
Rae enggan melihat suaminya, dia tetap melihat ke arah lain. Bukankah dia sudah bilang alasannya, lalu laki-laki itu mau apa lagi.
"Please, tatap aku sekarang ..." Sammy menjepit dagu Rae dan mengangkatnya perlahan. Mereka bersitatap dengan amat dalam. "Apa sekarang kau juga berdebar?" tanya Sammy.
Pipi Rae menyembulkan kemerahan, dia mengangguk perlahan. Bagaimana tidak berdebar kalau jarak mereka saja begitu dekat.
"Ka--kau menjauhlah," ujar Rae tergagap.
Bukannya menjauh, Sammy justru semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka. Rae panik seketika melihat wajah suaminya yang kini sudah semakin dekat. Dia memejamkan matanya dan meremat jas suaminya yang ia pegang.
Sebenarnya Sammy hanya ingin melihat lebih dekat wajah sang istri tapi justru sikap wanita yang begitu menggemaskan membuatnya ingin sekali melahap bibir peach yang menggoda itu.
Menggemaskan sekali istriku.
Kini tatapan Sammy hanya tertuju pada bibir yang sedikit terbuka itu. Seolah sudah siap menerima serangan dari Sammy. Hampir saja pria itu berhasil mendaratkan bibirnya tapi seseorang datang tanpa mengetuk pintu. Membuat mereka terkejut dan salah tingkah.
Klek.
"UPS ! Maaf, saya tidak melihat apapun. Saya akan kembali lagi nanti," ujar asisten Vera yang langsung berbalik badan setelah melihat nonanya dan Sammy sedang bermesraan. Dia tersenyum sendiri.
Sammy dan Rae memerah, segera mereka menormalkan ekspresi mereka.
"Ehemm kalau begitu aku akan keluar sekarang," pamit Sammy.
"Eh tidak perlu, biar saya saja yang pergi. Kalian silahkan lanjutkan yang tadi." Vera langsung kabur dari ruangan itu.
Membuat sepasang suami istri itu salah tingkah. Terutama Rae yang tadi sudah menutup mata. Rae terus merutuki dirinya sendiri mengapa bersikap seperti itu, dia tidak ingin Sammy salah presepsi tentang dirinya.
"Ya ampun, Rae. Kenapa kamu memejamkan mata. Sungguh memalukan!" omelnya pada diri sendiri.
"Maaf, aku membuat asisten Vera salah paham. Aku akan menjelaskannya pada asisten Vera kalau kau tidak nyaman dengan yang tadi. Sekali lagi aku minta maaf," ujar Sammy merasa bersalah karena sejak tadi Rae terus diam.
Dia pun mengambil berkas yang sudah ia tanda tangani dan meninggalkan ruangan itu.
Sementara Rae, langsung menutupi wajahnya karena malu. Dia sangat malu mengapa bisa dia seperti tadi, dia takut kalau Sammy mengira kalau dia mengharapkan sebuah ciuman.
...
Pulang kantor, ternyata Dewa mengajak Rae bertemu untuk makan malam bersama. Sebagai salam perpisahan karena esok hari Dewa akan kembali ke Jepang. Rae pun setuju, dia mengirim pesan pada Sammy agar tidak usah menunggunya di parkiran. Karena dia akan langsung pergi bersama Dewa.
Namun, Sammy tidak mengindahkan pesan dari istrinya. Dia tetap menunggu di parkiran seperti biasanya. Pikirannya tak tenang mengetahui sang istri akan pergi bersama pria lain. Meski Rae sudah menjelaskan berulang kali kalau dia tidak mempunyai perasaan lebih selain kakak adik pada Dewa.
"Kenapa kamu masih di sini? Bukankah aku sudah mengirimkan pesan agar tidak menungguku?" tanya Rae.
"Kamu jadi pergi dengan laki-laki itu?" balik bertanya.
"Iya, kak Dewa akan kembali ke Jepang besok. Aku akan makan malam dengannya sebelum dia pergi besok." jelas Rae.
Sammy sebenarnya ingin sekali mengatakan kalau dia tidak setuju dan tidak mengijinkan Rae pergi dengan laki-laki itu. Tapi dia hanya bisa berkata dalam hati. Sammy merasa kalau saat ini dia belum sepenuhnya berhak mengurusi urusan pribadi istrinya. Dia menghela nafas.
Rae tidak bisa menolak, dia pun membiarkan Sammy berada di sana.
Tak lama mobil Dewa sampai di hadapan mereka. Laki-laki itu berpakaian rapi dan terlihat tampan. Dia bak pangeran yang menjemput sang putri.
"Ayo, naiklah." Dewa membukakan pintu untuk Rae.
"Terimakasih Kak." Rae pun naik dan duduk di sebelah kursi kemudi.
Dewa menutup pintu lalu menghadap Sammy dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Terimakasih sudah menemani Rae menungguku. Aku pinjam sebentar istrimu," katanya.
"Aku harap kamu menjaganya dengan baik."
Sementara Rae melihat mereka berdua dari dalam mobil pun penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi tidak bisa mendengar apapun. "Apa yang mereka bicarakan?" gumamnya.
"Kita pergi sekarang," ujar Dewa setelah memasuki mobil.
"Iya, ayo." Rae menatap suaminya dari kata spion. Entah mengapa dia begitu berharap kalau laki-laki itu akan mencegahnya untuk pergi. Atau mungkin dia yang terlalu berharap.
...
Sammy menatap kepergian mobil yang ditumpangi istrinya dengan perasaan tak tenang. Dia ingin mengikuti mobil itu tapi dia takut Rae mengetahui hal itu dan marah karena dia mengganggu urusannya. Sammy pun menahan diri, dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lebih dulu sebelum pulang. Ya, dia ingin mengunjungi neneknya yang semakin hari keadaannya semakin membaik.
Sampai di rumah sakit, Sammy langsung menuju ke kamar rawat sang nenek. Dia melihat wanita yang sudah berusia senja itu sedang ditemani oleh seorang suster.
"Sore Tuan," sapa suster itu dengan membungkukkan tubuhnya. "Kalau begitu saya akan membiarkan Anda berdua," diapun pergi dan memberikan ruang untuk Sammy berinteraksi dengan neneknya.
Sammy menekuk lututnya di hadapan sang nenek yang terduduk di kursi roda. Wanita itu sedang merajut. Kegiatan yang diajarkan padanya untuk menghilangkan kebosanan.
"Nenek. Ini aku," ujar Sammy.
Sang nenek yang sedang fokus pada rajutannya pun melihat Sammy. Tangannya melepaskan jarum rajut yang ia pegang lalu menyentuh wajah Sammy.
"Putraku Joseph, kamu sudah pulang nak. Akhirnya kamu pulang juga. Kenapa kamu lama sekali meninggalkan ibu di sini, ibu sangat merindukanmu," ujar nenek Asha yang mengira Sammy sebagai putranya yang merupakan ayah Sammy.
Sammy memegang tangan neneknya dan menciumnya. "Maaf, aku sedang berusaha mencari uang untuk kita. Agar kita mempunyai kehidupan yang lebih baik," ujarnya. Dia memang tidak tau persis apa yang terjadi dengan kedua orangtuanya. Tapi yang ia tau, dulu ayahnya adalah seorang yang bekerja keras demi ibunya. Sehingga jarang sekali pulang ke rumah.
Baru setelah menikah dia banyak menghabiskan waktu di rumah. Tapi tak lama setelah Sammy berusia dua tahun, mereka mulai sibuk bekerja lagi. Sampai kecelakaan pun terjadi, bus yang mereka tumpangi terjatuh ke jurang. Tak ada yang selamat dari kecelakaan itu. Bis itu membawa para pekerja menuju tempat kerja mereka yang ada di pabrik pinggiran kota. Melewati bukit yang jalannya cukup terjal dan berliku.
"Cari saja pekerjaan lain nak, agar kita kembali berkumpul seperti dulu. Ibu kesepian di sini," pinta nenek Asha.
"Bukankah ada Sammy, ibu tidak sendirian lagi. Ada Sammy yang selalu menemani ibu sekarang."
"Sammy ... Sammy cucuku. Sammy di mana dia, Sammy ..." Nenek Asha pun berteriak.
Sammy langsung memeluk neneknya. Sebelum akhirnya suster datang dan menyuntikan obat penenang karena trauma yang mendalam juga cukup mempengaruhi keadaan nenek Asha.
Sudah malam, Sammy masih menemani neneknya yang sudah terlelap. Dia terus melihat arah jarum jam. Dia pun mengirimkan pesan pada sang istri.