
Pria itu sudah habis kesabaran karena penolakan yang dilakukan Rae. Meski dalam keadaan seperti ini, nyatanya wanita itu tetap saja sulit untuk ditaklukkan.
"Aku tidak akan berlaku lembut lagi padamu." Pria yang bernama Mr. Song itu merobek gaun yang dipakai Rae hingga tak berbentuk lagi.
Bagian bawah dan perut hingga atas sudah berhasil di robeknya. Rae berusaha melawan tapi tubuhnya terasa lemas. Kalau saja dia tidak terpengaruh obat pasti bisa melawan pria itu.
"Kau akan menyesal jika melakukannya!" peringat Rae.
"Justru aku akan menyesal jika menyia-nyiakan kesempatan ini. Hahaha ...." Mr. Song mencoba menyentuh Rae lagi yang masih memberontak di sisa-sisa tenaganya. Wajah pria itu berhasil tenggelam di leher Rae, tapi wanita itu segera melawan dengan menggigit keras leher pria itu.
"Kau berani menggigitku!!" Pria itu memegangi lehernya yang terasa sakit, dilihatnya ada bekas merah di tangan. Itu berarti wanita itu sudah membuatnya terluka. "Dasar wanita mur4h*n!" Tangan pria itu sudah terangkat, bersiap menampar wajah Rae lagi. Untunglah ada seseorang yang mengetuk pintu.
Tok tok tok.
"Tuan ... apa anda memesan sesuatu?"
"Sialan! Siapa yang berani mengganggu kesenanganku." Pria itu beranjak dari sana, mengikat tali jubah mandinya dan membuka pintu.
"Ada apa!!"
"Tuan katanya anda memesan makanan," ujar pengawal itu.
"Makanan apa!" Mr. Song menyerngit.
"Ini Tuan, bukankah Anda yang tadi menelepon layanan kamar dan memesan makanan," sahut Sammy.
Rae yang merasa ada kesempatan untuk meminta bantuan pun berteriak meminta tolong.
"Tolong!! Pria itu mau melecehkanku, tolong aku ..."
"Tuan sepertinya saya mendengar sesuatu," ucap Sammy. Kini ia yakin kalau nonanya ada di dalam kamar itu.
"Tidak ada apa-apa, bukan urusanmu. Aku tidak memesannya, jadi cepat pergi dari sini!" Mr. Song hendak menutup pintu tapi tiba-tiba Sammy menerobos masuk dengan mendorong trolinya ke samping terlebih dahulu. Membuat pengawal tersungkur.
Sammy menerobos masuk lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kau lakukan pelayan sialaaan!!" marah Mr. Song.
Sammy melihat ke arah ranjang, nonanya dalam keadaan yang sangat berantakan. Dia menggertakkan giginya, rahangnya pun mengeras.
"Cepat kau keluar atau aku akan menyingkirkanmu!"
Sammy melepaskan topinya sehingga pria itu bisa melihat wajahnya.
"Ka--kau assisten itu ...." Pria itu gelagapan. "Bagaimana kau bisa bebas?"
"Itu tidak penting, yang terpenting sekarang aku akan menghajarmu." Tangan Sammy sudah mengepal.
"Tung ... tunggu, kalau kau memukulku. Kau akan menanggung akibatnya, aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang." Pria mundur melihat Sammy yang murka.
Tapi Sammy tidak peduli, dia sangat marah melihat keadaan nonanya yang berantakan seperti itu. Terlebih ada satu tanda merah di leher Rae. Sammy merasa telah gagal menjadi pengawal nonanya malam ini, padahal orangtua Rae telah percaya dan menyuruhnya menjaga Rae. Tapi sekarang apa yang terjadi, dia sudah gagal.
Bug! Bug! Bug!
Sammy memukuli pria mata keranjang itu dengan membabi buta. Hingga wajah pria itu sudah tidak berbentuk lagi. Penuh luka dan memar.
"Laki-laki breeengsekkk!! Beraninya kau menodai nonaku!! Dengan apa kamu menyentuh nonaku, apa dengan tangan yang ini?" Krek. "Atau yang ini?" Krek. Sammy memelintir kedua tangan pria itu.
"Aaaaaa ... ampuni aku ... tolong ampuni aku."
Sementara di luar para pengawal pun panik dan menghawatirkan tuannya. Mereka menggedor-gedor pintu, berharap terbuka. Mereka tidak tau kalau di dalam Tuannya sudah berhasil dilumpuhkan.
"Nona ... bagaimana keadaan anda?" Sammy membalut tubuh Rae dengan selimut.
"Samm ... hiks hiks hiks." Rae menghambur ke pelukan Sammy yang duduk di sisinya.
Awalnya Sammy mematung, tidak menyangka kalau wanita setangguh nonanya akan menangis. Itu berarti dia sangat ketakutan.
"Aku sangat takut ... aku pikir aku akan--"
"Tidak apa-apa Nona, sekarang anda sudah aman. Anda akan baik-baik saja." Sammy membalas pelukan nonanya untuk menenangkan.
Cukup lama Sammy membiarkan nonanya tenang, tapi di luar orang-orang suruhan pria itu masih saja menggedor pintu dan itu gawat kalau sampai mereka masuk. Sammy bukannya tidak bisa menghadapi mereka tapi sambil melindungi nonanya itu cukup sulit.
"Nona, anda tunggu di sini sebentar. Saya akan membereskan mereka lebih dulu. Setelah itu saya akan membawa anda pergi dari tempat ini," ujar Sammy melepaskan pelukan nonanya yang terasa semakin erat. Dia melihat wajah wanita itu sangat merah. "Nona anda kenapa? Apa anda baik-baik saja?" tanya Sammy.
"A--aku ... se--sebenarnya aku sudah diberi obat, tubuhku terasa sangat panas sejak tadi. Saat laki-laki itu menyentuhku aku menyadari kalau itu adalah obat peran*s4ng."
Sammy terkejut, lalu mengingat kejadian saat mereka makan malam. Pantas saja tadi nonanya tiba-tiba tidak sadarkan diri.
"Lalu bagaimana sekarang, apa anda masih bisa menahannya. Saya akan berusaha membereskan mereka dengan cepat. Setelah itu kita pergi ke rumah sakit."
Rae menggeleng lemah. "Aku merasa sangat lemas dan aneh. Aku menginginkan sentuhan, tolong bantu aku. Tidak ada waktu lagi, ini perintah." Rae berkata dengan keringat dingin, dia juga tidak yakin dengan keputusannya. Tapi menunggu Sammy menyingkirkan orang-orang itu yang mungkin jumlahnya banyak pasti sangat lama. Lalu bagaimana kalau ternyata, assistennya itu tidak mampu menghadapi mereka.
"No--nona sa--saya ...." Sammy terpaku saat Rae menatapnya dengan tatapan mata yang tidak biasa. Bukan Rae yang dingin dan arogant tapi sisi yang lain.
"Tolong ... jangan pergi. Aku mohon lakukanlah." Rae sungguh tidak mengerti dengan tubuhnya, yang dia inginkan memang benar disentuh seperti yang pria itu lakukan. Bahkan mungkin jika Sammy tidak datang menyelamatkannya, dia pasti sudah menikmati sentuhan pria breeengs3kkk itu.
Rae menurunkan satu tali gaunnya, sehingga pundak mulusnya kini terlihat oleh Sammy. Wanita itu memalingkan wajahnya karena malu, dia tidak habis pikir dengan apa yang barusan ia lakukan. Tapi dia menyadari kalau Sammy hanya diam mematung, itu membuatnya berpikir kalau pria itu tidak berniat membantunya. "Kalau kau tidak mau, tidak masalah Sam. Aku tidak akan memaksamu," ujar Rae.
"Tunggu Nona, jangan lakukan itu sekarang." Sammy pergi dari sana.
Rae menunduk sedih, dia harus menahannya sampai bantuan datang. Tapi berapa detik kemudian dia dikejutkan oleh kemunculan pria itu kembali.
"Sekarang apa sudah boleh?"
Rae memperhatikan Sammy, laki-laki itu ternyata kembali.
"Sammy, kamu mau membantu ku ...."
"Ah Maaf, tadi saya membawa pria itu ke kamar mandi. Tidak mungkin kita melakukan itu di sedangkan ada orang lain di sini."
Ternyata Rae salah paham, Sammy mau membantunya.
Sammy tampak canggung untuk memulainya, belum pernah dia melakukan itu dengan seorang wanita sebelumnya. Namun melihat Rae yang tampak menggoda membuat nalurinya berjalan dengan sendirinya.
"Samm ... sshhh ... "
"Apa saya menyakiti anda?"
"Bisakah lebih pelan, aku belum pernah melakukannya sebelumnya," lirih Rae dengan wajah memerah dan malu-malu. Itu membuat Sammy makin tak bisa menahan diri.
"Saya akan pelan-pelan, tapi jika anda terus berekspresi seperti itu. Saya tidak bisa berjanji."
Rae membulatkan matanya.