
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
"Ternyata Oppa kalau dari dekat seperti ini seribu kali lipat lebih tampan."
Aksa mengernyit. "Oppa?"
"Hm Oppa itu panggilan yang biasanya digunakan untuk memanggil Kakak laki-laki dalam bahasa Korea."
"Haha tapi aku bukan orang Korea."
"Tapi Oppa tampannya sudah seperti artis Korea, bahkan sangat tampan seperti Jaehyun."
"Siapa Jaehyun?"
"Em Jaehyun itu mantan saya."
"Ada-ada saja kamu." Kekeh Aksa.
Lalu fans wanita yang memakai kaca mata itu mengerluarkan sesuatu dan menyimpannya diatas meja. "Ini untuk Oppa."
Aksa memakai bando yang bergaya kelinci itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Selanjutnya giliranpun berlanjut, dan Aksa malah dibuat bingung karena wanita itu malah menangis.
"Hai kenapa menangis?"
"Hiks saya hiks senang hiks!"
"Kalau senang kenapa menangis?"
Tapi wanita itu malah semakin keras menangis membuat Aksa bingung dan yang lainpun memperhatikannya.
"Sudah jangan menangis lagi, mau cerita?"
Dan berhasil, wanita itu menghentikan tangisannya. Menghapus air mata dan menatap malu Aksa. "Saya menangis bahagia karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan Aksa."
"Saya kira kamu menangis kenapa."
Wanita itu tersenyum kecil, walau sudah tak lagi menangis tapi sesekali masih sesenggukan. Ia mengeluarkan kotak berukuran sedang dan menyimpannya diatas meja.
"Terima kasih." Ucap Aksa lalu membuka kotak itu dan langsung membelakan mata melihat jam tangan bermerek terkenal didalam kotak itu.
"Aksa tenang saja, dari dulu saya sudah menabung dan tidak membuat saya kekurangan uang jajan. Lagi pula saya membeli itu karena sangat mengidolakan Aksa."
"Tapi kamu tidak perlu membeli barang semahal ini, saya jadi tidak enak."
"Saya tidak keberatan kok, saya malah senang bisa memberikannya untuk Aksa."
"Kalau begitu saya sangat berterima kasih. Oh iya siapa namamu?"
"Nama saya Wanda dan saya sudah menjadi fans Aksa dari saat pertama Aksa berkarir."
"Wahh kamu fans saya yang setia."
"Ya sudah saya harus pulang, antrian Aksa masih panjang. Sampai jumpa lagi."
Aksa membalas lambaian tangan itu, Ia lalu memakai jam tangan itu walau kini di tangannya sudah terpasang dua. Hadiah yang diberikan fansnya sangat luar biasa, padahal Aksa tak mengharapkan itu. Ia hanya ingin tahu saja mana fans setianya, walau mungkin nama merekapun tak akan teringat semua.
Fans meeting ini diadakan di Central Park lantai satu, dan cukup terkejut karena selain tempat yang diadakan fans meeting penuh, dilantai dua pun masih banyak. Mall inipun menjadi lebih ramai tak seperti biasanya.
Acara itu dibatas hanya satu jam saja, dan tepat pukul lima sore fans meeting itu selesai. Sebelum selesaipun Aksa menyempatkan untuk berpoto bersama para fansnya.
"Gimana perasaan lo setelah acara itu selesai?"
Walau matanya tertutup tapi Aksa tersenyum lebar. "Bahagia." Ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa mencari posisi nyaman.
"Gue ikut senang kalau gitu."
Rafael melihat hadiah-hadiah Aksa yang tersimpan dibagian pojok ruangan, ada hampir sepuluh kardus besar bahkan itu saja masih ada beberapa yang tersimpan dibawah.
"Hadiah itu mau lo apain?"
Aksa membuka matanya untuk melihat, dan langsung terbelak karena tak menyangka akan sebanyak itu. Mungkin tadi Ia hanya menerima-menerima saja sampai tak sadar akan terkumpul banyak.
"Jual?"
"Enak aja, kalau gue jual berarti gue gak ngehargain pemberian mereka. Gila jahat banget gue kalau kaya gitu!"
Rafael mengangguk dan mengusap dagunya sambil memperhatikan kardus-kardus itu. "Terus mau disimpen di rumah lo gitu?"
"Em gak tau juga." Tapi pria itu langsung teringat sesuatu. "Dimana Kimberly?"
"Gak tau, gue kira sama lo."
Tapi pria itu tak menemukan Kim, padahal selama fans meeting berlangsung Kim ada di sampingnya terus.
"Mungkin Dia lagi ada urusan."
"Kenapa gak ijin dulu sama gue?"
"Kenapa Dia harus minta ijin?"
"Ya karena gue Tuannya."
Rafael hanya mrndengus sebal, saat merasa ponselnya berdering segera pria itu mengangkat panggilan dari Janna. "Ya sayang?"
'Kamu dimana?'
"Aku lagi sama Aksa, ini baru selesai fans meeting."
'Sayang Mama kayanya gak enak badan, mobilku rusak jadi gak bisa bawa ke rumah sakit.'
"Mama kenapa?"
'Badannya demam.'
"Astaga, iya aku segera pulang. Tunggu, aku gak bakal lama.'
Rafael lalu berjalan mendekat pada Aksa, menepuk punggung pria itu yang masih megamati lorong gedung. "Gue mau pulang!"
"Kenapa gitu?"
"Mama gue sakit, gak ada yang anterin ke rumah sakit."
"Lo tega banget sama gue, terus gue sendiri di sini?"
"Kimberly juga pasti gak bakal lama lagi ke sini."
"Terus barang-barang itu?" Tanya Aksa sambil menunjuk hadiah-hadiah dari fansnya.
"Em nanti gue suruh seseorang deh buat kirim ke rumah lo, udah ah gue buru-buru ini!"
Saat Rafael akan pergi kerah baju belakangnya malah ditahan oleh Aksa, membuat pria itu menatap sebal. "Apa lagi?!"
"Gue laper!"
"Hh iya-iya tar gue pesenin."
"Jangan ntar, gue pengen sekarang!"
"Iya bawel!"
Rafaelpun pergi meninggalkan Aksa di sana. Sedang Aksa langsung masuk dan menutup kembali pintu ruangannya. Duduk di ruangan yang lumayan besar itu, nyaman dan terang. Pria itu membuka handphonennya untuk melihat instagramnya dan langsung tersenyum melihat pemberitahuan yang banyak. Tak lain adalah dari para penggemarnya yang menandainya di instagram.
Ada banyak fotonya yang diambil oleh penggemar, ada juga yang memang selfie bersamanya juga. Astaga Aksa sangat bahagia, akhirnya impiannya perlahan mulai terwujud satu persatu. Mulai dari melakukan konsernya yang spektakuler dan sekarang fans meetingnya yang tak kalah luar biasa.
Tok tok!
Ketukan pintu itu membuat Aksa terkejut, pria itu bangkit lalu membuka pintu dan langsung melihat seorang wanita yang memakai topi juga masker hitam. Penampilan wanita itu membuat Aksa bingung juga aneh.
"Siapa?"
"Ini makanan pesanannya."
"Oh iya, apa sudah dibayar?"
"Sudah."
Aksa pun mengucapkan terima kasih, membawa kotak makanan itu lalu kembali menutup pintu. Setelah duduk di kursi, Aksa membuka kotak makan itu. Tapi senyumannya langsung pudar saat melihat isi kotak itu. Matanya terbelak tak percaya melihat isinya, antara mual dan takut. Walau tangannya gemetar, tapi Aksa tetap membawanya. Jantungnya berdetak cepat dan keringat dinginpun mulai muncul di keningnya.
Apa yang dipegangnya ini adalah foto dirinya dan kedua orang tuanya, tapi yang membuatnya takut adalah foto itu ada bercak darah. Aksa lalu membalikan foto itu dan detak jantungnya semakin cepat.
I will kill you and your parent!
Foto itu terjatuh bertepatan dengan pintu ruangan terbuka, Kimberly langsung mengernyit melihat Aksa yang tampak melamun. Iapun mendekat dan saat sudah dekat langsung bisa melihat jelas wajah Aksa. Mata pria itu memerah dengan keringat di keningnya.
"Tuan?"
Aksa mengangkat kepala dan masih tak bisa berkata, kepalanya seperti kosong dan dadanya sangat sesak. Sedang perhatian Kim langsung tertuju pada satu benda diatas meja, membawa foto itu dan langsung membelakan matanya.
"Dia ingin membunuhku!"
Bisikan itu membuat Kim kembali menatap Aksa, dan tanpa bisa ditahan wanita itu langsung memeluk Aksa erat. Tangannya terulur mengusap rambut pria itu, jantungnya bahkan berdetak hebat karena merasa khawatir melihat Aksa yang tampak sangat ketakutan.
"Tenanglah Tuan, saya di sini. Jangan takut dan jangan pikirkan hal lain."