
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Setelah ke dua atasannya masuk ke dalam mobil, Kim langsung mengitari mobil, Ia lalu mengendarai mobil mewah berwarna putih itu dengan tenang.
"Kim, sebenarnya kita akan kemana?"
Kimberly melihat pantulan kedua orang itu dari kaca kecil dibagian atas mobil, Ia tersenyum kecil dan berkata. "Mohon maaf Nyonya, tapi Tuan Aksa meminta saya untuk merahasiakannya, katanya biar kejutan."
Zein dan Yasmin menatap satu sama lain, benarkah ini rencana Aksa? Memangnya apa yang direncakan putranya itu?
Sore tadi mereka diminta untuk datang ke salah satu restoran bintang lima di Jakarta pukul 7 malam, dan undangan itu bertanda nama Aksa. Sangat aneh, apalagi memakai sebuah kartu undangan. Walau mereka sibuk, tapi tetap menyempatkan waktu untuk datang. Rasanya tidak mau mengecewakan Aksa lagi, apalagi hubungan mereka dari kemarin kurang baik.
Tapi ditengah jalan mobil seketika berhenti dengan suara decitan ban mobil yang keras, Yasmin dan suaminya saja sampai terhuyung dan untungnya memakai sabuk sehingga tak terjadi apa-apa.
"Ada apa Kim?" Tanya Zein.
Kimberly menatap tajam dua orang remaja yang baru turun dari motor dan langsung berdiri didepan mobilnya sambil membawa senjata tajam yang diarahkan padanya. Lalu satu orang lainnya mengetuk kencang kaca mobil tepat di sampingnya.
"Astaga siapa mereka?!" Panik Yasmin. Wanita itu langsung memeluk suaminya erat karena ketakutan, apalagi pria-pria diluar sana membawa senjata tajam.
"Sepertinya mereka begal."
Zein duduk dengan gusar, tangan satunya mengusap punggung istrinya yang bergetar karena ketakutan. "Lalu kita harus bagaimana? Apa kita keluar saja dan menyerahkan diri?"
Trak trak!!
Suara ketukan kaca mobil semakin kencang, membuat Kim sudah diambang batas kesabaran. Untung saja kaca mobil ini gelap dan tebal, sehingga aman. Kim menoleh ke belakang, menatap atasanya dalam.
"Saya mohon tetap di sini, saya akan keluar hadapi mereka."
"Tidak Kim, ini berbahaya! Mereka membawa senjata tajam, bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu?" Ucap Zein keras. Ayolah Ia masih sadar kalau Kim ini adalah wanita, walau memang bekerja menjadi bodyguard, tapi tetap saja. Dia saja yang laki-laki di sini merasa ketakutan, apalagi baru kali ini Zein menghadapi situasi seperti ini.
"Tuan tenang saja, saya pasti bisa hadapi mereka. Lagi pula saya sering menghadapi situasi seperti ini."
Sempat terdiam sebentar, berperang batin dan pikirannya. Tapi gedoran itu semakin kencang, membuat Zein akhirnya dengan terpaksa mengangguk. "Baiklah, tapi saya mohon hati-hati. Saya akan langsung telphone polisi."
"Iya Tuan, saat saya keluar kunci mobil dari dalam dan tetap tenang."
Setelah mengatakan itu, Kim langsung membuka kasar pintu di sampingnya, sampai membuat pria yang dari tadi terus menggedor kaca mobil terjungkal ke belakang. Melihat temannya yang diperlakukan seperti itu, tentu saja membuat ke dua pria yang berdiri didepan mobil tak terima. Mereka langsung menyerang Kim, dengan membawa senjata tajamnya.
Kimberly menendang perut salah satu pria lalu memutarkan tubuhnya dan memukul wajah pria satunya lagi dengan sikunya. Setelahnya Ia kembali pada pria yang tadi ditendang perutnya, menahan tangan pria itu saat akan menghunuskan pisau padanya. Dengan mudah Kim menangkis pisau itu dengan memutar pergelangan pria itu sampai berteriak kesakitan, tanpa rasa kasihan Kim memukul wajah pria itu dan jatuh pingsan.
Wanita itu berbalik mendekat pada pria yang tadi Ia pukul, pria itu masih kesakitan karena bibir dan hidungnya yang berdarah. Tapi pria itu kembali menyerangnya, dan Kim dengan sigap langsung melakukan tendangan depan sampai pria itu mundur beberapa langkah. Mereka bertarung seimbang, tapi tak lama pria itu kalah saat Kim berhasil mengunci lehernya dengan sikunya.
"Siapa kau hah?!" Teriak Kim tepat disamping telinga pria itu.
"Akh lepaskan!!"
"Kau salah sasaran heh!" Ejek Kim. Tangannya dengan kuat menahan leher pria itu agar tak meloloskan diri.
Salah satu pria yang tadi menggedor pintu mobil berdiri di depannya sambil mengacungkan pisau kecil. "Lepaskan dia!!"
"Kalian ini sepertinya masih muda." Ucap Kim santai, Ia menatap sinis salah satu pria yang tergeletak pingsan.
"Bukan urusanmu bodoh!!"
"Ini masih terlalu sore untuk kalian membegal, seharusnya lakukan saat tengah malam agar berhasil!"
Pria yang mengacungkan pisaunya itu semakin dibuat muak, Ia satu langkah mendekat. Tapi tak bisa berbohong kalau merasa takut karena wanita itu tampak sangat kuat, kedua temannya saja kalah berkelahi.
"Lepaskan dia atau aku akan membunuhmu!"
Kimberly terkekeh kecil mendengar itu. "Apa selain merampas harta orang lain kalian juga seorang pembunuh!"
"Diam bodoh! Cepat lepaskan dia!"
"Kau tampak ketakutan, apa karena aku?" Tanya Kim. Wajah pria muda itu sangat tegang bahkan gemetar memegang pisau itu, menggelikan. Sepertinya ketiga pria ini masih sekolah SMA mungkin, karena perawakan dan wajahnya. Sayang sekali, di usia muda seperti ini sudah menjadi penjahat.
"Kedua temanmu sudah berkelahi denganku, kau belum, bagaimana? Sepertinya kalian harus pulang dengan sedikit tanda oleh-oleh dariku."
Karena semakin muak dan marah pria itu langsung berlari ke arah Kim sambil mengacungkan pisaunya. Sedang Kim yang sudah membaca serangan itu langsung mendorong pria yang tadi Ia cekik dan berganti dengan menendang tangan pria itu sampai pisaunya jatuh. Sebelum pria itu membawanya Kim kembali menendang pisau itu sampai jauh.
"Jangan curang, sekarang mari berkelahi dengan imbang."
Melihat keterdiaman pria itu, membuat Kim tanpa waktu lama langsung memukul kencang wajah pria itu sampai terjatuh. Pria itu menutup wajahnya sambil meringis merasa sakit sepertinya hidungnya patah.
"Dasar anak kecil!"
Kimberly merapihkan jas hitamnya yang kusut, mendengus sebal karena pasti penampilannya berantakan. Sial, padahal malam ini Ia sudah tampil rapih dan jas ini baru Ia beli kemarin.
Tak lama terdengar suara sirine polisi mendekat, karena mungkin ketiga orang itu sudah lemas dan kesakitan, mereka tidak meloloskan diri dan berhasil ditangkap oleh polisi.
Setelah kepergian polisi itu dengan ketiga penjahat, Kim kembali masuk ke dalam mobil. Ia membalikan badan dan tersenyum lebar pada kedua atasannya. "Mari kita lanjutkan perjalanannya, maaf kita terlambat karena ada masalah kecil."
Zein dan Yasmin saling bertatap satu sama lain, merasa speeclesee dengan kejadian ini. Mereka tadi melihat jelas bagaimana Kim berkelahi dengan ketiga penjahat itu dari dalam mobil, dan ternyata berhasil melumpuhkan mereka dengan mudah. Padahal Kim wanita, tapi wanita itu sangat hebat berkelahi.
"Em Kim terima kasih sudah menolong kita." Ucap Yasmin serak karena tadi habis menangis sangking takutnya.
"Sama-sama Nyonya, ini sudah menjadi tugas saya."
"Maaf Kim saya tidak bisa membantu."
"Tidak Tuan, Anda juga sudah membantu saya dengan menelphone polisi."
"Hm itu tidak seberapa dibanding keselamatan kamu tadi, saya benar-benar khawatir."
Kim hanya tersenyum saja, dan tetap fokus menyetir. Jujur Ia malah senang karena telah menyelamatkan atasannya ini, ada suatu perasaan bangga di hatinya. Dan tak lama mereka sudah sampai ditempat tujuan.
Kimberly keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Yasmin sedang Zein membukanya sendiri. Menatap restoran mewah yang tak terlalu ramai, Aksa pasti sudah menunggu didalam lama, kasihan.
"Silahkan Tuan Nyonya, Tuan Aksa sudah menunggu didalam. Nanti akan ada pelayan yang mengantar."
"Memangnya kamu mau kemana?"
"Saya akan di sini saja."
"Jangan begitu Kim." Desah Yasmin, wanita itu menggenggam tangan kanan Kim dan mengelusnya pelan. "Kamu jangan merasa canggung, kami bahkan akan senang kalau kamu bisa membuka diri dan akrab pada kami."
"Em tidak Nyonya-"
"Sudah ayo."
Dan Kimpun dengan terpaksa ikut masuk, padahal Ia ingin diam di mobil saja. Rasanya kurang percaya diri dengan pakaian dan dandanannya yang kurang rapih karena kejadian tadi. Mengingat siapa ulahnya, membuat Kim ingin kembali memukuli wajah anak-anak ingusan itu.