
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Hembusan nafas kasar lagi-lagi keluar dari bibir Aksa, astaga pria itu benar-benar merasa bosan diam sepanjang hari di kamar rawat ini. Menurutnya waktu terasa lama sekali berjalan, padahal itu karena Ia kebosanan.
Pria itu melirik kedua orang yang sedang mengobrol di sofa. "Mom, Dad kalian gak bosan?"
Mereka lalu menoleh. "Bosan." Jawabnya serentak.
"Ya sudah kalian pulang saja."
"Tidak apa-apa, malam ini kita menginap saja di sini." Ucap Yasmin.
"Ck tidak Aksa kasihan soalnya kalian dari kemarin jaga di sini, sekarang pulanglah istirahat."
Pasangan suami istri itu saling bertatapan, benar juga apa yang di katakan Aksa. Walaupun mereka memesan kamar VVIP tapi tetap saja kurang nyaman, apalagi mereka memang lelah karena menjaga Aksa sepanjang hari.
"Pulang saja, Aksa gak apa-apa kok sendiri, besok juga mungkin boleh pulang ke rumah."
"Tapi Mom khawatir, takut kamu kenapa-napa."
Aksa bisa melihat raut khawatir itu dan Ia dapat memakluminya, mungkin Mamanya masih trauma akan kejadian yang menimpanya. Ini adalah kesalahannya dan betapa bersalahnya Ia karena telah membuat semua orang khawatir.
"It's okay, di sinikan ada dokter dan suster. Di luar juga banyak orang berjalan kesana-kemari, jadi kalian gak usah khawatir."
Zein mengangguk pelan. "Baiklah kalau seperti itu begini saja, nanti kita minta salah satu pengawal di rumah untuk jaga kamu dia bisa diam di luar jaga-jaga saja takut terjadi sesuatu."
"Boleh juga."
"Beneran kami boleh pulang?"
"Iya Mommy astaga, aku bukan anak kecil yang bakal nangis kalau di tinggal pergi, sudah sana pulang."
"Ck kamu malah ngusir." Desah Yasmin lalu membawa tas selempangnya, Ia mendekat pada putranya memeluk pria itu erat. "Kamu istirahat ya, jangan kemana-mana bahaya."
"Haha iya lagi pula Aksa kapok gak akan nakal lagi."
"Hm bagus, bobo aja biar besok di bolehin pulang sama dokter."
Yasmin lalu mengecup kening putranya sayang, terlihat sekali kalau wanita itu memang benar-benar menyayangi Aksa. Apalagi Aksa adalah anak tunggal, dan harta yang paling berharga baginya dan suaminya.
Selepas kepergian kedua orang tuanya Aksa mendesah lega, akhirnya mereka pulang juga. Sebenarnya Aksa sudah dari tadi ingin keluar ruangan untuk menemui Kimberly, tapi Mom dan Daddynya tidak membolehkannya kemana-mana. Dan juga Ia malu kalau harus terus terang kangen pada Kim, nanti mereka malah mengejeknya lagi.
Dengan hati-hati Aksa turun dari tempat tidurnya lalu keluar dari kamarnya. Masih ingat kalau kamar rawat Kimberly berada tepat di sampingnya, syukurlah tidak jauh lagi pula kakinya sakit. Pintu kamar itu terbuka sedikit, dan Aksa memutuskan tidak masuk dulu, mengintip ke dalam.
Matanya terbelak melihat kalau Kimberly sedang tidak sendiri, ada Dimas yang entah sejak kapan berada di sana. Dimas-pria itu sedang menyuapi Kim buah-buahan, dan anehnya Kim menerimanya tanpa menolak. Yang paling membuat Aksa sedih adalah Ia sendiri yang berstatus kekasih wanita itu tidak menemani Kim di saat-saat seperti ini.
Akhirnya dengan memberanikan diri, Aksa mengetuk pintu itu tiga kali lalu masuk ke dalam. Kimberly dan Dimas terlihat terkejut melihatnya, Aksa sendiri mencoba tersenyum walaupun hatinya merasa sakit.
"Hai." Sapanya.
Dimas berdehem kecil lalu berdiri dari duduknya. "Kenapa tidak istirahat? Kau harus istirahat."
"Aku tidak apa-apa, lagi pula aku ingin bertemu pacarku."
"Kau pulang saja, sudah malam. Terima kasih sudah menemaniku."
"Sama-sama, kalau begitu aku pulang, besok aku ke sini lagi, cepatlah sembuh."
Aksa masih berdiri di tempatnya walaupun setelah Dimas pergi keluar. Entahlah Ia benar-benar merasa panas melihat Kim dan Dimas tadi, tapi Iapun tidak bisa marah begitu saja karena dirinyapun salah. Aksapun mencoba menenangkan diri dan melangkah mendekat pada Kim.
Sorot matanya langsung teduh melihat wajah pucat sekaligus perban di sekitar kepala wanita itu. Tanpa bisa di tahan, Aksa langsung membawa kepala Kim bersandar di perutnya, tangannya mengusap belakang kepalanya pelan. Aksa bisa merasakan tangan wanita itu memeluk pinggangnya erat.
"Maafkan aku, karena aku kau jadi terluka seperti ini."
"Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tugasku."
Aksa memejamkan matanya mendengar itu, dirinya terasa terpukul mendengar pengakuan itu. Rasanya Aksa tidak sanggup kalau begini terus. Kimberly memang bekerja menjadi bodyguardnya, tapi dia seorang wanita dan alasan utamanya lagi wanita itu adalah kekasihnya. Seharusnya Aksalah yang menjaga Kim, bukan sebaliknya.
Dan karenanya juga keselamatan keluarga wanita itu hampir terancam dan mencelakakan keselamatan orang lain.
"Bagaimana kabar nenek? Beliau baik-baik sajakan?"
"Nenek masih belum sadar juga, kondisinya belum stabil, aku takut nenek kenapa-napa."
Aksa langsung mengeratkan genggaman tangan mereka. "Maafkan aku."
"Sudahlah, tidak apa-apa jangan salahkan dirimu terus, ini juga salahku."
"Tidak Kim kau tidak salah. Kalau saja saat itu kau tidak menyelamatkan aku, kau dan keluargamu pasti tidak akan terluka seperti ini."
Tangan kiri Kim terulur mengusap pipi Aksa. "Akukan bodyguarmu, tugasku adalah menjagamu, keselamatanmu paling utama."
Aksa langsung mengalihkan pandangan ke arah lain saat lagi-lagi mendengar itu. Entahlah Ia paling tidak suka saat Kimberly mengatakan kalau dia adalah bodyguarnya dan harus menjaganya, walaupun memang kenyataannya begitu tapi Aksa tidak suka. Ia merasa seperti pria tak berguna dan lemah.
"Jika saat itu kau tidak menjadi bodyguarku apa kau akan tetap menyelamatkanku?"
Kimberly belum menjawab, membuat Aksa tersenyum sedih.
"Tidak kan? Ku mohon mulai dari hari ini jangan gegabah lagi, aku tidak mau kau kenapa-napa." Aksa menghembuskan nafasnya berat, Ia lalu mengucapkan sesuatu yang membuat Kim terkejut. "Mulai hari ini kau tidak usah bekerja lagi menjadi bodyguarku."
"Maksudnya?"
"Aku memecatmu."
Kim menatap tak percaya Aksa, tidak berbohong kalau dirinya terkejut sekaligus tidak percaya mendengar perkataan pria itu. "Kau ini bicara apa?"
"Sudah jelaskan, aku bilang berhenti menjadi bodyguarku."
"Tapi kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Karena aku tidak mau kau terluka lagi karena ulahku, aku sangat takut, tolong mengertilah."
Kim menggeleng pelan lalu kembali menarik tangan Aksa ke genggamannya. "Hei aku tidak akan terluka, inikan memang tugasku."
"Tidak aku tetap memecatmu, berhentilah menjadi bodyguard." Aksa lalu melepaskan genggaman tangan mereka. "Maafkan aku, tapi ini aku melakukannya karena khawatir dengan keselamatanmu, sungguh. Istirahatlah, aku pergi."
Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Kenapa mengatakan ini tiba-tiba? Jikapun Aksa memecatnya karena khawatir dengan keselamatanya, tapi inikan memang resikonya juga. Bolehkah Kim mengatakan kalau Aksa terlalu berlebihan? Menjadi seorang bodyguard juga sudah Kim pikir dengan baik-baik, dan seharusnya pria itu sebagai kekasihnya dapat menerima keputusan dan pilihannya.