
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
"Kim pulang!!"
Kimberly masuk ke dalam rumah sambil menenteng dua kresek besar belanjaannya, Ia langsung masuk ke dapur untuk menyimpan barang-barang itu. Sebelah tangannya terangkat mengusap keringat di sekitar kening, ternyata cukup melelahkan juga hari ini, mungkin karena Ia terlebih dahulu belanja ke pasar plus membantu menyelamatkan orang dari penjahat.
"Nenek di dalam?" Tanya Kim sambil mengetuk pintu kamar Neneknya, tapi sudah mengetuk beberapa kalipun tidak ada jawaban dari dalam sana. Akhirnya Iapun membuka pintu dan mengernyit karena tak menemukan wanita paruh baya itu. "Kemana Nenek?"
Karena tidak ambil pusing Kimberlypun mencari Bunga, tapi sayang saat di cek di kamarnya wanita itupun juga tidak ada. Kemana mereka berdua? Mungkin Kim akan biasa saja kalau Bunga tidak ada, karena mungkin masih mengantar kue atau sedang jalan-jalan, tapi yang aneh Neneknyapun tidak ada.
Setelah di cek di seluruh ruangan dan juga halaman belakang dua wanita itu tidak ada membuat Kim semakin terheran-heran. Wanita itu mengecek ponselnya, tidak ada pesan ataupun kabar dari Bunga. Jika akan pergi wanita itu selalu mengirimnya pesan. Kim melihat waktu di jam tangannya, pukul dua siang dan sekarang Ia sangat mengantuk. Kimberlypun memutuskan untuk tidur siang karena tidak kuat menahan kantuk, semoga saja saat bangun mereka berdua sudah di rumah.
***
"Hah!"
Kimberly terbangun dari tidurnya dengan nafas yang berderu kencang, Ia menoleh ke samping saat mendengar nada dering ponselnya yang berbunyi kencang. Apa Ia terkejut dan terbangun karena suara itu? Atau bermimpi buruk? Ah entahlah yang pasti sangat tidak enak.
Tangannya terulur membawa benda pipih itu tanpa melihat siapa penelphonenya Ia mengangkat panggilannya. "Hallo?"
'Ya ampun, dasar kau ini kemana saja?!'
Seketika itu juga Kimberly langsung menjauhkan ponselnya mendengar teriakan dari sana, tanpa melihatpun Ia sudah tahu siapa penelphonennya. Dengan menghembuskan nafasnya berat, Ia lalu menjawab. "Aku di rumahlah, memangnya kenapa?!" Ketusnya. Mungkin karena efek bangun tidur, moodnya masih buruk.
'Cepat ke sini, kitakan mau makan malam bersama.'
"Hah?" Bingung Kim.
'Jangan bilang kau lupa lagi.'
"Tunggu, aku tidak lupa, tapi memang tidak tahu. Kapan kau mengabariku untuk makan malam bersama?"
'Kemarin, apa Nenek tidak bilang?'
"Tidak."
'Hm mungkin beliau lupa, ya sudahlah sekarang kau berangkat saja sendiri sudah besar.'
"Kemana?"
'Ke jalan *, hotel mewah di Jakarta.'
"Aduh aku malas sekali, jauh lagi."
'Hei ini masih sore, aku tidak mau tahu, pokoknya nanti malam kau sudah hadir di sini titik!'
Panggilan itupun berakhir sepihak, tumben sekali Dimas seperti itu. Biasanyakan pria itu selalu ramah dan berbicara santai, memangnya sepenting apasih makan malam nanti? Kimberly lalu melihat jam di tangannya, baru pukul lima sore sebaiknya Ia segera bersiap saja. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu hampir satu jam lamanya, itupun jika tidak macet.
Pakaiannya sendiri tidak mewah-mewah, karena menaiki bis umum wanita itu memilih menggunakan celana jeans dengan kemeja brukat warna putih. Rambutnya Ia gerai dan tak lupa memakai make up tipis. Sebenarnya Kim malas pergi, tapi Ia takut tidak menghargai Dimas. Padahal memang benar kok sebelumnya Ia tidak tahu akan ada makan malam, jika Neneknya lupa lalu kenapa Bunga tidak memberitahunya?
"Apa benar ini ya tempatnya?"
Tempat ini memang sebuah hotel mewah berbintang, tapi kenapa makan malamnya harus di sini? Kim belum masuk, wanita itu memilih menelphone Dimas terlebih dahulu untuk memastikan dimana tempatnya.
"Aku sudah di depan hotelnya, kau dimana?"
'Nah masuklah, minta tolong pada bagian penerima tamu untuk mengantarmu ke kolam renang di lantai satu.'
"Ck baiklah."
Dengan di antar oleh seorang pekerja hotel Kimberly mengikuti kemana wanita itu membawanya. Lumayan jauh, padahal masih satu tempat, itu berarti hotel ini memang besar dan luas. Setelah mengantarnya tepat di depan ambang pintu menuju kolam renang, pelayan itu berpamitan. Saat Kim masuk ke sana, Ia langsung terdiam karena terpukau melihat keindahan tempat ini yang di hiasi berbagai bunga dan lampu di sekitar kolam renang yang membuatnya tampak sangat romantis. Anehnya tidak ada seorangpun di sini, hanya Ia sendiri.
Sempat Kimberly berpikir, apa mungkin Ia salah tempat? Tapi sebelum berbalik untuk pergi, panggilan seseorang yang suaranya sangat familiar terdengar. Perlahan Kim menolehkan kepalanya ke samping dan terkejut melihat pria itu berdiri tidak jauh darinya sambil tersenyum lebar. Dia berjalan perlahan ke arahnya sambil membawa buket bunga cantik di tangannya.
Kimberly belum membuka suara, Ia masih syok melihat pria itu ada di sini. Dia masih tersenyum lebar, wajahnya tampak bahagia sekali entah karena apa. Berbeda sekali dengan yang sedang Kim rasakan, hatinya sesak sekali karena pertemuan mereka kembali.
"Maaf telah menghilang begitu saja, kau pasti kecewakan karena tindakan bodohku ini?" Aksa lalu menyerahkan bunga di tangannya pada Kimberly. "Selamat ulang tahun."
Perlahan Kim menerima bunga itu. "Terima kasih." Bisiknya dengan suara serak. Tidak Ia tidak boleh menangis, Ia adalah wanita kuat.
Lalu saat sedang fokus menatap bunga, tanpa di duga usapan di puncak kepalanya membuat Kim menegang. Ia menatap Aksa bertanya, tapi pria itu masih sama hanya tersenyum lebar.
"Kau pasti tidak akan percaya kalau aku hampir gila karena merindukanmu, bahkan hampir setiap hari aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena terus memikirkanmu."
Sepertinya yang Aksa katakan benar, buktinya Kim bisa melihat mata panda pria itu. Padahal dulu tidak ada, bukan hanya itu saja, tapi rambut Aksa juga tampak lebih gondrong. Pria itu seperti tidak mempedulikan penampilannya lagi.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau masih marah karena sikapku dulu? Aku minta maaf."
Kim menghembuskan nafasnya, sebenarnya Ia tidak mau berbicara, tenggorokannya tercekat sakit. "Tidak, untuk apa aku marah, bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi?"
Aksa menarik salah satu sudut bibirnya, kedua tangannya Ia masukan ke dalam saku celana. Ia tahu kalau Kim sedang berusaha untuk tidak menangis dan Iapun mengerti kenapa wanita itu ingin menangis.
"Hm kita memang bukan siapa-siapa lagi sekarang."
Jadi benarkah kalau mereka sudah berpisah? Batin Kimberly. Sepertinya selama ini Kim terlalu berharap lebih kalau Aksa masih mencintainya, padahal Ia masih setiap menunggu pria itu walau sekedar mengabarinya. Semenjak sebulan ini, mereka benar-benar lost kontak itu karena Aksalah yang menghindar. Lagi pula seharusnya Kim sadar, Ia hanya wanita biasa yang tidak akan mungkin bisa bersanding bersama pria sempurna seperti Aksa. Memiliki segalanya, tampan dan mapan.
"Aku punya kado spesial untukmu."
"Apa?"
Tanpa di duga, Aksa menekuk satu kakinya, berjongkok di depan Kim yang membuat wanita itu bingung. Saat pria itu mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dari dalam jas dan membukanya seketika itu juga kedua mata Kimberly langsung terbelak. Aksa membawa cincin berundu berlian murni cantik itu, melihatkan pada Kim sambil tersenyum manis.
"Kau pasti tidak percayakan aku melakukan ini? Selama sebulan ini aku sudah memikirkannya matang-matang, membicarakannya dengan keluargaku dan keluargamu. Percayalah Kim aku selalu mencintaimu, jangan beranggapan kalau aku berubah dan sudah melupakanmu."
"Aku berharap kau memaafkanku, berharap bisa memulai dari awal lagi, namun dalam ikatan yang lebih sakral." Aksa lalu membawa sebelah tangan Kim, bersyukur wanita itu tak menolaknya. "Kimberly Ainsley, maukah kau menikah denganku?"
Di saat itu juga setetes air mata tidak bisa Kim tahan dan mengalir begitu saja, wanita itu tidak mampu menjawab dan malah terisak dengan menggigit bibir bawahnya. Entah apa yang Kim rasakan, semua campur aduk, adakah yang mengerti?
Sedangkan Aksa yang melihat wanita itu menangis segera berdiri dan membawanya ke pelukannya. Sekuat tenaga Aksa untuk tidak menangis, tidak Ia tidak boleh cengeng. Sebenarnya Ia masih bingung, kenapa Kim menangis, berbagai pertanyaan berkecamuk di hatinya. Tangannya mengusap punggung dan belakang kepala Kim, mencoba untuk menenangkan.
Setelah merasa Kimberly tidak menangis lagi, perlahan Aksa melepas pelukan mereka sejenak. Tangannya beralih menangkup wajah cantik itu, mengusap lelehan air mata di sekitar pipi dan matanya. "Hei kenapa menangis hm?"
Kim hanya menggeleng sambil tersenyum kecil, menggemaskan.
"Em jadi, bagaimana? Apa kau menerima lamaranku?"
Mereka bertatapan dengan jarak yang dekat, sudah lama sekali tidak sedekat ini dan itu membuat kerinduan keduanya terobati. Kimberly menatap ke dalam mata Aksa, melihat ketulusan dari mata bening itu. Mencoba mencari kebohongan dari balik sana dan tidak menemukannya.
"Apa kau mencintaku?" Tanya Kim dengan suara seraknya karena habis menangis.
"Aku mencintaimu, sampai kapanpun juga."
"Aku juga mencintaimu."
Secercah senyuman langsung terukir di bibir Aksa, tanpa mendengar jawaban dari Kimpun Ia sudah mengerti kalau wanita itu menerima lamarannya. Segera saja Aksa memakaikan cincin itu ke jari manis Kim, mengecup punggung tangannya mesra setelahnya mereka berpelukan erat dengan kebahagiaan di hati masing-masing.
Tepat saat itu juga, suara kembang api di langit terdengar. Dengan beberapa orang yang keluar dan mendekat pada mereka. Kim melihat Nenek, Bunga dan Dimas, lalu keluarga Aksa dan Rafael juga istrinya. Mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun dengan Dimas yang membawa kue untuknya.
Sungguh tidak ada yang bisa Kim ungkapkan, ini adalah kenangan yang tak akan pernah Ia lupakan. Terima kasih Tuhan, takdirmu sungguh sangat indah.
TAMAT
***
Terima kasih kepada semuanya yang telah membaca sampai sejauh ini dan yang selalu mendukung saya dengan memberikan semangat. Maaf kalau saya kadang lama update karena ada cerita lain juga yang harus di kerjakan. Nanti mungkin akan ada tambahan ekstra chapter, tapi kemungkinan hanya satu.
Love bye, Aranel T❤