MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 26



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Suara piano menggema dilorong rumah menuju ke belakang halaman, dan akhirnya Kim menemukan dimana asal dari suara itu. Dengan perlahan Kim membuka pintu dan dari belakang Ia sudah bisa melihat jelas Aksa yang sedang memainkan piano dengan posisi membelakanginya. Ruangan berukuran lumayan besar dan anehnya hanya ada satu barang saja, yaitu grand piano berwarna putih dibagian tengah. Ruangan ini juga hampir semua dilapisi kaca dan langsung menampakan taman bunga, sangat indah apalagi cahaya matahari yang tembus masuk ke ruangan.


Dengan mengumpulkan keberanian Kimberly melangkah mendekat, Ia berdiri tepat disamping pria itu. Bertepatan dengan itu juga musik piano berhenti, dan Aksa langsung mengangkat kepala menatapnya.


"Oh Kim, saya kira siapa."


Kimberly sempat merasa aneh, tapi segera Ia tepis dan langsung membalas dengan senyuman. "Maaf bila kedatangan saya mengganggu Tuan."


"Tidak-tidak." Aksa lalu menggeser duduknya, lalu menepuk bagian yang kosong disampingnya. "Ayo duduk sini!"


"Ya?"


"Kau bisa bermain piano?"


"Em tidak."


"Ya sudah biar saya ajarkan, ayo duduk."


Karena merasa gemas dengan Kim yang masih terbengong Aksapun menarik tangan wanita itu agar duduk di sampingnya yang kosong. Untung saja kursi itu agak panjang, sehingga muat digunakan untuk berdua, walau harus berdempetan.


"Saya belajar bermain alat musik saat masih berumur sepuluh tahun, bukan orang tua saya yang mengajarkan, tapi guru privat yang satu minggu sekali selalu datang ke rumah."


Aksa menekan kunci c sambil menoleh pada Kim. "Setiap alat musik juga berbeda guru, dan jujur saya dulu sangat bingung mengingat nama mereka karena sangking terlalu banyak."


Kimberly ikut terkekeh mendengarnya, jari lentiknya lalu menekan kunci g yang tepat di depannya. "Tuan sangat berbakat, pantas saja bisa sukses menjadi penyanyi terkenal."


"Apa sebelum kamu bekerja di sini, sudah tahu siapa saya sebelumnya?"


"Em belum."


"Benarkah?" Tanya Aksa tak percaya, padahal hampir semua orangpun tahu siapa Ia, bukan percaya diri, tapi Ia juga sering tampil di tv ataupum melakukan pemotretan untuk majalah.


"Dulu saya jarang melihat sosial media atau berita karena sedang kursus untuk menjadi bodyguard."


Aksa hanya ber-oh saja, tapi Kim seperti bukan wanita yang ketinggalan jaman kalau di lihat-lihat. "Memangnya berapa lama untuk bisa menjadi seorang bodyguard?"


"Tergantung dari kesiapan dan yang telah lulus dalam seleksinya, saya sendiri butuh waktu hampir tiga tahun."


"Waw kamu hebat juga."


"Terima kasih."


"Apa hanya kamu saja wanita yang ingin menjadi bodyguard?"


"Tidak, saat saya di sana ada sekitar belasan wanita dan mereka tak kalah hebat."


"Saya salut karena pekerjaan ini cukup berbahaya juga."


Aksa tersenyum manis pada Kim sampai membuat wanita itu gugup, Kim berdehem pelan lalu mengalihkan pandangan ke depan, menatap tuts piano.


"Dari kecil saya ingin sekali belajar piano, tapi sayangnya dirumah tidak ada piano."


"Kau pernah belajar sebelumnya?"


"Belum."


"Bagus, sekarang aku yang ajarkan kau bermain piano."


Aksa menyimpan kedua tangannya diatas tuts, dan kembali menatap Kim. "Yang pertama harus dilakukan untuk belajar piano adalah kita harus bersabar. Piano sendiri adalah alat musik yang termasuk sulit untuk dipelajari, kalau kita tidak sabar maka latihan itu hanya akan sia-sia saja."


"Lalu kau juga harus sering belajar dan menyempatkan waktu untuk bermain piano."


"Memangnya untuk pandai bermain piano butuh berapa lama?"


"Tergantung dari kesungguhan kita sendiri, dan aku yakin kau bisa cepat mempelajarinya karena kau wanita pintar."


Kimberly tersenyum dibalas oleh Aksa.


"Sekarang pilihlah satu lagu sederhana untuk belajar bermain piano."


"Kenapa kau bisa tahu langsung?"


"Walaupun saya tidak bisa bermain piano tapi saya sering mendengar musik itu, sangat indah dan mendalam."


"Baiklah mari kita mulai belajar."


Dan dihari itu juga baru pertama kalinya dari kedua insan itu dipenuhi dengan canda dan tawa. Tak bisa berbohong kalau dari hati terdalam mereka ada secercah kebahagiaan dan rasa aneh. Walau Aksa sering merasakan perasaan ini, tapi Kim baru merasakannya.


Dulu mungkin Ia tidak pernah merasakannya, tapi sekarang perasaan itu hadir. Entah kenapa, tapi ini membuatnya tak nyaman. Yang membuat wanita itu semakin gugup adalah saat tangan Aksa memegang tangannya mengajarkan untuk menekan bagian tuts mana saja yang benar. Apalagi posisi mereka berdekatan, bahkan deru nafas mereka beradu.


"Tidak bukan yang itu." Ucap Aksa lalu mengalihkan jari Kim ke kunci piano yang benar dan kembali mengajarkannya. Sedang Kim malah tak fokus, Ia menatap wajah tampan itu dengan matanya yang tak teralih sedikitpun. Tapi wanita itu terkejut saat Aksa membalas tatapannya, membuat Ia gelagapan.


"Aku kira kau serius mendengarkan aku."


"Em maaf-"


"Tidak apa-apa, mungkin sekarang belajarnya sampai di sini saja."


Sayangnya Aksa punya rencana di pikirannya, pria itu menyampirkan rambut Kim ditelinga kiri. Baru kali ini juga Kim bekerja dengan rambut tergerai, sempat aneh tapi mungkin karena wanita itu ingin. Kalau rambutnya digerai seperti puluhan kali lebih cantik dan menawan.


"Apa kau sudah bisa merasakannya?" Tanya Aksa.


"Apa?"


"Di hatimu, detak jantung yang menggila karena berdekatan dengan seseorang yang menarik hatimu."


Kimberly menggigit bibir bawahnya, kenapa pria itu bisa tahu?


"Kau tahu Kim? Aku bahkan sudah merasakan itu sejak pertemuan pertama kita, dan itu sudah lumayan lama."


Aksa semakin mendekatkan wajahnya, dan kini hidung mereka sudah bersentuhan. Anehnya Kim tak menjauh seperti dulu, membuat pria itu merasa bahagia.


"Aku memang pria kekanakan dan manja, tapi aku juga bisa bersikap dewasa saat bersama seseorang yang spesial. Kau mungkin akan menganggapku aneh, tapi aku tidak bisa berbohong kalau-"


Tok tok!


Suara ketukan pintu dari luar menggema di ruangan itu. Mau Aksa dan Kimberly langsung menjauhkan diri karena baru sadar kalau posisi tadi sangat dekat. Dan akhirnya Kim memilih berdiri lalu membuka pintu itu, terlihat Yasmin yang tersenyum lebar.


"Nyona." Sapa Kim sambil membungkukan badannya sebentar memberi hormat.


"Selamat pagi Kim."


"Selamat pagi."


"Apa Aksa ada didalam?"


"Iya Nyona, Tuan muda sedang bermain piano."


"Aish dasar ini sudah hampir jam sembilan tapi Dia belum sarapan, dasar anak manja." Sebal Yasmin. Wanita tua itu sampai pusing mencari putranya di rumah besarnya ini, hanya untuk menyuruh untuk sarapan. Dan ternyata memang benar kalau anak itu ada ditempat kesukannya ini.


"Kim sudah sarapan?"


"Sudah Nyonya."


"Tolong bilang pada Aksa untuk sarapan dulu, saya harus pergi sekarang karena ada urusan penting."


"Baik Nyonya akan saya sampaikan."


"Ya sudah Kim, sampai bertemu lagi nanti malam."


"Iya Nyonya, hati-hati."


Setelah Yasmin pergi, Kim kembali mendekat pada Aksa. Mengernyitkan keningnya melihat wajah pria itu tampak sebal dengan bibir yang dikerucutkan.


"Em Tuan, Nyonya Yasmin bilang-"


"Sepertinya Mom punya dendam terselubung padaku!"


"Hah?"


"Dia selalu saja mengganggu, padahal sebentar lagi-" Aksa tak melanjutkan perkatannya, berganti dengan mendengus sebal sambil mengumpat kecil. Jika diingat tak terhitung berapa kali Yasmin mengganggu waktunya bersama Kim, entah saat berduaan, berpelukan dan yang paling parah saat Ia akan mencium Kim. Padahal dari dulu Aksa ingin sekali mewujudkan mimpinya yang terakhir itu.


"Aku butuh liburan untuk menghilangkan frustasi ini!"