MY BEAUTIFUL BODYGUARD

MY BEAUTIFUL BODYGUARD
My Beautiful Bodyguard 38



Vote sebelum membaca 🌻


.


.


Aksa menyimpan dua gelas susu dan sandwich di nampan, Ia tersenyum puas melihat hasil buatannya. Pria itu lalu membawanya dengan hati-hati menuju kamar kekasihnya. Pagi ini Ia bangun lebih awal dari biasanya bersiap menyiapkan sarapan untuk Kimberly, ya walaupun hanya dua potong sandwich tuna, namun itu juga butuh perjuangan membuatnya.


Tok tok!


"Kim kau belum bangun juga?"


Tentu saja Aksa bingung, ini sudah pukul enam pagi dan tumbenan kekasihnya belum terlihat. Apa mungkin Kim masih tidur? Perlahan Ia membuka pintu kamar yang untungnya tidak di kunci. Senyumannya langsung luntur karena tak mendapati wanita itu, ranjang yang rapih dan kamar mandi yang kosong.


"Kemana dia?"


Aksa terlebih dahulu menyimpan nampan itu di meja, mengeluarkan handphonenya lalu menelphone nomor Kim. Sudah dua panggilan, namun yang menjawab hanya operator jika nomor yang dituju tidak aktif.


Karena merasa khawatir, Aksa keluar kamar dan ingin mencari kekasihnya. Ia bertanya pada beberapa pelayan juga satpam rumah, namun mereka sama menjawab kalau tidak melihat Kimberly dari tadi pagipun.


Tepukan di bahunya membuat Aksa menoleh, tersenyum kecil melihat Mamanya yang ikut duduk di sampingnya. "Kamu kenapa sayang? Kaya cemas gitu, Mom lihat juga kamu mondar-mandir terus."


"Mom lihat Kim tidak?"


"Tidak, Mom kira dia sedang bersama kamu."


Aksa menghembuskan nafasnya berat. "Dia pergi kemanasih? Kenapa tidak minta ijin atau setidaknya tinggalkan pesan."


"Kau khawatir?"


"Tentu saja, lagi pula Kim itukan pa-"


"Pa?"


Aksa langsung menggeleng, menggaruk belakang kepalanya dan tersenyum gugup. "Tidak jadi hehe."


"Aneh, kau sudah sarapan?"


"Belum."


"Ck sarapan dulu Aksa, ini sudah pukul tujuh, kau harus bersiap berangkat ke kantor."


"Tapi bagaimana dengan Kim?"


Ibu Aksa mengusap bahu putranya, tersenyum manis mencoba menenangkan. "Mungkin dia sedang ada urusan, Kim pasti akan kembali."


Lalu salah seorang penjaga rumah menghampiri mereka, nafasnya naik turun. "Maaf nyonya tuan, itu saya ingin memberitahu jika motor trail di garasi milik tuan muda hilang."


"Apa? Kenapa bisa hilang?"


"Em setelah kami mengecek cctv, ternyata Kimberly yang membawanya."


Aksa dan Ibunya saling bertatapan, terbengong sekaligus tak percaya. Aksa lalu berdiri, entah kenapa perasaannya langsung tidak enak. "Kapan dia pergi?"


"Pukul dua dini hari tuan."


"Sepagi itu? Kemana dia pergi?"


"Saya kurang tahu, tapi Kim terlihat buru-buru."


Tidak mungkin rasanya wanita itu membawa motornya pergi tanpa alasan, dan kenapa harus sepagi itu? Pria itu bangkit namun tangannya ditahan Mamanya.


"Kamu mau kemana?"


"Ma hari ini Aksa ijin tidak masuk kerja dulu ya."


"Kenapa?"


"Aksa ingin mencari Kim."


Yasmin mengernyit kening. "Memangnya kamu mau cari Kim kemana? Bisa saja dia-"


Bolehkah Yasmin merasa aneh karena menurutnya sikap Aksa terlalu berlebihan untuk seorang bodyguard? Pria itu dulu selalu merasa tidak peduli dengan mantan-mantan bodyguardnya, dan ini membuatnya bingung. Aksa lebih terkesan sedang mengkhawatirkan.. kekasih?


"Hati-hati ya."


"Hm Aksa pergi."


Aksa berlari menuju mobilnya, mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang. Ia memang tidak tahu kemana Kimberly, tapi apa salahnya mencoba mencari. Lalu sebuah panggilan masuk, tanpa melihat siapa penelphonennya Ia mengangkat panggilan itu.


"Hallo?"


'Selamat pagi tuan Aksa yang terhormat.'


Aksa mengernyitkan keningnya mendengar suara berat itu, Ia melihat sekilas nomor asing itu yang tidak tersimpan di kontaknya. "Ekhem maaf ini dengan siapa ya?"


'Oh kamu sudah lupa dengan saya ya?' Pria di sebrang sana terkekeh. 'Nanti kamu juga pasti akan mengetahuinya, saya menelphone karena ada sesuatu yang penting ingin saya sampaikan.'


"Kamu mendapat nomor telphone saya dari siapa?" Selama ini Aksa selalu menjaga privasinya, termasuk nomor handphonennya. Yang tahu hanya keluarga dan teman terdekat saja.


'Haha itu bukan masalah penting, karena saya memiliki kabar yang pasti membuatmu terkejut.'


Aksa hanya diam, sebenarnya Ia malas sekali menanggapi nomor tidak di kenalnya ini. Saat akan mematikan panggilan itu. pergerakannya terhenti dengan kata-kata mengejutkan dari sebrang sana.


'Saya tahu kamu sedang mencari Kimberlykan?'


Decitan mobil terdengar begitu keras, sampai menimbulkan beberapa klakson mobil di belakang yang protes karena ulahnya. Dengan tangan yang gemetar Aksa memutar kemudinya ke samping jalan, memberhentikan kendaraannya karena pembicaraan ini terdengar serius.


"Kenapa kau bisa tahu?"


'Haha tentu saja saya tahu, bahkan semuanya tentangmu dan hubungan kalian. Kau ingin tahu dimana kekasihmu tuan Aksa?'


"Dimana?!"


'Dia bersamaku, terikat di kursi dengan wajah yang berlumuran darah.'


Mata Aksa terbelak mendengar itu, perlahan penglihatannya memburam karena air mata yang menggenang. Jantungnya berdetak hebat dengan kepala yang pening. Bahkan rasanya Ia tidak sanggup menelan ludahnya yang tercekat.


'Tenang saja, dia masih hidup. Aku akan lepaskan dia jika kau memberikan aku uang.'


"Jangan pernah berani kau menyentuhnya br*ngsek!"


'Waw ternyata kau dan kekasihmu sama-sama suka mengumpat ya, pasangan yang sangat cocok.' Pria itu lalu berdehem. 'Datanglah ke sini dengan membawa uang senilai 2M. Aku tahu kau orang kaya dan uang segitu saja tidak ada apa-apanya dibanding kekasihmu ini. Jalan *, ingat datanglah sendiri dan jangan berani melaporkan pada polisi, kalau kau macam-macam, aku tidak akan segan-segan membunuhnya!'


Telphone genggam itu langsung jatuh setelah panggilan mereka terputus sepihak. Air mata yang berusaha Aksa tahan kini sudah menetes juga. Ia menumpukan kepalanya diatas kemudi, terisak dengan dada yang bergemuruh kencang.


Katakanlah Ia pria cengeng, toh kenyataannya begitu. Tetapi jika kalian yang berada di posisinya saat ini juga pasti akan sedih dan putus asa. Kenapa Ia harus merasakan kejadian ini? Terutama Kimberly, kenapa harus wanita yang di cintainya terlibat dalam masalah ini?


Aksa memang tidak tahu siapa pria itu, yang pasti pria itu jahat karena telah menculik dan melukai Kimberly. Kini Aksa bingung harus bagaimana, tapi waktu terus berjalan dan membuatnya kalut.


'Jangan pernah berani melaporkan ini pada polisi, atau aku akan membunuhnya!'


Tidak, Aksa tidak mau itu terjadi, jangan sampai. Pria itu segera menginjak pedal mobilnya melajukan ke bank terdekat. Ya, Aksa sudah memutuskan untuk mengabulkam keinginan penjahat itu. Ia tidak mau ambil resiko, mungkin karena sekarang Ia juga sedang kalang kabut sampai tak memikirkan resiko apa yang akan terjadi nanti.


Hampir satu jam di perjalanan, akhirnya Aksa sampai di lokasi yang di berikan pria itu. Ia memberhentikan mobilnya namun belum turun. Tunggu, Aksa merasa familiar dengan tempat ini. Benar tidak salah lagi kalau jalan ini yang dulu saat Ia di culik sekaligus di tolong Kimberly.


Trak trak!


Ketukan di kaca mobil sampingnya membuat Aksa langsung menoleh, Ia mengernyit melihat dua pria berpenampilan tidak rapih. Yang lebih membuat Aksa takut, mereka membawa senjata tajam berukuran besar.


"Keluar! Kami akan mengantarmu bertemu Kimberly!"


Haruskah Aksa pergi ke sana seorang diri? Entah kenapa perasaannya tidak enak, tidak bisa berbohong kalau Ia sangat ketakutan. Ia menatap ponselnya lalu berinisiatif menelphone nomor Dimas, polisi yang mengatasi kasusnya dulu. Tetapi sayang tidak di angkat, sedang ketukan di kaca mobilnya semakin kencang.


"Keluar atau kami akan pecahkan kaca ini!" Teriak salah satu pria di luar.


Dengan cepat Aksa mengetikan pesan pada Dimas.


'Aku pergi menolong Kim di jalan *, ku harap kau datang menolong kami.'