MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 08



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


"Lo dari malem disini, sekarang pulang sana! Biar gue yang jagain Kim."


Aksa menggeleng pelan, matanya masih tertuju pada wanita yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dari semalam wanita itu belum sadar, membuatnya khawatir. Bahkan Aksa tak pulang ke hotel, memilih menjaga Kim disini.


"Gue gak mau pulang!" Aksa lalu menoleh pada Rafael yang berdiri di samping kursinya. "Lo bisa bawain gue pakaian?"


"Jadi lo gak bakal balik ke hotel?"


"Gue disini aja."


"Tapi kan kita harus balik ke Jakarta hari ini."


Benar juga, Aksa hampir saja lupa. Tapi jika Ia kembali ke Jakarta, lalu bagaimana dengan Kimberly? Tidak mungkin juga Kim bisa keluar rumah sakit hari ini. Wanita itu saja belum sadar sampai sekarang.


"Kita kembali besok, kasihan Kim."


"Tapi-"


"Nanti gue bilang ke Daddy, biar Arnold yang urusin." Arnold sendiri sekertarisnya di perusahaan.


"Oke, ya udah gue balik dulu ke hotel. Nanti balik lagi kesini. Lo mau sesuatu?"


"Hm bisa beliin bunga?"


"Bunga?"


"Iya bunga, juga buah-buahan."


"Oke."


Setelah Rafael pergi, suara ringisan di dekatnya membuat Aksa menoleh. Terkejut melihat Kim telah sadar, segera Ia menekan tombol merah tanda darurat.


"Kim kamu sudah sadar?"


Datanglah dokter juga suster, Aksa menjauh memberikan ruang, tetapi masih di dalam ruangan itu.


"Kondisinya mulai membaik, hanya saja Dia masih harus di rawat disini."


"Ya terimakasih dokter."


Aksa kembali duduk di kursinya, memperhatikan Kim yang masih terbaring. Saat wanita itu akan bangkit duduk, segera Ia mencegah meminta untuk kembali tidur.


"Istirahatlah Kim, kamu masih sakit."


"Saya sudah baik-baik saja Tuan."


"Jangan berbohong, saya gak mau kamu bohongin lagi. Sekarang tidur, itu perintah."


"Terimakasih."


Pintu kembali terbuka memperlihatkan seorang suster yang membawa nampan berisi bubur dengan segelas air putih juga obat.


"Biar saya saja!"


"Baik."


Aksa beralih membawa nampan itu, Ia duduk di kursinya. "Kim sekarang makan dulu."


"Tapi saya tidak-"


"Kamu mau jagain saya lagikan? Kalau kamu gak sehat, kamu gak bakal bisa jagain saya."


Kim mengangguk, duduk menyender di bantu oleh Aksa. Setelahnya pria itu dengan telaten menyuapinya. Saat sakit lidah memang tak nafsu makan, tapi kembali Kim ingat kata-kata Aksa. Benar Ia harus sehat untuk kembali bekerja.


"Terimakasih Tuan, maaf saya merepotkan anda."


"Hm."


***


"Kamu mau keluar?"


Kim menatap ragu Aksa, Ia sangat ingin sekali keluar dari ruangan ini. Sepanjang hari hanya duduk di ranjang rumah sakit tanpa melakukan apapun, sedangkan pria itu terkadang bermain hand phone atau menonton tv.


"Aku tahu kau pasti sangat bosan disini, aku juga pernah merasakannya. Ayo keluar, di luar cuaca sedang bagus."


Aksa bangkit dari duduknya, membawa kursi roda lalu di simpan di samping ranjang. Saat akan memangku Kim, wanita malah menghindar.


"Kenapa?"


"Em saya bisa sendiri Tuan."


"Kau masih lemah, sudah biar aku bantu." Tanpa peduli lagi, Aksa langsung menggendong tubuh Kim lalu mendudukannya di kursi roda.


Aksa membawa Kim ke taman rumah sakit, cuaca sore yang cerah membuat suasana semakin damai. Apalagi taman ini di tumbuhi banyak bunga cantik, juga anak-anak yang bermain.


"Dulu saya bosan sekali harus terus di rumah sakit."


Kimberly menoleh pada Aksa yang duduk di kursi taman panjang, sedangkan Ia masih duduk di kursi roda.


"Saat kecil saya sering sakit, bahkan jarang ada di rumah. Mungkin rumah sakit sudah seperti rumah saya saat itu. Makanan disini tidak enak, tapi mau bagaimana lagi. Mama saya bilang saya tetap harus makan, biar cepat keluar dari sini."


"Maaf memangnya Tuan sakit apa?"


Aksa menoleh, menatap dalam wajah polos Kim. Memang masih agak pucat, tapi Kim masih terlihat cantik. Pria itu menyampirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Kim ke telinga.


"Saya sakit kanker."


Kim langsung di buat terkejut mendengar itu, menatap tak percaya pria yang bahkan terlihat baik-baik saja di depannya.


"Saya memang tidak di rawat di Indonesia, tapi tetap saja rumah sakit luar negeri tetap membosankan."


"Lalu bagaimana sekarang, apa anda sudah sembuh?"


"Ya saat kecil saya sudah putus asa, tapi ternyata Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk hidup. Tepat saat ulang tahun saya yang ke dua belas tahun, saya mendapat kado luar biasa, saya bebas dari penyakit kanker."


Wanita itu tak bisa menahan senyumannya, entah kenapa Ia ikut bahagia mendengarnya. Perjuangan Aksa pasti sangat berat, apalagi saat itu pria itu masih kecil. Untung saja Aksa punya keluarga yang menyayanginya dan menjaganya.


Dret


"Hm?"


'Lo dimana?'


"Di taman rumah sakit."


'Pantesan gue cari di kamar gak ada, gue kesana sekarang.'


Tumben Rafael cepat kembali, padahal biasanya pria itu suka lambat.


"Kamu belum makan malam kan?"


"Belum."


"Baguslah, mau makan sama apa? Nanti aku pesankan."


Kim meringis mendengar itu, Ia jadi tak enak pada Aksa. Ayolah Ia hanya seorang pelayan, lebih tepatnya bodyguard. Bukan seseorang yang harus di istimewakan seperti itu.


"Tidak usah Tuan, saya tidak enak-"


"Jangan panggil saya Tuan lagi, Aksa saja, oke?"


"Saya tidak bisa."


"Kenapa?"


"Karena-"


"Hallo guyss!"


Ucapan Kim terpotong oleh sapaan keras itu, Rafael baru datang mendekati mereka lalu duduk di samping Aksa.


"Hay Kim, gimana sekarang udah baikan?"


"Sudah."


"Ck suara kamu masih serak, berarti belum sehat."


Rafael lalu menoleh pada Aksa yang sedang menatapnya, saat ingat sesuatu pria itu lalu membawa sesuatu di kantong besar.


"Nih baju lo, dan ini pesanan lo!"


Aksa hanya menerima buket bunga itu, sedang dua tas lainnya masih di pangkuan Rafael. "Lo bisa pergi!"


"Hah?" Rafael menatap tak percaya pria di depannya yang sedang menatapnya polos.


"Iya lo bisa pulang lagi."


"Baru juga sampai masa-"


Aksa membisikan sesuatu di telinga Rafael. "Udah sana pulang, emang lo mau jadi kambing conge disini?"


Mencibirkan bibir sambil menggerutu sebal, akhirnya Rafael berdiri. "Ya udah gue pulang. Kim cepat sembuh ya!" Ucapnya. Menyimpan barang-barang Aksa di kursi itu, lalu melenggang pergi.


Setelah kepergian Rafael, Aksa kembali menatap Kim. Berdehem sebentar menghilangkan rasa gugup.


Lalu pria itu menyerahkan sebuket bunga mawar biru pada Kim.


"Untukmu, cepatlah sembuh dan jangan sakit lagi."