MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 31



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Aksa mengunci pintu kamarnya dan bertepatan dengan itu Ia mendengar suara pintu kamar terbuka dari samping. Ia menoleh dan terkejut saat tatapannya beradu dengan Kim, pria itu mengalihkan pandangan ke arah lain sambil berdehem menghilangkan gugup.


"Tuan mau kemana?"


Karena Kim bertanya, akhirnya Ia kembali menatap wanita itu. "Saya mau sarapan, kamu ikut juga ayo."


Merekapun berjalan menuju lantai satu hotel, untuk sarapan. Kim berdiri agak belakang, selain menjaga jarak Ia juga merasa malu. Rasanya gugup sekali untuk bertemu Aksa, tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya memang menjadi bodyguard.


Aksa memilih tempat untuk sarapan diluar ruangan, yang langsung melihatkan pemandangan pantai yang indah. Padahal masih pagi, tapi suasana didekat pantai sudah ramai.


Saat sarapan itupun tak ada obrolan sama sekali dari mereka, terlihat jika keduanya masih gugup satu sama lain. Tapi Aksa sesekali melirik pada Kim, Ia sangat merasa bersalah pada wanita itu. Tentu saja karena kejadian itupun Ia yang mulai, minum bir sampai lupa diri, lalu berakhir tidur bersama, ya walaupun tak ada yang terjadi antara mereka.


Aksa sudah ingat kejadian semalam, huh mengingatnya membuat Ia malu setengah mati. Pria itu bahkan tak hentinya mengumpat dalam hati pada dirinya sendiri. Tapi Aksa tidak tahu apa Kim sudah ingat belum, kalau wanita itu ingat bagaimana ya?


"Kita akan pulang malam ini ke Jakarta."


"Em iya Tuan." Kimberly sempat aneh, bukannya mereka baru kemarin di sini? Bukan maksud apa, tapi pria itu pernah bilang akan berlibur di sini sampai tiga hari.


"Sebelum kita kembali ke Jakarta, saya ingin membeli dulu beberapa oleh-oleh dari sini."


"Baik Tuan, saya akan menemani anda."


"Hm."


Sarapan itupun selesai, dan selanjutnya merekapun melanjutkan untuk berjalan-jalan sekalian membeli oleh-oleh. Aksa ingin membeli sesuatu untuk Mommy dan Daddynya, hitung-hitung ucapan terima kasih.


Bali memang selalu ramai, dengan pemandangannya yang menakjubkan, tak heran apabila banyak wisatawan asing berkunjung ke sini. Tapi yang paling di sayangkan adalah para wisatawan luar negeri malah lebih mengenal Bali dari pada Indonesia, dan itu adalah fakta.


"Kim kemarilah!"


Kimberly yang sedang melihat-lihat kain langsung menghampiri Aksa mendengar perintah itu. "Ada apa Tuan?"


Aksa mengangkat dua kain pantai Bali. "Menurut kamu mana yang lebih bagus?"


"Dua-duanya bagus."


"Tidak, saya ingin salah satunya. Ini untuk Mama saya, dan kalian sebagai wanita pasti punya selera yang sama."


Kim menatap lekat dua kain itu, senyuman terukir setelah memutuskan menunjuk kain berwarna biru muda di tangan kiri Aksa dengan corak bunga berwarna kuning dan orange.


"Saya lebih suka yang ini, tidak terlalu mencolok juga santai."


"Hm pilihan bagus, terima kasih." Ucap Aksa lalu menyimpan kembali kain pantai berwarna pink itu, Ia memutuskan untuk membeli kain biru mudanya.


"Kamu juga belikan?"


"Iya Tuan, soalnya kapan lagi saya ke sini."


Kim dan Aksa tertawa kecil, setelah membayar merekapun melanjutkan jalan-jalan. Untuk makanan Aksa tak membeli tak terlalu banyak, hanya pie susu dan kopi kintamani saja. Bukan pelit, hanya mungkin di Jakarta juga banyak yang menjual.


"Sekalian menunggu penerbangan ke Jakarta nanti malam, kamu bisa istirahat dulu atau jalan-jalan."


"Iya Tuan."


Kim mengemudikan mobil sewaan dengan tenang, ini sudah siang, mataharipun sangat terik. Untuk kembali ke Jakarta masih lumayan lama, dan Kim memutuskan untuk istirahat saja. Saat mobil berhenti karena macet, tak sengaja Kim melihat seseorang yang seperti familiar di ingatannya sedang makan diluar cafe bersama seorang pria.


Bukankah itu Emma? Batin Kim.


Lalu tepukan di bahu kirinya membuat Kim langsung menoleh ke samping. "Ya Tuan?"


"Ayo maju, jalannya sudah kembali lancar."


Dan Kimpun mengangguk lalu kembali melanjukan mobil itu, sepanjang kembali ke hotel batinnya tak tenang. Wanita yang Ia lihat tadi benar-benar Emma-Salah satu anggota yang terlibat penculikan Aksa.


"Tuan apa boleh saya jalan-jalan lagi?"


Mobil sudah sampai didepan hotel, dan Aksa yang akan turun tak jadi mendengar suara itu. Pria itu terkekeh geli lalu mengangguk. "Tentu saja boleh, kamu bebas mau kemanapun. Nikmati liburan ini, apa mau saya temani?"


"Tidak Tuan, em maaf sebenarnya saya ada urusan penting."


"Apa?"


"Saya ingim bertemu teman lama yang tinggal di sini."


"Oh baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan."


"Iya Tuan."


Setelah melihat Aksa masuk ke hotel, Kimberlypun melajukan mobilnya kembali ke sana, dimana Ia melihat Emma. Untung saja tak terlalu jauh, dan ya wanita itu masih ada di sana. Dari dalam mobilnya Kim menatap wajah itu dalam, dan Ia yakin kalau wanita itu mirip dengan wanita yang membawa Aksa keluar kantor.


Saat melihat wanita itu naik ke mobil dengan pria itu, segera saja Kim mengikuti. Ternyata wanita itu pergi ke hotel, dan sempat membuat Kim aneh. Kim kembali mengikuti Emma masuk ke hotel, dan ternyata kamar mereka ada di lantai enam nomor 350.


"Dimas, apa kau sudah menemukan pemimpin penjahat itu?"


"Oh Kim kau kemana saja? Kenapa tidak pernah mengabari aku?"


"Ck jawab saja!"


"Hh baiklah-baiklah. Aku belum menemukan dia, dan ya agak sulit karena dia pasti meminta bantuan anggota lain untuk bersembunyi."


"Dia sendiri?"


"Dia bersama seorang pria."


"Jangan, bahaya. Lebih baik kau berikan saja tugas ini padaku, biar aku yang menangkap dia."


"Kau pikir aku sedang di Jakarta?! Aku sedang di Bali, dan kau akan terbang ke sini jauh-jauh hanya untuk menangkap wanita itu!"


"Di Bali? Kenapa kau di Bali?!"


"Sudahlah, kau malah membuat aku pusing!" Dengus Kim lalu mematikan panggilan itu, padahal tadinya Ia hanya akan bertanya serius tentang kasus Aksa pada Dimas, tapi pria itu malah berbelit-belit.


Kimberlypun memutuskan untuk menangkap wanita itu sekarang, jika tidak maka bisa saja Emma akan melarikan diri lagi. Kejadian ini tak disangka, dan akan menjadi sebuah petunjuk untuknya.


Ting nong!


Setelah tiga kali membunyikan bel kamar hotel, akhirnya pintu itu terbuka juga. Yang membuka bukan Emma, melainkan pria tadi. Pria itu hanya memakai celana saja dengan dada yang dibiarkan telanjang, lalu rambutnya berantakan. Apa Kim baru saja mengganggu?


"Siapa?" Tanya pria itu sambil memperhatikan penampilan Kim, menarik juga, apalagi wajahnya sangat cantik.


"Apa pasangan anda bernama Emma?"


"Tidak."


"Hah? Lalu siapa wanita yang didalam?"


"Dia Tania."


Apa mungkin wanita itu menyembunyikan identitas aslinya?


"Saya ingin bertemu dengannya."


"Untuk apa?"


"Anda tidak perlu tahu."


"Oh tidak saya harus tahu, tapi kalau kamu memaksa boleh saja, asal saya minta nomor handphone kamu."


Brengsek, maki Kim dalam hati.


"Saya akan memberikannya saat didalam."


"Waw oke."


Pria itu membukakan pintu kamar hotel lebar, mempersilahkan Kim masuk. Sedang Kim melihat itu mendengus, pria ini ******** juga, memangnya Ia wanita bodoh?


"Di mana Tania?"


"Dia di kamar, kedatanganmu itu mengganggu aktifitas kami."


Kim berbalik menghadap pria itu dan terkekeh. "Maaf."


"Tidak apa-apa, yang terpenting saya dapat nomor handphone kamu."


Kini tak ada lagi senyuman dibibir Kim, setelah yakin jika ruangan didekat kaca itu kamar, Ia kesana dengan berjalan cepat dan menendang pintu kamar keras sampai terbuka.


"Hei apa yang kau lakukan?!" Pekik pria itu merasa terkejut melihat apa yang dilakukan wanita cantik itu.


Kim langsung melihat seorang wanita yang terlihat panik dan berdiri dengan memegang selimut menutupi tubuh telanjangnya.


"Siapa kau?!" Teriak Tania.


Sebuah senyuman terukir disalah satu sudut bibir Kim, dia berjalan mendekat pada Tania diujung ranjang. Terlihat kemaraharan di wajah wanita itu, mungkin karena kegiatannya diganggu.


"Kau mengenalku?" Tanya Kim.


"Tidak bodoh! Dan sekarang keluar atau aku akan melaporkan kau ke satpam!"


"Aku masih ingat kau adalah wanita yang datang ke perusahaan Delvin dan mengaku menjadi sekertaris baru Tuan Omar. Namamu Emma, tapi ternyata bukan."


Wajah terkejut itu bisa Kim lihat, dan Ia semakin yakin kalau wanita itu adalah anggota penculikan.


"Kau-Ap-"


Bugh!


Pukulan itu Kim berikan untuk Tania, sedang wanita itu langsung terjatuh mendapat bogeman keras di wajahnya. Melihat wanita itu yang masih meringis sakit, Kim membawa dress yang ada diatas kasur lalu melemparkannya pada Tania.


"Pakai itu dan ikut denganku!"


"Aku tidak mau! Ken pukul wanita itu bodoh, jangan diam saja!"


Kim berbalik melihat pria bernama Ken itu, pria itu malah terlihat ketakutan saat melihatnya.


"Tunggu, jangan pukul saya! Saya tidak mau ikut campur masalah ini!" Setelahnya Ken lari keluar dari kamar itu.


Kim terkekeh kecil lalu kembali menatap Tania yang masih duduk dengan memegang pipinya yang memar akibat pukulannya, oh ternyata hidungnya sampai berdarah.


"Kekasihmu sangat cupu, kasihan sekali!"


"Kau-"


"Aku berikan kau dua pilihan, pertama ikut denganku dan tidak memberontak atau aku akan menyeretmu dengan paksa dan menambah memar di wajahmu!"