
Ciki sedang duduk bersantai di rooftop bagian atap rumah mertuanya, ia memandangi gedung gedung dan jalan yang terlihat indah bila di lihat dari atas.
"Sudah dua minggu aku berpisah dengan mas Adit, apa kabar yah dia sekarang. Apakah dia makan dengan baik, aku sangat merindukannya." Ucap Ciki bergumam dalam hati. Ia kemudian mengecek hanphonenya, dan melihat kembali chat chat Adit yang di kirim setiap hari. Ada yang aneh, hari ini Adit belum mengirim chat sama sekali padanya, padahal sekarang sudah jam sepulu pagi. Biasanya Adit selalu mengirim chat sekitar jam delapan pagi ketika akan berangkat kerja, tapi hari ini belum terlihat chatnya sama sekali di handphone Ciki.
"Apa dia terlalu sibuk sampai lupa mengirim pesan singkat yah ? Atau dia sudah bosan karena aku tidak pernah membalas chatnya. Atau jangan jangan dia lagi bersama Amarah." Pikir Ciki curiga, tapi pikiran curiganya segera ia hilang. Karena ia tau betul, suaminya tidak mungkin menghianatinya.
"Mas Adit tidak mungkin selingkuh, ini pasti karena ia terlalu sibuk sampai lupa mengirim pesan." Gumam Ciki meyakinkan dirinya.
Ciki melanjutkan acara melamunnya sembari menghirup udara segar. Tidak lama ibu mertuanya datang menghampiri Ciki yang sedang berjemur, itu juga karena anjuran dokter agar Ciki berjemur saat jam sepuluh pagi.
"Anak mama lagi mikirin apa ?" Tanya ibu mertua Ciki.
"Eh mama, gak mikirin apa apa kok. Mama mau berjemur juga ?" Tanya Ciki mengalihkan pembicaraan.
"Mama ke sini mau temenin kamu sama calon cucu mama untuk berjemur, sekalian nih bawa susu kehamilan biar ibu sama calon anaknya sehat sehat." Ujar ibu mertua Ciki sembari menyodorkan segelas susu di tangannya.
"Makasih yah, mah." Ujar Ciki sembari meminum susu buatan ibu mertuanya.
"Iya sayang." Ujar Ibu mertuanya. Setelah percakapan itu, Ciki maupun ibu mertuanya memilih diam. Mereka larut dalam pikiran masing masing.
Sekitar sepuluh menit mereka tidak bersuara, bunyi telepon ibu mertua Ciki menyadarkan mereka dari lamunannya.
Truuut! Truuut! Truuuut!
"Siapa, Mah ?" Tanya Ciki.
"Gak tau, nomor baru." Jawab ibu mertuanya.
"Halo!" Ujar ibu mertua Ciki setelah mengangkat telepon dari nomor tidak di kenal.
"Halo, apa betul ini ibu Ranta Prita keluarga Rezky Aditya ?" Tanya si penelfon.
"Betul Pak, ini dengan siapa yah ?" Tanya Prita.
"Saya dokter yang menangani Pak Rezky Aditya, beliau sekarang ada di rumah sakit dan baru saja sadar." Ujar Si penelfon yang ternyata berprofesi sebagai dokter.
"Anak saya sakit apa, Dok ?" Tanya Prita, Ciki yang mendengar nama suaminya di sebut langsung berdiri dan mendekat ke ibu mertuanya yang masih menelfon.
"Pak Rezky Aditya kecelakaan semalam, dan kami tidak tau nomor keluarganya. Untung ada yang menolongnya dan segera membawa ke rumah sakit. Tapi tenang saja ibu, Pak Rezky Aditya sudah baik baik saja, sisa memulihkan luka di bagian badannya. Jika ibu ingin menjenguknya silahkan ke rumah sakit Pertiwi" Jelas si penelfon.
"Baik, Dok. Makasih." Ujar Prita sembari menutup telfonnya.
"Ma, mas Adit kenapa ?" Tanya Ciki setelah ibu mertuanya selesai menelfon.
"Ciki, kamu duduk dulu yah." Ujar Prita menuntun Ciki untuk kembali ke tempat duduknya sembari menenangkannya.
"Ma, mas Adit kenapa ?" Tanya Ciki lagi dengan wajah yang hampir menangis.
" Ciki, Adit kecelakaan semalam. Kamu tenang yah, kita ke ruma sakit sekarang." Ujar Prita dengan suara lembut bermaksud agar Ciki tetap tenang.
"Mas Adit kecelakaan!" Gumam Ciki.
Ciki menggelengkan kepalanya berusaha menolak informasi itu, tapi seakan akan kenangan masa lalu kembali memutar memori ingatan Ciki yang membuat dadanya sesak bahkan sekedar untuk bernafas.
Kenangan buruk di ingatan masa lalunya kembali berbisik dengan sangat kejam.
*Maaf , ibu dan bapak anda mengalami pendarahan otak dan patah tulang akibat kecelakaan yang fatal.
Kami sudah melakukan yang terbaik*.
" Tidak, tidak. Ibu, Ayah, mas Adit" Gumam Ciki sembari menggelengkan kepalanya, ia sekuat tenaga mengusir suara suara yang dulu pernah menghantui hidup Ciki.
*Kedua orang tua anda tidak selamat.
Yang sabar yah Cik,
Dada Ciki terasa di remas, bongkahan besar seakan naik menerobos tenggorokannya. Ciki berusaha menahan tapi sama seperti dulu, saat bisikan bisikan masa lalu muncul. Kini Air mata Ciki menerobos keluar membasahi pipinya.
Ciki menyerah,
Merintih terseduh membiarkan air matanya jatuh.
Ibu, Ayah.
Aku selalu berusaha menerima takdirku.
Seperti yang selalu ku dengar dari orang sekitarku, bahwa ini sudah suratan yang di gariskan Tuhan.
Aku sudah berusaha mengiklaskan kepergian kalian.
Tapi,
Mereka hanya tau berkata,
Mereka tidak pernah memberitau padaku, bagaimana cara mengobati rasa sakitnya.
Bagaimana cara menghilankan ingatan akan hal itu.
Ibu, Rasanya lelah sekali.
"Ciki, sayang bangun sayang." Teriak Prita mengguncang pelan tubuh menantunya itu. Prita panik, ia takut kalau Ciki kenapa napa. Ia langsung menelfon satpamnya untuk membantu mengangkat Ciki karena mereka masih berada di atas rooftop.
"Halo, Nyonya." Ujar Satpam di balik telfon.
"Bapak, naik ke atap sekarang. Panggil yang lain, Nyonya muda pingsan." Perintah Prita panik.
"Baik Nyonya." Sambungan telfon tertutup.
Tidak butuh lama satpam dan juga pembantu yang lain sampai ke roftop, mereka mengangkat Ciki ke kamarnya.
***
"Kuatlah, Ciki. Demi anakmu" Ujar Prita panik, ia gelisah memikirkan Adit tapi ia tidak mungkin meninggalkan menantunya yang sedang pingsan, di tambah menantunya sedang mengandung.
Mau tidak mau, Prita tidak ke rumah sakit dan hanya suaminya lah ke rumah sakit melihat kondisi anak semata wayangnya.
Ciki mengerjap, berusaha membuka matanya. Ia sadar setelah mendengar suara tangis dan panggilan mertuanya.
"Sayang, kamu sudah sadar. Kamu bikin mama kaget, mama gak mau kamu kenapa napa sayang." Ujar Prita sembari memeluk menantunya itu setelah melihat menantunya membuka mata.
" Mama, maafin Ciki yah. Ciki buat mama khawatir." Ujar Ciki merasa beralah sembari menghapus air mata mertuanya.
Betapa beruntungnya aku, mendapat mertua seperti mama yang tulus sayang sama aku. Mama tidak pernah membedakan kasih sayangnya antara aku dan mas Adit walau sekalipun aku marah ke mas Adit, di tetap menyayangiku dengan tulus. Batin Ciki.
" Asal kamu sudah baik baik saja, mama sudah senang." Ujar Prita menyadarkan lamunan Ciki.
" Keadaan Mas Adit gimana, Ma ?" Tanya Ciki berusaha membuat dirinya tenang demi kandungannya, ia tidak boleh stres yang dapat membahayakan kesehatan kandungannya.
"Adit sudah siuman sayang, kata dokter dia baik baik saja." Ujar Prita.
"Ma, kita kerumah sakit sekarang yah." Ujar Ciki.
"Ciki kamu baru saja sadar sayang, ayah kamu sudah ke rumah sakit. Kita tunggu kabar dari ayah kamu, kalau ada apa apa kita langsung ke rumah sakit." Ujar Prita lembut.
" Tapi ma, Ciki ingin melihat mas Adit. Mas Adit pasti kesakitan." Ujar Ciki.
"Sayang, kamu nurut yah sama mama. Ini juga demi anak kamu, kamu tidak boleh kecapean." Ujar Prita sembari mengelus lembut perut Ciki. Ciki mengangguk pasrah, dia juga membenarkan kata mertuanya, ia tidak ingin membahayakan kandungannya apalagi kandungannya memang lemah.
Bersambung....