
Seminggu kemudian. Semua media dihebohkan dengan kabar pernikahan seorang CEO wanita dari perusahaan B'tek yang ternama. Mereka menerka-nerka siapa laki-laki yang beruntung itu. Selama ini, Rae selalu jauh dari rumor percintaan jadi tidak ada yang bisa menebak siapa calon suaminya.
Rencananya pernikahannya nanti tidak memperbolehkan wartawan meliput. Yang hadir dan menerima undangan juga hanya orang-orang tertentu. Jadinya para wartawan tidak ada bisa mengorek informasi.
"Seorang pengusaha muda sukses akan menikah dengan laki-laki misterius. Tidak ada yang tau alasannya kenapa mereka tidak mengumumkan siapa calon suami seorang Kim Mirae."
"Kabarnya laki-laki hanya dari kalangan biasa, makanya dirahasiakan identitasnya."
Sammy menatap datar pemberitaan itu. Entah apa jadinya kalau mereka tau kalau CEO perusahaan B'tek itu menikahi sekretarisnya sendiri. Sepertinya benar juga keputusan Rae untuk menyembunyikan identitas Sammy. Dia tidak ingin kehidupan pribadinya jadi konsumsi publik.
"Nenek aku berangkat dulu ya, nenek harus baik-baik di rumah." Sammy berpamitan pada neneknya yang tengah bermain sendiri.
Dia juga sudah mencoba bercerita pada sang nenek, kalau dia akan menikah. Sammy juga ingin sekali sang nenek menyaksikan pernikahannya tapi rasanya tidak mungkin. Dia tidak ingin membuat keluarga Rae yang terhormat itu malu. Sammy juga khawatir kalau sang nenek akan berulah di pesta.
Setelah berpesan pada bibi Rose, Sammy pun berangkat bekerja menggunakan mobil perusahaan. Dia masih bekerja seperti biasa, semua urusan pernikahan yang akan diadakan seminggu lagi diurus oleh pihak wanita. Sammy merasa malu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia menawarkan sedikit uangnya saja tidak diterima.
Di perusahaan, dia sudah lebih akrab dengan rekan-rekannya. Dia gampang berbaur, meski kadang jarang berinteraksi dengan mereka karena pekerjaannya yang banyak. Tapi saat makan siang di kantin perusahaan dia bisa bergabung bersama mereka.
"Sammy," panggil rekannya saat sedang menunggu lift.
"Karin," sapa Sammy sambil tersenyum.
"Ini tadi aku membeli dua kopi di jalan, satu untukmu." Wanita bernama Karin itu menyerahkan satu cup kopi pada Sammy.
"Terimakasih Karin, kamu selalu membawakanku kopi. Kalau sudah dapat gajian nanti aku akan mentraktirmu sebagai gantinya," ujar Sammy.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya tidak sengaja membelinya karena ada diskon kalau membeli dua sekaligus." Karin tersipu.
"Tidak apa, aku akan tetap mentraktirmu."
Ting. Pintu lift terbuka, Sammy mempersilahkan rekannya untuk masuk terlebih dahulu. Ternyata pemandangan keakraban Sammy dan Karin tak sengaja dilihat oleh seseorang.
"Dia adalah Karin, bagian staf keuangan. Apa saya perlu memanggil Sammy untuk naik lift yang sama dengan kita Nona." Vera seperti tau apa yang nonanya pikirkan saat ini.
"Apa maksudmu? Siapa yang sedang melihat mereka." Rae langsung pura-pura melihat ke arah lain.
Vera tersenyum di belakang nonanya.
Sampai di lantai atas. Rae berjalan lurus tanpa melihat sekeliling. Tidak peduli pada karyawan yang menyapanya, termasuk Sammy yang berdiri menyapanya pun dia abaikan. Moodnya sedang tidak baik-baik saja.
Sammy yang sudah biasa menerima sikap seperti itu dari Rae pun sudah biasa. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Sekretaris Sammy, Nona Rae memanggilmu," Ujar Vera setelah keluar dari ruangan. "Cepat masuk, jangan biarkan calon istrimu menunggu lama," bisik Vera meledek laki-laki itu.
Sammy menghela nafasnya lalu masuk ke dalam ruangan atasannya sekaligus calon istrinya itu.
"Nona, memanggil saya."
"Nanti siang ikut denganku, mamah menyuruh kita untuk fitting baju pengantin," ujar Rae.
"Baik."
"Dan satu lagi, lain kali kamu harus menjaga sikap. Jaga nama baikku di manapun kamu berada, jangan sampai membuat keluargaku malu. Jaga jarak dekat perempuan lain, aku tidak mau sampai ada yang melihatnya. Meski hubungan kita tidak seperti suami istri pada umumnya, tapi aku harap kamu berperan sebagai suami yang baik di depan orang lain." "Apa kamu mengerti?"
"Tapi Nona, bukankah tidak ada yang tau kalau saya ini calon suami anda," sahut Sammy.
"Apa kamu lupa kalau para petinggi perusahaan tau. Pokoknya kamu harus jaga sikap." Rae salah tingkah.
"Baik Nona, saya akan lebih berhati-hati."
"Ya sudah, kamu boleh keluar." Rae mengalihkan pandangannya pada layar monitor.
"Apa yang aku katakan barusan! Bagaimana kalau dia salah paham dan mengira kalau aku cemburu."
"Tidak-tidak, aku melakukan itu demi nama baikku dan juga perusahaan. Bagaimana kalau ada yang menilai kalau seorang CEO perusahaan B'tek diselingkuhi suaminya." Rae bermonolog sendiri.
...
Siangnya. Seperti apa kata Rae tadi. Mereka pergi akan pergi ke butik untuk fitting baju pengantin.
"Vers, tolong handle pekerjaanku dulu. Aku akan pergi ke butik bersama Sammy," ujar Rae pada Vera.
"Baik, Nona. Anda tenang saja."
Rae pun meninggalkan ruangannya, diikuti Sammy dibelakangnya.
Di dalam lift dan di mobil sampai di butik yang mereka tuju, tidak ada yang bersuara. Rae seperti biasa duduk di belakang, sementara Sammy yang menyetir. Hubungan mereka masih seperti atasan dan bawahannya.
Di butik ternyata Sora sudah menunggu kedatangan mereka. Hanya dia yang terlihat sangat bahagia dengan pernikahan mereka.
"Sayang, di sini." Sora melambaikan tangan pada putrinya agar mendekat. "Lihat itu putriku dan calon suaminya. Sekarang kamu percaya kan, kalau aku akan mempunyai menantu sebentar lagi ," ujar Sora pada pemilik butik yang merupakan temannya.
"Tampan juga calon menantumu, mereka serasi," puji Jeni.
"Tentu saja tampan, aku tidak pernah salah menilai orang."
"Mah ..." Rae dan Sammy sudah ada dihadapan mereka.
"Hai nak, ini bibi Jeni teman Mamah. Dia yang akan membuatkan baju untuk kalian pakai di hari pernikahan kalian nanti."
"Salam Bibi," sapa Rae dan Sammy.
"Kamu cantik sekali sayang, badan kamu juga sangat bagus. Sepertinya bibi tidak perlu banyak merombak ukurannya."
"Tentu saja, mamahnya juga cantik," sahut Sora dengan percaya diri.
"Oh iya Jeni, ini calon menantuku. Tampan kan?" Sora memamerkan Sammy pada temannya.
"Sangat tampan seperti artis idol. Tingginya dan tubuhnya juga proposional seperti model." Jeni memandang kagum pada Sammy. Itu membuat pipi Rae memerah mengingat bagaimana dia pernah melihat bentuk tubuh Sammy.
"Terimakasih Bibi," ujar Sammy.
"Mah, mana yang harus aku coba. Aku masih banyak pekerjaan," ujar Rae buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Sabar sayang, lupakan pekerjaanmu hari ini. Kamu harus mencoba beberapa baju. Iya kan Jeni." Sora mengedipkan matanya.
"Ia sayang, ada beberapa yang harus bibi sesuaikan dengan ukuran tubuhmu."
"Baiklah, ayo lakukan sekarang."
Mereka berdua mulai mencoba satu persatu pakaian yang akan dipakai nanti saat pesta pernikahan. Sammy mencoba setelan jas dia ruangan sampai ada Rae mencoba gaun pengantin yang dibantu beberapa pelayan butik. Mereka hanya terpisahkan oleh sekat kain.
"Anda sangat cantik sekali nona, seperti tuan putri," puji salah satu pelayan butik. "Calon suami anda pasti akan terpesona melihatnya."
Wajah Rae sudah bersemu merah, tidak percaya kalau dia bisa secantik itu dalam balutan gaun pengantin. Dia memandangi dirinya sendiri di dalam cermin sampai tidak menyadari kalau dua orang tadi sudah tidak ada di sana.
"Buka pemisahnya sekarang," perintah Sora. Rupanya dia sudah bersekongkol dengan temannya untuk membiarkan Rae dan Sammy bertemu di dalam.
"Kamu yakin akan berhasil?"
"Pasti, biarkan mereka berdua. Ayo kita pergi keruanganku. Aku sudah menyiapkan teh untukmu," ujar Jeni.