MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 22



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Tidur Aksa terganggu dengan suara ketukan pintu kamarnya, pria itu mengerang membuka matanya sambil mengumpat sebal. Melihat seluruh penjuru kamar yang mulai dipenuhi dengan cahaya matahari.


"Aksa bangun!!"


"Mom aku belum mau dulu masuk kerja masih sakit!!" Teriaknya lalu menutup kepalanya dengan bantal.


Sebenarnya bukan masih sakit, tapi malas lebih tepatnya. Toh kerjaan kantor bisa Ia serahkan pada Arnold atau Papahnya. Katakanlah Ia manja atau malas, tapi memang kenyataannya begitu.


"Kamu gak mau ketemu Kim?"


Mendengar nama wanita itu disebut Aksa langsung bangun terduduk menatap pintu kamarnya, segera Ia berlari membuka pintu dan melihat Ibunya yang tersenyum aneh padanya.


"Mana Kim?"


Yasmin berdecak sebal. "Dia di bawah, sedang mengobrol bersama Daddy. Kamu siap-siap dong, masa mau ketemu wanita cantik buluk kaya gini!"


"Aksa buluk juga masih ganteng Mom."


"Emang kamu mau penampilan berantakan kaya gini ketemu Kim?"


"Enggak."


"Ya udah sekarang mandi dan dandan yang ganteng."


"Laksankan!"


Dari setiap pagi tak pernah Aksa sesemangat ini, dengan diawali senyuman lebar akan bertemu Kimberly. Mungkin Ia memang sudah sangat merindukan wanita itu sampai tak sabar ingin bertemu.


Kemeja abu juga jeans hitam menjadi pilihannya, rambutnya tak lupa Ia rapihkan. Pria itu bahkan memilih parfume terbaiknya untuk dipakai dan Aksa langsung tersenyum lebar melihat penampilannya yang sudah tampan.


Aksa keluar kamarnya dan berjalan riang menuruni tangga, lalu saat sudah dilantai satu matanya langsung berbinar melihat Kimberly sedang bersama Mom dan Daddynya di ruang tamu. Iapun berjalan mendekat ke sana dan mereka langsung mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Hai Kim."


Kimberly berdiri dari duduknya, membungkuk sebentar pada Aksa. "Selamat pagi-"


Perkataan Kim terhenti saat tiba-tiba Aksa berhambur memeluknya yang tentu saja membuat semua orang terkejut. Wanita itu hanya diam mematung tanpa berani bergerak, sedang Aksa semakin memeluknya erat. Dari sedekat ini Kim bisa mencium harum tubuh Aksa, membuatnya gugup.


"Ekhem!"


Deheman keras itu membuat Aksa terpaksa melepas pelukannya, menatap malas Yasmin. Kenapa Ibunya itu hobi sekali mengganggu waktunya bersama Kim? Menyebalkan.


"Sudah kangen-kangenannya bisa dilanjut nanti, sekarang ayo kita sarapan dulu."


"Em tidak usah Nyonya, saya-"


"Ayolah Kim, kita belum pernah makan bersama. Saya ingin kamu sarapan bersama kami."


Sebenarnya Kim malu, tapi kalau menolak Ia takut disangka tidak sopan. Dengan berat hati Iapun menyetujui ajakan dari majikannya itu. Mereka sarapan bersama dengan penuh canda tawa dari Yasmin dan suaminya. Kalau dilihat mereka seperti keluarga bahagia yang lengkap.


"Jadi ada pelaku yang meloloskan diri?"


"Iya Tuan, dan sepertinya Dia adalah ketua kelompok itu."


"Menurutmu apa Dia berbahaya?" Tanya Yasmin.


Kim mengangguk. "Ya karena Dia adalah ketua kelompok itu Dia tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia pasti punya banyak rencana yang disusun, selain untuk tidak membiarkan dirinya tertangkap, bisa saja Dia akan balas dendam."


"Balas dendam?"


"Balas dendam pada Tuan Aksa."


Pasangan suami istri itu terkejut mendengarnya. "Kenapa begitu?!"


"Karena Tuan Aksa adalah target penculikan yang berhasil meloloskan diri. Lalu anak buahnya tertangkap, dan yang lebih dari itu adalah narkoba sebanyak itu berhasil disita oleh polisi, sedang pasti jika dijual harga narkoba sebanyak itu bisa mencapai milyaran." Kim tersenyum kecil. "Tapi saya akan berusaha menjaga Tuan Aksa dan tidak akan membiarkannya terjadi lagi. Saya juga sudah bekerja sama dengan polisi dan kini ketua kelompok penjahat itu menjadi buronan."


"Terima kasih Kimberly, karena telah menyelamatkan Aksa."


Yasmin melirik putranya yang ternyata malah asik memakan serealnya, seperti tak tertarik dengan obrolan mereka.


"Aksa!"


"Hm?" Dehemnya sambil mengunyah sereal dan menatap sang Ibu.


"Kenapa kamu santai banget? Gak takut?"


Aksa menggeleng pelan. "Gak, soalnya Kim bakal jagain aku."


Zein dan Yasmin mendengus sebal, ingin memaki pun ingat kalau itu adalah putra mereka.


Aksa beralih menatap Kim yang duduk di sampingnya, menatap ke dalam balik mata hitam itu. "Karena sekarang aku sedang dalam keadaan berbahaya, jadi kau harus selalu ada di sampingku, mengerti?"


***


"Kim!"


"Ya Tuan?"


Aksa telah memikirkannya matang-matang, dan Ia sudah memutuskannya. "Em bisakah kamu ajari saya berkelahi?"


Terlihat kernyitan kecil di kening Kim, wanita itu tersenyum kecil lalu menyimpan buku yang sempat Ia pegang di meja kecil. "Tuan yakin? Tapi waktu itu-"


"Kali ini saya sungguh-sungguh, lupakanlah yang kemarin itu. Saya terlalu percaya diri sampai berbuat bodoh."


Kim mengangguk dan kembali tersenyum mengingat kejadian waktu itu. Dimana saat Ia membanting tubuh Aksa tanpa rasa bersalah, toh memang pria itu menyebalkan. Memang kasihan karena Aksa sampai berjalan tertatih mungkin sakit, tapi jika dibayangkan lucu juga.


"Saya tidak tahu sampai kapan kamu akan menjadi bodyguard saya, tapi pasti tidak akan selamanya. Toh kita punya jalan hidup masing-masing, dan siapa yang tahu takdir Tuhan."


Aksa menepuk bahu Kim pelan. "Setelah kamu pergi, saya ingin sudah bisa menjaga diri saya sendiri. Karena mungkin setelah kamu tidak lagi bekerja menjadi bodyguard saya, saya tidak mau lagi memiliki bodyguard."


"Kenapa begitu?"


"Karena kamu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun."


Kim terdiam menatap Aksa. Tak ada kebohongan di mata pria itu, dan sial jantungnya mulai berdetak cepat.


"Heh anak kecil!!"


Teriakan itu membuat Aksa dan Kim mengalihkan pandangan, melihat Rafael yang berlari kecil ke arah mereka. Pria keturunan Tionghoa itu langsung memeluk Aksa sampai membuat pria itu mundur beberapa langkah.


Aksa mengernyit bingung merasa aneh dengan tingkah sahabatnya, Ia menepuk punggung pria itu. "Heh kau ini kenapa?!"


Rafael melepas pelukannya, menatap tajam Aksa. "Dasar bodoh, ceroboh dan kekanakan!"


"Heh kau-"


"Kau ini sudah besar dan masa tidak bisa menjaga dirimu sendiri hah! Dan yang lebih bodohnya kau ditipu oleh seorang wanita, astaga kenapa aku punya sahabat sebodoh ini!!"


"HEH!!"


Aksa merasa tak terima dibilang begitu, memang dasar Rafael ini. Ia melirik Kim yang berdiri tak jauh daru mereka, meringis merasa malu.


"Kau tahu? Aku khawatir bahkan sampai membatalkan kontrak kerjaku di Surabaya! Uang puluhan juta aku lepaskan begitu saja demi kau!"


Aksa memutar bola mata malas. "Memangnya kalau kau pulang ke Jakarta bisa menemukanku hah?"


"Ya tidak, tapi repleks saja karena aku sangat khawatir. Apalagi saat mendengar langsung dari Ibumu yang menangis, membuatku panik."


Rafael berdehem karena terlihat terlalu khawatir pada Aksa. Anggaplah Ia sangat takut kehilangan sahabatnya itu, Aksa sudah Ia anggap seperti adiknya sendiri. Tapi sekarang Ia malah terlihat seperti orang bodoh, malu rasanya.


Pria itu menoleh ke samping pada Kim, dan langsung teringat perkataan Yasmin jika Kim lah yang menyelamatkan Aksa dari penculikan itu. Saat akan berhambur memeluk wanita itu, bahunya malah ditahan. Rafael menatap Aksa bingung, sedang Aksa menatapnya tajam.


"Apa?"


"Mau apa kau?"


"Memeluk Kim."


"TIDAK BOLEHH!!"