MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 36



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Aksa melirik sekilas Kimberly yang duduk di sampingnya, wanita itu dari semenjak berangkat hanya diam saja yang tentu saja membuatnya bingung. Salah satu tangannya lalu terangkat mengusap puncak kepala Kim.


"Sayang kau kenapa?"


Hening.


Lihatkan, sepertinya kekasihnya itu sedang mode marah padanya. Tapi Aksa bingung, memangnya Ia membuat kesalahan apa sampai membuat wanita itu mendiaminya.


"Aku minta maaf kalau buat salah."


Kimberly langsung melirik Aksa lewat sudut matanya, Ia menggigiti kukunya tanda jika wanita itu sedang gugup. Sebenarnya Ia juga merasa tidak enak hati mendiami Aksa, apalagi sebentar lagi sampai di rumah pria itu, otomatis Ia diam sudah sangat lama.


Mau bagaimana lagi, Kim sebal karena pengakuan pria itu. Sebenarnya sudah dari kemarin juga Kim sebal pada kekasihnya, hanya Ia tak mau menunjukan didepan keluarganya dan bersikap biasa.


"Aku tidak tahu salah apa, jadi tolong jelaskan."


"Kenapa kamu harus jujur sama nenek kalau kita pacaran?" Kim menghembuskan nafasnya berat. "Aku belum siap."


Seulas senyuman tipis terukir di bibir Aksa. "Memangnya kapan kau akan siap hm? Menurutku jangan di sembunyikan, lebih baik kita jujur saja dari awal."


Lampu merah menyala, itu berarti kendaraan harus berhenti. Sambil menunggu kembali menyala, Aksa menghadap Kimberly, menatap ke balik mata wanita itu.


"Sudah cukup kita bersembunyi dan berbohong didepan orang tuaku, itu membuatku tak nyaman. Apalagi saat kau bersikap propesional dan memanggil dengan embel-embel 'Tuan'." Aksa mengusap pipi Kim. "Kau tahu Kim? Itu membuat aku sakit hati."


Kenapa Aksa harus sakit hati? Kimberly kan memang bekerja menjadi bodyguard pria itu, dan Ia harus memanggil dengan sebutan 'Tuan. Kim sendiri tak merasa sakit hati, malah Ia merasa aman saja.


"Aku akan secepatkanya membicarakan hubungan kita pada Mama dan Papaku, kau tenang saja, lagi pula mereka menyukaimu." Ucap Aksa lalu kembali mengemudikan mobilnya.


Jika Aksa jujur mengenai hubungannya pada kedua orang tua pria itu bagaimana ya? Huft, Kim tidak bisa membayangkan. Mereka memang sangat baik padanya, bahkan menyambutnya. Tapi Kimberly merasa undur diri, itu karena Ia hanya pekerja di sana.


Keluarga Aksa sangat terpandang, kaya raya dan memiliki segalanya. Sedangkan Ia? Kim hanya orang biasa. Kenapa Ia harus terlibat perasaan dan berhubungan dengan orang seperti Aksa? Sungguh kisah cinta yang rumit.


***


Tok Tok!


Ketukan kencang pintu depan membuat Bunga yang akan menuangkan minuman mengurungkan niatnya, Ia berjalan untuk membuka pintu yang ketukannya semakin kencang dan tak sabaran. Wanita itu membuka pintu, tapi kernyitan langsung terlihat di kening saat melihat tiga orang pria.


Bunga memperhatikan penampilan mereka yang serba hitam-hitam, tak lupa badan mereka juga yang besar dan tinggi. Anehnya perasaannya langsung tak enak, tapi wanita itu mencoba bersikap biasa.


"Em siapa ya?" Gugupnya.


Salah satu pria yang berdiri paling depan menatap tajam Bunga, matanya sekilas melihat ke dalam rumah yang sangat sepi, yakin sekali kalau dua orang itu telah meninggalkan tempat ini.


"Apa benar ini rumah Kimberly?"


"I-iya, tapi dia baru saja pergi."


Lalu Bunga melihat seringai di bibir mereka membuat wanita itu merinding, saat akan menutup pintu, dengan cepat mereka menahannya dan masuk ke dalam rumah. Bunga mundur beberapa langkah sambil menatap takut ke tiga orang itu. Mereka menutup pintunya, dan tak lupa menguncinya.


"Kalian mau apa?! Tolonggg!!"


"Tenang saja, kami hanya akan membawa kau dan nenek tua itu pergi!"


Bunga membelakan matanya lebar mendengar itu, Ia berlari untu masuk ke kamarnya, tapi pukulan di belakang lehernya membuat wanita itu langsung tergeletak pingsan. Pria yang menjadi bos dari kedua orang itu lalu mengisyaratkan anak buahnya untuk mengikat tangan Bunga.


Setelah itu, pria berkepala botak yang memiliki tato di sepanjang lehernya itu berjalan menelusuri rumah yang sangat sepi. Waktu baru menunjukan pukul tujuh malam, tapi daerah di sini memang sepi tak terlalu ramai, dan itu memudahkan rencananya.


"Masuklah Bunga, nenek sedang memijat kaki."


Pria itu lalu membuka pintu, tersenyum sinis saat melihat siluet wanita yang sedang memijat kakinya dengan minyak urut. Posisi pintu memang membelakangi kasur, jadi wanita tua itu tidak melihatnya.


"Apa makan malamnya sudah matang?"


"Belum."


Pergerakan tangannya yang berada di kaki terhenti, wanita tua itu menoleh dan terkejut melihat pria dewasa dengan badan besar berdiri di dekatnya.


"Siapa kamu?!"


Pria itu mendudukan tubuhnya di pinggir ranjang, bersikap santai dan tak menimbulkan keributan.


"Apa Kimberly cucumu?"


"I-iya, ada apa dengannya?"


Tatapan pria botak itu teralih pada pigura kecil yang tersimpan di meja samping ranjang. Ia membawanya, menatap tajam seorang anak perempuan kecil yang sangat cantik, rambutnya di kepang dua sambil memeluk boneka beruang warna coklat.


"Dia terlihat feminim dan anggun, berbeda sekali dengan kenyataannya."


"Hah?"


"Kau tahu apa pekerjaan cucu tercintamu nenek tua?"


Nenek menggangguk. "Dia karyawan di perusahaan swasta."


"Hahaha!" Pria itu tertawa kencang, yang anehnya malah membuat nenek itu bingung.


"Oh iya perkenalkan namaku Budi." Ucapnya sambil menjabat tangan nenek itu.


Budi kembali menyimpan pigura itu di meja, menatap wanita tua yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah setengah abad lebih. "Kasihan sekali karena kau di bohongi cucu kesayanganmu itu."


"Apa maksudmu?"


Kini tak ada lagi senyuman ataupun wajah ramah Budi, ekspresinya datar dengan mata yang terosorot tajam. "Aku akan jelaskan siapa sebenarnya cucumu itu dan kedatanganku kemari."


"Kita mulai dari cucumu terlebih dahulu. Sebenarnya dia seorang bodyguard, dan kau tahu kekasihnya itu? Dia adalah Tuan dari cucumu."


"Tidak mungkin."


"Sshht dengarkan dulu nek, jangan memotong pembicaraan. Anggap saja cucumu itu pelayan dari pria tampan itu, menjaganya kapanpun dari segala marabahaya. Aku juga yakin kau tidak tahu kalau cucumu itu bisa berkelahikan?" Kekeh Budi. Pria itu lalu menepuk pipi kirinya. "Ini, dia pernah memukulku di sini." Kemudian mengusap lehernya. "Dia juga mencekikku dengan kakinya sampai membuatku pingsan, hebat sekali memang wanita itu."


Nenek itu masih terbengong mendengar pengakuan itu. "Tidak, Kim tidak bisa berkelahi, dia bukan-"


"Ku bilang jangan potong pembicaraanku!!" Teriak Budi dan berhasil nenek itu langsung terdiam.


"Kedatanganku ke sini ingin membalaskan dendam, tenang saja aku tidak akan membunuhmu, mungkin belum, lihat saja nanti."


Budi berdiri, memperhatikan kamar namun pikirannya tertuju pada satu nama, Kimberly.


"Dia sudah berani membuat masalah denganku, menghancurkan rencanaku. Beberapa anak buahku di tangkap, narkoba yang akan aku kirimkan bernilai milyaran di sita, dan sekarang aku menjadi buronan. Hanya karena satu wanita, kehidupanku hancur."


Wanita tua itu memegang dadanya yang terasa sakit, kepalanya langsung pening karena merasa tak percaya pada apa yang di ucapkan pria itu. Tidak mungkin, cucunya hanya wanita biasa, bukan seperti yang di ucapkan dia.


"Tidak, saya tidak percaya pada kamu."


Budi tersenyum sini, Ia kembali berbalik dan menatap wanita tua itu. "Kau sepertinya memang sangat menyayangi cucumu, sampai percaya dan akhirnya di bohongi. Tidak apa-apa kau akan percaya nanti, kita buktikan siapa dia sebenarnya." Ucapnya sambil tersenyum mengerikan.