My Arogant Wife

My Arogant Wife
10. Hari Pernikahan



Rae dan Sammy sama-sama tercengang saat tiba-tiba tirai di tengah-tengah mereka terbuka. Sedetik kemudian, tatapan mereka saling bertemu dan terdiam. Saling terpesona tapi tidak tau bagaimana mengungkapkannya.


"Hmm ... nona, anda terlihat sangat cantik," puji Sammy. Wanita yang berdiri didepannya seperti taun putri dari negeri dongeng.


Rae tersipu mengalihkan pandangannya, dia juga akui kalau laki-laki itu sangat tampan dengan stelan jas itu tapi dia masih meninggikan gengsinya.


"Terimakasih, aku memang sudah cantik sejak lahir."


Sammy tersenyum mendengar jawaban Rae. Sudah jelas dia tersipu tapi masih bersikap arogant.


"Haruskah kita keluar sekarang dan menunjukkannya pada mamah Sora," Ujar Sammy.


"Hmmm ayo." Rae bergerak tapi dia menyadari sesuatu. Dia merasakan resleting di punggungnya belum tertutup dengan benar dan saat tubuhnya bergerak, gaun yang ia gunakan seperti akan terlepas. "Oh tidak, gaunnya seperti akan terlepas," gumam Rae.


"Ada apa nona? Apa ada yang salah."


Rae mencoba meraih resleting gaunnya tapi tangannya tidak sampai. Dia harus memanggil pelayan untuk meminta bantuan.


"Aku tidak bisa menutupnya, susah sekali."


"Nona, apa anda butuh bantuan?"


"Ah tidak, itu tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri." Tangannya kesusahan meraih resleting.


"Nona ... biarkan aku membantumu." Tiba-tiba Sammy sudah berdiri di belakang Rae.


Wanita itu memperhatikan Sammy dari cermin. Tubuhku menegang saat jari laki-laki itu tidak sengaja menyentuh kulit punggungnya. Ini aneh, padahal mereka sudah pernah melakukan yang lebih dari itu. Tapi kenapa setiap kali tidak sengaja bersentuhan membuat perasaannya berdesir hebat. Wajah Rae kian memerah.


"Sudah." Sammy menatap Rae dari cermin, dilihatnya wajah wanita itu memerah. Nyatanya bukan hanya Rae yang memiliki perasaan seperti itu tapi Sammy juga begitu berdebar saat melihat punggung mulus Rae yang terbuka. Padahal itu hanya terbuka sedikit, bukankah sebelumnya dia juga pernah melihat yang lebih.


Mereka sama-sama merona mengingat kejadian malam itu. Pengalaman pertama yang akan sulit dilupakan.


Setelah selesai melakukan fitting baju, mereka pun pulang. Rae memilih pulang bersama mamahnya, kejadian tadi membuatnya canggung jika hanya berduaan dengan Sammy.


"Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sakit, kenapa pipimu sangat merah," panik Sora.


"A--aku tidak apa-apa Mah," jawab Rae gugup.


"Tidak apa-apa bagaimana, itu pipimu sangat merah. Coba sini mamah periksa keningmu." Menempelkan punggung tangannya pada kening sang putri. "Tidak panas," katanya.


"Ihh mamah, sudah di bilang aku tidak apa-apa."


Sora memperhatikan putrinya, apa mungkin karena merona. Sepertinya rencananya tadi sudah berhasil.


...


Hari pernikahan pun tiba.


Sammy tengah bersiap di rumahnya. Dia menatap bingkai foto yang ada di dinding rumahnya. Di mana ada foto ayah dan ibunya di sana, serta sang nenek saat masih sehat. Dia mengusap foto itu, berharap kedua orangtuanya ikut merasakan kebahagiaan yang ia rasakan. Meski pernikahan itu dimulai karena suatu insiden dan tanpa cinta, Sammy tidak pernah bermain-main dengan hubungan yang sakral seperti pernikahan.


Setelah puas, dia berpamitan pada neneknya dan meminta doa restu. "Nenek, aku akan menikah hari ini. Aku harap nenek bahagia karena sebentar lagi nenek akan memiliki cucu menantu."


Tok tok tok.


Sammy menyeka sudut matanya yang sedikit berair lalu membukakan pintu. Ternyata ada bibi Rose dan suaminya di depan tamahnya.


"Nak ...." Bibi Rose langsung memeluk Sammy, dia ikut bahagia. "Tenang saja, bibi dan akan menjaga nenekmu," ujarnya kemudian.


"Terimakasih bibi, aku sudah banyak sekali merepotkan bibi dan paman." Entah bagaimana kalau Sammy tidak mendapatkan tetangga sebaik bibi Rose dan suaminya. Mereka sudah seperti keluarga sendiri.


"Terimakasih bibi."


Sammy pun berangkat bersama suami bibi Rose. Yang bernama Frans. Karena Su-jin memang sudah tidak punya keluarga lagi selain sang nenek.


"Apa kamu gugup anak muda?" tanya Frans.


"Sedikit paman." Bagaimanapun yang akan dinikahinya bukan gadis biasa. Pasti banyak orang penting di sana.


"Tenanglah, atur nafasmu dan pikirkan hal yang menyenangkan saat bersama kekasihmu. Oh iya, sebenarnya paman sedikit terkejut saat istriku mengatakan kau akan menikah. Dia berkata, selama ini tidak pernah melihat kau dekat dengan wanita. Tapi itu bukan hak kami untuk mencampuri urusanmu. Kami hanya berharap, kamu bisa bahagia bersama istrimu nanti."


"Terimakasih paman, maaf karena terlalu mendadak. Lain kali aku akan memperkenalkannya pada kalian," ujar Sammy.


"Kami akan sangat senang menyambut kalian."


Rose dan suaminya sudah menikah puluhan tahun tapi sampai saat ini belum dikaruniai anak. Namun, kehidupan pernikahan mereka tetap harmonis dan saling mencintai. Bahkan jika lama tidak bertemu mereka akan sangat rindu. Dan sejak kecil mereka begitu dekat dengan neneknya Sammy. Dulu Sammy kecil juga sering diasuh oleh Rose.


...


Sammy sudah sampai di gereja yang akan menjadi tempat di mana ia dan Rae akan mengucapkan janji suci.


Sama sekali tidak ada wartawan di sana, asisten Vera bekerja dengan sangat baik untuk pernikahan nonanya.


Di sana sudah ada Sora dan suaminya yang merupakan pemimpin perusahaan sebelumnya. Ada kerabat serta sahabat mereka juga. Tidak terlalu banyak orang, karena pestanya akan berlangsung nanti malam di tempat lain.


"Tenanglah nak, jangan gugup," pesan Sora pada calon menantunya. Dia sangat bangga mempunyai calon menantu yang sangat tampan. Dia selalu membanggakan Sammy di depan teman-temannya. "Pengantinmu sudah datang, lihatlah di sana," ujarnya melihat kearah pintu. Di mana suaminya menuntut Rae berjalan ke arahnya.


Semua orang berdecak kagum melihat kecantikan Rae hari ini. Memang tidak ada yang meragukan kecantikan Rae yang menurun dari mamahnya yang dulunya seorang model terkenal. Tinggi badan serta tubuhnya sangat sempurna dalam balutan gaun pengantin itu. Termasuk Sammy yang hampir tidak berkedip melihat calon istrinya, meski beberapa hari yang lalu ia sudah melihatnya menggunakan gaun itu tapi hari ini sangat berbeda.


"Jemputlah pengantinmu," bisik Sora.


Sammy gugup dan berdebar saat mereka semakin dekat. Dia terus memandangi Rae yang memalingkan wajahnya karena malu. Sampai mereka kini berhadapan. William menyerahkan putrinya pada Sammy. Laki-laki itu terharu karena akhirnya dia bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah, yaitu mengantarkan putrinya ke altar.


"Aku serahkan putriku, bersabarlah lebih banyak padanya." Begitu pesan William pada calon menantunya.


Sammy meraih tangan Rae, membuat wanita itu menatap ke arahnya. Mereka saling memuji dalam hati namun enggan mengakuinya.


...


Mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Semua orang bertepuk tangan dan ikut bahagia melihatnya. Entah kenapa Rae pun merasakan kebahagiaan mereka. Berbeda dengan Sammy terharu memikirkan neneknya.


Mereka sudah selesai memasang cincin, seharusnya sekarang mereka berciuman dihadapan semua orang.


"Cium ... cium cium ..." Terdengar para penonton menunggu momen itu. Termasuk Sora.


"Ayo nak, tunggu apalagi. Ciumlah istrimu sekarang," kata Sora.


"Mah ... itu tidak perlu." Rae malu.


"Tentu saja harus nak, kalian baru saja resmi menjadi suami istri. Kalian harus berciuman." Sora menatap Sammy menantunya.


"Maaf nona, saya tidak bisa mengecewakan mereka," bisik Sammy. Sedetik kemudian dia menarik pinggang sang istri lalu menarik sedikit kepalanya untuk melihatnya.


"Kau gilaa! jangan lakukan itu!" ancam Rae.


"Maaf Nona."


Rae membelalak saat tiba-tiba sesuatu yang hangat dan lembut menabrak bibirnya. Tangannya mengepal kuat untuk menahan diri. Dia tidak bisa berkutik saat semua orang melihat mereka.