman banget." Ujar Adit ngegombal, wajah Ciki berasa panas karena pujian Adit.
Sesampainya di parkiran apartemen Ciki, mereka segera turun dari mobil. Tak lupa Ciki mengambil jengkol yang ia beli tadi di pasar.
***
Adit duduk di sofa ruang tamu, bersantai sembari menunggu Ciki dan Fitri selesai masak. Tidak lama masakan kakak beradik itu sudah siap di santap, tak lupa Ciki memasak semur jengkol kesukaan calon suaminya itu, walau pun dirinya tidak terlalu suka makan jengkol.
"Mas, ayo makan." Ujar Ciki.
Adit beranjak dari tempat duduknya menuju meja makan untuk makan malam bersama dengan wanitanya dan tentu saja di sana ada Fitri yang menjadi obat nyamuk alias penghalang Adit untuk bermesraan dengan Ciki.
Ciki sangat lapar karena dari tadi siang belum makan. Adit mengajaknya makan di luar, tapi ia bertekat untuk memasakkan makanan ke sukaan Adit. Al hasil dia benar benar lapar sampai ia mengambil makanan dengan porsi banyak. Fitri meliriknya mengambil makanan.
"Kakak Ciki, jangan terlalu banyak makan. Kakak mau saat hari H, baju kakak tidak muat." Ujar Fitri.
Ciki berfikir sejenak. " Iya yah, habis gue laper banget. Dari tadi siang belum makan. Tapi demi gaun pengantin, gue harus diet nih." Ujar Ciki segera mengurangi porsi makannya.
"Makan saja dulu, kan masih ada besok. Nanti besok baru diet." Ujar Adit.
"Mas Adit memang selalu mengerti perasaanku." Ujar Ciki lebay dengan mata berbinar memakan kembali makanannya yang sempat ia simpan.
Adit tersendak mendengar Fitri menyebut panggilan Ciki kepadanya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Kalau makan pelan pelan, Mas." Ujar Ciki sembari menyodorkan minuman ke Adit, segera Adit meminum habis air pemberian Ciki. Setelah merasa baikan Adit segera menatap Ciki.
"Manusia tidak berperi kemanusiaan, Boss kutub, apa lagi tadi ?" Ujar Adit. Ciki hanya bisa cengengesan mendengar Adit mengulangi perkataan Fitri tadi.
"Itukan dulu, sayang." Ujar Ciki.
"Tidak apa sayang, saya memafkan kamu. Sebentar lagi kan kamu jadi istriku, jadi kali ini saya memaafkan kamu." Ujar Adit sembari tersenyum.
"Makasih sayang. Nih, makan lagi semur jengkol khusus saya buat untuk calon suamiku." Ujar Ciki sembari memberikan se sendok semur jengkol ke piring Adit.
"Masakan kamu emang paling enak." Puji Adit.
Fitri gerah di buat kedua sejoli yang sedang bermanja manja di depannya itu. Fitri telah selesai makan, ia segera minum kemudian berdiri dari tempat duduknya.
"Lebay banget sih lu berdua. Gue udah kenyang liat kalian bermesraan. Gue mau istirahat, malas liat kalian berdua." Ujar Fitri, sembari melangkah menuju kamarnya meninggalkan Adit dan Ciki di ruang makan.
"Idih, sirik." Ujar Adit.
Selesai makan Ciki membereskan piring kotor dan mencucinya. Adit ingin membantu kekasihnya itu mencuci piring kotor, hanya Ciki melarangnya. Yah, katanya nanti saja setelah jadi suami istri. Adit hanya memperhatikan Ciki yang sibuk mencuci piring kotor.
Setelah selesai mencuci piring, Ciki segera mencuci tangannya.
Ciki terkejut saat membalikkan badannya dan mendapati Adit tepat di depannya, jarak meraka sangat dekat. Jantungnya serasa memompa dengan cepat, Ciki sangat gugup dan tak sadar menggigit bibir bawahnya. Adit yang melihat tingkah Ciki, membuatnya tidak bisa menahan untuk sekedar mengecum bibir Ciki.
"Ekhem, di tinggal beberapa menit aja yeh. Udah mulai macem macem." Ujar Fitri yang keluar dari kamarnya. Sontak saja Ciki dan Adit salah tingkah.
Adit berpura pura melihat jam tangannya.
"Sudah larut malam, saya pulang dulu yah." Ujar Adit mengalihkan pembicaraan Fitri.
"Iyah, kakak ipar besok gak boleh ketemu sama kak Ciki lagi yah." Ujar Fitri.
" Kenapa ?" Tanya Adit sembari mengerutkan keningnya.
"Seminggu lagi kan, kakak akan menikah. Kak Ciki harus di pingit. Gak boleh ketemu sama calon suaminya, pamali." Ujar Fitri.
"Hm, Iyah deh. Tapi nelfon masih bisa kan ?" Tanya Adit.
"Terserah, kalau saya bilang gak boleh nanti kakak ipar bisa nyulik kakak gue lagi." Ujar Fitri sembari tertawa.
"Ya sudah, saya pulang dulu yah sayang." Ujar Adit.
"Yah hati hati, mas." Ujar Ciki.
Adit segera berjalan keluar, dan berhenti tepat di dekat Fitri.
" Lain kali jangan suka ganggu." Bisik Adit ke Fitri sembari tertawa kecil.
"Ih, dasar bucin." Ujar Fitri.
"Biarin." Jawab Adit.
Ciki tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, Ia hanya bahagia karena Fitri dan Adit terlihat akrab jadi tidak usah Ciki bersusah susah meyakinkan Adiknya untuk menyetujui pernikahan mereka.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊