
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Yasmin menatap sendu putranya yang tidur membelakanginya, merasa sedih karena dari kemarin putranya itu hanya diam saja. Anehnya setelah pulang dari fans meeting Aksa berubah. Bukankah seharusnya Aksa bahagia? Tapi kenapa malah menjadi pendiam dan murung seperti ini?
"Mommy simpan sarapan kamu di sini ya, kamu harus makan nanti sakit." Ucap Yasmin. Setelahnya wanita itu bangkit dan keluar dari kamar itu.
Tepat saat keluar Ia melihat Kimberly yang ternyata menunggu didepan kamar. Wanita paruh baya itu menatap Kim dengan pandangan putus asa. "Kim, sebenarnya ada apa dengan Aksa?"
Kim menatap kasihan Yasmin, wanita itu terlihat sedih karena perubahan sifat Aksa. Sebenarnya Ia ingin menceritakan tapi ucapan itu kembali teringat.
"Jangan bilang kedua orang tua saya."
"Kenapa?"
"Saya tidak mau melihat mereka khawatir atau ketakutan, biar saya saja yang hadapi ini sendiri."
"Mungkin Tuan Aksa sedang tidak enak badan Nyonya."
"Benarkah?"
"Iya, atau bisa saja ingin istirahat. Kemarin fans meeting berlangsung lancar, tapi para fans yang hadirpun sangat banyak, dan mungkin hari ini Tuan Aksa ingin banyak istirahat."
Yasmin mengangguk. "Kamu benar juga, tapi Dia belum sarapan."
"Biar saya yang urus Nyonya."
"Terima kasih Kim, saya percayakan semuanya padamu."
"Iya Nyonya."
Kimberly membuka pintu kamar Aksa, dan langsung terdiam melihat pria itu yang sedang terduduk menyender dipunggung ranjang sambil memijat kening dengan mata tertutup. Iapun mendekat dan berdiri disisi ranjang.
"Tuan."
"Saya merasa sangat bersalah sudah mendiami Ibu saya tadi, Dia pasti sedih karena sikap saya ini."
"Tidak apa-apa, Nyonya Yasmin pasti mengerti. Lagi pula saya sudah memberitahu Beliau kalau Anda ingin istirahat karena kelelahan."
"Terima kasih sudah membantu saya."
Kimberly menatap piring berisi nasi goreng di meja samping ranjang, Ia pun membawanya. "Sebaiknya Tuan Aksa sarapan dulu."
"Saya tidak mau."
"Kalau Tuan Aksa tidak sarapan nanti sakit dan malah semakin membuat orang tua Tuan khawatir."
Aksa menatap Kim dengan mata bulatnya. "Suapi." Melasnya.
Dan Kim yang melihat itu hanya menggeleng tak percaya, sifat pria ini memang manja. Tapi Kim tak menolak, Ia duduk disamping ranjang dan mulai menyuapi pria itu dengan telaten. Tak lama perlahan nasi itupun habis dan membuat Kim bersyukur.
"Saya mohon jangan sampai kedua orang tua saya tahu."
"Tuan, menurut saya mereka harus tahu. Selain untuk berhati-hati juga untuk selalu menjaga diri. Kita tidak tahu bagaimana keadaan diluar sana, mungkin bisa saja ada mata-mata disekitar kita yang pastinya dibawah perintah penjahat itu."
"Saya tahu, tapi saya tidak mau membuat mereka ketakutan dan khawatir. Yang pertama mereka jaga tetap saya Kim, mereka pasti tidak akan mempedulikan keselamatan mereka."
"Kedua orang tua Tuan sepertinya sangat menyayangi Anda."
"Hm maka dari itu lebih baik saya saja yang tahu, dan saya akan berusaha menjaga mereka."
"Apa Tuan yakin?"
"Saya yakin." Lalu Aksa menggenggam tangan Kim, menatap ke dalam mata hitam itu. "Saya juga butuh kamu, jadi jangan tinggalkan saya."
"Saya akan selalu ada bersama Tuan."
***
Kimberly menerima selembaran kertas itu dari Dimas, membacanya dengan teliti.
"Namanya Budi, dulu Dia pernah dipenjara lima tahun karena kasus pengedaran narkoba. Setelah bebas, kita kira Dia sudah berhenti dari pekerjaan itu, tapi ternyata semakin menjadi. Setelah diselidiki lebih detail selain mengedarkan narkoba Dia juga menjual para wanita untuk dijadikan prostitusi dan merampok."
Pria berkepala botak itu berumur 46 tahun, dan tubuhnya yang bisa dikatakan tak lagi muda masih terlihat gagah. Kim tak menyangka dulu pria ini pernah dipenjara, lalu kenapa tidak kapok dan malah melakukan hal yang lebih parah?
"Apa sudah ada tanda-tanda Dia dimana?"
"Belum, tapi kami akan berusaha lebih keras lagi."
"Oh iya, aku ingin kau juga mencari seseorang."
"Siapa?"
"Dia seorang wanita, namanya Emma, memang belum tentu namanya itu. Tapi Dia yang saat itu menjemput Tuan Aksa diperusahaan dengan mengaku menjadi sekertaris, tapi kenyataannya Dia adalah seorang penjahat."
"Wanita?"
"Ya dan aku yakin Dia masih kelompok itu, hanya saat itu Dia tidak ada di tempat kejadian."
"Baiklah, kau punya ciri fisiknya?"
Kim mengelurkan foto dan di simpannya diatas meja. Wajah Emma saat itu untungnya terekam cctv di perusahaan, dan menurut Kim itu tindakan bodoh. Apalagi kejahatan mereka akhirnya terbongkar, sudah pasti wajah wanita ini paling mudah untuk mereka dapatkan.
"Sebenarnya saat selesai fans meeting itu, Tuan Aksa mendapat kiriman kotak makanan dari seseorang. Dia bilang seorang wanita, tapi memakai topi dan masker. Apa menurutmu wanita itu adalah Emma?"
"Memangnya apa isi kotak itu?"
"Ekhem, foto keluarga Tuan Aksa dengan.banyak bercak darah. Lalu ada tulisan dibelakang berisi ancaman pembunuhan."
"Berikan padaku, itu bisa menjadi bukti."
"Aku membawanya." Ucap Kim lalu mengeluarkan plastik tembus pandang berisi foto itu.
"Bisa jadi juga kalau wanita yang mengirim itu adalah Emma, baiklah pekerjaanku semakin berat saja."
"Kau dibayar!"
"Aku tahu tapi ada yang kurang."
"Apa?"
Dimas berdehem keras dan menatap Kim malu-malu. "Aku butuh pelukan agar semangat."
"Hah?"
"Hh kau ini memang tidak peka!" Dengus Dimas lalu berdiri dan beralih berdiri disamping kursi Kim. "Aku ingin kau peluk!"
"Astaga!"
"Cepat!"
Kim memutar bola matanya malas lalu berdiri dan tanpa waktu lama pria itu langsung memeluknya erat. Kim bahkan merasa sesak karena Dimas memeluknya sangat erat, tingginya hanya sebatas dada Dimas saja.
"Ekhem!"
Deheman keras itu membuat pelukan mereka terlepas, Kim langsung membelakan mata menatap tak percaya Aksa yang berdiri diambang pintu. Kenapa pria itu ada di sini?
Mati-matian Aksa mengontrol ekspresinya, Ia mendekat dan menatap pria yang tadi memeluk Kimberly. Merasa murung karena pria itu juga tampan dan tinggi, tentu saja karena seorang polisi.
"Maaf mengganggu." Ucap Aksa.
"Tidak apa-apa, em apa sudah selesai wawancaranya?"
"Sudah."
Dimas bisa melihat wajah murung itu, membuatnya ingin sekali melakukan hal jail. Apa atasan Kim menyukai wanita itu? Menarik.
"Tuan maaf kalau membuat Anda menunggu."
"Tidak, saya juga baru selesai."
Tiba-tiba Dimas memeluk bahu Kim dan menariknya agar berdiri lebih dekat dengannya. "Saya titip Kimberly, Dia memang wanita kuat dan dapat dipercaya. Tapi tetap saja Dia seorang wanita yang lemah dan rapuh."
Aksa menatap tak suka tangan Dimas yang bertengger di bahu Kim, tapi pria itu terpaksa tersenyum. "Ya saya akan berusaha menjaganya."
"Kami berpacaran."
Mau Kim ataupun Aksa sama-sama terkejut mendengar itu, mereka menatap tak percaya Dimas. Tapi pria itu malah menampakan wajah datarnya.
"Apa-" Perkataan Kim terpotong saat Dimas memeluknya erat dan kepalanya ditahan di dada pria itu.
"Saya sebenarnya kurang setuju pacar saya ini menjadi seorang bodyguard karena pekerjaannya sangat berbahaya. Tapi mau bagaimana lagi, Kim sangat keras kepala. Nanti kalau kita sudah menikah, saya akan memintanya untuk berhenti saja!"
Aksa mengepalkan kedua tangannya sambil terkekeh dan mengangguk-anggukan kepala, padahal hatinya sangat panas mendengar itu.
Pria itu berdehem keras tanpa peduli dianggap tidak sopan. "Kalau begitu saya permisi."
Kimberly langsung mendorong Dimas melepaskan pelukan mereka, wanita itu mengatur nafasnya yang sesak. Ia menatap Dimas tajam sambil menunjuk. "Yak! Dasar gila!"
"Mana mungkin ada polisi gila Kim." Kekeh Dimas.
"Hh sudahlah!" Ketus Kim lalu berjalan keluar ruangan untuk mengejar Aksa. Segera Ia masuk ke mobil dan ternyata pria itu sudah menunggunya didalam dan duduk dikursi depan. Tanpa berkata Kim mengemudikan mobil itu dengan tenang.
"Saya tidak cemburu!"
Mendengar itu Kimberly yang sedang menyetir tersentak kaget, sepanjang perjalanan Ia maupun Aksa hanya terdiam. Dan pria itu baru berucap, apa katanya tadi?
"Kalau kamu mengira saya cemburu, maka perkiraan kamu itu salah!"
Kim melirik sekilas Aksa yang duduk di sampingnya, tapi langsung fokus lagi menyetir. Aksa terlihat sedang dalam mood buruk, wajahnya bahkan ditekuk dengan bibir mengerucut.
"Sejak kapan kamu sama Dia pacaran?"
"E-"
"Pasti sudah lama, toh sebentar lagi kalian akan menikah!"
Ingin sekali Kim menyela dan menjelaskan semuanya adalah bohong belaka. Tapi untuk apa dijelaskanpun, toh Ia dan Aksa tidak ada hubungan apa-apa.
Mobilpun berhenti didepan rumah mewah itu, dan Aksa langsung keluar dengan menutup pintu mobil dengan kencang. Kimberly meringis melihatnya, kenapa dengan pria itu?
Bukan percaya diri atau apa, tapi Aksa malah terlihat seperti pria yang sedang cemburu. Memangsih katanya tadi tidak cemburu, tapi ucapan kadang tidak sesuai dengan hati. Seulas senyuman terukir di bibir Kim, entah kenapa tapi hatinya merasa bahagia.
Apa Kim sudah tertarik pada Aksa?
Akhir-akhir inipun saat berdekatan dengan Aksa jantungnya berdetak tak karuan, membuatnya gugup dan malah tak percaya diri. Astaga ada apa dengannya? Ingin menolak rasa itupun, tapi terasa sulit.