
Di luar mungkin sedang turun hujan deras dengan diiringi angin yang kencang. Tetapi pasangan suami istri yang sedang berpelukan di sofa sambil menonton film itu sama sekali tidak merasa kedinginan, mereka malah merasa hangat satu sama lain. Entah sudah berapa lama mereka menonton film, yang pasti tidak mau beranjak dan melepaskan pelukan nyaman itu. Kemesraan itu terhenti saat melihat lampu ruangan yang mati tiba-tiba, sepertinya bukan mati lampu, karena televisi masih menyala.
"Ck kenapa lampunya matisih?!" Kesal Aksa, mau tak mau pria itu melepaskan pelukan mereka dan berdiri untuk mengecek.
"Apa mungkin lampunya sudah tidak berfungsi lagi?"
"Hm sepertinya begitu, kita harus mengganti lampu yang baru." Aksa menoleh menatap istrinya, tersenyum aneh sambil menggaruk belakang kepalanya. "Tapi biasa ya sayang, kamu yang pasang."
"Tidak ah malas, kamu saja yang pasang!"
"Ayolah sayang, akukan takut ketinggian. Bagaimana kalau aku kesetrum, lalu jatuh dari tangga dan-"
"Ck jangan mengada-ngada, selama ini buktinya aku baik-baik saja kok."
Aksa berjalan kembali mendekati Kimberly di sofa, memeluk leher wanita itu dari belakang. "Kamukan istri yang baik, tidak akan mungkin rela melihat suaminya harus menghadapi fobianya." Rengeknya.
"Huft baiklah-baiklah aku yang pasang."
"Hehe makasih sayang, kamu memang terbaik, love you." Senang Aksa sambil mengecup pipi Kimberly mesra.
Aksa lalu keluar dari kamarnya untuk membawa satu lampu baru di lantai bawah, setelahnya Ia kembali ke kamar untuk di pasangkan oleh Kimberly. Memang anehsih di lihat-lihat, kenapa bukan Aksa yang melakukannya, ya itu tadi alasannya Ia takut ketinggian. Mereka sendiri sudah pindah ke rumah baru sekitar dua bulanan dan Aksa belum memperkejakan pelayan ataupun satpam atas keinginan Kimberly. Katanya wanita itu bisa membersihkan rumah sendiri karena sepanjang hari akan di rumah.
"Hati-hati ya sayang, kamu tenang aja aku pegangin yang kuat dari bawah." Ucap Aksa sambil memegang tangga berbentuk A itu sekuat mungkin. Tidak bisa berbohong kalau Ia merasa khawatir setiap Kim memasangkan lampu, tapi Ia juga tidak bisa melakukannya, pria lemah memang.
"Sudah!"
Setelah mengganti lampu itu dengan yang baru Kimberly kembali turun dengan hati-hati sambil membawa lampu bekas di tangannya. Baru saja turun Ia langsung mendapat pelukan erat dari Aksa. "Hei ada apa?"
"Maaf ya seharusnya aku yang lakuin ini, aku jadi merasa suami yang tidak berguna."
Kimberly menggeleng pelan lalu mengusap pipi Aksa. "Tidak apa-apa, lagi pula aku tidak keberatan dan malahan senang melakukan hal ekstrim itu hehe."
Kepribadian suami istri itu memang berbanding terbalik, walaupun sudah menikah tapi sifat Aksa maupun Kimberly tetap sama tidak berubah. Ya walaupun Aksa mulai berusaha lebih bersikap dewasa karena sekarang sudah berumah tangga dan menjadi kepala rumah tangga.
"Oke sebagai hadiahnya aku bakal masakin kamu sesuatu."
"Apa?"
"Rahasia, pokoknya jangan dulu ke bawah sebelum aku selesai masak, nanti aku panggil kamu ke sini."
"Iya, tapi jangan lama ya, aku udah laper."
"Siap sayang."
Sebelum Aksa keluar pria itu kembali mengecup pipi Kimberly mesra, ah tidak bisa di hitung berapa kali sehari pria itu mencium istrinya. Tidak apalah, itukan ungkapan rasa sayang. Lagi pula mereka juga sudah menikah, jadi sah-sah saja.
Satu lagi yang aneh di rumah tangga itu, yaitu peran mereka masing-masing. Contoh kecilnya saja tadi Kimberly yang memasang lampu biasanyakan di lakukan oleh pria, dan Aksa yang memasak yang biasanya di lakukan oleh wanita. Aneh tapi mereka dengan senang hati melakukan itu karena rumah tangga itu harus saling melengkapi satu sama lain.
Di dapur Aksa akan memasak spageti, makanan biasa tapi lumayan juga untuk makan malam apalagi sekarang sedang hujan pasti akan lebih enak. Waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, dan mereka baru makan malam karena dari tadi menonton film. Sanking asik sampai tadinya tidak berniat makan malam, tapi kesehatan yang paling utama.
"Tidak apa-apa hanya spageti saja?"
"Iya gak apa-apa kok, makasih ya."
"Hm habiskan."
Kimberly memakan spagetti itu pelan, itu karena Ia sedang gugup memikirkan sesuatu. Jantungnya berdetak tak karuan, Ia berusaha untuk tidak terlihat gugup nanti. Makannyapun lebih lama, dan Aksa sendiri sudah lebih awal menghabiskan.
"Ekhem sayang ada yang mau aku katakan." Gugup Kimberly setelah menghabiskan segelas air putih.
"Apa?"
Jari-jari Kim Ia mainkan karena sanking gugupnya, Aksa yang melihat itu terkekeh geli lalu membawa tangan Kim ke genggamannya. "Hei kenapa terlihat gugup sekali? Kau mau mengatakan apa?"
"Aku.. Aku hamil."
Walaupun Kimberly berkata dengan suara pelan, tapi Aksa masih bisa mendengarnya jelas. Matanya melebar tak percaya, detak jantungnya mulai kencang. "Aku tidak salah dengarkan?"
"Aku hamil, maaf karena baru bilang sekarang."
Aksa langsung memeluk Kimberly erat, mengecup puncak kepala wanita itu berkali-kali. Rasanya Aksa tidak mampu mengungkapkan apa yang Ia rasakan, yang pasti Ia sangat bahagia. Bahkan sanking bahagianya, pria itu sampai meneteskan air mata haru.
"Benarkah aku sudah menjadi seorang Papa?" Tanya Aksa sambil memegang pipi Kim, saat wanita itu mengangguk Aksa kembali memeluk istrinya erat. "Terima kasih Tuhan telah memberikan malaikat di tengah-tengah kami aku sangat bahagia."
Kimberly tidak sanggup lagi menahan tangisanya, Ia ikut terisak mendengar itu. Suaminya ini terlihat sekali bahagia setelah mengetahui kehamilannya, Kim bersyukur karena ketakutannya itu salah kalau Aksa belum siap memiliki buah hati.
"Sejak kapan kamu hamil?"
"Em tiga hari yang lalu, aku minta maaf baru cerita sekarang."
"Tidak apa-apa, yang terpenting kamu sudah mengatakannya." Pantas saja beberapa hari kebelakang sikap Kimberly aneh, moodnya mudah berubah-ubah. Kimberly juga setiap pagi selalu muntah membuat Ia khawatir, sempat ingin mengecek ke dokter tapi wanita itu menolak karena tak suka dengan suasana rumah sakit.
"Kita harus mengabarkan kabar bahagia ini kepada semua orang."
Kimberly mengangguk. "Iya."
Pernikahan mereka yang baru menginjak empat bulan sudah di titipkan malaikat kecil dan itu adalah sebuah anugerah dari Tuhan. Ternyata tidak butuh waktu lama Tuhan sudah mempercayai mereka mengurus buah hati, terima kasih karena telah memberikan kepercayaan ini.
Aksa tidak perlu banyak berjanji, yang pasti Ia akan selalu berusaha menjaga dan menyayangi keluarganya. Menjadi pemimpin keluarga yang baik karena Aksa menyayangi Kim, begitupun anak-anaknya nanti. Semoga keluarganya selalu di berikan kebahagiaan oleh-Mu, amin.
***
Jangan lupa mampir ke ceritaku yang lain, di tunggu di sana ya. Follow profilku, see you❤