
Setelah keluar dari toko tas branded itu Rae seperti mendapatkan moodnya kembali. Senyuman indah itu kembali tercipta di bibir manisnya. Wajah yang senantiasa bersikap dingin pada orang sekitar tampak hangat dengan senyum yang merekah sempurna. Sampai-sampai sang suami yang tadinya malu dan kesal karena sudah dipermainkan oleh istrinya itu pun melupakan perasaan kesalnya.
Laki-laki itu lebih bahagia melihat istrinya tersenyum, kalau begini dia rela melakukan apa saja walaupun harus di kerjai seperti tadi.
"Cantiknya ...," gumam laki-laki itu tanpa sadar dan sampai ke telinga wanita yang tidak bisa melupakan reaksi suaminya saat akan membayar tas yang harganya fantastis itu.
"Apa? Kau bilang apa tadi?" tanya Rae memastikan. Sejujurnya dia sangat suka ketika laki-laki itu memujinya tapi pujian itu selalu saja tidak pernah jelas terdengar. Rasanya dia ingin mendengarnya lagi.
Di antara banyaknya kerumunan orang yang sedang menghabiskan akhir pekannya. Sepasang suami istri itu saling menatap seolah tidak ada orang lain di sana.
Sammy pun mendekati sang istri yang sedang menunggu pujian yang seperti tadi. Pria itu mengikis jarak mereka perlahan lalu mendekatkan bibirnya pada telinga Rae, kemudian berbisik dengan isengnya.
"Kamu sangat cantik saat tersenyum seperti tadi," bisiknya sangat dekat sampai nafas hangatnya terasa menyapu telinga dan sekitar leher perempuan itu.
Blush ! Jika itu diibaratkan buah, maka akan tampak seperti buah tomat yang segar. Pipi Rae merona karena pujian itu dan tubuhnya menegang karena posisi mereka yang terlalu dekat. Debaran jantungnya bahkan tidak terkontrol lagi.
Rae segera menjauh dan berbalik untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu karena pria itu. Dia tidak ingin suaminya salah sangka dengan apa yang terjadi padanya.
"A--aku mau ke sana." Rae menunjuk asal pada stand makanan yang berjejer di lantai itu.
Sammy tersenyum smirk melihat istrinya kabur begitu saja setelah mendapatkan pujian. Tapi dia sempat melihat wajah perempuan itu memerah. "Rupanya kau bisa malu juga."
Rae terus berusaha menghindari bersitatap wajah dengan suaminya. Dirinya masih terlalu malu, apalagi saat mengingat pujian itu. Tanpa terasa dia terus mengembangkan senyumnya.
Dengan setia Sammy mengikuti kemanapun kaki perempuan itu melangkah tanpa mengeluh seperti kebanyakan laki-laki jika menemani pasangan nya berbelanja. Sammy rasa ini adalah kesempatannya untuk memperbaiki hubungan mereka yang renggang. Kapan lagi jika bukan sekarang, karena jika sudah di rumah atau di kantor, Rae pasti akan menemukan alasan untuk menghindari nya.
"Kau tidak lelah, apa tidak ingin makan?" tanya Sammy. Meski sejak tadi perempuan itu terus memakan cemilan yang dibeli dari penjual yang ada di mall itu.
Sammy ikut saja, dia juga bisa sedikit beristirahat jika makan.
Mereka memasuki salah satu restoran yang ada di sana. Cukup ramai karena makanannya enak dan murah. Sammy pernah sesekali makan di sana saat masih bekerja di tempat sebelumnya.
"Kau yakin akan menghabiskan itu semua?" tanya Sammy menatap beberapa porsi makanan yang ada di meja. Itu semua pesanan sang istri, miliknya hanya ada satu piring.
"Ya, kenapa? Tenang saja, aku akan membayarnya sendiri kalau kau keberatan," ujar Rae sedikit tersinggung.
"Ah bukan begitu, aku hanya takut kamu tidak akan menghabiskan itu semua. Akan sayang kalau disisakan."
"Aku pasti menghabiskannya, lihat saja. Aku sudah kelaparan sejak tadi, jadi ayo kita makan sekarang," cicit Rae. Dengan penuh semangat dia mulai mengangkat sendok dan garpunya lalu memasukkan satu persatu makanan ke dalam mulutnya hingga pipinya menggembung. Tapi anehnya dia masih terlihat cantik dalam kondisi seperti itu.
Beberapa saat kemudian, Sammy menganga lebar melihat makanan yang dipesan istrinya sudah hampir habis. Bahkan dirinya sama sekali belum menyentuh makanannya karena terlalu asyik melihat perempuan itu makan. Dia memperhatikan lagi sang istri, jika diperhatikan dengan jeli memang tubuhnya sedikit lebih berisi walaupun tidak begitu jelas. Akhir-akhir ini memang selera makan wanita itu jadi bertambah, saat di kantor pun dia selalu minta di bawakan cemilan pada asisten Vera jika sedang bekerja.
"Lohh kamu tidak makan?" tanya Rae, setelah menghabiskan makanannya di piring terakhir.
"Ah ya, sebenarnya aku tidak lapar."
Bola mata Rae seketika berbinar. "Apa boleh untukku saja," pintanya.
"Tidak, ini sudah dingin. Kalau kau mau, aku akan memesankannya lagi," ujar Sammy.
"Tidak apa-apa, itu saja. Akan lama kalau menunggu pesanannya datang." Tanpa menunggu jawaban Sammy, Rae sudah mengambil piring itu dari Sammy dan menaruhnya di hadapannya. "Aku akan menghabiskannya, sayangkan kalau tidak di makan. Eeeuummm ini enak ... kenapa tadi aku tidak memesan ini ...." Sambil kunyah-kunyah makanan.
Sepertinya ada yang tidak beres, apa biasanya wanita itu juga seperti itu. Sammy akan bertanya pada asisten Vera untuk mencari tahu. Dia bukan tidak suka kalau tubuh istrinya berisi. Hanya saja makan berlebihan juga tidak baik untuk kesehatannya.