
Rae tidak bisa fokus pada pekerjaannya setelah melihat kejadian tadi saat di lift. Entah mengapa itu mengganggunya. Tidak mungkin kan kalau dia cemburu.
"Fokus Rae fokus, kenapa kamu memikirkan hal itu!" Dia menekan bolpoin yang ia pakai hingga membuat kertas itu berlubang. "Aarrggghhh ... menyebalkan!!"
Tok tok tok.
"Siapa?" tanya Rae.
Klek. Seseorang membuka pintu dan membuat Rae terkejut.
"Kak Dewa." Rae terkejut.
"Apa kamu sedang sibuk. Boleh kakak masuk?"
"Tentu saja, ayo masuk." Rae bangun dan menghampiri Dewa. "Ayo duduk kak. Kenapa tidak mengabari. Aku bisa menyuruh Vera menjemput kakak di bawah."
"Tidak apa, kakak bisa menemukan kantormu dengan mudah. Semua orang pasti tau. Kakak bawakan makanan kesukaanmu ... Taaarrraaa ... pizza dengan topping Mozarella yang banyak." Dewa meletakkan pizza dengan ia bawa dan membukanya. Rae langsung lapar mencium aromanya.
"Ya ampun, kakak tau saja kalau aku lapar. Aku tidak menyangka kakak masih ingat makanan kesukaanku." Rae mengambil sepotong pizza dan memakannya. Rasa kesal yang meluap-luap membuatnya lapar sepertinya.
"Pelan-pelan makannya, kakak akan belikan lagi kalau kurang." Dewa mengelap mulut Rae yang belepotan. Pandangan mereka bertemu, Dewa akui kalau Rae memang sudah tumbuh dewasa.
"Ah maaf, aku tidak bisa menahan godaan makanan lezat." Rae memutuskan pandangan, rasanya tatapan Dewa berbeda dari sebelumnya.
Sementara di mejanya. Sekarang Sammy yang sedang kesal. Menekan tombol keyboardnya yang keras untuk meluapkan emosinya. Dia melihat Dewa masuk ke dalam ruangan Rae dan sudah hampir satu jam belum juga keluar. Pikiran Sammy sudah kemana-mana, membayangkan apa yang mungkin mereka lakukan di ruangan tertutup itu.
"Bagaimana kalau mereka sedang ...," gumam Sammy membayangkan Rae berada di atas pangkuan Dewa dan mereka berciuman. "Shiiittt!!" Sammy mengendorkan dasinya, tubuhnya terasa panas.
Pemandangan itu tak luput dari asisten Vera. Dia tersenyum puas melihat pasangan itu. Tadi Rae yang kepanasan sekarang giliran si laki-laki.
"Kalian sama saja, sepertinya memang butuh seseorang untuk menyadarkan perasaan kalian."
"Asisten Vera, ini laporan yang anda inginkan," Karin menyerahkan laporan di tangannya. "Apa yang anda lihat?" tanya Karin lalu mengikuti arah pandangan asisten Vera. Ternyata tertuju pada Sammy. Karin berpikir apa mungkin asisten Vera juga menyukai Sammy.
"Ah tidak, hanya ada hal lucu saja. Mana laporannya," ujar Vera.
"Ini. Sammy laki-laki yang baik ya, dia juga ramah, dia juga tampan," komen Karin.
"Iya, dia sangat baik dan tampan tapi sayangnya dia sudah ada yang punya jadi berhentilah memikirkannya," ujar Vera secara terang-terangan.
Karin tersentil dengan ucapan Vera. Mungkinkah yang dimaksud adalah Sammy dan asisten Vera mempunyai hubungan khusus. Benarkah itu.
"Maksud anda bagaimana asisten Vera?"
Vera tersenyum lalu menyentuh ujung rambut Karin. "Kamu itu cukup pintar untuk mengerti apa yang aku maksud. Kamu juga lumayan cantik, pasti banyak laki-laki yang mau dengan mu jadi berhenti mengganggu milik orang lain."
Ucapan ambigu asisten Vera membuat Karin makin penasaran. Lalu dia pun mengintai apa yang sedang dilakukan asisten Vera dan Sammy. Mereka memang terlihat akrab. "Jadi benar asisten Vera dan Sammy punya hubungan khusus. Apa berarti aku sudah tidak punya kesempatan lagi?" Dia langsung berlari ke kamar mandi untuk meluapkan rasa kecewanya.
Karin menangis, tidak menyangka kalau pria yang selama ini dia suka ternyata sudah memiliki kekasih dan kekasihnya adalah seseorang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan itu. Dia tidak menyangka kalau ternyata Sammy sama saja seperti laki-laki di luaran sana. Yang mantre dan mencari wanita kaya.
"Hiks ... kenapa kamu harus berpacaran dengan asisten Vera, Sam. Aku kira kamu berbeda tapi ternyata kamu juga laki-laki yang suka wanita yang lebih kaya."
...
Padahal yang terjadi.
"Tidak, untuk apa aku di dalam. Aku tidak dibutuhkan."
"Ohh ya, kenapa sepertinya kamu kesal seperti itu. Ah aku sangat penasaran apa yang sedang nona Rae dan teman lamanya lakukan. Mungkinkah mereka sedang bermesraan atau mungkin ..." Asisten Vera memanasi Sammy.
Brak! Sammy meletakkan bolpoinnya dengan kasar.
"Mereka hanya teman dekat sudah seperti saudara, jadi tidak mungkin terjadi apa-apa," ujar Sammy berusaha tenang.
"Iya juga, tapi yang aku lihat laki-laki yang bernama Dewa itu sangat perhatian dan peduli pada nona Rae. Sangat jelas dari caranya menatap nona. Apa kamu tidak merasa begitu?"
Sammy tiba-tiba berdiri mengambil berkas di mejanya. "Aku akan meminta tanda tangan," katanya membuat sebuah alasan.
Vera tertawa puas melihat Sammy yang berhasil ia pengaruhi. "Kita lihat apa yang terjadi, selanjutnya."
Sammy masuk begitu saja ke dalam ruangan Rae. Pemandangan pertama yang ia lihat yaitu Rae dan Dewa terlihat sedang bercanda gurau dengan mesra.
Melihat Sammy datang, Rae langsung menjaga jarak dengan Dewa. Mereka sedang memainkan sebuah game dan Dewa sedang mengajari Rae.
"Maaf, aku mau minta tanda tangan," ujar Sammy .
"Ah iya, letakkan di meja saja," ujar Rae. Lalu dia beralih pada Dewa yang duduk di sebelahnya. "Ini bagaimana tadi kak, aku belum mengerti."
"Apa kau mau main lagi, bagaimana dengan pekerjaanmu?" kata Dewa.
"Tidak apa-apa nanti saja," sahut Rae. Dia seperti sengaja tidak memperdulikan suaminya.
Sammy memperhatikan mereka yang begitu dekat. Kesal saat dia diabaikan. Menaruh berkasnya dengan kesal. Bukankah dia tidak boleh terlalu dekat dengan wanita lain lalu kenapa sang istri bisa sedekat itu dengan pria lain.
"Wahh kamu cepat sekali mengerti."
"Tentu saja, ini mudah."
"Bisakah kau menandatanginya sekarang, berkasnya sudah ditunggu," ujar Sammy.
Rae menghentikan permainannya dan berdiri. "Kak aku akan menyelesaikan pekerjaanku sebentar," kata Rae pada Dewa.
"Iya lanjutkan saja, sepertinya aku juga harus pergi sekarang." Dewa melirik Sammy sekilas.
"Kenapa, apa kakak ada acara? Padahal aku masih ingin bermain lagi."
"Kapan-kapan aku akan mengajarimu lagi. Kita cari tempat di mana tidak ada yang bisa mengganggu kita saat bermain game." Lagi-lagi Dewa menyindir suami dari Rae dan tersenyum penuh kemenangan.
"Ok kak, nanti kakak yang atur waktu dan tempatnya saja," ujar Rae.
"Kalau begitu kakak pergi dulu. Kamu jangan terlalu lelah bekerja, jaga kesehatanmu juga."
"Saya pasti akan menjaga istri saya dengan baik, anda tidak perlu khawatir." Sammy menatap Dewa dengan tajam.
"Baguslah, kalau tidak aku yang akan mengambil alih tugas itu."
Suasana di dalam kantor itu tiba-tiba menjadi mencekam. Dengan terang-terangan Dewa menabuh genderang perang. Dia bersiap merebut cinta pertamanya dari laki-laki yang belum lama dikenal Rae. Bagaimanapun dia jauh lebih tau Rae, kenal lebih lama dan lebih dekat. Dia pasti akan bisa merebut Rae.