MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 42



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Kimberly menajamkan penglihatannya saat tak sengaja melihat koper miliknya yang berada di bagasi mobil. Ia langsung menoleh pada Dimas yang sedang memasukan barang-barang ke bagasi. "Kenapa koperku ada di sini?"


"Memangnya kau tidak tahu?"


"Apa?"


"Bukannya sekarang tidak bekerja lagi menjadi bodyguard Aksa?"


"Hah?"


Dimas menghembuskan nafasnya berat melihat wajah kebingungan Kim. "Sudahlah lagi pula aku setuju dengan keputusan Aksa yang memberhentikanmu menjadi bodyguardnya."


"Kenapa kau juga sama saja dengan dia?" Kim menatap sebal Dimas. "Menjadi bodyguard itu sudah menjadi keputusanku, aku tahu kalau pekerjaan itu berbahaya tapi aku juga sudah berusaha untuk sampai ke titik ini."


"Aku mengerti, tapi Kim pekerjaan ini bukan pilihan yang tepat untukmu." Dimas memegang kedua bahu Kim erat. "Sekarang coba pikirkan lagi kalau kejadian penculikan itu terulang, kau memang wanita kuat, tapi keluargamu orang biasa. Bagaimana kalau sepertinya hal-hal yang tidak di inginkan terjadi pada mereka hanya karena pekerjaan yang kau pilih ini hm?"


Kimberly diam menunduk.


"Sekarang nenek sudah tahu pekerjaanmu, aku tidak tahu apa reaksinya padamu. Tapi aku yakin dia sama khawatirnya sepertiku, apalagi kau cucu satu-satunya. Ku pikir sekarang bukanlah waktu untuk meninggalkannya, kamu harus menemani nenek di saat-saat seperti ini."


Tanpa ragu Dimas lalu membawa Kimberly ke pelukannya, mengusap punggung itu pelan. Ia tahu Kim pasti sangat sedih jika di haruskan memilih untuk berhenti atau tidak dari pekerjaannya. Menjadi seorang bodyguard itu menurutnya lebih berbahaya dari pada polisi, Ia tahu Kim kuat dan hebat, tapi tetap saja dia seorang wanita. Kekuatan wanita tidaklah sebanding dengan seorang pria.


"Lalu sekarang kita akan kemana?" Tanya Kim sambil melepas pelukan mereka.


"Pulang ke Bekasi."


Kernyitan kecil terlihat di kening Kim. "Apa semua barang-barangku memang sudah di bereskan?"


"Hm."


Entah kenapa Kimberly merasa sedih dan sakit hati, Aksa benar-benar tidak bohong dengan perkataannya. Bahkan Ia saja baru keluar dari rumah sakit, tapi sudah mendapat kabar seperti ini.


"Apa boleh aku bertemu dengan Aksa dulu?"


Dimas menggeleng pelan. "Tidak bisa, dia dan keluarganya sedang pergi ke luar negri."


Apa Aksa sengaja menghindarinya?Jika benar rasanya Kim ingin menangis.


Dengan perasaan sesak Kimberly lalu masuk ke mobil penumpang di depan membuat Dimas yang melihatnya merasa kasihan. Sebenarnya Aksa ada di rumah, hanya saja pria itu meminta padanya untuk berbohong. Sepertinya benar kalau Kim dan Aksa memiliki hubungan, karena jikapun hanya masalah pekerjaan tidak akan sedramatis ini.


Dimaspun ikut masuk ke mobil dan  mengendarainya dengan tenang. Syukurlah di hari ke empat Kim dan keluarganya sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Nenek mungkin memang belum sehat sepenuhnya, dan nanti akan di lanjutkan perawatan di rumah saja.


***


Saat sedang membereskan barang-barangnya ketukan pintu kamar membuat Kim menoleh. "Masuk."


Setelah mendengar itu Dimas masuk ke dalam, tersenyum melihat Kim lalu duduk di samping ranjang. "Ck kau ini baru sembuh sudah beres-beres bukannya istirahat."


"Haha tidak apa-apa, aku sudah merasa sehat kok."


"Sehat tapi keningmu masih benjol." Kekeh Dimas yang langsung mendapat pelototan dari Kim.


Dimas lalu mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya, sebuah amplop berukuran lumayan besar. "Kim kemarilah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."


"Apa? Nanti saja aku sedang beres-beres."


"Ayolah aku harus kembali ke Jakarta tidak ada waktu lagi."


Dengan malas Kimberlypun mendekat pada Dimas dan duduk di sampingnya. "Kenapa pulang sekarang? Kau tidak akan menginap?"


"Tidak banyak sekali kasus yang harus aku kerjakan."


"Hei memangnya ke Jakarta selama apa? Macet saja tidak akan sampai satu jam lebih."


Melihat Kim yang tertawa kecil membuat Dimas ikut tersenyum, Ia lalu menyerahkan amplop itu ke pangkuan Kim. "Ini dari Aksa, dia memberikannya bersamaan saat aku membawa barang-barangmu."


Kim perlahan membuka amplop itu, terkejut melihat beberapa gepokan uang di dalamnya. Jika ini adalah gajinya, kenapa sebanyak ini?


"Kau tidak perlu banyak bertanya yang pasti itu pemberian Aksa, gaji dan bonus untukmu. Dia juga memintaku untuk mengatakan maaf atas semua masalahnya yang sampai membuat keluargamu dalam bahaya."


"Kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku?"


"Kaukan sedang sakit."


"Ck dasar menyebalkan, aku tahu dia memang menghindariku." Dengan sebal Kim lalu menyimpan kasar amplop itu di atas meja kecil di samping ranjang. Dadanya naik turun menahan marah karena satu pria, kekasihnya sendiri-Aksa.


Entahlah apa sekarang pria itu masih menjadi kekasihnya, sikapnya saja yang memutuskan kontak sudah dapat di simpulkan kalau sepertinya mereka sudah putus. Memang benar kalau Aksa itu kekanakan, dan sifat seperti itu tidak akan berubah. Rasanya Kim ingin sekali mengumpat di depan Aksa, melampiaskan semua kekesalannya.


"Haha sepertinya kau sebal sekali padanya."


"Sangat!"


Dimas memutar bola matanya malas. "Sudahlah aku tidak mau ikut campur tentang hubungan kalian, selesaikan saja sendiri-sendiri." Pria itu lalu berdiri. "Aku pergi dulu."


"Eh kemana?"


"Ke Jakartalah."


"Jadi kau memang akan kembali sekarang?"


"Hm."


Kimberly ikut berdiri dan merekapun keluar kamar bersamaan. Nenek dan Bunga sendiri sepertinya sedang istirahat di kamar masing-masing. Kim mengantar Dimas sampai depan rumah, sore seperti ini di kota Bekasi cuacanya menurut Kim tidak enak, sulit di artikan.


"Aku pergi, jaga nenek dengan baik."


"Iya hati-hati di jalan."


"Oke."


Saat teringat sesuatu Kim langsung berlari mengejar Dimas sebelum pria itu masuk ke dalam mobil. Ia menahan tangan Dimas membuat pria itu menoleh menatapnya bingung.


"Em aku lupa sesuatu."


"Apa?"


Kim berdehem kecil. "Sekarangkan aku sudah tidak kerja, uang yang Aksa berikan memang banyak, tapikan pasti akan habis juga. Kalau menurutmu aku tidak boleh bekerja menjadi bodyguard lagi, lalu aku harus kerja apa?"


Astaga anak ini, Dimas kira ada apa. Pria itu lalu mengacak puncak kepala Kim gemas dan membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya sebal.


"Sudahlah tidak usah pikirkan itu, biar aku saja-"


"Tidak mau! Aku pokoknya ingin bekerja, kau selalu membantuku dan aku tidak mau terus menyusahkanmu."


"Hh terserahlah kalau begitu." Dimas lalu tersenyum. "Bukankah kau bisa membuat kue? Jualan saja kue menurutku itu saja sudah bisa menghidupi kebutuhan kalian."


"Kau yakin akan cukup?"


"Hm, jika ada sesuatu aku akan dengan senang hati membantumu."


"Terima kasih."


Kimberly lalu memeluk Dimas, Ia selalu bersyukur memiliki sahabat sebaik Dimas, bahkan pria itu sudah Kim anggap sebagai kakaknya sendiri. Dari dulu Dimas selalu membantunya, dan itu membuat Kim terharu sekaligus malu. Ia tidak mau lagi menyusahkan Dimas dan akan berusaha sendiri.


"Terima kasih juga karena telah menyelamatkan aku, kau memang sahabat yang baik."