
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Aksa keluar dari kamarnya, Ia meregangkan badannya sambil menguap lebar. Baru kali ini Aksa tidur tak nyenyak, dan pagi ini terasa pusing. Pria itu memperhatikan rumah yang terasa sepi, padahal seingatnya sekarang sudah pukul 7 pagi lebih. Ia menoleh ke samping, teringat kalau kamar Kim tepat di sebelahnya. Aksa mengetuk pintu itu, tapi anehnya sudah beberapa kalipun tak ada jawaban.
"Kemana dia?"
Apa mungkin Kim belum bangun? Tapi masa saja, Kim bukan wanita pemalas.
Saat merasa tenggorokannya tercekat, pria itu memutuskan pergi ke dapur. Bersyukur karena tak kesulitan mencari ruangan yang tak jauh dari kamarnya. Baru masuk tatapannya langsung tertuju pada cangkir khas jaman dulu yang berada di meja yang berada di tengah-tengah dapur.
Karena Aksa tak menemukan dimana dispenser juga lemari es, maka pria itu memutuskan untuk meminum teh di cangkir itu. Rasanya enak, manisnya pas dan tak terlalu panas. Bahkan sangking menikmati teh itu, Aksa tak sadar ada seorang wanita tua yang masuk ke sana.
"Hei anak muda, itu teh milikku."
"Astaga!" Aksa terpekik kaget saat bahunya di tepuk pelan dari belakang, Ia langsung berbalik melihat seorang wanita tua. "Ya?"
"Itu teh milik nenek, kenapa kau meminumnya hm?"
Aksa menyugar rambutnya, Ia benar-benar merasa canggung dengan posisi ini. Pria itu memperhatikan penampilan wanita tua itu, walaupun terlihat sudah berumur, tapi penampilannya masih rapih dan cantik. Rambutnya di konde khas orang jawa, dan memakai baju kebaya biasa.
"Siapa kamu nak?"
"Ah iya." Aksa terlebih dahulu menyimpan cangkir itu di meja tadi, lalu menyalami wanita itu. "Perkenalkan nama saya Aksa Delvin Arion."
"Kenapa kamu ada di sini? Nenek belum pernah lihat kamu sebelumnya."
"Em saya itu-" Apa Aksa terus terang saja kalau Ia adalah pacar Kimberly? Sepertinya wanita tua ini adalah nenek Kim, wajah mereka agak mirip.
"Saya pa-"
"Nenek!"
Seruan seseorang yang baru memasuki dapur langsung mengalihkan perhatian kedua orang itu, terlihat Kim yang tersenyum lebar menghampiri mereka.
"Nenek akukan sudah bilang biar Kim saja yang ambil teh nenek."
"Tidak usah, kamukan sedang menyiram tanaman."
"Sudahlah nek, kata dokterkan nenek harus banyak istirahat jangan kecapean."
Nenek itu tersenyum lembut lalu mengusap pipi cucunya. "Nenek gak akan kecapean kalau hanya bawa cangkir kecil saja sayang." Lalu saat teringat sesuatu, wanita tua itu kembali menatap pria tadi. "Ah iya kamu kenal dia?"
Kimberly meringis sambil melirik sekilas Aksa yang masih terbengong menatapnya. Wanita cantik itu mengangguk pelan pada neneknya. "Iya, dia bos Kim."
"Benarkah?"
"Hm."
Nenek itu menepuk pelan tangan Aksa, sambil tersenyum lebar. "Ya ampun nenek kira siapa. Kamu sudah tampan, mapan lagi."
"Terima kasih nek."
"Ya sudah, nenek kembali ke taman saja ya? Biar Kim yang buatkan lagi tehnya."
"Iya." Kembali nenek Kim menatap Aksa. "Nanti kamu ikut ke belakang, kita sarapan bersama di sana."
Selepas kepergian neneknya, Kimberly langsung menepuk pelan tangan pria itu, membuat Aksa menatapnya bertanya.
"Hampir saja tadi."
"Apa?"
Astaga, anak ini memang lemot. Batin Kimberly.
"Jujur tadi kau akan bilang kita pacarankan pada nenek?"
Aksa memgangguk cepat. "Iya, lagi pulakan kita memang pacaran."
"Tidak ini terlalu cepat."
Aksa membawa tangan kanan Kim ke genggamannya, mengusapnya pelan dengan penuh kelembutan. "Hei memangnya kapan waktu yang tepat hm? Aku saja rasanya tidak enak saat kita harus bersikap profesional didepan Mama dan Papaku."
"Tidak." Aksa membawa Kim ke pelukannya. "Hubungan kita tidak boleh di sembunyikan lagi, aku akan secepatnya memberitahu kedua orang tuaku. Ini berat untuk kita, terlebih kamu. Aku tidak mau berbohong pada nenekmu, lagi pula Bunga juga sudah tahu hubungan kita."
Kimberly tersenyum kecil, merasa terharu dengan pengakuan Aksa. Aneh, padahal seingatnya pria itu dulu sangat kekanakan dan manja, tapi setelah mereka berpacaran Aksa tak melihatkan sifatnya itu. Pria itu berubah menjadi pria dewasa pada umumnya.
"Em Kim aku merasa bersalah pada nenekmu."
Kimberly mepelas pelukan mereka. "Memangnya kenapa?"
"Aku menghabiskan tehnya, itu karena aku sangat kehausan dan tidak menemukan dimana air mineral."
"Iya tidak apa-apa, untung saja kau tidak di pukul oleh nenek."
Aksa membelakan matanya lebar. "Me-memangnya nenekmu galak?"
Kim yang sedang menyeduh teh tersenyum kecil. "Terkadang, tapi dia tidak pernah memukulku. Hanya saja dia kurang suka pada orang yang suka berbohong."
Seketika itu juga Aksa panik. "Lalu bagaimana nasib kita nanti? Kaukan bilang aku bosmu, padahal kita berpacaran."
"Kau itu memang bosku, aku tidak berbohong kok."
"Ck tapi-"
"Sudah sekarang mandi sana, aku tunggu di taman belakang, kita sarapan bersama."
Sebelum Kim pergi, Aksa segera menahan tangannya. "Apa?"
"Dimana kamar mandi?"
"Ah iya di taman belakang."
"Itu artinya aku harus melewati kalian di sana?"
"Hm."
Aksa menggeleng, pria itu merapihkan rambutnya sebentar. "Aku masih tampankan? Tidak kelihatan baru bangun tidur?"
Kim memicingkan matanya. "Kau tidak mau mandi?"
"Aku akan mandi setelah kita sarapan."
"Aish dasar jorok, ck ya sudah ayo lagi pula kalau kau mandi pasti akan lama."
Dan merekapun pergi bersama ke halaman belakang, Aksa cukup terkejut melihat pemandangan di sana. Halaman yang menyatu dengan alam, bersih, rapi dan menyejukan mata. Ternyata lumayan besar, apalagi ada kolam ikan di sana.
"Kenapa kalian lama sekali? Ayo cepat, nanti makanannya keburu dingin."
Kursi panjang dan meja ini juga terbuat dari kayu, dari sana mereka langsung bisa melihat pemandangan indah yang berada di bawah bukit. Aksa bingung, benarkah ini di Bekasi? Ia belum pernah ke sini, ataupun mendengar lokasi indah ini.
"Maaf ya sarapannya hanya sayur sop dan perkedel saja, nenek kira tidak ada tamu."
"Tidak apa-apa nek, ini saja sudah cukup."
Nenek Kim menyimpan nasi dan sayurnya didepan Aksa. "Memangnya kalian ini tiba jam berapa? Kenapa sampai nenek tidak tahu?"
"Nenek sudah tidur, Kim sampai pukul sembilanan." Ucap Bunga.
"Oh pantas saja." Wanita tua itu tersentak saat ingat sesuatu. "Lalu dimana Aksa tidur? Tidak sekamar denganmukan?"
Aksa dan Kim langsung menggeleng cepat, sambil berkata 'tidak' dengan kencang.
"Tuan Aksa tidur di kamar tamu nenek, mana mungkin kami tidur bersama."
"Syukurlah, nenek kira sekamar hehe. Sudah-sudah ayo dimakan."
Aksa belum memakan sarapannya, Ia menatap Kim dalam diam. Mendengar kata 'Tuan' yang tadi terucap dari bibir wanita itu, jujur rasanya sangat tidak nyaman. Jika dulu Ia biasa saja, tapi sekarang mereka berpacaran.
Apa Kimberly tak sakit hati? Atau.. merasa terhinakah? Maksudnya memanggil kekasihnya sendiri dengan sebutan Tuan layaknya wanita itu adalah bawahannya. Walau Kim memang bodyguardnya, tapi rasanya tidak enak. Pria itu meminum air putih yang ada di gelas sampai tandas, setelahnya Ia mengatur nafas menguatkan diri dalam hati.
"Ekhem maaf nek, sebenarnya.." Aksa langsung menggenggam tangan Kim, dan terlihat keterkejutan di wajah wanita cantik itu. Kim berusaha melepaskan tangannya, Ia merasa malu karena di perhatikan neneknya. Tapi sayangnya Aksa menahannya, dan Ia kesulitan melepaskan diri.
"Ada apa?" Tanya nenek Kim sambil menatap mereka heran.
"Sebenarnya saya dan Kim.. Kami berpacaran."