
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Tok tok!
Suara ketukan pintu membuat Bunga yang sedang mencuci piring menghentikan kegiatannya, Ia berjalan cepat karena ketukan pintu itu semakin kencang. Setelah membuka ternyata seorang kurir pengantar barang.
"Ya ada apa?"
"Maaf mbak, saya mengantar paket ini untuk Kimberly."
"Kimberly? Tapi dia tidak ada di sini."
"Oh begitu ya." Pria pengantar barang itu sekali lagi mengecek alamatnya, dan memang benar kalau alamatnya benar. "Tapi tujuan paketnya di sini mbak."
Bungapun menerima kotak berukuran sedang itu. "Dia memang tidak ada di sini, hanya ini memang rumah neneknya."
"Jadi bagaimana mbak, apa saya antarkan ke alamat yang benar?"
"Em tidak apa-apa, lagi pula dia pasti sedang bekerja, saya juga kurang tahu dimana dia tinggal. Tapi kalau boleh tahu paket ini dari siapa ya?"
"Maaf saya juga kurang tahu, tidak ada nama siapa pengirimnya, hanya ada tujuan untuk Kimberly."
"Huft baiklah, tidak apa-apa, mungkin dari temannya."
Bungapun memberikan tanda tangannya, dan membawa paket itu ke dalam rumah. Sebenarnya Ia penasaran dengan isi paket itu, tapi kalau dibuka pasti tidak sopan. Wanita itu lalu memilih untuk menelphone Kim, takut jika paket ini penting.
"Hallo Kim?"
"Ada apa Bunga?"
"Ini kamu dapet kiriman, tapi tidak tahu dari siapa."
"Hah? Terus kenapa malah dikirimin ke rumah?"
"Aku juga kurang tahu, apa sebelumnya mungkin kamu pesan sesuatu?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana dengan paket ini?"
"Boleh aku minta kamu melihatnya? Mungkin setelah tahu isinya aku akan ingat."
"Baiklah, tunggu."
Segera Bunga duduk di kursi tamu, telphonenya Ia capit dengan bahu karena lebih memilih tak mengakhiri panggilan. Sebelumnya Ia menggoyang-goyangkan kotak itu, dan anehnya terasa ringan. Setelah kotak itu terbuka, mata Bunga langsung terbelak lebar. Tanpa sadar Ia bahkan melempar kotak itu sampai isinya keluar.
"Hei ada apa?!" Tanya Kim panik karena mendengar pekikan keras itu.
"Kim, aku.. aku takut."
Disebrang sana Kim mengernyitkan keningnya bingung, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. "Apa yang terjadi? Kau sudah membuka kotaknya?"
"Isinya.. boneka dengan dipenuhi darah hiks!"
Kimberly yang mendengar itu tentu saja syok, wanita itu berdiri berjalan kesana-kemari karena merasa tak enak hati. Terdengar isakan disebrang sana membuat Ia semakin kalang kabut, apa Bunga ketakutan?
Tunggu paket itu katanya untuknya? Tapi kenapa dikirim ke rumahnya di Bekasi? Dan yang paling aneh tidak ada dari siapa pengirim paket itu, mencurigakan.
"Hei tenanglah, sudah jangan menangis."
"Hiks tapi aku takut."
"Sudah tidak akan terjadi apa-apa, mungkin itu hanya orang jail saja."
Panggilan itu masih tersambung, dan Kimpun masih mendengar isakan kecil walau Ia yakin Bunga tak lagi menangis. Wanita itu pasti sangat ketakutan, dan Kim harus mengerti. Baru kali ini Ia mendengar kabar seperti ini, dan cukup dikatakan mengerikan juga.
"Sekarang nenek dimana?"
"Dia sedang tidur."
"Hm aku sudah memutuskan akan pulang."
"Em kau yakin?"
"Iya entah kenapa perasaanku tidak enak, dan aku akan mengambil cuti beberapa hari."
"Terima kasih Kim, jujur aku juga masih ketakutan."
"Iya, mungkin aku akan pulang besok, tidak apa-apa?"
"Hm aku dan nenek menunggu kepulanganmu."
"Ya sudah, sampai jumpa besok."
"Apa yang terjadi?"
"Astaga!"
Aksa terkekeh melihat keterkejutan dari wanita itu, Ia melangkah mendekat dan kini mereka berdiri berhadapan. Tadinya Aksa ingin minum ke dapur, tapi tak sengaja Ia melihat Kimberly yang berada dihalaman belakang, dan ya Iapun menghampiri.
"Maaf aku sedikit menguping pembicaraanmu, tapi sepertinya ada masalah."
"Hm masalah yang aneh."
Melihat rambut tergerai Kim yang beterbangan ditiup angin malam, dengan pipi merona karena kedinginan membuat Aksa terpesona. Bahkan jantungnya mulai berdetak cepat, selalu saja jika berdekatan dengan Kim Ia goyah.
Aksa lalu melepas jaket hitamnya dan memakaikan pada Kimberly. "Ini sudah malam, dan kenapa belum tidur?"
"Aku belum mengantuk."
"Bukankah besok kau akan pergi?"
"Hah?"
Aksa menghembuskan nafasnya berat. "Aku tahu besok kau akan meminta ijin untuk pulang ke Bekasi, dan ya aku mengijinkanmu, tapi dengan satu syarat."
"Syarat?"
"Ya, syaratnya aku harus ikut."
"Apa?!"
Melihat keterkejutan dari wanita itu membuat Aksa terkekeh, tangannya gatal sekali dan Iapun mencubit kedua pipi Kim gemas. "Memangnya kenapa hm kalau aku ingin ikut? Aku jugakan ingin bertemu keluargamu."
"Tapi.."
"Kalau aku tidak ikut, aku tidak akan memberikanmu ijin pulang!"
Kim mengerecutkan bibirnya, Ia memegang tangan Aksa yang masih mencubit pipinya. "Jahat!" Rengeknya.
Aksapun membawa wanita itu kepelukannya, saat-saat seperti inilah yang selalu Ia inginkan. Akhirnya penantiannya tidak sia-sia, ya Aksa dan Kimberly sekarang sudah resmi berpacaran.
Mengingat masa-masa dulu sangat menggelikan, apalagi Aksa benar-benar mengejar Kim dan mengharapkan wanita itu untuk menjadi kekasihnya. Kim yang cuek, dingin dan ketus sudah berubah semenjak menjadi pacarnya. Sekarang wanita itu menjadi kekasih yang manja dan manis.
Tapi itu hanya saat mereka berdua saja, jika didepan keluarga Aksa mereka bersikap profesional. Hubungannya dengan Kimpun baru satu minggu, dan sampai saat ini hanya mereka berdua saja yang tahu.
"Jadi apa yang terjadi?" Tanya Aksa serius, mereka sudah duduk di kursi taman sambil tetap berpelukan.
"Tadi Bunga menelpone, katanya mendapat kiriman paket, tapi untukku. Anehnya paket itu dikirim ke Bekasi, bukan padaku langsung dan tidak tahu dari siapa pengirimnya."
"Lalu?"
"Setelah Bunga membukan paket itu, ternyata isinya adalah boneka yang penuh dengan darah, apa itu mengerikan?"
Aksa menunduk untuk menatap Kim, dan wanita itu juga sedang menatapnya. "Boneka darah? Apa kau yakin itu darah sungguhan?"
"Hm aku yakin, lagi pula Bunga tidak mungkin berbohong."
Darah?
Entah kenapa Aksa jadi teringat kejadian saat selesai melakukan fans meeting beberapa bulan lalu. Ia juga mendapat paket, dan isinya lebih mengerikan, dimana itu adalah foto keluarganya yang juga ada bercak darah dengan tulisan ancaman pembunuhan.
"Apa mungkin dia orang yang sama mengirimku foto bercak darah?"
Kim menegakan duduknya, wajahnya tampak berpikir keras. "Aku tidak tahu, tapi menurutku bukan. Bisa saja orang yang mengirimu foto itu adalah fans gilamu, sedang aku mungkin hanya orang jail."
"Hm tapi menurutku ini sangat aneh."
"Maksudnya?"
"Memangnya ada orang yang tidak menyukaimu? Siapa? Kau sendiri bekerja di Jakarta menjadi bodyguardku. Sebelum bekerja apa kau pernah mengalami hal ini?"
"Tidak."
"Nah aku yakin orang itu memang tahu kau dan keluargamu, tapi dia tidak menyukaimu semenjak menjadi bodyguardku. Bisa saja dia pernah kau beri pelajaran atau ikut campur masalah, dan memberimu teror itu."
Seulas senyuman terukir dibibir Kim, Ia lalu mencubit pipi kanan Aksa. "Hm kenapa pria ini menjadi sangat pintar ya?" Ledeknya.
"Haha kau ini, tentu saja karena mungkin kecerdasan kekasih cantiknya mengalir untukku."
Mereka terkekeh lalu kembali berpelukan. Kim tak menyangka Ia akan sebahagia ini setelah menjalin hubungan dengan Aksa, padahal dulu Ia terus menolak. Benar juga, Ia harus mulai membuka diri. Lagi pula ternyata Kim diam-diam memendam perasaan, walau Ia malu untuk mengakuinya.
Sifatnya yang tersembunyi akan berubah saat bersama Aksa, dan Kimpun tak menyangka Ia bisa seterbuka itu dengan Aksa. Mungkin karena rasa nyaman, ya perasaan cintanya juga.
"Sekarang istirahat, besok pagi kita berangkat ke Bekasi."
"Siap komandan."