
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Dimas mengamati sebuah gubuk yang berada di tengah hutan dari kejauhan melalui teropong. Ada dua pria yang berjaga di depan gubuk itu sedang bermain catur, penampilan mereka yang berantakan membuatnya yakin jika ada sesuatu yang tidak beres dengan bangunan itu.
"Kapten!"
Dimas berbalik melihat salah satu bawahannya telah kembali. "Kau menemukan sesuatu?"
"Di mobil itu tidak ada yang mencurigakan, saya yakin sekali kalau pak Aksa memang tidak bersiap-siap dan memutuskan pergi sendiri ke sini."
"Hm baiklah, kalau begitu kita bersiap saja untuk memulai aksi."
"Siap kapten!"
Ke enam pria itu memakai pakaian hitam termasuk topi, itu karena untuk tidak terlalu mencurigakan. Sebenarnya Dimas memang sudah biasa menanangani kasus seperti ini, tapi kali ini mungkin Ia harus lebih berhati-hati karena nyawa wanita yang di sayanginya dalam bahaya. Dua orang timnya Ia perintah untuk masuk dari belakang gubuk, dua lainnya ikut bersamanya untuk mendobrak pintu dari depan, dan satunya lagi memintai dengan senapan jarak jauh dari luar untuk berjaga jika ada yang melarikan diri.
"Angkat tangan!"
Pria yang sedang bermain catur itu terkejut melihat tiga orang pria berpakaian hitam di belakang mereka dengan mengacungkan senjata api. Karena yakin tidak akan bisa meloloskan diri, dua pria itupun hanya bisa pasrah dan mengangkat tangannya. Segera salah satu anak buah Dimas membekuk dan memborgol tangan mereka.
"Kau jaga mereka di sini!"
"Siap, hati-hati kapten!"
Dimas hanya mengangguk lalu mengisyaratkan satu bawahannya lagi untuk bersiap mendobrak pintu. Sebelumnya Ia sudah memberi tahu dua bawahannya lagi yang menyelinap dari belakang dan mereka berhasil masuk dengan melumpuhkan satu penjahat.
"Okey satu dua.. tiga Go!"
Brak!
Dimas dan Angga langsung dengan sigap mengangkat senjata apinya. "Angkat tangan kalian dan jangan berani melawan, tempat ini sudah di kepung!"
Budi yang mendengar teriakan dari luar ruangan kecilnya langsung berdiri dari duduknya. Bukan hanya itu saja Ia juga mendengar beberapa tembakan yang berarti di sana sedang terjadi sesuatu. Pria itu mengintip dari balik tirai, terkejut melihat empat pria yang sudah melumpuhkan beberapa anak buahnya.
"Sialan siapa mereka?!" Desisnya.
Bisa-bisa rencananya gagal dan Ia di tangkap, kurang ajar kenapa bisa ada polisi di sini? Karena ruangan kecilnya menyatu dengan para tawanan, Budipun langsung bergegas menghampiri mereka. Di tangannya membawa senjata api kecil yang selalu Ia bawa.
Tepat saat Ia berdiri di belakang Aksa, pintu ruangan di dobrak dengan keras dari luar. Dua polisi itu masuk dengan mengacungkan senjata ke arahnya, tapi Ia tidak terlalu cemas karena dirinya berhasil mengancam Aksa. Budi menempatkan senjata apinya tepat di kepala pria itu yang membuat kedua polisi itu tidak berani mendekat ke arahnya.
"Turunkan senajata apinya!" Teriak Dimas keras.
"Kalau kalian berani mendekat, aku tidak akan segan-segan membunuhnya!"
"Kapten lihat ke arah jam dua." Bisik Angga tanpa mengalihkan pandangan dari Budi, Ia masih mengangkat senjatanya ke arah pria botak itu.
Mendengar itu Dimas langsung melihat, Ia langsung terbelak melihat tiga orang yang terikat di sana. Nenek, Bunga dan Kimberly, kenapa dua orang itu juga ada di sini?
"Kau menembakku aku akan menembak mereka." Ancam Budi sambil menunjuk tiga wanita itu dengan senjata apinya. Satu tangangannya lagi mencekik leher Aksa agar pria itu tidak berani bergerak.
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" Tanya Dimas.
"Lepaskan aku dan jangan berani menangkapku."
Jawaban itu sering sekali Dimas dengar dari beberapa penjahat saat mereka dalam keadaan terpojok seperti ini. Apakah mereka tidak berpikir kalau kejahatannya ini sangat berat dan tidak pantas di maafkan? Sama seperti lainnya, mereka juga selalu mengancam akan menyakiti para tawanan dan membuat catatan kejahatan bertambah.
"Baiklah kami akan melepaskanmu, silahkan pergi."
Budi tertawa keras yang membuat orang-orang di sana merasa aneh. "Kau pikir aku bodoh hah? Aku sudah tahu apa yang kau rencanakan, saat aku melewati kalian pasti aku akan langsung di bekuk dan ya akhirnya tertangkap, rencana yang basi."
"Kalau kau sudah tahu kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja kami tidak akan melepaskanmu!" Ledek Angga sambil tersenyum sinis.
Budi menggertakan giginya, Ia menekan senjata api ke kepala Aksa, yang membuat orang-orang di sana semakin khawatir dan ketakutan. "Kau berani padaku hah? Kau ingin lihat dia mati?"
"Tidak ayolah jangan menyakiti tawanan. Kami akan memberimu dua pilihan, satu menyerah tanpa perlawanan dan kami tidak akan menyakitimu, atau yang kedua kau akan mendapat sesuatu karena terus melawan."
"Memangnya kau berani padaku? Sebelum itu akan ku pastikan dia mati terlebih dahulu."
"Baiklah kalau begitu, berarti kau sudah memilih yang salah." Dimas menarik salah satu sudut bibirnya, Ia menekan handset kecil di telinga kanannya. "Lakukan sekarang!" Perintantahnya pada seseorang.
"Apa yang kau-"
Dor!
Suara beberapa tembakan membuat kegaduhan di sana, tembakan itu berasal dari luar yang masuk lewat jendela terbuka. Tubuh Budi langsung terjatuh kesakitan karena dua tembakan itu tepat pada bahu kanannya yang memegang senjata api. Angga segera berlari dan membekuk Budi sebelum kembali melawan, tanpa mempedulikan kesakitan pria itu Ia memborgol tangan Budi dan juga mengamankan pistol tadi.
Sedangkan Dimas segera membebaskan ke empat tawanan, yang membuatnya sedih adalah saat melihat nenek Kimberly yang seperti lemas dam hampir pingsan. Ia memerintahkan salah satu anak buahnya untuk segera membawa nenek Kim dan Bunga, sedang Kimberly setelah berhasil di lepaskan langsung memeluknya dengan erat.
"Hiks terima kasih."
Dimas membalas pelukan wanita itu tak kalah erat, baru kali ini Ia melihat Kimberly yang tampak sangat ketakutan. Ia lalu melepaskan pelukan mereka sejenak, menatap ke wajah sendu itu dalam. Tangannya terangkat ke kening Kim yang terlihat goresan sampai menimbulkan bercakan darah di sekitar kepala.
"Apa yang mereka lakukan padamu hm?" Tanya Dimas khawatir. Dadanya naik turun melihat keadaan Kim yang terluka, sialan lihat saja nanti, Ia tidak segan-segan menghukum para penjahat itu dengan sangat berat.
Aksa-pria itu hanya berdiri saja memperhatikan Kimberly dan Dimas. Sebenarnya saat tadi setelah di lepaskan Ia ingin sekali langsung berlari memeluk Kimberly, tapi ternyata kalah cepat dari Dimas. Melihat Kimberly yang menangis terisak seperti itu membuatnya sedih, ini semua karena ulahnya sampai membuat keselamatan keluarga Kimberly terancam. Aksa merasa sangat bersalah karena Kimberly harus ikut campur dalam masalahnya.
"Sudah jangan menangis lagi, ayo kita pergi dari sini."
Melihat Kimberly yang sepertinya lemas, Dimaspun memutuskan menggendong wanita itu ala bridal keluar dari sana. Meninggalkan Aksa yang hanya berjalan di belakang sambil menatap sendu dengan hati yang panas melihat keromantisan mereka.