
"Nona, apa kita akan langsung ke kantor? Apa anda tidak apa-apa?" tanya Vera yang duduk di depan.
Sammy yang duduk di belakang kemudi tidak berani berkutik. Sejak tadi, dia selalu serba salah. Apapun yang dia ucapkan selalu dianggap salah oleh nonanya. Sampai sekarang dia juga masih bingung bagaimana dengan hubungan mereka kedepannya.
"Hmm ... apa kamu sudah mengurus laki-laki breeengsekkk itu?" Rae mengalihkan pembicaraan, dia sudah cukup malu mengingat kejadian itu terus.
"Sudah Nona, anda tidak perlu khawatir. Saya sudah menyuruh salah satu media untuk menyebarkan skandal pria itu bersama beberapa wanita. Saya dengar, perusahaan yang ia pegang sekarang adalah milik istrinya. Setelah istrinya melihat berita ini, dia pasti sudah berakhir."
"Tapi nona, sekarang kita harus mencari perusahaan lain yang mau menjadi distributor."
"Kita akan mendapatkannya, cari saja perusahaan kecil. Tidak apa-apa jika barangnya sedikit, yang penting kualitasnya sesuai standar kita. Jika sudah berjalan nanti, aku bisa mendanai mereka untuk menambah pasokan," ujar Rae.
"Baik Nona."
"Ohh ya, apa orangtuaku meneleponmu tadi malam? Apa yang kau katakan pada mereka?" tanya Rae. Bisa gawat kalau orangtuanya tau apa yang telah terjadi.
"Maaf nona, semalam saya panik karena anda dan sekretaris Sammy tidak mengangkat panggilan dariku. Jadi aku menelpon ke rumah anda, mereka akhirnya tau kalau anda menghilang lalu ...." Vera menghentikan ucapannya.
"Lalu apa?"
Vera menggaruk tengkuk. "Lalu saat aku menemukan anda, Nyonya menelepon. Anda tau kan kalau saya tidak bisa berbohong pada tuan dan nyonya. Jadi saya menceritakan semuanya," ujar Vera mengarang cerita. Padahal dia sendiri yang memberitahu apa yang terjadi semalam.
"Apa kau juga mengatakan kalau aku dan dia tidur bersama?" tanya Rae melotot.
Begitupun dengan Sammy yang sejak tadi diam. Dia merasa dunianya berhenti seketika, apa mungkin dia akan berakhir di sini. Mungkinkah orangtua Rae yang berkuasa itu akan menghukumnya karena sudah berani menyentuh putri kesayangan mereka. Bagaimana kalau dia di buang ke tengah hutan dan jadi makanan binatang buas atau dibuang ke tengah laut. Setelah ini dia harus kabur bersama sang nenek sepertinya.
Vera mengangguk. "Maafkan saya, Nona."
Rae menyandarkan punggungnya, ia kira masalahnya sudah selesai tapi ternyata orang tuanya tau.
'Maafkan saya nona, saya yang melaporkan pada nyonya dan tuan. Itu karena menurutku bagus jika mereka tau.'
Vera merasa bersalah, tapi ia merasa melakukan itu demi kebaikan nonanya. Dia tau kalau nonanya pasti tidak akan mau menikahi Sammy. Menurutnya itu waktunya sang nona membuka diri.
Setelah mengantarkan nonanya dan Vera, Sammy meminta ijin hari ini. Dia menghawatirkan neneknya yang ia tinggal semalaman.
"Apa pria itu mau kabur, cih!! Dasar, bukankah dia bilang mau bertanggungjawab. Sekarang dia tampak ketakutan setelah tau kalau mamah dan papah mengetahui masalah ini," gumam Rae dalam hati.
Rae langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya, lalu melepaskan syal yang ia pakai untuk menutupi tanda merah yang Sammy buat. Dia memejamkan mata lalu menenangkan pikiran.
"Nona, apa mau saya buat teh."
Rae tidak menjawab dia hanya mengangguk kecil.
Vera menghela nafas setelah keluar dari ruangan atasannya. Merasa lega karena dirinya tidak terkena masalah karena sudah melapor pada nyonya dan tuan.
Hari ini berjalan dengan bagai mimpi buruk bagi karyawan perusahaan yang Rae pimpin. Dia sama sekali tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun dan langsung memarahi siapa saja yang melakukan kesalahan dalam meeting. Hampir semua laporan ditolak dan disusun ulang.
"Aku mau laporan itu hari ini juga." Begitu kata Rae setelah menyuruh mereka menulis ulang.
Seketika bahu mereka melemas setelah kepergian CEO mereka dari ruangan itu.
"Asisten Vera, sebenarnya apa yang terjadi dengan nona muda? Apa nona sedang ada masalah, sampai melampiaskan pada kami semua," keluh salah satu karyawan pada Vera.
"Kalian kerjakan saja apa mau Nona, kalau kalian masih mau bekerja di sini," ujar Vera.
"Tidak bisakah anda membujuk nona muda."
"Jangan mengeluh lagi, kerjakan saja." Vera meninggalkan mereka. Dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi pada nonanya.
...
"Terimakasih, nenek sudah sangat pengertian dengan selalu bersikap baik saat aku tidak ada di rumah," ujar Sammy.
Dia menggenggam tangan neneknya yang sedang melamun. Tiba-tiba dia teringat Rae, dia sangat merasa bersalah. Apa mungkin seharusnya tadi malam dia tidak melakukan itu. Tapi semuanya sudah terjadi, dia harus bertanggung jawab meski wanita itu tidak mau menikah dengannya. Ya, Sammy akan mengaku pada orangtua Rae. Dia akan bersujud kalau perlu untuk meminta maaf.
"Nek, tolong doakan aku. Malam ini aku akan mengaku pada orangtua nona Rae."
...
Rae baru saja menyelesaikan pekerjaannya, sudah sejak sore mamahnya menelepon tapi dia sengaja tidak mengangkatnya. Dia seakan tau apa yang akan dibicarakan kedua orangtuanya.
"Nona ... apa kita pulang sekarang?" tanya Vera.
"Vera, Apa orangtuaku mengatakan sesuatu saat kamu memberikan tahu mereka semalam."
"Tidak ada nona."
"Ya sudah, ayo pulang." Rae berjalan lebih dulu keluar dari ruangannya.
...
Rae sudah sampai di depan rumahnya. Dia menghela nafas berkali-kali.
"Anda tenang saja nona, nanti saya akan membantu menjelaskan."
"Tidak, Vera. Kau pulanglah dan beristirahat. Aku akan berbicara pada mereka." Rae turun setelah mengatakan itu, membuat Vera merasa bersalah.
Aku harap apa yang aku lakukan tidak salah. Vera berharap.
...
"Malam mah, Pah." Rae begitu terkejut saat melihat sekretarisnya ada di sana.
"Malam Nona," sapa Sammy. Dia benar-benar datang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sebagai laki-laki.
"Duduklah nak, kami sudah menunggumu," ujar Sora.
Sementara raut wajah sang papah tampak begitu kecewa, entah apa saja yang sudah dikatakan Sammy sebelum Rae datang.
"Mah ... Pah ... aku bisa menjelaskannya--"
"Tidak perlu nak, Sammy sudah menjelaskan apa yang terjadi. Dia juga sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Dia juga bersedia bertanggungjawab, apa kau sudah memikirkannya?"
"Mah ... dengarkan aku dulu. Aku yang sudah memaksa Sammy untuk membantuku jadi dia tidak bersalah dan tidak perlu bertanggung jawab atas apapun," sanggah Rae.
"Nona saya ..."
"Cukup! Mamah dan papah sudah memutuskan untuk menikahkan kalian. Pikirkanlah baik-baik nak, ini semua demi dirimu. Bagaimana kalau karena kejadian tadi malam lalu kamu hamil. Kami tidak akan membiarkan kamu hamil tanpa suami."
"Tapi Mah, aku sungguh tidak memerlukan pertanggungjawaban itu. Aku ...."
"Benar, apa yang mamahmu katakan. Kalian harus menikah." Kim Tae memotong perkataan putrinya.
"Pah ...." Rae menatap ayahnya.