MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 30



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Wanita itu meringis merasakan pusing di kepalanya, dengan mata masih tertutup tangannya terulur sendiri memijat keninganya yang sakit. Kembali Ia mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan tidur, dan saat merasa memeluk sesuatu yang hangat Ia langsung memeluknya dengan erat.


Tapi telapak tangannya merasakan sesuatu yang berbeda, yang di peluknya ini sangat lembut dan hangat, seperti bukan kain yang membungkus guling tapi lebih seperti.. Kulit?


Seketika itu juga Kimberly membuka matanya, dan langsung terbelak melihat wajah pemilik badan yang Ia peluk. Wanita itu langsung duduk walau sempat meringis karena kepalanya sangat pusing.


Erangan terdengar lalu suara itu semakin membuat Kim yakin jika pria yang tidur di sampingnya adalah.. Aksa.


"Apa sudah pagi?" Aksa duduk dan meregangkan ototnya yang pegal, tapi langsung terbelak melihat Kim yang duduk di dekatnya. "Kim?!"


Kimberly merasa aneh karena Aksa sendiri tampak terkejut melihatnya, tapi wanita itu langsung mengalihkan pandangan ke arah lain saat menyadari kalau Aksa bertelanjang dada.


Sedang Aksa yang menyadarinya langsung menutup dadanya dengan kedua tangan, meringis karena Ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengannya. "Em Kim apa yang kau lakukan di kamarku?"


"Saya tidak tahu Tuan, saya juga bingung."


Ada rasa bersyukur di hati Kim karena pakaiannya masih lengkap, sehingga Ia tidak berpikir yang aneh-aneh. Walau tak bisa berbohong kalau ada perasaan takut dengan kejadian ini yang sama sekali tidak Ia ingat.


"Aku tidak bisa berkata kalau aku melakukan apapun karena aku tidak ingat sama sekali, jadi kumohon jangan maki ataupun memukulku oke?"


"Iya Tuan."


Karena merasa semakin gugup, Kimpun berdiri. "Saya akan kembali ke kamar, permisi."


Kimberly mempercepat langkahnya untuk sampai di kamarnya, setelahnya wanita itu langsung masuk ke kamar mandi. Menatap pantulan dirinya di cermin yang tampak sangat berantakan, apa benar ini adalah Ia sendiri?


Tapi matanya melebar melihat banyak sekali tanda merah dileher dan dekat dadanya, Kim bahkan sampai membuka mulutnya tak percaya. Ia bukanlah wanita bodoh yang tak tahu tanda itu, dan sialnya sekarang Ia ingin menangis.


Kim mengacak rambutnya dan memukul-mukul kepalanya karena Ia sama sekali tak ingat apa yang terjadi padanya. Ia hanya mengingat malam kemarin ada pesta didekat pantai, Ia dan Aksa makan barbeque lalu.. Bir. Astaga! Ia dan Aksa berlomba meminum bir terbanyak.


"Apa yang aku lakukan!" Frustasinya sambil menatap pantulan dirinya cermin.


***


"Kau menyerah hah?!"


Kim tak mempedulikan ucapan itu, kepalanya semakin berat Ia tumpukan diatas meja sambil meracau tak jelas. Sedang Aksa yang melihat itu tersenyum lebar lalu menegak gelas terakhir kemenangannya.


"Aku menang!!" Teriaknya keras tak mempedulikan sekitar.


Sekitar enam botol bir ada diatas meja dan isinya sudah kosong, tak lain karena ulah mereka berdua. Lomba itu dimenangkan oleh Aksa, yang pastinya kini keduanya terlihat sudah mabuk berat.


Aksa menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba fokus dan sadar, sial Ia terlalu banyak minum. Ini adalah rekornya karena biasanya Ia hanya kuat minum sampai satu botol saja. Pria itu mencoba berdiri dengan susah payah dan menepuk pelan punggung Kim.


"Kim bangun, ayo kita kembali ke hotel saja!"


"Hhh."


Kasihan Kim pasti sudah benar-benar mabuk, walau Aksa sendiri merasa tak kuat dan pusing tapi Ia mencoba membantu Kim berdiri dan memapahnya. Aksa masih ingat jalan pulang, dan syukurlah kepalanya belum pusing sekali.


"Kau berat sekali Kim!" Desah Aksa. Pria itu berusaha memapah Kim di lorong hotel yang sudah sepi, ayolah ini sudah tengah malam.


Karena matanya yang sudah tidak fokus dan kepalanya yang semakin pusing, maka Aksapun memilih untuk membawa Kim masuk kamarnya yang untungnya bersebelahan. Saat akan menidurkan Kim ke atas kasur, badannya malah ikut terjatuh dan kini Ia tepat berada diatas badan Kim.


Aksa meringis kecil karena kepalanya terbentur dengan kepala Kim, Ia membuka matanya dan langsung terdiam menatap wajah Kim yang sangat dekat. Antara sadar atau tidak, Ia malah menelusuri wajah cantik itu.


"Kenapa aku bisa memiliki bodyguard secantik ini? Ini adalah cerita gila!"


"Apa aku adalah putri tidur dan kau pangeran yang menciumku untuk membangunkan aku?"


"Hah?"


"Kau sudah menciumku?"


"Belum."


"Lalu kenapa aku bisa terbangun? Bukankah seharusnya aku akan terbangun setelah kau cium?"


"Ya, seharusnya kau jangan bangun dulu karena aku belum menciummu."


"Baiklah, ayo sekarang cium aku."


Aksa dan Kim sudah mabuk berat meracau tak jelas dan berprilaku diluar pikiran. Mereka bahkan seperti orang gila yang berbicara melantur, terkutuklah minuman itu. Yang pasti mereka sekarang sama-sama tidak sadar dengan apa yang dilakukan mereka sendiri.


Cup!


Kim langsung membuka matanya saat merasakan kecupan itu, pelukannya dileher Aksa semakin mengerat. "Seharusnya kau menciumku, bukan hanya mengecupnya."


"Jadi itu kurang?"


"Ya sangat kurang, aku butuh yang lebih lama."


Senyuman aneh terbit dibibir Aksa, tangannya mengusap pipi Kim. "Kau ingin aku melakukan lebih?"


"Ya."


Aksapun menyatukan bibir mereka, perlahan bibirnya Ia gerakan ******* bibir ranum itu dengan mesra. Lalu setelah cukup lama, ciumannya turun mengecup rahang Kim dan sekarang tepat di leher jenjang itu.


"Hmm."


Tangan Kim mengacak rambut Aksa yang sedang menciumi lehernya, mengerang merasakan suatu perasaan bergejolak seolah menerbangkannya ke langit. Perlahan tangannya turun dan membuka kancing kemeja Aksa, setelah merasa semua kancing terbuka Kim membuang kemeja putih itu asal.Bunyi kecupan menggema di ruangan temaram itu, dan anehnya Aksa malah berlama-lama di tempat itu.


"Emm cukup!"


Kim mengangkat kepala Aksa dan langsung tersenyum lebar dengan mata sayunya. "Kau pangeran yang mesum!" Kekehnya.


Aksa ikut tersenyum. "Hm bukankah itu yang kau inginkan?"


"Tapi aku tidak memintamu untuk melakukan itu."


"Tidak apa, karena kau juga tampak menikmatinya."


Kimberly hanya tersenyum saja. "Sudah, aku sangat mengantuk."


Terlihat wajah tak terima Aksa, bibir pria itu mengerucut. "Tapi aku masih belum cukup, ayolah kita lanjutkan."


"Tidak mau, mataku sudah berat."


"Hh baiklah, tapi aku harus memelukmu!"


Aksa langsung berbaring disamping Kim dan membawa tubuh wanita itu kepelukannya. "Selamat tidur putri cantik."


"Selamat tidur pangeran."


Begitulah yang terjadi antara mereka, jika keduanya mengingat pasti akan merasa malu dan mengutuk dirinya sendiri. Hanya karena tantangan bodoh itu sampai melupakan kesadaran mereka. Bersikap seperti orang gila dan meracau tak jelas. Walau itu semua diluar kesadaran, tapi tetap saja terlihat memalukan.



Kimberlynya lagi feminim 😁