My Arogant Wife

My Arogant Wife
19. Mulai Merasakan Sesuatu



Sepeninggal Dewa. Kini Rae hanya tinggal berdua dengan suaminya. Wanita itu sedang memeriksa berkas yang suaminya bawa untuk diperiksa sebelum menandatanginya. Dia terlihat gugup, telinganya sampai memerah. Entah mengapa dia merasa Sammy cemburu tadi.


"Tidak bisakah kau menjaga jarak dengannya," ujar Sammy tiba-tiba.


"Hah apa? Apa maksudmu?" Rae tidak mengerti.


"Kau menyuruhku untuk menjaga jarak dengan wanita lain tapi kau berdekatan dengan pria lain. Bukankah itu tidak adil," komen Sammy.


"Kenapa memangnya, kak Dewa dan aku sudah seperti adik kakak. Kau ini aneh sekali sejak kemarin. Apa jangan-jangan kau cemburu?" Rae tersenyum tipis.


"Tidak! Aku tidak cemburu. Hanya saja rasanya tidak pantas kalau kau terlalu dekat dengan pria lain seperti tadi. Apa kata orang kalau mereka melihatnya." Sammy memalingkan wajahnya karena memerah.


"Tidak perlu memikirkan hal itu. Aku tau batasanku. Tidak sepertimu yang terang-terangan bermesraan dengan wanita lain di depan umum," sindir Rae. Dia kembali memeriksa berkas.


Sammy tersentil karena memang tadi pagi dia tidak sengaja berdekatan dengan Karin tapi sungguh itu tidak sengaja.


"Maaf, aku tidak sengaja memegang tangannya karena dia hampir terjatuh di depanku. Lain kali aku akan berhati-hati," ujar Sammy.


Rae hanya tersenyum tipis, tidak percaya dengan apa yang Sammy katakan. Laki-laki memang seperti itu tidak bisa hanya ada satu wanita dalam hidupnya. Karena itulah dia dulu membenci makhluk yang berjenis laki-laki.


Setelah selesai menandatangi berkasnya dia menyerahkan pada Sammy.


"Apa lagi?" tanya Rae saat Sammy tak kunjung pergi.


"Sebentar lagi jam makan siang, bagaimana kalau kita makan bersama. Makan di luar atau di kantor."


Rae menaikkan alisnya, heran. Tumben sekali laki-laki berinisiatif. "Kenapa tiba-tiba mengajak makan siang bersama," ujarnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin lebih mengenalmu. Bukankah bagus untuk hubungan kita kalau banyak menghabiskan waktu berdua."


"Lain kali saja aku masih kenyang, barusan kak Dewa membawakanku pizza dan aku memakannya sampai habis." Rae menolak.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi." Entah kenapa Sammy amat kecewa saat Rae menolak ajakannya untuk makan siang bersama. Tapi dia juga tidak bisa memaksa.


...


Hari-hari berikutnya. Dewa hampir setiap hari datang ke kantor Rae. Dia datang membawakan makanan kesukaan Rae. Tentu saja wanita itu tidak bisa menolaknya, akhirnya sampai saat ini dia belum mempunyai kesempatan untuk makan siang bersama suaminya.


"Ini enak sekali kak, kakak memang paling tau aku," puji Rae.


"Tentu saja, Kakak tau apa yang kamu sukai dan tidak sukai." Dewa semakin gencar mendekati Rae.


Itu juga yang membuat Sammy seringkali mengganggu mereka tanpa sebab. Ada saja alasan Sammy datang untuk mengganggu mereka. Seperti saat ini, dia datang membawakan setumpuk berkas yang harus Rae tanda tangani.


"Sayang, tolong tanda tangani ini sekarang." Sammy sengaja memanggil dengan mesra sang istri. Ini bukan yang pertama. Rae pun tidak terkejut lagi, justru dia merasa senang.


"Iya kak, terimakasih makanannya."


"Sama-sama." Mengusap lembut kepala Rae.


"Laki-laki pengangguran, mengganggu istri orang saja pekerjaannya," gumam Sammy dalam hatinya.


"Siapa bilang aku pengangguran, aku juga memiliki bisnis di luar negeri. Aku memang datang ke sini untuk Rae, untuk mengambil Rae yang seharusnya menjadi milikku." Balas Dewa dalam hatinya. Mereka bertatapan tajam saat berpapasan.


Dewa sudah tidak tahan lagi. Dia mendekati istrinya berdiri di belakang wanita itu. Dan saat Rae berbalik ia langsung menahan pinggang istrinya. Rae begitu terkejut dengan sikap sang suami.


"Ka--kamu mau apa? Cepat lepaskan aku." Rae menahan dada Sammy yang semakin mendekat.


"Apa sangat menyenangkan mengobrol dengan laki-laki itu," ujar Sammy.


Rae bergidik melihat Sammy seperti itu apalagi tatapan matanya yang tajam, karena biasanya Sammy tidak pernah menunjukkan sikapnya yang seperti itu padanya. Dia langsung melepaskan diri dan berusaha menghindar.


"Apa maksudmu, aku tidak mengerti."


"Bukankah aku sudah bilang ingin lebih mengenalmu tapi kamu selalu menghindar dan malah sibuk dengan laki-laki lain." Ya bukan hanya di siang hari karena Dewa juga akan datang saat malam hari. Sehingga Sammy hampir tidak punya waktu untuk sekedar mengobrol dengan istrinya.


"Itu cuma perasaanmu saja, aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Dan lagi kak Dewa hanya sebentar di negara ini. Dia juga tidak punya kerabat dan tidak punya banyak teman, apa aku harus mengusirnya saat dia datang." Rae menghindari suaminya bukan karena Dewa, sebenarnya dia merasa aneh karena akhir-akhir ini dia merasa berdebar setiap kali berdekatan dengan suaminya. Jadilah dia berusaha menghindar dan mengurangi interaksi dengan laki-laki itu.


Sammy mendekat dan membalikan tubuh istrinya. "Kenapa aku merasa kamu selalu menghindar akhir-akhir ini. Apa aku berbuat salah padamu. Kamu seperti memberi batasan pada hubungan kita, atau memang kamu sengaja melakukannya karena kau mencintai pria itu?" tanya Sammy.


Rae tentu saja terkejut, ia tidak menyangka kalau suaminya akan berpikir seperti itu. Nyatanya dia menghindar karena dia ingin memastikan perasaannya dan dia takut jatuh cinta. Rae takut menyerahkan hatinya pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya. Nyatanya mereka menikah bukan karena cinta, bukan tidak mungkin kalau suatu saat suaminya akan bertemu dengan wanita yang ia cintai.


"Aku tidak merasa seperti itu, mungkin itu hanya perasaanmu saja. Aku memang sibuk akhir-akhir ini." Rae menyibukkan dirinya, berusaha menghindar lagi.


Sammy tidak menyerah, dia perlu tau mau dibawa kemana hubungan mereka setelah ini. Kalau memang mau menikah dengan sang istri sekali seumur hidup maka dia harus memperjuangkannya.


Sammy memutar kursi yang diduduki Rae menjadi menghadapnya. Lalu dia mengungkung tubuh istrinya dengan berpegangan pada pegangan kursi. Mendekatkan wajahnya.


"A--apa yang kau lakukan?" tanya Rae dengan gugup. Tangannya menahan dada Sammy agar tidak terlalu dekat. Jujur saja itu membuat jantungnya berdetak tidak normal.


"Aku suamimu, apa aku tidak boleh berdekatan dengan mu. Lalu kenapa laki-laki yang bukan siapa-siapa saja bisa berdekatan dengan mu. Atau kamu masih belum menerima pernikahan ini, Rae."


Rae menatap mata suaminya, mungkinkah perbuatannya sudah keterlaluan. Tapi dia punya alasannya sendiri.


"A--aku ... aku sebenarnya takut jika berdekatan denganmu. Setiap kali kita berdekatan, jantungku berdetak kencang seperti sekarang. Ini sungguh aneh, aku baru pernah merasakan hal seperti ini," tutur Rae.


Sammy mencerna ucapan istrinya, hampir sama dengan apa yang ia rasakan. Kata orang itu tandanya kalau kita mulai mempunyai perasaan pada lawan jenis. Mungkinkah mereka sudah saling jatuh cinta. Ini mengejutkan bukan.


"Lihat aku, Rae. Tatap mataku," pinta Sammy.