
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Kimberly duduk dengan gelisah, Ia gigit-gigiti ujung kukunya.
"Kita sudah melakukan pencarian satu hari, tapi masih belum bisa menemukan tersangka."
"Apa di antara mereka ada pria berkepala botak yang memiliki tatto di sepanjang lehernya?"
"Aku tidak terlalu mengingatnya, tapi seingatku tidak ada. Aku tak menangkap pria berkepala botak, mereka memang memiliki tatto tapi tidak ada dibagian leher."
"Aishh yang lolos itu sepertinya ketuanya, dan kau harus bekerja lebih ekstra lagi untuk mencari Dia."
Dimas menghembuskan nafasnya berat, sambil memijat keningnya. "Ya sepertinya begitu." Ia menatap wanita yang duduk di depannya sedang fokus melihat-lihat foto para pelaku. "Apa kau tidak apa-apa?"
"Hm?"
"Apa kau terluka? Ku dengar kau menggagalkan aksi penculikan itu dengan berkelahi melawan mereka sendiri."
"Ya, aku baik-baik saja."
Siapapun yang melihatnya, pasti akan menemukan tatapan berbeda dari Dimas pada Kimberly. Tatapan lembut dan penuh cinta. Walau begitu tapi Kim seperti tak pernah menyadarinya, membuatnya sedih.
Bekerja menjadi polisi yang sudah mendapat pangkat AKP butuh perjalanan waktu yang lumayan lama, begitupun untuk mendapatkan hati Kimberly. Wanita itu selalu bilang jika menganggapnya hanya sebagai seorang Kakak, astaga Dimas tak mengharapkan itu tapi Ia ingin lebih.
Rasa sayangnya pada Kim begitu besar, bahkan dulu cita-citanya bukan menjadi seorang Polisi. Kim masuk ke sebuah kelompok yang bertugas menjadi seorang Bodyguard, membuatnya tak ingin kalah. Kemampuan beladiri wanita itu membuatnya akhirnya masuk ke dalam Polisi. Mengira jika pekerjaan itu dapat memikat hati pemilik mata bulat itu.
"Bagaimana perasaanmu saat bekerja menjadi seorang Bodyguard?"
"Lumayan."
"Aku sebenarnya tak mengharapkan kau bekerja menjadi Bodyguard, karena pekerjaan itu lebih berbahaya dariku. Jaga dirimu baik-baik dan hubungi aku jika kau sedang tak baik-baik saja oke?"
Kimberly tersenyum kecil. "Kau ini memang Kakak yang cerewet, aku bosan mendengar kata-kata itu."
"Ck tapi aku hanya takut terjadi apa-apa padamu!"
"Terjadi apa-apa? Maksudmu aku terbunuh begitu?" Wanita itu terkekeh. "Tenang saja, aku ini hebat dan pandai berkelahi."
"Jangan sombong!"
"Aku tidak sombong, kau ingat saat kita mengadu kekuatan? Aku yang menang."
Dimas memutar bola matanya malas, tak sepenuhnya begitu. Toh saat itu Ia hanya ingin mengalah, membuat wanita itu bahagia. Kekuatan berkelahi Kim memang bagus, tapi tetap saja kekuatan mereka berbeda. Masa saja Ia yang berpangkat AKP kalah dengan seorang Bodyguard perempuan, menggelikan.
"Aku akan pulang."
Merasa tangan kanannya ditahan membuat Kim menoleh. "Apa?"
"Kita makan siang dulu, aku sudah lama tak menghabiskan waktu denganmu lagi."
"Tapi kau yang traktir ya?"
"Dasar, yaya baiklah!"
***
"Dimana Kim?"
Yasmin mengerutkan keningnya, Ia terlebih dahulu menyerahkan segelas susu coklat pada Aksa. "Dia sedang pergi."
"Jadi dia tak akan bekerja lagi di sini?"
Guratan kesedihan itu bisa Yasmin lihat di wajah putranya, astaga menggelikan sekali karena selama ini anak itu tak pernah sesedih itu pada seorang wanita.
"Kau takut Dia pergi?"
Aksa tak menjawab, hanya menunduk menatap kosong gelas di tangannya.
Tentu saja. Ia pikir Kim akan kembali bekerja menjadi bodyguardnya, tapi ternyata wanita itu malah pergi. Padahal Aksa sudah senang dan bahagia, Ia berjanji tak akan melakukan hal yang sama seperti dulu pada Kim. Tapi sayang wanita itu sepertinya sudah sangat kecewa padanya.
"Apa Dia akan kembali?"
"Hm."
"Mom tidak bohong kan?"
"Tidak Aksa." Desah Yasmin. "Kim sudah bilang pada Mom kalau dia akan kembali bekerja dalam minggu ini, tapi sekarang Dia harus bersiap-siap dulu. Kau bahkan tidak tahukan kenapa Kim pulang?"
"Tidak."
"Neneknya sakit dan membuatnya khawatir."
Jadi itu alasan Kim pulang, tapi kenapa tak mengabarinya? Sedangkan Ia kan bisa dibilang Bos wanita itu. Sepertinya Kim sedang terburu-buru sampai tak mengabarinya. Ya Aksa tak boleh berprasangka buruk tentang wanita itu.
Lagi pula selama ini Kim selalu bekerja dengan baik, tak pernah mengecewakannya. Bersikap profesional dan menghormatinya. Dari sekian banyak pekerja yang menjadi bodyguardnya, jujur Aksa lebih nyaman bersama Kim.
"Rafael akan ke sini besok."
"Mau apa?"
"Ya mau jenguk kamulah! Dia sebenarnya lagi ada urusan di luar kota, tapi saat denger kamu di culik Rafael langsung memutuskan untuk pulang. Saat itu Dia tidak pulang karena ada urusan yang sangat penting, dan besok Dia akan kesini."
"Dia khawatir aku hilang?"
"Iyalah Aksa, Rafael kan sahabat sekaligus Manajer kamu."
Astaga, Aksa itu sudah berusia 27 tahun tapi kenapa pemikirannya masih lambat. Bahkan sikap Aksa saja masih kekanakan dan manja. Mungkin salah Yasmin dan suaminya juga yang terlalu memanjakan anak itu, tapi mereka tak menyangka akan jadi seperti ini.
Yasmin mendorong kursi roda Aksa masuk ke kamar pria itu. "Kamu mau tidur?"
"Gak, Mom boleh pergi."
"Hm, kalau ada apa-apa panggil Mom atau pelayan ya?"
"Oke."
Setelah kepergian sang Ibu, Aksa membuka handphonenya. Melihat foto Kim yang Ia ambil secara diam-diam saat wanita itu sedang menulis sesuatu di buku.
Kimberly, wanita dingin dan tomboy. Suka dengan tantangan juga pemberani. Ternyata bukan hanya arti namanya yang pemberani, tapi wanita itu memang benar benar pemberani. Pertama kali jatuh cinta, Aksa langsung terpikat pada wanita itu. Padahal banyak wanita manis di luaran sana, tapi anehnya hanya Kim seorang yang mampu memikatnya.
"Cepatlah kembali Kim, aku merindukanmu."
***
"Bagaimana keadaan Nenek?"
"Dia sudah agak membaik, tapi aku masih khawatir dengan kesehatannya."
"Kalau begitu berhentilah bekerja dan temani Nenek di rumah, Dia ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Kim memutar-mutar sumpit di mangkuk ramennya. "Aku juga mau seperti itu, tapi kalau aku tak bekerja aku tak punya uang untuk membiayai hidup kami."
"Biar aku yang tanggung."
Wanita itu menggeleng sambil tersenyum kecil. "Tidak Dimas, selama ini kau sudah banyak membatu kami dan aku merasa tidak enak."
"Hei kau ini seperti ke orang lain saja!"
Dimas mengusap puncak kepala Kim. "Selama ini aku sama sekali tak keberatan, aku malah senang bisa membantumu. Karena aku menyayangimu."
"Ck." Kim melepas tangan Dimas yang ada diatas kepalanya. "Jangan merusak rambutku!" Sebalnya. Hari ini rambutnya memang sedang di gerai, memang tak terbiasa tapi Kim ingin membiasakannya.
"Apa Nenek sudah tahu pekerjaanmu?"
"Tidak."
"Aish jangan sampai Dia tahu, bisa-bisa dia kembali sakit. Aku saja sakit kepala melihatmu bekerja seperti itu!" Dengus Dimas yang langsung mendapat tawa dari Kim.
Walaupun Kim hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak, tapi sudah membuat Dimas cukup bersyukur karena masih bisa bersama wanita itu. Entah sampai kapan perasaan cintanya akan terkubur, tapi Ia selalu berharap kalau Kim akan menerimanya suatu saat nanti.