
Vote sebelum membaca 🌻
.
.
"Lo yakin mau ngadain fans meeting?"
Aksa mengangguk yakin sambil menatap Rafael yang berdiri di depannya.
"Gue cuma pengen lebih deket sama fans aja."
"Hm gue juga sering sih dapet dm atau pesan permintaan buat lo ngadain fans meeting, tapi gue bimbang takut terjadi apa-apa."
"Apa-apa gimana?"
"Lo emangnya gak inget pas kejadian waktu itu setelah ngadain konser di Tangerang?"
Aksa mencoba mengingat, setelah teringat pria itu terdiam ditempat duduknya. Benar juga, apalagi kejadian itu tak akan pernah bisa Ia lupakan. Sebenarnya bisa dibilang cukup berbahaya juga, walaupun fans fanatiknya waktu itu adalah seorang wanita.
"Lo juga baru aja ngalamin penculikan."
Mendengar itu membuat Aksa terduduk lesu. Sebelum Ia memutuskan untuk melakukan fans meeting, kenapa Aksa tak memikirkan itu? Sedang hidupnya sudah hampir beberapa kali terancam, dan Ia malah ingin melakukan fansmeet.
Tujuan di adakannya fans meeting ini adalah Aksa ingin lebih dekat lagi dengan para penggemarnya, mereka yang selama ini telah mendukungnya sampai sejauh ini. Tanpa merekapun Aksa bukan siapa-siapa. Apalagi sebagian besar penggemarnya adalah wanita, jadi Aksa merasa akan baik-baik saja.
"Jadi gimana? Lo masih mau ngadain fans meeting?"
"Gue jadi bimbang."
"Sebenarnya terserah lo sih, gue gak bakal nggak ngebolehin."
Melihat Aksa yang terdiam dengan lamunannya membuat Rafael merasa bersalah. Kasihan Aksa, pasti pria itu kembali teringat dengan masa-masa buruknya. Keselamatan Aksa memang segalanya, selain putra tunggal dari keluarga kaya di Indonesia, Aksa juga adalah salah satu publik pigur yang cukup terkenal.
"Tuan Aksa tidak perlu khawatir, saya akan menjaga Anda."
Suara itu membuat kedua pria itu langsung menatap Kim yang berdiri diambang pintu, entah sejak kapan wanita cantik itu ada di sana.
Kim mendekat dan berdiri disamping Rafael, menatap Aksa dengan senyuman di wajahnya. "Jangan terlalu dipikirkan dengan masalah-masalah itu. Keinginan Tuan Aksa melakukan fans meeting itu menurut saya sangat baik, selain membuat fans Anda senang, pasti ada suatu rasa bahagia juga di hati Tuan Aksa."
Secercah senyuman terbit di bibir Aksa, perasaannya yang sempat murung langsung menghilang. Segera pria itu berdiri, tapi saat akan menghambur memeluk Kim, sayangnya wanita itu malah memundurkan langkah.
"Kkk!"
Tawa kecil itu membuat Aksa menatap tajam Rafael, Ia menendang kaki pria itu sampai membuat pemiliknya mengaduh sakit.
"Aduh sialan Aksa sakit, tega banget sama yang udah tua!"
"Makanya jangan ngeledek gue!"
Kembali Aksa menatap Kim, Ia sempat sedih karena wanita itu tadi malah menghindar. Sebenarnya tak salah, karena wanita itu pasti merasa tak enak. Tapikan Aksa pengen peluk Kim.
"Benar juga apa yang kamu bicarakan, lagi pula keinginan saya ini sebenarnya dari dulu."
"Hm maka dari itu, jangan pikirkan yang buruk-buruk. Saya yakin, fans Anda adalah orang-orang baik."
"Benar, mereka sangat baik."
"Kenapa kamu seyakin itu kalau fans meeting nanti akan aman?"
Kim menoleh ke samping, tersenyum kecil pada Rafael. "Karena jika terjadi sesuatu, bukan hanya saya yang akan melindungi, tapi fans Tuan Aksa juga akan bertindak. Mereka sangat menyayangi Tuan Aksa."
"Apa kamu juga menyayangi saya?"
Rafael dan Kim langsung menatap Aksa, mengernyit dengan ekspresi yang sama, tapi berbeda pendapat. Kim yang gugup dan malu, sedang Rafael yang merasa jijik dan geli, tentu saja karena Aksa yang sekarang seperti pria bucin.
"Hh lupakan!" Desah Aksa melihat kedua orang itu yang malah diam.
***
Aksa mengamati Kim yang sedang memunggunginya, Ia melihat ke balik bahu wanita itu dengan menjinjitkan kakinya. Dan merasa tak percaya karena Kim sedang memotong kentang.
"Kau sedang masak?"
Kim terkejut mendengar suara yang tepat disamping telinganya. Ia langsung menoleh dan malah dibuat gugup karena wajahnya dengan pria itu yang sangat dekat. Saat akan menjauh kedua tangan pria itu malah mengurungnya dan otomatis badan mereka sekarang menempel. Aksa menyandarkan tangannya pada pantry mengurung Kim, tersenyum kecil karena posisi ini terlihat sangat romantis. Badan mereka bahkan bersentuhan, walau Kim berdiri membelakanginya.
"Mau buat apa?" Tanya Aksa.
"Em ke-kentang goreng."
Kegugupan Kim malah membuat Aksa senang, kini dengan berani pria itu malah menyandarkan kepalanya di bahu telanjang Kim. Ini sudah malam, dan wanita itu sudah berganti pakaian dengan baju dress rumahan yang panjangnya sampai lutut. Rambutnya digerai sehingga semakin cantik.
"Memangnya tadi belum makan malam?"
"Sudah, tapi saya ingin kentang goreng."
Aksa menaikan sebelah alisnya. "Apa bayi kita yang meminta?"
"Hah?"
Lalu usapan di perutnya membuat Kim membelakan mata tak percaya. Walaupun usapan itu dari luar pakaiannya, tapi tubuhnya langsung merinding.
"Baby kasihan Mama, jangan nakal ya didalam."
Pelukan mereka lalu terlepas dengan kasar, bahkan Aksa sampai mundur beberapa langkah. Kim berbalik dan menatap pria itu. "Maaf Tuan, saya merasa tidak enak."
Aksa menggaruk kepalanya yang tak gatal, Ia juga merasa kalau tindakannya tidak sopan. Tapi anehnya wanita itu seperti tak marah atau sampai membantingnya seperti saat itu. Padahal Aksa tadi merasa takut karena bisa saja badannya menjadi sakit. Lalu keningnya langsung mengernyit saat melihat wajah memerah Kim.
"Memangnya kenapa? Anggap saja ini latihan untuk masa depan saat kamu hamil bayi kita."
Kim menatap tak percaya Aksa, astaga ada apa dengan pria itu?
"Kau terlihat biasa saja sekarang, apa perlahan kau sudah ada rasa padaku?"
"Ti-tidak."
"Kau gugup berarti iya."
Kimberly tak lagi mempedulikan Aksa, wanita itu berbalik dan melanjutkan kegiatannya. Ia memang sudah makan malam, tapi karena tak mengantuk dan ada film kesukaannya, wanita itu ingin membuat cemilan. Lagi pula Ia sebelumnya sudah meminta ijin pada Nyonya Yasmin, dan membolehkannya.
Tapi Kim langsung meringis saat tangannya tak sengaja tergores oleh pisau, astaga Ia tak hati-hati. Lalu sebuah tangan membawa jarinya dan tiba-tiba merasakan sesuatu yang hangat.
Kimberly membelakang matanya karena jarinya dimasukan ke dalam mulut Aksa. Pria itu memegang tangannya dengan erat. Bahkan wajah Aksa terlihat panik dan membuatnya gugup.
"Aish hati-hati Kim, lihat jari cantikmu jadi terluka!"
Aksa mengamati jari wanita itu yang untungnya sudah tak mengeluarkan lagi darah, meniupnya sesekali karena goresan itu pasti sangat sakit.
"Sekarang ayo kita obati."
Tapi wanita itu malah menahan tangannya, membuat Aksa menatap bingung. "Kenapa?"
"Tidak usah Tuan, saya baik-baik saja."
"Kau ini memang keras kepala, kalaupun sudah baik-baik saja tapi pasti masih merasa perih. Walau luka ini kecil dan mungkin tak seberapa bagimu, tapi aku khawatir."
Dan setelah Aksa berkata seperti itu, Kim tak lagi menahan tangannya untuk dibawa pergi. Kim di dudukan di kursi makan, sedang Aksa terlebih dahulu membawa kotak obat. Dengan telaten, pria itu mengobati jari Kim.
"Nah sekarang jari cantik ini sudah diobati jadi tidak akan sakit lagi."
Tak terasa Kimberly tersenyum manis melihat Aksa, dan entah sadar atau tidak wanita itu memegang tangan kanan Aksa. "Terima kasih Tuan."