
Vote sebelum membaca 😘
.
.
Bruk!
"Sialan!" Desis Aksa saat dirinya yang malah di sungkurkan ke tanah oleh dua pria yang membawanya ke rumah ini.
"Selamat pagi tuan Aksa yang terhormat."
Aksa langsung mengangkat kepalanya, mengernyit melihat pria berkepala botak yang berdiri tidak jauh darinya. Ia lalu berdiri lagi sambil membersihkan celananya yang kotor.
"Ternyata anda cepat juga ya datang ke sini, wanita itu benar-benar beruntung di cintai olehmu."
"Ck jangan banyak bicara, sekarang dimana Kimberly?!" Teriak Aksa sambil berkacak pinggang. Mungkin orang kira berani sekali dia, padahal sebenarnya di dalam hatinya tidak bisa berbohong kalau Aksa merasa takut. Ayolah Ia hanya sendiri di rumah yang penuh penjahat ini, Ia bersikap seperti ini karena tidak ingin terlihat lemah dan penakut.
"Waww sabar-sabar, bagaimana kalau kita berbincang dulu sebentar sambil minum kopi?"
Aksa tersenyum sinis. "Aku tidak suka kopi murahan seperti itu, bukan levelku." Sombongnya.
Budi mulai terpancing emosi, tapi pria itu harus tetap bersabar dan tidak boleh sampai menyakiti Aksa sampai semua keinginannya tercapai. "Baiklah, kalau begitu mana uangnya?"
"Uang apa?"
"Bukankah aku sudah memberitahumu? Aku minta uang 2M dan akan aku lepaskan kekasihmu."
"Ah ya aku hampir melupakannya." Aksa lalu membawa sesuatu dari dalam jaketnya, amplop coklat yang lumayan besar. "Inikah yang kau mau?"
Amplop coklat itu memang terlihat sangat tebal dan besar, tapi kembali Budi berpikir, jika uang senilai 2M tidak akan muat di amplop itu, Ia baru percaya jika Aksa menyimpannya dalam koper. "Sepertinya itu tidak sebanyak yang saya minta tuan Aksa."
"Memang, lagi pula untuk apa aku memberikan uang sebanyak itu pada kalian?"
"Haha kau tahu tuan Aksa? 2M itu hanya setengah dari kerugian yang telah saya dapatkan. Narkoba belasan kilogram itu disita polisi, dan kau yang harus menggantinya."
"Oh jadi karena masalah narkoba ya." Aksa lalu menelusuri ruangan ini, Ia sama sekali belum melihat Kimberly tidak tahu dimana sekarang wanita itu. Sebenarnya rasanya Aksa ingin pingsan sanking ketakutan, keringat kecil bahkan terlihat di pelipisnya. Ah sial, Ia tidak tahu harus bagaimana. Kemungkinan-kemungkinan burukpun muncul, bagaimana kalau Ia tidak berhasil menyelamatkan Kimberly karena dirinya juga malah di sekap di sini? Atau yang lebih parah adalah.. Ia sampai terbunuh, menyeramkan.
"Berikan uang itu padaku!"
"Tidak bisa, lepaskan dulu Kim maka aku akan berikan uang ini padamu!"
Budi terkekeh namun terdengar sinis. "Memangnya kau seberani apa hah sampai tidak menuruti perintahku? Ingat tuan Aksa, anda di sini sendiri, nyawamu di tanganku!"
Glek!
Akhirnya karena merasa terpojokan Aksapun memberikan amplop itu pada pria berkepala botak yang langsung saja dia merebutnya kencang. Tetapi pria itu hanya mengeceknya sebentar lalu di serahkan pada salah satu anak buahnya.
"Hitung berapa banyak uang ini!"
"Oke bos!"
Melihat anak buah itu yang masuk ke salah satu ruangan membuat Aksa merasa curiga, apa mungkin Kimberly juga ada di sana? "Sekarang lepaskan Kimberly! Jangan berani-berani mengingkari janji br*ngsek!"
"Sayangnya aku tidak akan melepaskannya karena sepertinya terbusanmu kurang!"
"Kurang ajar! Memang kalau sudah br*ngsek dan pemgecut akan selamanya begitu, dasar banci!"
Budi menggertakan giginya, pria ingusan itu kali ini sudah membuatnya sangat marah. Ia lalu berjalan pelan mendekati Aksa, sekarang Ia bisa melihat wajah ketakutan pria itu yang membuatnya senang. Tangan besarnya lalu mencengkram kerah kemeja Aksa, sampai membuat pria itu berdiri jinjit.
"Tadinya aku tidak akan memukulmu, tapi kau malah terus memancing emosiku."
Aksa lagi-lagi meneguk ludahnya susah payah. "Ap-"
Bugh!
Bogeman kencang itu sampai terdengar di seluruh ruangan. Aksa meringis kesakitan merasa rahang kirinya yang sakit, sanking sakitnya matanya sampai berkaca-kaca. Ketika merasakan mulutnya pahit, pria itu langsung meludahkannya dan terlihatlah darah di tanah. Tangannya terangkat mengusap sekitar bibirnya yang terkena darah, sial pria berkepala botak itu sangat kasar.
"Ikat dia di ruangan itu bersama mereka!"
Dua anak buah Budi lalu menarik Aksa dengan paksa, dan kali ini Aksa hanya bisa pasrah saja, Ia langsung lemas habis di pukul. Saat masuk ke salah satu ruangan, matanya langsung terbelak melihat tiga orang wanita yang duduk terikat di tengah ruangan.
"Kimberly!!"
Kimberly berteriak dengan susah payah karena bibirnya di tutupi lakban hitam, Ia kembali berusaha melepaskan ikatan tangannya. Wanita itu benar-benar terkejut melihat Aksa, kenapa pria itu ada di sini?
Aksa di dudukan agak jauh dari Kimberly, namun mereka duduk berhadapan. Sama seperti Kim, Tangan dan kaki Aksapun di ikat di kursi, begitupun bibirnya yang di lakban agar tidak berteriak yang bisa saja membuat orang mendengarnya. Setelah melakukan tugasnya dua pria itu lalu keluar dan tidak lupa mengunci pintu dari luar.
Setelah melihat dengan jelas penampilan Kimberly rasanya Aksa ingin memukul para penjahat itu. Bagaimana tidak, di kening wanita itu masih terlihat bercak darah yang sudah mengering, pakaiannya lusuh dan rambut Kim sudah tidak teratur. Apa yang sebenarnya mereka lakukan pada Kimberly?
Bukan hanya itu saja, Aksa juga ikut terkejut melihat dua wanita lain yang di ikat tidak jauh dari Kimberly. Tidak lain mereka adalah Bunga dan nenek Kim, kenapa mereka juga ada di sini? Apa jangan-jangan pria berkepala botak itu memancing Kim datang kesini karena telah menyekap keluarganya? Kurang ajar!
Sekarang Aksa tidak tahu harus bagaimana, Ia hanya bisa berdo'a saja pada Tuhan semoga mereka bisa bebas dengan selamat. Aksa memang tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya dan keluarga Kim, namun keajaiban Tuhan siapapun tidak akan pernah tahu, dan Aksa akan selalu berharap.
***
Budi tersenyum lebar melihat gepokan uang yang tersimpan di atas mejanya. Ia membawa salah satu lalu menciumnya, terlihat sekali kalau pria itu sekarang sangat senang.
Nominal uang yang di berikan Aksa memang tidak sebanyak yang Ia harapkan, tapi uang sebanyak seratus juta ini saja sudah membuatnya senang.
"Bawakan handphoneku!"
Budi lalu menekan beberapa nomor telphone, memanggilnya dan menunggu sampai mengangkatnya. Tidak butuh waktu lama, panggilan mereka sudah tersambung.
"Selamat siang pak Zein yang terhormat."
'Siang, maaf dengan siapa?'
"Anda tidak akan tahu saya, tapi saya pastinya tahu sekali pada anda."
'Maksudnya?'
"Haha maaf jika saya mengganggu waktu anda, tapi ini sangatlah penting dan harus kita bicarakan."
'Ada apa? Langsung saja ke inti.'
Dasar anak dan ayah sama saja tida sabaran, dengus Budi dalam hati.
"Saya butuh uang senilai 2M, kirimkan sekarang juga pada saya."
Tidak lama terdengar gelak tawa dari sana yang membuat Budi mengangkat sebelah alisnya.
'Apa anda orang gila? Atau salah nomorkah?'
"Tidak, karena saat ini nyawa putra anda di tangan saya. Bukan hanya itu saja, bodyguard kesayangan putramu juga sudah kami sekap di sini. Anda bisa mengirimkan uang itu ke alamat *, dan saya akan membebaskan mereka. Ah ingat jika ke sini jangan pernah berani-benari menelphone polisi, atau saya akan membunuh putra kesayanganmu!"
Hening, tidak ada tanggapan namun panggilan mereka masih tersambung. Tentu saja itu membuat Budi tersenyum lebar, Ia yakin sekali kalau pria itu sudah kalah telak dan akan melakukan apa yang Ia minta. Lalu tak lama panggilan mereka berakhir, membuat Budi sempat bingung, tapi Ia tak peduli dan langsung menegak birnya.
Tanpa di sadari oleh Budi, ternyata saat ini orang tua Aksa sedang bersama Dimas juga beberapa timnya. Sebenarnya Dimas hanya ingin mencari tahu saja tentang pesan yang di kirimkan Aksa, Ia takut pria itu berbohong. Tetapi ternyata kenyataannya benar kalau pria itu bersama Kimberly sedang dalam bahaya setelah dirinya mendengar sendiri panggilan telphone itu.
Dimas mengepalkan kedua tangannya erat, giginya sampai bergemeletuk terlihat sekali kalau pria itu sedang menahan amarah. Dimas bangkit dari duduknya, diikuti oleh orang tua Aksa. "Kami akan menyelamatkan mereka, tuan dan nyonya tenang saja."
"Tidak kami harus ikut, bagaimana kalau-" Ucapan Yasmin terpotong saat melihat Dimas tersenyum.
"Nyonya tenang saja, tolong percayakan tugas ini pada saya dan tim saya. Kami akan berjuang sekuat tenaga menyelamatkan mereka, lagi pula adik saya juga sedang dalam bahaya dan saya janji akan mempertaruhkan nyawa saya demi menyelamatkan mereka."
Yasmin dan suaminya mengangguk pelan, wajah mereka terlihat sedih karena mendapat kabar dan kejadian seperti ini.
"Kalau begitu kami berangkat, kami hanya meminta do'a supaya berhasil dan membawa pulang para tawanan dengan selamat."
"Iya tolong berhati-hatilah."
Dimas mengangguk lalu melenggang pergi bersama enam anak buahnya. Mereka sendiri tergabung dalam sebuah tim khusus, salah satunya tugas berbahaya seperti ini.
"Siapkan diri kalian, siang ini kita akan menangkap salah satu buronan gerbong narkoba. Jangan memberi mereka ampun, tangkap mereka dan jangan sampai ada yang tersisa satupun."
"Siap!"