
Suasana semakin canggung setelah makan malam, Rae hanya duduk diam di sofa ruang tengah. Memperhatikan apa yang dilakukan suaminya, dia tidak tau laki-laki itu sedang mengerjakan apa. Sepertinya sangat sibuk sejak tadi.
"Apa nenek sudah tidur?" tanya Rae.
"Sudah, setelah meminum obat dia langsung tidur." Hening lagi. Mereka belum terbiasa satu sama lain.
Sammy yang bingung mengerjakan apa lagi akhirnya memilih untuk ikut duduk dengan Rae. Mereka duduk bersebelahan masih berjarak tapi sudah cukup membuat canggung.
"Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang," ujar Sammy akhirnya.
"Kau mengusirku?!"
"Ah bukan itu, maksudku bukankah kamu butuh istirahat." Sammy merasa bersalah.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Rae.
"Aku akan tidur di rumah ini, menemani nenek." Sammy tidak bisa meninggalkan neneknya lagi. Merepotkan bibi dan paman terus-menerus juga tidak enak.
"Maksudmu kita tidak akan tinggal satu rumah? Bagaimana aku menjelaskan pada mamah dan papah. Bagaimana kalau ada yang melihat kalau kita tidak tinggal satu rumah," seru Rae.
Sammy terdiam, dia belum menemukan jawabannya.
"Dimana kamarmu?!" tanya Rae tiba-tiba.
"Hah apa?!" bingung Sammy.
"Aku tanya, di mana kamarmu karena aku aja tidur di sini juga." Rae melenggang berjalan ke salah satu kamar.
"Ehh tapi, apa kamu yakin akan tidur di sini. Kamarku sempit dan tidak senyaman kamar kamu."
Rae tidak memperdulikan ucapan suaminya, dia melanjutkan langkahnya. Membuka salah satu pintu. "Apa ini kamarnya?" tanya Rae pada Sammy yang sedang mengikutinya.
"Bukan. Itu ruangan tempat menyimpan barang. Sudah lama tidak digunakan. Kamarku ada di sana."
Sammy menunjukkan kamarnya. "Ini kamarku, ini sempit. Mungkin kamu tidak akan nyaman di sini."
Rae masuk ke dalam kamar itu. Dilihatnya kamar itu memang sempit. Ranjangnya tidak seluas ranjang yang ada di rumahnya. Luar kamarnya sama seperti luas kamar mandi di rumah. Tapi tempat itu cukup rapi dan bersih.
"Bagus, kamarnya rapi." Rae berkeliling ruangan itu. "Apa ini semua milikmu?!" tanyanya saat melihat deretan piala dan piagam di rak lemari kaca.
"Hhmm, apa kamu yakin akan tidur di sini?" tanya Sammy.
"Iya, kenapa? Apa aku tidak boleh tidur di sini?"
"Aku hanya tidak yakin kamu akan nyaman di sini."
"Tidak masalah, aku bisa tidur disini. Ohh iya, aku tidak membawa pakaian, cepat pinjamkan pakaianmu. Aku tidak mungkin tidur menggunakan dress ini."
Sammy mengerti, "Kamu bisa memilihnya sendiri di lemari pakaian. Aku akan keluar."
Rae melihat-lihat kamar itu lagi, dia tertarik dengan pajangan berbagai penghargaan itu tadi. Rupanya sang suami cukup pandai juga saat sekolah. Dia juga punya di rumah, dulu papahnya selalu mengikutsertakan Rae untuk ikut lomba. Sampai Rae bosan karena menang terus.
...
Rae melihat kaki seseorang yang sedang berbaring di balik sofa. "Apa dia berniat tidur di sana?" gumamnya.
Rae tidak sengaja menabrak kursi, Sammy yang mendengar itu langsung bangun.
"Kenapa, kau butuh sesuatu?" Sammy memalingkan wajahnya ketika melihat sang istri yang hanya menggunakan kemejanya. Terlihat sangat cantik dan seksi, membuatnya teringat malam itu.
"Tidak, i--itu apa kau akan tidur di sini?" tanya Rae merasa tidak nyaman.
"Iya, ranjangnya sempit untuk ditiduri berdua." Bukan tanpa maksud Sammy melakukan itu, dia mengingat istrinya tidak mau dekat dengannya saat tidur. Sementara ranjang di rumahnya kecil. Kalau mereka tidur berdua, maka harus berdempetan.
"Apa di sini nyaman, sofa ini terlihat sangat kecil. Tubuhmu akan sakit jika tidur di sini. Tidurlah di kamar."
"Tidak apa-apa, aku akan tidur di sini." Sammy merebahkan tubuhnya kembali.
Rae tidak suka itu, dia menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya.
"Aku bilang tidur di kamar! ini perintah dari atasanmu!" katanya lalu membawa selimut itu bersamanya.
Saat ini mereka sudah berbaring di ranjang yang sama. Seperti dugaan Sammy kalau jarak mereka akan sangat dekat dengan ranjang seluas itu. Rae yang membelakangi suaminya sedang merutuki dirinya sendiri. Lain kali dia akan membelikan ranjang yang lebih besar dari itu kalau mau menginap.
"Emm, kamu akan terjatuh kalau tidur terlalu pinggir. Lebih baik aku tidak di sofa saja."
Sammy mau berdiri tapi ditahan oleh Rae. "Tunggu!"
"Ya ..." Sammy menyerngitkan keningnya.
"Tidurlah di sini, aku tidak masalah. Lihatlah, aku akan bergeser kesini." Rae menggeser tubuhnya lalu kembali membelakangi suaminya.
Sammy tersenyum simpul melihat tingkah istrinya. Dia kembali merebahkan tubuhnya di sana. Bau tubuh istrinya tercium hingga indra penciumannya. Baunya membuat Sammy terganggu karena membuat tubuhnya kini bereaksi lain. Dia menggelengkan kepalanya. Membuang pikiran yang tidak-tidak. Dia memejamkan matanya meski tidak mengantuk. Sesuatu pada bagaian tubuhnya terbangun karena bau sensual dari sang istri.
Sampai tengah malam, laki-laki itu tidak bisa tidur. Ini seperti terbalik, karena Rae yang tidak biasa tidur di tempat sempit justru sudah terlelap sejak tadi. Sammy sudah memejamkan mata tapi rasa kantuk tidak kunjung datang. Yang ada dia semakin tidak bisa tidur.
"Sepertinya aku harus tidur di sofa, kalau di sini terus aku tidak akan bisa tidur," gumamnya dalam hati.
"Eeuughhh ...." Sayangnya, Rae yang terlelap tiba-tiba bergerak dan berpindah posisi jadi terlentang. Selimutnya juga sudah terangkat kemana-mana membuat Sammy semakin sulit tidur karena melihat kemeja yang dipakai Rae tersingkir ke atas.
Glek. Dengan susah payah, Sammy menelan ludah sendiri. Dia berusaha memperbaiki selimut istrinya untuk menutupi pemandangan itu.
"Eeummm ...."
"Ehh tunggu ... tunggu ..." Sammy mematung seketika saat kaki dan tangan Rae memeluknya. Sesuatu yang empuk menempel pada lengannya dan kaki Rae tak sengaja menindih sesuatu yang sejak tadi terbangun.
"Oh tidak, bagaimana aku bisa tidur kalau seperti ini. Kenapa kamu harus menyiksaku begini." Sammy frustasi sendiri. Mau membangunkan istrinya tapi tidak tega saat melihat wajahnya yang cantik saat tertidur.
Sammy semakin tidak bisa tidur, apalagi Rae yang tidak bisa diam. Wajahnya memerah menahan diri. Kalau tidak takut wanita itu akan marah, dia pasti sudah menerkamnya saat itu juga. Walaupun sebenarnya sah-sah saja jika ia melakukan itu. Tapi Sammy tidak akan melakukannya tanpa ijin sang istri.
"Huft ... bagaimana kau bisa tertidur sangat nyenyak saat kamu membuatku tersiksa begini." Sammy mengusap pipi istrinya. Rasanya seperti mimpi. Bagaimana dia bisa menikahi atasannya sendiri. Sammy pun menyerah, dia mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata.
Sampai paginya mereka terbangun.