
Ciki duduk termenung menatap TV dengan tatapan kosong. Fitri menghampiri kakaknya yang kini sedang duduk di ruang keluarga.
"Kakak kenapa ? Dari tadi saya perhatikan, kakak seperti memikirkan sesuatu ?" Tanya Fitri.
"Fitri, kamu kagetin aja." Ujar Ciki tersadar dari lamunannya.
"Emang kakak mikirin apa ? Kalau ada masalah cerita ke Fitri kak, jangan tanggung sendiri. Fitri udah besar, kakak bisa cerita ke Fitri ." Ujar Fitri sembari mengambil posisi tempat duduk di samping kakaknya itu.
"Em, menurutmu Pak Adit orangnya gimana ?" Tanya Fitri.
"Cakep, baik. Emangnya kenapa tanya begitu kak ?" Ujar Fitri.
"Kalau kakak nikah sama Pak Adit, kamu setuju gak ?" Tanya Fitri.
"Yah, kalau aku sih setuju setuju saja, asal kakak bahagia. Kenapa saya harus tidak setuju. Lagian saya liat Pak Adit juga orangnya baik, gagah lagi. Emang kenapa tanya gitu kak, Pak Adit mau lamar kakak ?" Tanya Fitri.
Ciki mengangguk.
"Em, Pak Adit mau ke rumah keluarga kita. Orang tuanya Pak Adit ingin bertemu dengan keluarga kita, dia mau lamar kakak. Katanya dia tidak ingin berapacaran lama lama, dia langsung mau halalin kakak." Ujar Ciki.
"Bagus dong kak, berarti kakak ipar serius dengan kakak. Terus apa lagi yang harus kakak pikirin. Kakak juga suka kan, sama kakak ipar ?" Ujar Fitri.
Ciki terdiam sesaat. "Em kakak juga suka sama Pak Adit, hanya saja kakak masih ingin kerja." Ujar Fitri.
"Kakak ipar pasti ngizinin kakak untuk kerja kok." Ujar Fitri.
"Tapi di kantor tidak di izinkan pasangan suami istri untuk kerja di persahaan yang sama." Ujar Ciki.
"Kakak kan, bisa cari kerja di tempat lain. Di perusahaan kak Stefan juga bisa." Ujar Fitri.
"Kalau begitu kakak fikir fikir dulu." Ujar Ciki.
"Jangan banyak mikir kak, nanti kakak ipar lelah nunggu kakak. Jangan sia sia in, kalau memang kakak juga menyukainya. Nanti bakalan nyesel sendiri lo." Ujar Fitri. Ciki mengangguk pelan.
"Semua keputusan tetap ada di tangan kakak kok, apapun keputusan kakak Fitri selalu dukung." Ujar Fitri sembari menepuk pelan bahu kakaknya kemudian beranjak ke kamarnya untuk memberikan waktu kakaknya berfikir.
Skip
Langit sudah menampakkam warna jingganya, Ciki sudah memantapkan hatinya untuk menerima lamaran Adit. Ia meminta Fitri untuk menemaninya ke rumah keluarga stefan untuk memberikan kabar bahagia itu. Berhubung Ciki dan Fitri tidak mempunyai keluarga lagi. Keluarga Stefan menganggap mereka berdua seperti anak kandungnya sendiri dan begitupun sebaliknya, Ciki dan Fitri menganggap Stefan, mami dan papinya adalah keluarganya. Keluarga Stefan ikut berbahagia karena sebentar lagi anak perempuan pertama mereka segera di pamar.
****
Pagi hari, Ciki bersiap siap ke kantor dan memberikan Adit kabar bahagia. Ia terus menatap ruangan Adit, menunggu ke datangan sang kekasih.
Ciki benar benar sudah tidak sabar ingin memberitahu Adit tentang keputusannya, Ciki berharap Adit akam bahagia mendengar kabar darinya. Adit keluar dari lift, Ciki tersenyum hendak menyapany, namun Adit yang terburu buru seakan mengabaikan Ciki. Ciki tampak lemas dengan ekspresi yang murung.
Ciki beberapa kali memandang ponselnya, dia menunggu Adit memberi kabar. Tapi Adit yang sedang meeting sepertinya sangat sibuk, sampai dia lupa mengirim pesan pada Ciki.
Drrrtt! Drrrrtt!
Ciki segera mengambil ponselnya, di lihatnya satu pesan singkat dari Adit. Wajah yang sedari tadi murung seketika berubah menjadi sumringan.
Sayangku
Aku liat tadi kamu seperti ingin menyampaikan sesuatu ? Maaf, karena tadi mengabaikanmu.
Tumben, dia bisa jadi peka. Batin Ciki.
Me
Iya, boleh bicara sebentar.
Sayangku
Kamu keruangan saya, saya tunggu kamu sekarang.
Ciki segera berdiri, tidak lupa untuk bercemin merias tipis kembali wajahnya, dan juga tak lupa ia merapikan pakaiannya. Dengan keyakinan penuh, dia berjalan menuju ruangan Adit.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." Ujar Adit dari dalam ruangan.
Ciki membuka pintu ruangan Adit perlahan, dia segera masuk, dan tidak lupa menutup pintu kembali.
"Kamu mau ngomong apa, sayang ?" Tanya Adit sembari menghampiri Ciki, dan membawa kekasihnya itu duduk di sofa. Ciki terlihat gugup.
"Em, Pak." Ujar Ciki berusaha bersuara.
"Saya mau membicarakan, tentang pembicaraan kita kemarin." Ujar Ciki.
" Iya, ada apa sayang ?" Ujar Adit berusaha membuat Ciki rileks.
Ciki menghela nafas sejenak. "Saya mau jadi istri bapak, saya siap menjadi pendamping hidup bapak." Ujar Ciki sembari mengeluarkan nafas lega karena berhasil mengucapkan tujuannya.
Adit terdiam, dia menatap Ciki lekat. Kemudia mencubit lengannya sendiri.
"Aduh." Ringis Adit.
"Bapak ngapain sih," Ujar Ciki.
" Saya hanya memastikan Ciki, kalau saya iti tidam sedang bermimpi." Ujar Adit.
"Tapi gak sampai mencubit diri sendiri kan pak." Ujar Ciki.
"Kamu serius apa yang kamu katakan tadi, sayang." Ujar Adit memastikan kalau dia tidak salah dengar.
Ciki hanya mengangguk.
Adit sangat bahagia, Ia menarik tubuh mungil Ciki kedalam pelukannya.
"Makasih yah, sayang." Ujar Adit setengah berbisik ke telinga Ciki. Ciki membalas pelukan kekasihnya itu, ia tersenyum, Ciki tidak mengira kalau Adit bakalan sangat bahagia dengan pernyataannya.
Adit melepaskan pelukannya, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya, ia mencium bibir mungil kekasihnya dengan lembut.
Ciki menutup matanya menikmati ciuman lembut Adit, ia belum bisa untuk membalas ciuman kekasihnya.
Tok! Tok! Tok!
Renata mengetuk pintu ruangan Adit berapa kali, namun tidak ada jawaban. Renata memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Bossnya itu, kali aja dia sedang tertidur. Berhubung berkas yang ia bawa sangat penting dan mengharuskan dirinya tidak bisa menunda lagi untuk meminta tanda tangan atasannya itu.
Ceklek!
Renata terkejut melihat pemandangan yang tak seharusnya ia liat itu. Begitupun dengan ke dua sejoli itu kaget saat pintu ruangan terbuka dan menampilkan seorang wanita berdiri mematung sedang melihatnya.
Tunggu, kayanya gue kenal itu cewek. Bukannya itu Ciki. Batin Renata.
"Kalau masuk ketuk pintu." Ujar Adit datar yang membuat Renata tersadar.
"Ma-maaf, Pak. Saya dari tadi sudak mengetuk pintu, tapi bapak tidak menjawab. Saya pikir bapak ketiduran." Ujar Renata takut.
"Jadi, ada apa ?" Tanya Adit lagi mengubah nada suaranya menjadi lebih bersahabat.
"Saya ke sini ingin meminta tanda tangan bapak." Ujar Renata sembari menatap ke arah Ciki meminta penjelasan dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Oh, iyah. Saya dengan Ciki pacaran, dan sebentar lagi saya akan menikah." Ujar Adit seakan tau kalau Renata sedang menatap kekasihnya meminta penjelasan sembari menandatangani kertas yang baru saja di berikan oleh Renata.
"Wah selamat yah, Pak. Saya kaget aja, saya pikir Ciki sangat tidak suka sama bapak. Soalnya nama bapak saja di kontak handpone Ciki Muka Datar." Ujar Renata keceplosan.
"Benar begitu, sayang." Tanya Adit mengalihkan pandangannya dari kertas dan menatap Ciki meminta penjelasan.
Aduh, Renata ember banget sih. Batin Ciki.
"Udah di ganti kok jadi Sayangku." Ujar Ciki sembari memperlihatkan nama kontak handponenya.
"Kamu jangan sebarin dulu yah, Ta. " Ujar Ciki memelas.
"Heheh, tenang saja. Aman." Ujar Renata.
Setelah Adit selesai menandatangani berkas, Renata langsung mengambilnya dan beranjak dari tempat duduknya. Kemudian dia berjalan menuju pintu, tapi langkahnya kemudian terhenti.
"Jangan berdua duaan mulu, Pak. Nanti ketiganya setan." Celetuk Renata sembari berlari.
"Renata." Seru Ciki sembari menghentakkan kakinya.
"Biarin aja, kalau jomblo emang suka iri liat orang pacaran." Ujar Adit.
****
Makasi banget yang udah baca jika ada kesalahan dalam penulisan (Typo) mohon koreksinya. dan jangan lupa untuk tinggalkan jejak (Like dan komen) yah..
Mohon saran, komentar dan dukungannya yah.
jangan lupa baca terus kelanjutannya 😊😊😊