My Arogant Wife

My Arogant Wife
28. Mengira Sakit Parah



Aroma obat-obatan menyeruak ke dalam indra penciuman perempuan yang sedang terbaring lemah di atas ranjang khas rumah sakit. Sudah hampir satu jam lamanya matanya terpejam. Kata dokter dia hanya kelelahan dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi tetap saja semua orang tidak tenang menunggu sosok perempuan hebat itu bangun. Mereka tidak akan tenang jika perempuan itu belum membuka matanya.


"Pah, kenapa putri kita belum bangun juga. Bukankah kata dokter dia tidak apa-apa," ujar Sora. Dia yang tadi cukup tenang saja jadi berubah cemas karena putrinya tak kunjung bangun.


"Sabar, sayang. Kita tunggu sebentar lagi. Kalau Rae belum juga bangun, kita akan tanyakan lagi pada dokter." William menenangkan istrinya. Dia merengkuh tubuh wanita yang merupakan belahan jiwanya itu.


Asisten Vera juga sangat cemas, baru kali ini dia melihat nonanya terbaring lemah seperti itu. Selama dia bekerja wanita itu terlihat sangat tangguh dan tidak pernah mengeluh. Sampai asisten Vera sangat mengagumi sosok nonanya itu dan dia ingin menjadi seperti Rae.


'Cepatlah bangun nona, kami semua mencemaskan nona dan lihatlah itu. Suami anda terlihat begitu takut, dia terus ada di samping nona sejak tadi.' Asisten Vera memperhatikan laki-laki yang sejak tadi tidak bersuara tadi dari raut wajahnya dia terlihat begitu ketakutan melihat sang istri sakit.


Sammy memang tidak banyak bersuara dan berkomentar setelah dokter mengatakan kalau Rae sedang mengandung saat ini. Tapi jika ada yang bisa membaca hatinya saat ini, sungguh laki-laki itu begitu takut akan keadaan istrinya. Apalagi ada anaknya di dalam perut istrinya, tentu dia bahagia tapi selama ini mereka belum membicarakan perihal anak. Apa mungkin nanti ketika sang istri bangun dan tau tentang kehamilannya, dia akan kecewa karena mengandung benih dari laki-laki yang tak dicintanya.


Pikiran Sammy banyak sekali, memikirkan istrinya dan nasib anaknya.


Rupanya perempuan yang dikhawatirkan semua orang kini mulai sadar. Matanya membuka perlahan-lahan, bau obat langsung menusuk hidungnya. Dia coba menggerakkan tangannya tapi terasa sakit karena ada jarum infus menancap di sana. "Aawww ... sakit," keluh Rae saat tak sengaja menggerakkan tangannya terlalu keras.


Mendengar suara Rae semua orang langsung menghampirinya. William, Sora dan asisten Vera langsung melihat Rae. Tentunya Sammy juga mendekatkan wajahnya dan menggenggam tangan sang istri.


"Sayang, putriku. Kau sudah bangun nak." Sora sangat senang melihat putrinya sudah membuka mata.


"Rae ... apa ada yang sakit? Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa yang sakit?" tanya Sammy yang panik melihat istrinya mengaduk kesakitan.


"Eeuughhh ... tanganku sakit," lirih Rae. Dia mengangkat tangan kirinya di mana ada jarum infus di sana.


"Lihatlah nak, tanganmu sedang diinfus. Itu pasti sakit jika kau menggerakkannya dengan keras. Bagaimana perasaanmu sekarang, selain tangan apa ada lagi yang sakit?" tanya Sora seraya mengusap tangan putrinya dengan lembut. Sungguh sentuhan seorang ibu memang terasa hangat dan nyaman.


Rae melihat seisi ruangan itu, ah benar dia ada di rumah sakit sekarang. Dia ingat setelah rapat tadi tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing dan berputar. Lalu dia tidak ingat apa-apa lagi, pasti dia pingsan setelah itu.


"Bagaimana nak, apa ada yang sakit?" tanya Sora lagi.


"Katakanlah nak, jika kau merasa ada yang sakit. Katakan pada kami semua," ucap William khawatir.


Rae menatap mereka bergantian. Apa itu, kenapa semua orang begitu mengkhawatirkannya. Apa jangan-jangan dia menderita penyakit yang tidak biasa.


"Mah, Pah, aku sudah tidak apa-apa. Hanya masih sedikit pusing. Kalian tidak perlu khawatir." Rae tersenyum pada mereka. Dia juga merasa tangan satunya begitu hangat ternyata sang suami lah yang sejak tadi menggenggamnya. Bahkan pria itu juga begitu khawatir, apa jangan-jangan tebakan Rae benar.


"Syukurlah, mamah sangat lega mendengarnya. Kamu hanya perlu istirahat yang banyak sekarang." Sora bernafas lega, begitupun dengan semua orang.


"Mah ... sebenarnya ada apa ini? Apa penyakitku begitu gawat sampai kalian begitu khawatir?" tanya Rae curiga. "Tidak apa-apa Mah, Pah. Katakan saja padaku, apa kata dokter."


"Ahh itu ... bukan seperti itu nak. Masalah itu biar suamimu saja yang mengatakannya," ujar Sora. William juga setuju dengan pendapat istrinya. Sebaiknya kabar gembira itu memang disampaikan langsung oleh suami Rae.


Rae makin penasaran, ada apa ini kenapa tidak bilang saja. Dia menatap asisten nya untuk mengatakan sesuatu.


"Sa--saya permisi dulu tuan, nyonya. Saya akan mengurus administrasinya." Asisten Vera memilih kabur. Itu urusan pribadi mereka seharusnya dibicarakan berdua saja.


"Ah ya, Mamah dan papah juga akan keluar sebentar." Sora segera mendorong suaminya sebelum putri mereka menjawab.


"Mah ...." Situasi ini sungguh mencengangkan. Rae menatap frustasi pada semuanya yang meninggalkannya berdua dengan suaminya. Apalagi sampai sekarang pria itu masih menggenggam tangannya.


"Maaf ...." Satu kata itu keluar dari mulut Sammy.


Rae semakin heran dibuatnya.


"Maaf tidak bisa menjagamu dengan baik sampai seperti ini. Seandainya aku bisa menjadi suami yang baik pasti tidak akan sampai seperti ini."


Apa Rae tidak salah lihat, mata pria itu berkaca-kaca.


"Apa sakit ku sungguh sangat parah, apa hidupku tidak akan lama lagi?" tebak Rae dengan perasaan takut mendengar kenyataan.