MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 20



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


'Kami sudah mengecek lokasi yang kamu berikan, dan ternyata memang benar jika didalam hutan itu ada gudang kecil yang dijadikan tempat penyimpanan narkoba yang akan di kirim ke negara lain. Ada sekitar tiga orang yang kita tangkap, saat kami sampai di sana mereka masih dalam keadaan pingsan. Satu di gudang dan dua lagi di jalanan.'


Kimberly mengernyitkan keningnya, merasa ada yang janggal. "Seingatku mereka ada berempat."


Terdengar umpatan disebrang sana. 'Sepertinya yang satu lagi berhasil meloloskan diri. Kami akan mencarinya dan aku akan mengerahkan pasukanku untuk menangkap buronan itu.'


"Ya aku ingin Dia tertangkap, mereka kelompok penculikan dan pengedaran narkoba."


'Hm tapi aku ingin bertemu langsung denganmu untuk menceritakan lebih detail kejadian itu.'


"Aku tidak bisa sekarang kesana, mungkim besok."


'Ku tunggu.'


Kimberly mematikan panggilan itu, dan tepat saat itu pintu kamar rawat terbuka. Terlihat seorang suster yang mendekatinya. "Maaf apa Anda yang bernama Kimberly?"


"Ya."


"Pansien ingin bertemu dengan Anda."


Sempat terdiam tapi segera Kim mengangguk. "Baik."


"Terima kasih, kalau begitu saya permisi."


Tanpa waktu lama Kim masuk ke dalam ruangan itu, kamar rumah sakit khusus VVIP, terlihat sangat nyaman dan lumayan besar. Saat melihat seorang pria berdiri didekat jendela sambil membelakanginya, wanita itu mendekat.


"Tuan Aksa."


Aksa merasa jantungnya mulai berdetak cepat, Kim sudah ada di sini, tapi Ia belum berani berbalik untuk melihat wanita itu. "Hm."


"Apa ada keperluan yang Anda butuhkan?"


"Tidak."


Lalu kenapa Aksa memintanya masuk jika tak ada keperluan? Kim jadi pusing.


"Saya sudah mengabari Nyonya Yasmin dan Tuan besar, mereka akan ke sini secepatnya."


Aksa mengangguk lalu berbalik, memperhatikan Kim. "Kamu kenapa gak bilang sama saya kalau pergi?"


"Maaf, saat itu saya-"


"Kamu tahu tidak? Saya sangat khawatir dan takut, takut jika kamu tak akan kembali lagi. Saya kira kamu sudah muak dengan sikap bossi dan menyebalkan saya makanya kamu memilih pergi."


Aksa melangkah mendekat menatap ke balik mata hitam itu. "Maaf atas sikap saya dulu yang kurang baik."


Kim tersenyum kecil dan menggeleng. "Tidak Tuan, itu bukan salah Tuan. Saya pergi karena Nenek saya sakit, Dia serangan jantung, dan maaf saya tidak mengabari Anda sampai membuat Anda khawatir."


"Jadi kamu pergi bukan karena sikap menyebalkan saya?"


"Bukan."


Syukurlah, batin Aksa.


Wanita ini memang sangat baik, bahkan tak sebal dengan sikapnya dulu. Jika di pikir pikir sikapnya keterlaluan juga, apalagi pada seorang wanita. Mungkin saat itu Ia hanya kecewa dan sakit hati, sampai melampiaskan untuk membuat Kim tertekan. Kekanakan memang.


"Apa Tuan Aksa mau berjalan jalan?"


"Hah?"


"Cuaca sore hari sedang bagus, Tuan Aksa pasti bosan berada di kamar terus."


Kata kata itu kembali mengingatkannya pada saat Kim sakit. Astaga hatinya kembali berdegup kencang, bagaimana bisa Ia tidak jatuh hati pada wanita itu?


"Hm."


Kimberly membawa kursi roda yang ada dipojok ruangan, setelah Aksa duduk di sana Ia mendorongnya ke taman rumah sakit. Kim membawa Aksa ke rumah sakit yang tak terlalu jauh dari tempat tadi. Melihat wajah pucat juga tubuh lemah Aksa membuatnya khawatir, dan jika dibawa ke rumah sakit yang lebih bagus tapi jauh takut terjadi apa apa.


"Apa Anda kedinginan?"


Aksa mengangkat kepalanya melihat Kim lalu menggeleng. "Tidak."


Kimberly tahu Aksa berbohong, buktinya pria itu beberapa kali menggosok kedua tangannya. Wanita itu membuka jaketnya lalu disampirkan ke bahu Aksa.


Aksa yang menerima itu tentu saja terkejut, kejadian itu seperti slow motion. Kim yang menundukan tubuhnya membenarkan letak jaket di bahunya, wajah mereka tampak dekat dan membuatnya terpesona.


Saat menyadari posisi mereka Kim langsung terkejut, segera wanita itu berdiri dan bersehem menghilangkan kecanggungan. Astaga Ia sampai tak sadar kalau posisi wajah mereka sangat dekat.


Dret!


Mendengar nada dering handphonenya segera Kim mengangkat panggilan itu.


"Nyonya?"


'Kim kamu sekarang dimana? Saya dan suami saya sudah ada didepan rumah sakit.'


"Saya dan Tuan Aksa sedang ada di taman rumah sakit, tapi kami akan kembali ke ruang rawat Nyonya."


'Baik, saya sudah tahu nomor kamarnya, saya tunggu.'


Suara Nyonya Yasmin terdengar terburu buru dengan nafas berderu, kasihan wanita itu pasti sangat khawatir pada putranya. Apalagi yang Ia tahu kalau Aksa menghilang sudah satu hari, siapa yang tak khawatir saat keluargamu menghilang.


"Ck Mom mengganggu saja!" Desis Aksa pelan. Padahal Ia sedang ingin menghabiskan waktu bersama Kim, anggap saja masa kangen kangenan.


"Ya?"


Aksa menggeleng kencang. "Tidak. Ekhem Ibuku sudah kesini?"


"Iya mereka pasti sudah menunggu di kamar Tuan, mari kita kembali."


Kimberly pun mendorong kursi roda itu, kamar rawat Aksa ada di lantai lima. Saat masuk kamar sudah terlihat Nyonya Yasmin dan suaminya disana, mereka berdua langsung berhambur memeluk Aksa. Sedang Kim agak menjauh karena tidak mau mengganggu.


Yasmin terisak sambil mengelus kedua pipi putranya. "Mommy khawatir banget sama kamu sayang hiks!"


"Aishh Mom jangan menangis!"


"Siapa yang gak sedih sih saat denger kamu diculik?! Kamu tahu Mom itu khawatir dan takut! Gimana kalau mereka ngelakuin hal jahat sama kamu?! Hiks!"


Zein mengusap bahu istrinya lalu menatap putranya. "Kamu tidak apa-apakan?"


"Aksa gak apa apa kok."


"Bohong, coba sini Mom lihat takutnya tubuh kamu ada yang terluka!" Yasmin melihat wajah putranya sambil mencari kalau ada yang terluka. Lalu saat akan menbuka baju pasien, segera Aksa mencegah.


"Momm jangan dongg malu ada Kim!"


"Tapi Mom mau lihat takut ada yang terluka!"


"Aku gak apa-apa Mom, mereka mana berani lawan Aksa yang kuat."


Zein mendengus sebal. "Kuat dari mana!" Ledeknya.


"Ck!" Decak Aksa.


Pasangan paruh baya itu lalu beralih menatap Kim yang masih berdiri di ambang pintu kamar. Yasmin berdiri dan berjalan mendekat, lalu tiba-tiba memeluk Kim erat.


"Terimakasih Kim, kamu sudah menyelamatkan putra kami. Kalau tidak ada kamu, kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada Aksa hiks!" Dan Yasmi kembali terisak dipelukan Kim.


Kimberly menepuk punggung Yasmin pelan, mencoba memberi kekuatan. "Mungkin sudah menjadi rencana Tuhan, lagi pula ini memang sudah menjadi tugas saya Nyonya."


Yasmin melepas pelukan mereka sebentar sambil mengusap lelehan air matanya, merasa malu sendiri. "Saya tidak tahu lagi harus bicara apa, tapi kami benar-benar berterima kasih sama kamu."


"Sama-sama Nyonya."


Suami Yasmin menepuk bahu Kim pelan. "Kamu memang wanita kuat, maaf dulu saya sempat ragu padamu, tapi ternyata kamu ini memang yang paling terbaik untuk menjaga putra kami."


Rasanya Kim tak tahu harus apa, jujur Ia tak enak. Kedua atasannya itu terlalu berlebihan, padahal itu memang tugasnya. Mungkin Yasmin dan Zein sangat menyayangi Aksa sampai takut kehilangan pria itu. Beruntungnya Aksa karena masih memiliki kedua orang tua yang penyayang.


"Sudah-sudah, sekarang Mom sama Daddy siapin mobil aja. Aksa mau pulang, gak betah di rumah sakit ini."