MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 34



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


"Masih jauhkah?"


"Gak sebentar lagi kok."


Aksa mengangguk dengan senyumannya yang tak pudar dari sejak berangkat ke Bekasi. Hanya Ia dan Kimberly saja yang pergi, tidak dengan orang lain lagi, termasuk kedua orang tuanya. Mereka baru bisa pergi pukul lima sore karena Aksa harus mengurus beberapa pekerjaan di kantor, padahal Ia sudah ijin pada Daddynya, tapi pria paruh baya itu ada kepentingan ke luar kota dan terpkasa Ia yang gantikan.


"Kamu mau menginap berapa hari?"


"Apa boleh satu minggu?"


Aksa melirik sekilas lalu kembali fokus menyetir. "Tidak, itu terlalu lama."


Kimberly mengerucutkan bibirnya. "Jadi bolehnya berapa hari?"


"Dua hari saja ya? Soalnya aku juga banyak pekerjaan, apalagi sebentar lagi aku akan mengeluarkan album baru."


"Baiklah."


Tangan kanan Aksa terangkat mengusap rambut wanita itu, Ia tahu Kim ingin beralama-lama di rumahnya, tapi Ia juga tak bisa sendiri tanpa di dampingi wanita itu. Entah kenapa, Aksa sudah terbiasa bersama Kim, dan pasti akan berbeda rasanya kalau tidak ada wanita itu. Apalagi sekarang mereka sudah berpacaran, walaupun masih sembunyi-sembunyi.


Mobil putih itupun masuk ke halaman rumah besar yang menyatu dengan alam, pepohonan juga berbagai macam bunga tumbuh membuat suasana tampak sangat alami. Daerah di sini juga dekat bukit, dan rumahnya dengan tetangga lain agak berjauhan.


Aksa turun dari mobil diikuti Kim, pria itu memperhatikan sekitar yang indah. Walaupun langit sudah gelap, dengan hanya di terangi cahaya bulan dan beberapa lampu tapi halaman ini tetap terlihat jelas. Pria itu mengeratkan jaketnya saat merasa angin malam semakin dingin, aneh, padahal setahunya kota Bekasi itu termasuk salah satu kota panas.


"Ayo!"


Tanpa ragu Aksa menerima uluran tangan Kim, mereka menuju rumah yang bisa dikatakan terlihat tradisional, namun bagus, rapih dan bersih. Sekitar rumah memang gelap, hanya di tumbuhi pohon-pohon, dan anehnya Aksa merasa takut.


Tok Tok!


Setelah beberapa kali mengetuk pintu, akhirnya terbuka juga dengan melihatkan seorang wanita muda. Bunga menatap tak percaya tamu itu, tanpa waktu lama Ia memeluk Kim erat seolah mengekspresikan kerinduannya.


"Kim astaga akhirnya kamu pulang juga!"


"Hehe iya, soalnya perasaan aku gak enak."


Kim melepaskan pelukan mereka, Ia lalu memperkenalkan Aksa pada Bunga. "Ini Tuan Aksa, dia-"


"Saya pacarnya."


Bukan hanya Bunga tapi Kim juga terkejut mendengar itu, Ia menatap tak percaya Aksa yang terang-terangan mempublikasikan hubungan mereka.


"Cie Kim, bilang aja pulang mau minta ijin nenek untuk nikah, iyakan?" Goda Bunga sambil tertawa kecil, tapi tak lama karena mendapat cubitan di pinggangnya dari Kim.


"Ikhh apasih!"


Aksa yang melihat itu terkekeh. Mereka tampak seperti adik kakak, padahal Kim sendiri adalah anak satu-satunya. Lebih baik Aksa jujur saja pada keluarga Kimberly, lagi pula hubungan mereka juga suatu saat pasti akan diketahui dan tak selamanya sembunyi-sembunyi. Merekapun masuk ke dalam sambil melanjutkan obrolan, cuaca diluar semakin dingin.


"Jadi dimana sekarang barang itu?"


Bunga menghembuskan nafasnya berat, Ia menatap Kim sendu. "Aku menyimpannya di gudang."


"Apa nenek tahu?"


"Tidak, aku tidak mau membuatnya ketakutan."


"Hm jangan sampai dia tahu."


"Kalian sudah makan malam?" Tanya Bunga.


Dan Kim juga Aksa langsung menggeleng pelan, mereka memang belum sempat makan malam. Selain buru-buru karena takut terlalu malam, juga takutnya hujan.


"Syukurlah, aku sudah siapkan makan malam, ayo."


Ada kangkung, ikan goreng juga sambal tersedia di meja makan. Walaupun hidangannya biasa saja, tapi air liur Aksa langsung ingin menetes, mungkin sanking laparnya.


"Em kamu bisa makan ini?"


Pertanyaan konyol di sampingnya membuat Aksa menoleh, menatap heran Kim. "Hah?"


"Aku takut kamu gak bisa makan ini, aku beliin kamu ayam goreng saja ya?"


"Ck kamu ini, aku suka kok." Aksa lalu membawa sepotong ikan goreng ke piringnya. "Udah ayo makan, gak baik hanya melihatnya saja tanpa disantap."


Kimberly belum makan, Ia masih memperhatikan Aksa yang terlihat lahap makan. Tak menyangka pria itu bisa memakan-makanan biasa seperti ini. Putra dari salah satu orang terkaya di Indonesia makan malam dengan lauk orang biasa, sangat jarang.


"Kita bicarakan besok saja ya Kim? Aku sangat mengantuk."


"Kau benar."


Selesai makan malam, Kim mengantarkan Aksa ke kamar tamu yang berada tepat di sampingnya. Rumahnya tidak bertingkat, tapi lumayan luas. Lagi pula yang tinggal hanya nenek dan Bunga saja, jadi tidak usah mewah-mewah.


"Kamu tidur dimana?" Tanya Aksa setelah menyimpan tasnya di ranjang.


"Kamar aku disebelah kamar kamu."


"Oh, em kalau kamar mandi dimana?"


"Kamar mandi dibelakang."


"Belakang? Maksudnya?"


"Belakang rumah, dekat taman bunga."


Aksa meneguk ludahnya kasar. "Jadi harus keluar rumah begitu?"


"Hm."


Pria itu lalu mendekat ke jendela kamar yang ternyata langsung melihatkan halaman belakang rumah. Sempat terpana dengan berbagai bunga yang tumbuh di sana, tapi suasananya sangat hening. Apalagi tembok penghalangnya tak terlalu tinggi, dan bisa melihat kalau dibelakang rumah adalah hutan.


"Kamu takut ya?"


"Hah? Kata siapa? Aku berani kok."


"Ya sudah, kalau gitu aku ke kamar dulu, selamat malam."


Setelah melihat Kim keluar kamar Aksa merasa sesuatu yang aneh. Ya begitulah Ia, pria penakut. Mungkin kalau di rumahnya Aksa masih berani, tapi kalau sudah menginap diluar Ia suka parno sendiri.


Umur hampir kepala tiga tapi penakut pada hantu, apa-apaan?!


"Ck jangan pikirkan hal-hal bodoh, lebih baik sekarang tidur."


Klik!


Tepat setelah mengucapkan itu, lampu kamar mati dan membuat Ia berteriak ketakutan. Aksa merogoh sakunya membawa ponsel lalu menyalakan senter dari sana. Kamar sangat gelap, tak ada cahaya sedikitpun. Dengan berhati-hati Ia berjalan ke dekat pintu, membukanya dan sempat terkejut karena ternyata hampir semua lampu ruangan lainpun mati.


"Hh sial!"


Pria itu melirik ke samping, ingat kalau kamar Kim tepat di sampingnya. Aksa mengetuk pintu itu, dan tak lama terbuka. Tetapi matanya langsung terbelak melihat wajah putih dengan cahaya yang tersorot dari bawah.


"AAaaa!!"


Aksa langsung berjongkok sambil menutup mata, bibirnya terus mengucapkan doa agar hantu itu menghilang. Lalu terdengar suara tawa keras yang sangat dikenalinya, walau takut, tapi Aksa tetap mengangkat kepala untuk melihat.


"Hahaha kau ini kenapa?"


Ternyata Kim!


"Aishh aku kira siapa!" Desah Aksa lalu kembali berdiri, bibirnya mengerucut tanda jika pria itu sedang kesal.


Kim yang melihatnya dibuat gemas, Ia mencubit pipi pria itu. "Uhh ada yang merajuk yah?"


"Ck aku takut!"


"Kenapa takut? Apa karena aku?"


"Termasuk, tapi di sini sangat gelap."


"Hm sepertinya seluruh kampung mati lampu."


"Nasib yang malang."


Kimberly terkekeh melihat wajah memelas Aksa, tak bisa berbohong Ia juga merasa tidak enak hati. Padahal ini kali pertama Aksa berkunjung ke rumahnya, dan ada saja kejadian tak mengenakan. Aksa pria yang sejak kecil hidup serba kecukupan, dan Ia merasa mundur saja.


"Boleh aku tidur bersamamu?"


"Apa?!" Pekik Kim tak percaya mendengar pertanyaan itu.


Aksa berdehem karena merasa bodoh sendiri, Ia menggaruk belakang rambutnya yang tak gatal. "Lupakan, tadi aku hanya bercanda."


Kim tahu pria itu tak berbohong, terlihat dari matanya. Tetapi Ia juga mana mungkin mengiyakan keinginan Aksa. Sekarang mereka ada dirumah neneknya, kalau ketahuan, habislah Ia. Lalu tiba-tiba lampu kembali menyala, membuat kedua orang itu merasa lega. Terlebih Aksa, senyuman lebar langsung terbit dibibirnya. Kalau mati lampu, suasanya terasa mencekam baginya.


"Ya sudah aku kembali ke kamar." Aksa mengusap puncak kepala Kim sayang. "Selamat malam cantik." Ucapnya lalu melenggang pergi.


***


Teman2 setelah baca ini, jangan lupa memberikan penilaian bintangnya 🌟


Pembaca yang baik pasti akan meninggalkan kesan yang baik juga, terima kasih banyak pada yang sudah menyempatkan waktunya.