
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
"Saya sudah bilang ratusan kali kalo saya gak tau dimana dia!!"
Teriakan itu menggema diruangan yang hanya ada mereka berdua, wanita yang duduk dengan kedua tangannya diborgol menatap sebal polisi wanita itu. Tak ada ketakutan sama sekali, bahkan lebih terkesan berani.
"Saya tidak percaya, kamu ini salah satu anggotanya dan pasti tahu dimana ketua kamu!"
"Terserah!"
Karena kesabarannya sudah tak bisa ditahan, polisi wanita itu mencengkram rahang Tania keras. "Saya akan pastikan hukuman kamu lebih berat, selain menyembunyikan kasus dan tidak jujur, sikap kamu juga kurang ajar!"
Kimberly yang melihat itu dari monitor luar ruangan menggeleng pelan, ternyata wanita bernama Tania ini cukup sulit juga untuk diselidiki. Entah memang benar tidak tahu, atau bohong, tapi Tania keras kepala. Sudah hampir satu jam di introgasi, tapi tetap belum mengaku.
"Menurutmu kenapa dia kekeh tidak mau jujur?"
"Saya juga tidak tahu dia jujur atau bohong Tuan, yang pasti wanita itu sangat keras kepala. Jika dia masih tidak mau mengaku, maka tak ada pilihan lain selain harus lewat kekerasan."
Aksa menggeleng pelan saat Tania ditampar, pria itu memilih keluar ruangan dan Kimberly tentu saja mengikutinya.
"Penerbangan malam ini kita batalkan, kita harus menyelesaikan masalah ini dulu sebelum kembali ke Jakarta."
"Maaf Tuan, karena saya hari ini Tuan tidak jadi pulang."
"Haha tidak apa-apa, saya malah bangga sama kamu." Pria itu menghentikan langkahnya dan menghadap Kim. "Saya benar-benar terkejut saat kamu ternyata berhasil membawa salah satu anggota yang menculik saya. Saya tidak meragukan kerja kamu."
"Terima kasih Tuan."
"Hm baiklah, ayo kita makan malam, saya lapar."
Kim membukakan pintu mobil untuk Aksa, setelahnya Ia ikut masuk dan mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Malam ini sedang gerimis dan angin yang sangat dingin, padahal tadi siang cuaca cukup cerah. Tadinyapun kalau Ia tak menangkap Tania, bisa saja mereka sedang di pesawat untuk kembali ke Jakarta. Ada sebuah pertanyaan dibenak Kim, apa Tania melarikan diri ke sini? Jika begitu, apa mungkin juga ketua mereka juga ada di sini?
"Di mana kamu menemukannya?"
"Saya melihatnya saat kita pulang dari berbelanja, awalnya saya juga takut salah lihat, tapi setelah diperhatikan dengan teliti, wanita itu benar-benar mirip dengan wanita yang membawa anda pergi."
"Ck saya tidak mengerti kenapa mereka sampai punya pikiran seperti itu, mengaku menjadi orang lain dan ternyata penipu. Kalau di pikir-pikir dulu saya bodoh juga, sampai tak menyelidiki lebih lanjut."
Kimberly hanya tersenyum saja, Ia lalu memberhentikan mobilnya didepan sebuah restoran yang lumayan terkenal di Bali. Bukan Ia yang mengajak, tapi pria itu memang katanya ingin makan malam di sini.
"Dua filet mognon dan minumannya anggur saja."
"Baik mohon untuk menunggu."
Aksa memperhatikan Kim yang duduk di depannya, wanita itu sedang memainkan ponselnya dengan serius entah sedang apa. Jujur, Aksa tak menganggap Kim bodyguardnya, tapi lebih ke teman, ya walaupun Ia ingin lebih.
Kimberly adalah bodyguarnya yang paling lama bekerja, karena biasanya yang lain akan mengundurkan diri paling lama hanya satu bulan saja. Aksa bukan tipe pria playboy atau mudah tertarik pada wanita, kadang Ia selalu pilih-pilih, itulah yang membuat Ia menjomblo sampai sekarang.
Dan Kim adalah wanita yang selama ini Ia cari, Ia sudah tertarik dan jatuh hati pada wanita itu. Ternyata bukan wanita manis dan feminim yang menarik hatinya, tapi wanita kuat dan pemberni seperti Kim. Perasaannya ini tidak salahkan? Lagi pula jatuh cinta itu tidak ada yang memaksakan.
"Tuan!!"
"Hah ya?"
Kim tersenyum kecil sambil menggeleng. "Tuan dari tadi terus melamun, makan malamnya sudah ada." Ucapnya sambil menuangkan anggur di gelas Aksa.
"Hm iya maaf."
"Tidak, tadi saya hanya sedang memikirkan sesuatu."
Aksapun menyuapkan potongan steak itu, astaga ternyata Ia tadi melamun. Mungkin karena terlalu berandai-andai sampai lupa diri. Tapi suapannya terhenti saat melihat Kim yang akan meminum anggurnya, segera Aksa menahan gelas wanita itu.
"Ada apa Tuan?"
"Sebaiknya kamu jangan minum ini, bukan kenapa-kenapa, tapi saya tahu kamu tidak kuat minum."
"Tidak apa-apa Tuan, saya-"
"Memangnya kamu mau kejadian malam itu terulang lagi? Kamu sudah ingat apa yang kita lakukan?"
Kim menyimpan gelas itu kembali, menatap gugup Aksa yang tatapannya sulit diartikan. Pria itu kadang serius kadang tidak, dan perubahan ekspresinya begitu kuat.
"Saya belum mengingatnya."
"Baguslah kamu tidak ingat, lagi pula itu cukup menggelikan."
"Em Tuan, memangnya apa yang terjadi?"
Aksa meminum anggurnya sejenak, dan kembali menatap Kim. "Kamu yakin ingin tahu apa yang terjadi antara kita?"
Walau gugup tapi Kim akhirnya mengangguk, Ia benar-benar penasaran. Sungguh Ia tak mengingat sedikitpun malam itu, mungkin karena Ia sangat mabuk.
"Baiklah saya akan menceritakannya, tapi kamu harus percaya karena saya tidak akan berbohong."
"Hm."
Aksa menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, matanya tak beralih sedikitpun dari wanita cantik itu.
"Kamu mungkin memang tidak akan percaya, tapi malam itu kita terlihat sangat romantis."
"Hah?"
"Haha ya malam itu kita seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan, bahkan kau menganggap aku pangeran tampan, dan kau putri salju."
"Tidak mungkin."
Aksa terkekeh melihat wajah tak percaya Kim, sangat menggemaskan, apalagi pipi wanita itu mulai terlihat merah merona.
"Kau memintaku untuk menciummu, dan ya aku tak bisa menolaknya. Maaf karena mungkin malam itu aku bersikap diluar batas, tapi kita hanya berciuman, tidak lebih."
Kim mengalihkan pandangannya ke arah lain, jantungnya berdetak tak karuan mendengar cerita itu. Benarkah Ia dan Aksa melakukan hal itu? Tak terlihat ada kebohongan, bahkan Aksa mengatakannya dengan lancar tanpa jeda. Astaga jika benar, malu sekali Ia.
"Em jangan terlalu dipikirkan, kita benar-benar sudah mabuk berat sampai melakukan itu tanpa sadar. Maaf saya juga malah membawa kamu ke kamar saya karena saya tidak tahu kode apartemen kamu dan kamu sudah tak sadarkan diri."
Dengan menguatkan diri sambil mengatur nafasnya, akhirnya Kimpun kembali menatap Aksa. Bibir bawahnya Ia gigit karena tak tahu harus apa. Belum pernah Kim segugup dan semalu ini, dan yang lebih sialnya pada atasannya sendiri.
"Kalau kamu mau pukul saya tidak apa-apa, saya mengerti karena-"
"Tidak Tuan, saya tidak akan melakukan itu. Tuan benar, malam itu kita memang melakukannya tidak sadar dan yang salah adalah kita berdua. Seharusnya saya minta maaf karena menyusahkan Tuan, lalu.. Meminta hal itu."
Sekelebat ingatan melintas, dan ya akhirnya Kimpun mengingatnya. Walau tak semua, tapi Ia memang benar meminta Aksa untuk menciumnya dan memanggil pria itu dengan sebutan pangeran. Sial, rasanya Kim ingin menangis karena malu. Lalu usapan ditangan kananya membuat Kim tersentak, Ia langsung menatap Aksa. Pria itu tersenyum manis, dan membuatnya terpesona.
"Kamu jangan malu ataupun menjadi canggung pada saya ya? Kejadian itu sudah menjadi takdir, dan mungkin ini adalah awal bagi kita."
"Maksud Tuan?"
"Sungguh, kamu pasti sangat bosan dengan sikap saya ini tapi saya mohon untuk memberi saya kesempatan. Pikirkan ini dengan baik-baik, dan saya akan memberi kamu waktu untuk menjawab. Kim maukah kamu menjadi pacar saya?"