
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
Kimberly menatap puas beberapa kue yang telah siap, ada sekitar lima macam kue yang baru saja Ia buat bersama nenek dan Bunga. Tidak terasa sudah sebulan Ia tinggal di Bekasi dan bekerja menjadi penjual kue, rasanya waktu berjalan dengan cepat. Tetapi walau begitu wanita itu merasa tidak berbohong kalau hari-harinya terasa hampa, entah apa yang Ia rasakan, tapi sangat tidak nyaman.
Nenek dan Bunga sudah sehat lagi bahkan mereka juga selalu membantunya membuat kue untuk di jual ke toko-toko kecil. Kehidupannya yang dulu banyak berubah karena sekarang Kim sudah menjadi anak rumahan. Memang bekerja seperti ini tidak membuatnya lelah di banding dulu menjadi bodyguard, tapi tetap saja inikan bukan pekerjaan yang Ia inginkan, jadi rasanya berbeda.
"Sayang ganti pakaian dulu sebelum pergi ya."
"Siap nek."
"Nanti biasa saja, kamu kirim ke alun-alun dan Bunga anterin kue-kuenya ke toko deket rumah aja."
"Iya nenekku sayang, ya udah Kim siap-siap dulu nanti keburu siang."
Sweater dan jeans warna senada menjadi pilihan Kim, rambut panjangnya biasa Ia ikat ekor kuda. Sebenarnya Kim memang cuek pada penampilan, bahkan Ia tidak menggunakan make up untuk pergi-pergian, walaupun begitu dirinya masih terlihat sangat cantik dengan wajah naturalnya.
Kimberly memilih menggunakan sepeda kesayangannya untuk pergi mengantar kue, cuaca pagi yang segar dan cerah membuat wanita itu ingin sekalian berjalan-jalan, lagi pula untungnya jarak dari rumah ke alun-alun tidak terlalu jauh.
Ada sekitar lima toko makanan yang Ia datangi, dan mereka memang sudah menjadi langganannya untuk menjual kue-kue buatanannya. Syukurnya lagi keesokan harinya kue-kue miliknya selalu terjual habis. Penghasilan dari berjualan kue memang tidak seberapa, tapi cukup untuk makan keluarganya sehari-hari dan membeli barang-barang keperluan.
"Ini neng Kimberly uang hasil kuenya kemarin, alhamdulillah habis."
Kimberly menerima beberapa lembar uang itu dengan senyuman lebarnya. "Terima kasih ya bu."
"Sama-sama, ibu juga suka banget sama rasa kuenya dan setiap hari pasti selalu nyicipin."
"Haha ibu bisa saja. Oh iya ibu udah ambil belum upahnya?"
"Sudah, jangan khawatir."
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu bu."
"Eh kenapa buru-buru? Gak mau mampir dulu ke rumah ibu, ngopi-ngopi gitu?"
"Haha gak deh bu, lain kali saja soalnya aku harus belanja ke pasar."
"Ya sudah hati-hati di jalan."
"Asiyapp."
Kimberly melambaikan tangannya pada pemilik toko itu, setelah memasukan uang ke dalam celananya Iapun mengayuh sepedanya pergi dari sana. Ia tidak akan langsung pulang karena akan membeli dulu bahan makanan yang mulai habis di rumah dan tujuannya sekarang adalah ke pasar tradisional.
Beras, sayur, ikan dan bumbu juga bahan-bahan kue Kimberly beli, sekalian mumpung di sini karena sebenarnya yang selalu belanja adalag Bunga, hanya kali ini Kim ingin mencoba. Ternyata tidak mudah, apalagi tempat satu makanan ke makanan lain berbeda-beda, Ia juga harus berdesak-desakan dengan orang lain.
Hampir dua jam Kimberly belanja dan akhirnya selesai. Wanita itu menghela nafas berat lalu mengusap keringat di keningnya, ah benar-benar melelahkan. Semua belanjaanyapun Ia simpan di keranjang yang ada di depan sepeda, tidak lupa mengikatnya agar tidak jatuh.
"Baiklah sekarang mari kita pulang."
Baru saja Ia mengayuh sepedanya pergi, teriakan minta tolong terdengar tak jauh di depannya. Kimberlypun mempercepat mengayuh sepeda dan menghampiri seorang wanita hamil yang sedang meminta tolong di trotoar.
"Ada apa bu?"
"Tolong itu tas saya di copet, tolong saya!"
Kimberly bisa melihat seorang pria berpakaian serba hitam berlari, sudah dapat di pastikan dialah pencurinya. "Tunggu sebentar ya bu, saya akan mengejarnya."
Dengan penuh kekuatan Kimpun mengayuh sepedanya dengan kecepatan tinggi mengejar penjahat itu. Sial sekali karena tidak memakai motor, kalau tidak pasti sudah tertangkap. Tapi Kim tidak menyerah begitu saja, Ia semakin mempercepat laju sepedanya.
Bisa Kim lihat kalau lari pria itu mulai memelan, mungkin mulai kelelehan dan ini adalah kesempatannya. Tanpa rasa kasihan, Kim lalu menabrakan sepedanya ke belakang tubuh pria itu sampai terjatuh ke tanah. Sebelum si pria bangkit, segera Kim menginjak punggungnya dengan sebelah kakinya.
"Dasar pencuri, kembalikan tas itu!" Teriak Kim tak mau kalah.
Karena lalai dan terlalu percaya diri, tanpa di duga si pria berhasil melepaskan diri dan bangkit berdiri. Mereka sendiri jauh dari jalan raya, dan sialnya gang kecil ini tidak ramai. Penjahat itu tertawa remeh padanya sambil menunjuknya.
"Heh memangnya seberani apa kau menghadapiku hah? Kau tidak takut padaku ya?!"
"Tidak sama sekali."
"Sudahlah kau tidak usah ikut campur, aku tidak akan menyakitimu jika kau tidak macam-macam dan menghalangiku."
Kimberly melipat kedua tangannya di dada sambil menatap angkuh pria di depannya ini. "Heh memangnya kau tidak kasihan mencuri dari wanita hamil? Bagaimana kalau kau kena karma?"
"Alah karma-karma, aku tidak peduli, sudahlah jangan menghalangiku!"
Baru saja dua langkah pergi, tarikan belakang kerah bajunya membuat langkah pria itu tertahan. Dia memegang lehernya yang terasa tercekik. "Heh lepaskan aku!" Dengan mengarahkan kekuatannya Ia berhasil berbalik, saat akan memukul Kim sayangnya pukulannya meleset dan malah dirinya yang mendapat pukulan tepat di pipi kiri.
Bug!
"Anj*ng!"
Pria itu terjatuh ke bawah, meringis sambil memegang pipinya yang baru di pukul. Sialnya, pukulan dari wanita itu lumayan juga bahkan sampai pipinya berdenyut. "Dasar br*ngsek, kau macam-macam padaku hah!" Teriaknya marah.
"Akukan sudah bilang kembalikan dulu tasnya."
"Sialan kau sudah membuatku marah."
Pria itu lalu bangkit, Ia melayangkan pukulan pada Kim tapi lagi-lagi meleset. Gantinya tangannya di piting dan di simpan di belakang badannya yang di putar.
"Awww sakit, lepaskan bodoh!!"
Kimberly menendang salah satu kaki pria itu sampai dia berdiri setengah. "Ck aku ini masih berbaik hati, tapi kau malah ingin berbuat kasar makanya aku lawan." Ia lalu merebut tas itu dengan kasar lalu setelah mendapatkannya menghempaskan tubuh pria itu sampai terjatuh ke tanah.
"Mengganggu waktuku saja, sekarang pergi dan lihat saja kalau aku melihat wajahmu lagi aku tidak segan-segan memukulmu!"
Karena ketakutan dan tahu tidak mungkin bisa melawan, pria itu memilih pergi sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit. Ia kira wanita itu tidak bisa berkelahi, ternyata dirinyalah yang tidak bisa, dasar bodoh.
Kimberly kembali ke tempat wanita pemilik tas itu dan bersyukur ternyata masih di sana di temani beberapa orang yang sedang menenangkan.
"Ini tasnya."
Wanita hamil itu tampak sangat bahagia, Ia memegang kedua tangan Kim erat. " Terima kasih sudah menolong saya." Ucapnya tulus.
"Iya sama-sama."
Saat melihat wanita hamil itu membuka tasnya dan mengeluarkan uang segera Kim menahannya. "Eh tidak usah bu."
"Tidak tolong ambilah uang ini sebagai tanda terima kasih."
"Tidak apa-apa, saya ikhlas kok, simpan saja uang itu untuk menyambut dedek bayinya."
"Kalau begitu sekali lagi terima kasih banyak, semoga selalu sehat dan di lindungi Tuhan."
"Amin, em kalau begitu saya permisi."
Dengan senyuman manisnya Kim meninggalkan tempat itu, mengayuh sepedanya dengan santai. Entahlah rasanya selalu merasa senang setelah menolong seseorang. Sebenarnya ini bukan pertama kali Kim menolong orang lain, mungkin sudah ada empat orang yang sempat Ia tolong juga. Syukurlah karena Kim bisa bela diri, jadi Ia tidak perlu takut melawan para penjahat.
***
Hai jangan lupa mampir ke karyaku judulnya Psycho Man, sudah ada sekuelnya loh. Aku tunggu kalian di sana ya 😉