MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 27



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Aksa menatap ragu kedua orang tuanya yang sedang makan malam di depannya. Ia sendiri baru dua sendok makan karena merasa bimbang dan gugup dengan keinginannya ini. Akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, Aksa berdehem keras dan berhasil membuat orang tuanya menatapnya.


"Ekhem!!"


Zein menaikan sebelah alisnya, sambil tetap mengunyah sisa makanannya. "Kenapa?"


"Aksa mau liburan."


Yasmin dan Zein menatap aneh putra semata wayang mereka, keduanya saling bertatapan sebentar sebelum kembali melihat Aksa.


"Haha jangan becanda."


"Aku serius Dad."


Melihat keseriusan di wajah putranya, Zein menghembuskan nafasnya berat. "Tapi ini bukan musim liburan."


"Aku tahu, maka dari itu aku memilih berlibur sekarang karena pasti tempat wisatapun tak terlalu ramai dibanding saat hari libur."


"Tidak."


Aksa menatap sebal Yasmin. "Kenapa?"


"Kamu nanya kenapa? Sekarang bukam waktu yang tepat untuk berlibur Aksa."


"Lalu kapan waktu yang tepat?"


"Daddy dan Mommy sibuk-"


"Aku sendirian yang akan berlibur."


Yasmin tak melanjutkan perkataannya, kini tak ada lagi wajah bersahabatnya. Matanya menatap tajam Aksa di sebrangnya. "Kamu gila hah?!"


"Mom aku bukan anak kecil lagi!" Ucap Aksa mulai meninggikan nada suaranya. Ia memang merasa takut tidak sopan, tapi Ia juga merasa muak. "Aksa sudah dewasa, 28 tahun! Aku bukan anak kecil yang seperti sedang belajar berjalan. Aksa mohon lihat Aksa! Sudah cukup selama ini Mom dan Dad bersikap berlebihan, sungguh Aksa bisa menjaga diri Aksa sendiri!"


Zein langsung menggenggam sebelah tangan Yasmin, Ia bisa merasakan kalau istrinya itu kini badannya mulai bergetar. Zein menatap sendu putranya, mendengar perkataan itu entah kenapa hatinya bergetar. Benar juga, Ia dan Yasmin selama ini terlalu bersikap berlebihan. Sekarang putranya sudah tumbuh dewasa, bahkan bisa dikatakan mapan. Tapi Ia dan istrinya masih menganggap Aksa layaknya anak bayi yang butuh pelukan dan kasih sayang.


Apa sikapnya selama ini salah?


Walau Aksa sudah dewasa, tapi Zein tak bisa memandang seperti itu. Ia hanya dititipkan satu putra seumur hidupnya dari Tuhan, dan itu membuat mereka sangat menjaga Aksa. Memberikan semua pada anak itu, tapi sepertinya Aksa mulai tak nyaman. Ia juga sadar karena putranya sudah sangat dewasa, bisa berpikir mana yang benar.


"Maafkan Mom dan Dad."


Aksa mengangkat kepalanya, menatap tak tega Yasmin yang matanya berkaca-kaca seperti menahan tangisan.


"Entah sampai kapanpun Aksa bertambah besar, kamu akan tetap selalu menjadi putra kecil kita. Aksa yang harus kita jaga, diberikan cinta dan kasih sayang. Tapi sepertinya kamu perlahan sudah mulai mengerti dan kami minta maaf kalau kamu malah terkekang. Maaf ya sayang?"


"Kamu satu-satunya harta yang paling berharga di hidup kami, kamu permata kita. Mom dan Dad menyayangi Aksa lebih dari apapun, jadi Mommy mohon jangan tertekan dengan sikap kami ini. Cuma kamu yang kami miliki, kalau kami sudah tidak ada-"


"Stop!" Teriak Aksa. Pria itu menutup matanya mencoba mengurangi rasa sesak didadanya. "Maaf, maaf kalau Aksa salah bicara sampai membuat kalian begini."


Aksa lalu pergi meninggalkan ruangan itu, berlari kecil sambil menghapus kasar air mata yang sudah menetes. Pria itu akhirnya memilih berdiam menenangkan diri di halaman belakang, duduk di kursi panjang yang melihatkan taman bunga.


Angin malam tak Ia pedulikan, sekarang Ia sedang dilanda menyesal yang dalam. Bagaimana tidak! Aksa sudah membuat kedua orang tuanya bersedih. Sebenarnya Ia tak bermaksud begitu, tapi mungkin itu adalah isi hatinya yang selama ini terpendam. Ya, Aksa memang jujur tak terlalu menyukai sikap berlebihan kedua orang tuanya.


Mungkin saat masih berumur belasan tahun Aksa masih menerima sikap mereka, tapi setelah menginjak usia dewasa dan mapan, sikap itu seperti tak pantas Ia dapatkan lagi. Aksa sadar kalau mereka juga tak ingin kehilangannya, tapi bukan begitu caranya. Sikapnya sekarang yang manja, cengeng dan kekanakanpun karena selama ini Ia dapatkan dari kedua orang tuanya itu.


"Sepertinya coklat hangat bisa memperbaiki mood seseorang."


Mendengar suara familiar itu, Aksa langsung bisa memastikan jika itu adalah Kim. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kecil pada Kim yang berdiri di sampingnya. Aksa menerima secangkir coklat hangat tak lupa mengucapkan terima kasih.


Sedang Kim bersyukur karena Aksa menerima coklat hangat buatannya. Sebenarnya Ia tidak mau ikut campur masalah keluarga atasannya ini, tapi anehnya Ia merasa kasihan pada Aksa. Apalagi saat pria itu pergi dari sana sambil meneteskan air mata.


Kimberly menatap langit malam yang cerah dengan dihiasi jutaan bintang juga bulan sabit yang bersinar indah. Melihat langit seindah itu, entah kenapa Ia jadi mengingat kedua orang tuanya yang telah tiada. Betapa Ia sangat merindukan mereka yang telah tenang di Surga.


"Kau sudah hampir lima bulan menjadi bodyguardku, tapi aku belum mengenal keluargamu. Mungkin nanti kau harus ajak aku untuk bertemu mereka."


Kimberly duduk disamping Aksa, tersenyum pada pria itu. "Saya tinggal tidak terlalu jauh dari sini, dua jam kurang saja sudah sampai."


"Benarkah? Bagus kalau begitu, nanti saat hari libur kita mampir ke sana."


Kim mengangguk lalu beralih kembali menatap langit. "Tapi saya hanya tinggal bersama Nenek saja."


"Memangnya kemana orang tua kamu?"


Tepat saat itu juga ada satu bintang yang bersinar terang, membuat Kim tersenyum sedih. "Mereka sudah tidak ada saat usia saya masih kecil."


Aksa menatap tak percaya Kim, astaga kenapa malam ini Ia salah berbicara terus?! "Em maaf saya tidak bermaksud."


"Hm, kalau boleh saya ingin bercerita sedikit."


"Tentu saja."


"Dulu sebelum kedua orang tua saya meninggal, saya adalah anak yang manis, cerewet dan ceria. Tapi semua berubah setelah mereka pergi, diumur saya yang masih sangat kecil, cobaan itu sangat berat bagi saya."


Tanpa bisa dicegah Aksa menepuk-nepuk pelan bahu Kim, merasa tidak tega mendengar cerita wanita itu.


"Perlahan saya tumbuh sangat berbeda dari dulu, menjadi anak perempuan yang dingin dan berani. Mungkin ini memang agak lucu karena tekad saya saat itu adalah ingin menjaga satu-satunya keluarga saya yang tersisa yaitu Nenek saya. Tapi entah bisikan dari mana, saya malah bekerja berbahaya seperti ini."


Kim kembali menatap Aksa, tersenyum walau rasanya berat. "Dan jujur saya iri melihat kasih sayang kedua orang tua Tuan Aksa, mereka terlihat sangat menyayangi Tuan. Walau mungkin Tuan tidak nyaman karena sekarang sudah dewasa, tapi menurut saya itu tidak apa-apa. Karena Tuan seharusnya bersyukur masih memiliki mereka, sedang diluar sana banyak orang yang tidak pernah bisa lagi merasakan masa-masa seperti itu."


***


Teman-teman saya ingin meminta penilaian bintang kalian untuk cerita ini, sedih rasanya karena baru 3.8 😢


Terima kasih pada yang sudah menyempatkan waktunya ❤