MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 37



Vote sebelum membaca 😘


.


.


Dret!


Kimberly terpaksa harus membuka matanya mendengar dering ponselnya yang terus berbunyi. Dengan mata masih tertutup, tangannya terulur membawa ponselnya di meja kecil samping ranjangnya.


"Hallo?"


'Selamat malam nona Kimberly.'


Seketika mata Kim terbuka, Ia kemudian mendudukan tubuhnya. Rasa kantuknya menghilang mendengar suara itu, suara berat dengan kekehan sinis di akhir yang sangat familiar di telinganya.


"Anda siapa?"


'Kamu mengenalku cantik.'


Suara ini memang teringat samar di kepalanya, tapi Kim belum bisa memastikan siapa yang menelphonennya ini.


'Aku membangunkanmu karena ingin memberikan kejutan, sekarang bukalah pesan dariku.'


Pria itu lalu mematikan panggilannya sepihak, namun Kim masih terdiam dengan perasaan yang mulai tak enak. Wanita itu mencoba menenangkan diri, lalu membuka pesan yang baru masuk dari nomor yang sama.


Matanya terbelak lebar melihat sebuah foto dua orang wanita terikat disebuah ruangan yang cahayanya temaram. Mereka duduk terikat saling berbelakangan, bibir mereka di tutupi lakban hitam. Walau begitu, tapi Kim masih bisa melihat jelas mata mereka yang memerah menangis.


Kim langsung berkaca-kaca dengan detak jantung yang cepat, kepalanya langsung pening seketika. Benar, itu adalah Bunga dan neneknya. Ia tak salah lihat karena sangat mengenali wajah dan tubuh mereka.


Lalu panggilan dari nomor tadi kembali, segera saja Ia mengangkatnya. "Apa yang kau lakukan?!" Desis Kim penuh amarah.


"Haha ternyata kau sudah mengenali mereka, insting keluarga sangat kuat."


"Siapa kau sebenarnya?!"


"Kau mengenaliku Kim, hanya belum menyadari saja." Pria itu terkekeh sinis lagi. "Datanglah ke jalan * sebelum pukul tiga pagi, kalau kau terlambat aku tidak bisa menjamin kau masih bisa melihat mereka."


"Jangan pernah berani kau nenyentuh mereka!"


"Kita lihat saja nanti Kim."


Benda pipih itu Kimberly lempar kasar ke atas kasur, Ia mengacak rambutnya tanda jika wanita itu benar-benar frustasi. Kim marah pada dirinya sendiri yang bodoh dan tak bisa menjaga keluarganya.


Segera wanita itu bangkit memakai jaketnya, Ia membuka lemari pakaiannya, mencari benda miliknya. Kim memegang pistol berwarna hitam itu dengan bimbang, haruskah Ia membawa benda ini? Ia akan pergi sendiri ke sana tanpa seorangpun, keselamatan adalah hal yang paling utama. Maka wanita itupun memutuskan membawanya.


Kimberly memutuskan untuk mengendarai motor trail milik Aksa, Ia tahu tidak sopan karena tidak meminta ijin, tapi masalahnya keadaannya sedang darurat, nanti Ia akan bilang. Kim mengenali alamat yang diberikan pria itu, tempat dimana Ia juga menemukan Aksa yang disekap. Seketika itu juga pikirannya ingat saat kejadian beberapa bulan lalu, tunggu apa jangan-jangan..


Segera wanita itu menambah kecepatan motornya agar segera sampai. Langit masih gelap, ditambah angin yang sangat dingin, namun itu tak membuat Kim mengurungkan niatnya. Keselamatan keluarganya ada di tangannya, mereka begitupun karena ulahnya.


Kim membuka helmnya setelah mematikan mesin motornya, Ia menatap tajam bangunan kecil nan kumuh di hadapannya. Ia memang sengaja membawa motornya ke sini, mungkin karena sanking terburu-buru. Wanita itu turun melangkah masuk ke dalam. Sambil tetap berjaga dan hati-hati Kim membuka pintu itu perlahan, dan pandangannya langsung tertuju pada dua orang yang duduk terikat ditengah ruangan.


"Bunga, nenek!"


Sebelum Kim mendekat untuk menyelamatkan mereka, pukulan keras di belakang lehernya membuat wanita itu limbung dan terjatuh ke tanah. Kim mengerjapkan matanya mencoba untuk tetap sadar, tapi kepalanya benar-benar pusing.


Lalu seseorang berdiri di depannya, Kim mengangkat kepala untuk melihat, sayang penglihatannya memburam. Namun Kim masih sedikit tahu kalau itu adalah seorang pria, tersenyum lebar melihatnya. Pria itu mengayuhkan tongkat bisbol ke arahnya, dan seketika itu juga Kim tak sadarkan diri.


"Dasar wanita bodoh!"


***


Byur!


Siraman keras itu mengguyur kepala Kimberly, membuat wanita itu perlahan membuka matanya. Air yang mengalir itu menyatu dengan darah dari kening terluka Kim lalu menetes ke bawah secara bersamaan.


Kimberly meringis merasa pening di kepalanya, bukan itu saja badannya juga sakit semua, terutama belakang leher dan keningnya. Ia menelusuri ruangan dan langsung tertuju pada seorang pria yang menyender di lemari kayu tak jauh darinya. Kim menyipitkan matanya untuk melihat jelas, dan matanya langsung membulat setelah tahu siapa orang itu.


Kim mengangkat kepalanya, mengumpat melihat kedua tangannya yang terikat tambang, posisinya sendiri berdiri. Wanita itu berusaha melepaskan diri, namun sayang pergelangan tangannya malah perih karena ikatannya yang kencang.


Budi melempar puntung rokoknya yang tinggal setengah lagi, Ia lalu berjalan mendekati Kimberly yang masih berusaha melepaskan diri. Rasanya lucu juga melihat tingkah wanita itu, usahanya hanya akan sia-sia dan malah menyakiti diri sendiri.


"Tenanglah Kim, jangan ribut, kasihan nenek dan saudaramu yang sedang tidur."


Pergerakannya terhenti, Kim menatap tajam pria botak itu yang kini berdiri di depannya. "Lepaskan mereka!"


"Kenapa? Bukankah aku baik karena mengumpulkan kalian di sini bersama-sama?"


"Mereka tidak salah! Kenapa kau menculik mereka HAH?!!"


Budi terkekeh melihat wajah memerah Kim, wanita itu sudah tersulut emosi. "Haha tentu saja, mereka juga harus terkena imbas karena ulahmu."


"Br*ngsek!!"


Kim mengayuhkan kakinya mencoba menendang pria itu, namun tidak sampai karena posisinya yang agak jauh. Namun begitu Ia tak menyerah, Kim tetap berusaha menendang tubuh Budi.


Lima menit Budi diamkan Kimberly berulah, Ia hanya diam memperhatikan tingkah wanita itu. Kini Kim sudah diam sambil mengatur nafas, mata wanita itu memerah seperti menahan tangis. Walaupun begitu Budi sama sekali tidak kasihan, Ia malah senang melihat Kim yang tidak berdaya.


"Anton bawa wanita tua itu ke sini!" Perintah Budi pada salah satu anak buahnya yang berdiri di pojok ruangan.


Kim memperhatikan kepergian pria itu ke luar ruangan, apa jangan-jangan 'wanita tua' yang dimaksud adalah neneknya?


"Apa yang akan kau lakukan br*ngsek?!"


"Aku hanya ingin membuktikan ucapanku pada nenekmu saja."


Kim mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti, tapi sebelum Ia membuka suara, anak buah Budi sudah kembali sambil menyeret tangan neneknya. Kim membelakan mata melihat itu, amarahnya kembali tersulut.


"Lepaskan dia bodoh!!" Teriak Kim dan kembali berusaha melepaskan diri.


Budi mengisyaratkan anak buahnya untuk berdiri di sampingnya, sambil tetap menahan nenek. "Lihat wanita tua, cucumu ada di sini."


Nenek terisak di sana melihat cucu yang sangat di sayanginya, tangisannya semakin keras saat tatapannya tertuju pada kening Kimberly yang berdarah. "Lepaskan dia, lepaskan Kim saya mohon!" Isaknya.


"Nenek." Bisik Kim, tanpa bisa ditahan air matanya akhirnya menetes juga.


Budi tertawa kencang melihat adegan itu, sangat mengharukan. Ia bertepuk tangan sambil tetap tertawa, seolah mengejek kedua wanita itu.


"Astaga sungguh pertemuan keluarga yang mengharukan!"


"Lepaskan dia br*ngsek! Aku akan membunuhmu!" Teriak Kim kencang.


Tawa Budi perlahan berhenti, Ia dua langkah mendekati Kim. Namun pria itu langsung meringis karena perutnya ditendang kencang, Budi memegang perutnya yang terasa kram.


"Hah kau berani menendangku Kim?"


"Itu memang pantas untukmu br*ngsek!" Ucap Kim tajam.


Budi mengepalkan kedua tangannya, Ia dengan gerakan cepat mencapit rahang Kim erat, sambil menginjak kaki wanita itu agar tak kembali berulah.


"Sebelum kau membunuhku, akan aku pastikan nenekmu mati di hadanmu saat ini."


"Kurang ajar cuih!" Kim meludah tepat di wajah Budi.


Tentu saja yang di lakukan wanita itu menyulut amarahnya, lalu bogeman keras mendarat di pipi kiri Kim. Membuat wanita itu limbung dan meringis kesakitan. Sedang di belakangnya Budi juga mendengar teriakan histeris wanita tua itu.


"Hiks apa yang kau lakukan?! Jangan pukul Kim!!"


Kimberly menggeleng-gelengkan kepalanya merasakan pusing di kepala, bukan itu saja Ia juga merasa mulutnya berdarah. Tarikan kencang rambutnya membuat Kim harus berdiri tegak, Ia menatap Budi tajam walau tahu kalau kekuatannya sudah habis.


"Hah kau memang wanita kuat, tak takut sama sekali padaku!" Setelah mengatakan itu Budi melepaskan rambut Kim kencang dan melangkah menjauh.


"Masukan wanita tua itu ke ruangan tadi,sekarang waktunya kita melancarkan aksi."