
"Vera, tolong belikan aku pizza, burger dan kentang goreng. Aku ingin makan sebelum rapat nanti. Oh, aku tidak akan bisa konsentrasi kalau lapar," perintah Rae pada asistennya. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Rae penuh selidik. Dia hanya minta makan, apa perlu memandanginya seperti itu.
"Nona, anda kan baru saja menghabiskan sandwich yang aku bawa. Apa sekarang anda lapar lagi?" tanya Vera, hanya dia dan mamah Sora yang berani mengkomplain perilaku Rae.
"Ya ampun, itu cuma dua potong dan tidak membuatku kenyang. Sudah sana pesankan saja apa yang aku minta." Wanita itu menyeruput coklat hangat yang ada di mejanya.
"Apa lagi? Kenapa kau masih di sini?" sentak Rae saat melihat wanita yang merupakan asistennya itu masih diam di tempat.
"Nona, apa anda tidak takut timbangan anda berat ke kanan," cicit asisten Vera. Ah tidak bisa, sebagai asisten dia harus menjaga nonanya agar tetap cantik. Tidak akan dia biarkan lemak itu menumpuk di tubuh proporsional nonanya.
"Kau itu berisik sekali seperti Mamah. Coba kamu lihat, apa aku gemuk. Tidak kan? Tenang saja, seberapa banyak aku makan, itu tidak bisa membuat berat badanku bertambah. Kau kan tau itu." Ya memang benar selama ini Rae tidak pernah diet atau apa, tapi berat badannya selalu stabil.
Tapiii ... sekarang berbeda, apa mungkin wanita itu tidak menyadari kalau pipinya agak sedikit chubby.
"Nona, sepertinya anda harus memeriksakan diri. Akhir-akhir ini napsu makan anda bertambah banyak, saya khawatir kalau terjadi apa-apa pada tubuh anda," ucap Vera sangat tulus. Dia tidak bermaksud apapun hanya ingin tau keadaan nonanya.
"Aku sehat, sangat sehat. Kau lihat kan. Sudahlaahh, pesan saja. Aku masih lapar. Aku pasti akan mengatakannya padamu kalau ada yang aneh pada tubuhku." Wanita itu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sambil menahan lapar, padahal dia sudah sarapan dua piring di rumah. Begitu sampai di kantor dia juga makan sandwich yang dibuat asisten Vera. Tapi masih saja merasa lapar.
"Bagaimana kalau buah saja nona, makanan cepat saji seperti itu tidak baik untuk tubuh nona," bujuk asisten Vera lagi.
"Isshh kau itu sudah seperti mamah saja. Ya sudah sana, pesan satu saja." Akhirnya Rae mengalah karena asistennya terlalu bawel.
...
"Asisten Vera, tunggu." Sammy mencegat asisten Vera yang baru saja keluar dari ruangan istrinya. "Apa dia minta makanan lagi?" tangannya. Melihat ekspresi asisten yang seperti itu sudah bisa di tebak. Mereka sudah mengamatinya selama beberapa hari.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan nona, aku akan mencoba mencari tahu." Vera bertekad.
"Mohon bantuannya asisten Vera, aku juga khawatir melihat nona Rae yang makan berlebihan seperti itu. Aku khawatir dengan kesehatannya." Selama di lingkungan kerja, Sammy memang menganggap Rae sebagai atasannya.
"Tenang saja, aku akan membujuknya untuk pergi ke dokter."
...
"Sudah waktunya meeting nona," kata asisten Vera mengingatkan.
"Ahh ya, ayo kita ke sana." Rae merasa kesusahan saat bangun dari duduknya. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal mungkin itu lemak yang tertimbun akhir-akhir ini. "Apa aku gemuk, kenapa rasanya penuh sekali perutku," gumamnya.
"Anda baik-baik saja nona?" tanya asisten Vera.
"Ya, aku tidak apa-apa. Ayo ke ruang meeting."
Semua orang sudah menunggu atasan mereka untuk memulai meeting bulanan. Tak terkecuali Sammy yang duduk di dekat kursi yang akan diduduki oleh Rae. Dia tau istrinya sedang makan sampai terlambat datang sesuai jadwal. Padahal biasanya Rae adalah orang yang tepat waktu. Ini aneh, laki-laki itu jadi berpikir bagaimana dan sejak kapan istrinya mulia aneh.
"Eh kamu merasa tidak kalau nona Rae makin chubby pipinya. Aku lihat sangat menggemaskan, tidak seperti dulu yang kaku wajahnya."
"Iya benar, ada apa dengan dia. Biasanya dia kan panutan, tubuh yang proporsional itu pasti siapapun ingin juga."
Rupanya banyak juga yang menyadari perubahan bentuk tubuh Rae. Meski tidak terlalu signifikan tapi karena biasanya pipi wanita itu tirus, lalu tiba-tiba sedikit chubby pastilah banyak yang heran. Apalagi para wanita di perusahaan itu yang mengagumi sosok Rae.
Pintu ruang itu terbuka dan semua orang yang ada di sana menghentikan pembicaraan mereka. Lalu berdiri untuk memberi salam. Termasuk Sammy yang juga melakukan ritual seperti yang lain karena memang sampai saat ini hubungannya dengan Rae belum dipublikasikan secara resmi pada bawahan mereka. Entah mengapa tapi keduanya sudah sepakat.
"Duduklah," perintah Rae pada anak buahnya.
Sepanjang rapat itu berlangsung para karyawan memperhatikan Rae. Benar jika CEO mereka yang tubuhnya bagus seperti model kini sedikit berisi tapi tidak ada yang berani berkomentar.
"Baiklah, sampai di sini saja. Aku cukup puas dengan laporan kalian." Rae memberikan senyuman pada mereka. Sepertinya moodnya cukup bagus setelah menghabiskan pizza nya. Wanita itu pun mencoba berdiri tapi sedikit oleng tubuhnya. Untunglah ada asisten Vera yang sigap membantunya.
"Nona, anda baik-baik saja?" tanya Vera sangat khawatir.
Sammy yang sedang mengecek catatannya pun sangat cemas tapi tidak bisa menunjukkannya dihadapan banyak orang.
"Tidak apa-apa," katanya berbohong. Entah mengapa kepalanya tiba-tiba berdenyut dan tubuhnya terasa lemas. Dia coba berjalan beberapa langkah tapi perasaan itu tidak juga hilang.
"Nona, biar saya bantu." Asisten Vera memapah nonanya. Namun baru beberapa langkah, wanita itu sudah tumbang terlebih dahulu. Semua orang terkejut dan panik seketika.