My Arogant Wife

My Arogant Wife
11. Malam yang canggung



Malamnya mereka mengadakan pesta. Sammy disibukkan dengan mertuanya yang terus mengenalkannya pada rekan-rekannya. Sementara masih bersiap di ruangannya. Mereka tidak bertemu setelah kejadian tadi. Itu membuat Rae kesal dan canggung. Dia selalu teringat ciuman itu.


"Nona, anda sudah siap." Vera menjemput nonanya.


"Hmmm ...."


Rae berjalan ke pesta itu, semua orang langsung melihatnya. Dia begitu cantik dengan balutan gaun berwarna merah muda yang senada dengan stelan jas yang dipakai Sammy. Dengan punggung yang terbuka membuatnya tampak anggun dan seksi.


"Istrimu sudah datang, ke sanalah," ujar Sora.


"Iya Mah." Sammy salah tingkah, dia sebenarnya tau kalau istrinya masih marah karena dia menciumnya.


"Nona, itu suami anda," bisik Vera pada nonanya.


"Diamlah! Aku tidak mencarinya." Rae memalingkan wajahnya, membelakangi Sammy yang berjalan kearahnya.


Sammy sudah berada di samping istrinya, dia mengikuti kemanapun sang istri pergi untuk menemui para tamu undangan. Hanya orang-orang penting yang hadir di sana. Tidak ada satupun karyawan yang diundang tapi Rae memberikan bonus untuk mereka sebagai gantinya.


"Apa kamu tau kalau suaminya nona Rae itu adalah sekretaris di perusahaannya sendiri. Tidak aku sangka wanita seperti dia akan lebih tertarik pada bawahannya sendiri."


"Ya, aku kira dia akan menikah laki-laki hebat saat menolakku. Ternyata hanya sekretarisnya." Mereka salah satu orang yang pernah melamar Rae untuk menjadi istrinya tapi tentu saja ditolak.


Sammy mendengarnya tapi dia tidak menampik hal itu. Mereka berbicara kenyataan.


"Ehheemm, tuan-tuan. Apa anda berdua adalah pemilik perusahaan yang baru-baru ini menjalin bekerjasama pada perusahaanku," ujar Rae tiba-tiba. Mereka berdua langsung ketar-ketir, takut jika Rae membatalkan kerja sama diantara mereka. Maka B'tek tidak akan rugi tapi perusahaan mereka lah yang akan merugi.


"Ahh iya itu kami Nona."


"Ohh baguslah, aku akan mengingatnya." Sambil tersenyum menyeramkan menurut mereka.


Sammy tersenyum melihat sang istri membelanya, dia tidak menyangka kalau wanita itu akan melakukan hal itu.


"Terimakasih," bisik Sammy di telinga Rae. "Terimakasih karena sudah membela saya," ujarnya lagi.


Wanita itu menyerngitkan keningnya. "Aku melakukan itu demi diriku sendiri. Mereka merendahkanmu sama saja merendahkan martabatku juga."


"Apapun alasannya, aku akan tetap berterimakasih."


Pipi Rae memerah, dia memilih menjauh dari suaminya.


Saat pesta belum usai. Rae kembali ke kamarnya. Dia sangat lelah menemui banyak tamu. Dia menyerahkan sisanya pada papah dan suaminya. Dia ingin segera merebahkan diri dan melepaskan gaun itu.


"Huhh akhirnya bisa pergi juga dari sana." Rae duduk di bibir ranjang melepaskan sepatu hak tingginya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk itu.


Kruk, kruk. Perutnya yang belum terisi sejak sore tadi berbunyi. Dia merasa lapar saat ini. Rae pun menghubungi asistennya untuk membawakan makanan.


"Hallo Vera, tolong kamu bawakan aku makan malam ke kamarku. Sekarang."


"Baik Nona."


Rae memilih untuk mandi terlebih dahulu sambil menunggu makanannya datang. Berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang terasa kaku seharian.


...


Rae menggunakan gaun tidur berbahan satin dengan tali tipis di bagian pundak dan panjang di atas lutut. Lekuk tubuhnya terlihat jelas dari luar. Lalu dia melapisinya dengan kimono yang berbahan sama di bagian luar. Dengan santai dia keluar dari kamar mandi, mengira kalau Vera yang datang untuk mengantarkan makanan.


"Kamu sudah datang, mana makanan yang aku min--" Rae terkejut melihat siapa yang ada di kamarnya. Dia yang sedang mengeringkan rambut pun menjatuhkan handuknya.


Sammy lah yang masuk ke kamar itu, tadi Vera mengatakan padanya kalau sang istri kelaparan. Jadilah dia membawakan makanan itu. Wajahnya memerah melihat pemandangan didepannya. Di mana sang istri yang menggunakan baju tidur cukup s3ksi. Memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Menyadari situasi itu, Rae segera mengikat tali kimononya. Dia sangat malu.


"Maaf Nona, tadi kata asisten Vera. Anda lapar, jadi saya membawakan ini untuk anda," ujar Sammy. Dia masih menggunakan bahasa formal jika berbicara pada istrinya.


"Ohh, ya sudah. Kamu boleh keluar sekarang." Rae berjalan ke arah meja lalu mulai memakan makanannya.


"Eemm itu, apa saya harus keluar? Maksudnya kita sudah menikah, jadi bagaimana kalau orang tua nona bertanya."


Rae menghentikan makannya, dia lupa jika sekarang mereka sudah menikah. Dan mulai malam ini otomatis mereka akan tinggal satu kamar.


"Iya aku tau, maksudku apa kamu tidak kembali ke bawah," ujar Rae.


"Tidak, tadi papah sudah menyuruh saya beristirahat. Pestanya juga akan segera berakhir. Saya akan mandi sekarang." Sammy pun masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Rae yang mulai berkecamuk memikirkan malam ini.


"Tidak-tidak, tidak akan terjadi apapun. Kita hanya menikah karena kesepakatan. Kita tidak perlu melakukan hal seperti itu," pikir Rae.


Rae sudah menyelesaikan makan malamnya, dia memilih untuk duduk di ranjang menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Ada yang ingin ia bicarakan.


Klek. Sammy keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi yang memperlihatkan dadanya yang bidang. Kini Rae yang tersipu karena pemandangan itu. Apalagi saat melihat sisa air yang menetes di sana.


"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Rae mencoba tenang.


Sammy duduk di samping Rae jarak mereka cukup jauh. "Ada apa Nona?"


"Hemmm, mulai sekarang jangan memanggilku seperti itu lagi. Kita sudah menikah jadi jangan berbicara terlalu formal atau orang-orang akan menganggap kita aneh."


"Baiklah."


"Dan satu lagi, meski kita sudah menikah. Kamu tidak boleh menyentuhku sembarangan lagi." Maksud Rae adalah ciumannya saat setelah mereka menikah. Dia tidak akan sanggup menahan hatinya kalau terus-terusan mendapatkan perlakuan seperti itu.


"Maaf, saya melakukan itu karena tidak ingin mengecewakan mereka."


"Ya aku mengerti. Aku sudah mengantuk, aku akan tidur lebih dulu."


"Saya akan tidur di sofa," ujar Sammy, dia mengerti kalau sang istri pasti masih merasa canggung padanya. Tidak apa-apa, pelan-pelan saja dia akan memulai hubungan itu.


Rae merebahkan tubuhnya dan membelakangi suaminya yang sudah tertidur di sofa. Sebenarnya dia tidak meminta hal itu, dia bisa saja berbagi ranjang tapi dia gengsi mengatakannya. Rae tidak ingin laki-laki itu mengira kalau dia sudah menerima pernikahan ini.


Rae pun mencoba memejamkan matanya, rasanya dia juga sangat lelah. Tapi tak lama seseorang mengetuk pintu. Rae berbalik dan melihat Sammy hendak membuka pintu.


"Tunggu!" ujar Rae. "Periksa dulu siapa yang datang sebelum membuka pintu."


Sammy paham, dia mengintip dari lubang pintu. Sedikit terkejut melihat ibu mertuanya dan asisten Vera di sana. Buru-buru dia memindahkan bantal dan selimutnya yang ada di sofa.


"Siapa yang datang? Apa itu mamah." tebak Rae. Melihat suaminya memindahkan barang-barangnya dia yakin kalau yang datang itu pasti mamahnya.


"Biar aku yang buka," ujar Rae turun dari tempat tidur. Sebelum membuka pintu, Rae melepaskan tali kimononya dan membuatnya sengaja terbuka. Lalu sedikit mengacak rambutnya.


klek.


"Mamah." Rae pura-pura terkejut dan membenarkan pakaian tidurnya. "Ada apa mah?"


"Hehehe, sayang. Maaf kalau Mamah mengganggu. Mamah hanya mau memberikan ini untukmu."


"Apa ini Mah?"


"Ini susu yang bagus untukmu agar cepat hamil. Kamu harus meminumnya."


"Mamah!"