My Arogant Wife

My Arogant Wife
7. Saya akan bertanggungjawab



Vera yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya sangat cemas karena sejak tadi dia menghubungi nomor telepon nonanya tidak juga di angkat. Begitu juga dengan nomor telepon milik Sammy. Vera tidak pernah membiarkan nonanya pergi menghadiri pertemuan sendiri atau dengan orang lain pun kini menyesal karena telah menyerahkan kepercayaan pada Sammy. Laki-laki yang baru beberapa hari menjadi sekretaris nonanya.


"Sial! Kenapa tidak ada yang mengangkat teleponku. Ini hampir pukul sebelas malam, seharusnya nona sudah pulang. Aku akan menelepon ke rumah nona."


Vera mencoba menelepon ke rumah Rae, tapi ternyata nonanya belum pulang. Dia berpesan pada pembantu di sana kalau jangan sampai nyonya dan tuan tau dia menelepon untuk bertanya. Vera tidak mau mereka khawatir.


"Aku akan memeriksa GPS ponsel nona, semoga saja aku bisa menemukannya." Vera mengotak-atik ponselnya, sampai sebuah titik merah pun terlihat di sana. "Ketemu! Aku akan memeriksanya. Kalau sampai nona Rae terluka. Aku tidak akan memaafkan Sammy."


Vera mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju titik di mana nonanya berada saat ini.


"Kirim beberapa orang untuk ikut denganku. Aku sedang menunggu Hotel Xx." Vera memerintahkan kepada anak buahnya.


Tak berapa lama, Vera berhasil sampai dengan cepat. Satu mobil menyusulnya di belakang.


"Ayo masuk, kita harus menemukan nona Rae," perintah Vera pada anak buahnya.


Mereka memasuki tempat itu yang merupakan tempat di mana diadakan pertemuan antara Rae dengan Kliennya. Di restoran yang ada di hotel itu. Vera mulai curiga karena titik GPS itu berada di lantai atas yang merupakan kamar-kamar hotel.


"Nona Rae ada di sana!" tunjuk Vera pada salah satu kamar. Mereka sudah ada di lantai yang sama dengan kamar yang digunakan Mr. Song untuk menyekap Rae.


Sementara anak buah Mr. Song saja tidak tau bagaimana nasib tuan mereka, kini dikejutkan dengan kedatangan Vera dan anak buahnya.


"Minggir kalian dan buka pintunya," seru Vera.


"Siapa kalian?! Kami tidak bisa membuka pintunya," jawab mereka.


"Kalian tidak mau menyingkir, baiklah. Hajar mereka!" seru Vera pada anak buahnya.


Bug! Bug! Bug! Hanya dengan waktu singkat anak buah laki-laki itu sudah berhasil dikalahkan oleh orang-orang terlatih bawahan Vera.


"Salah kalian tidak mau menyingkir, sekarang serahkan kuncinya padaku." Vera berjongkok di depan kepala salah satu dari mereka yang terkapar.


"Kami tidak punya kuncinya, pintu itu terkunci dari dalam."


Vera menendangnya. "Kenapa tidak bilang dari tadi!"


"Kalian, cepat dobrak pintu itu!" perintah Vera.


Dua orang bertubuh besar bersiap mendobrak pintu, dalam hitungan ke tiga pintu itu berhasil terbuka. Braakk!!


"Nona anda tidak apa-apa--" Vera langsung menutup mulutnya melihat pemandangan itu. Di mana nonanya berada di bawah selimut yang sama dengan seorang laki-laki yang ia kenal. Mereka juga tidak mengenakan pakaian, itu artinya mereka sudah melakukan hal itu.


Vera langsung keluar dengan keterkejutannya.


"Cepet tutup pintunya lagi!" perintahnya.


"Anda tidak jadi menyelamatkan nona muda?"


"Hah? Tidak, dia sudah aman. Kita akan mengurus yang lain. Segera cari tau apa yang sebenarnya terjadi," titah Vera. Dia tidak bisa asal menuduh Sammy begitu saja, mungkin saja kejadiannya tidak seperti yang ia lihat. Dia harus mengumpulkan bukti, jika benar Mr. Song yang melakukan hal itu maka Vera tidak akan membiarkannya karena sudah berencana jahat pada nonanya.


...


Paginya. Rae mulai terbangun dari tidurnya setelah pertempuran yang panjang tadi malam. Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama pada bagian bawahnya. Dia membuka mata dan mengingat kejadian semalam. Wajahnya memerah, dia sungguh malu dengan dirinya sendiri yang bersikap seperti itu. Bagaimana dengan begitu agresif, dia meminta lagi dan lagi.


Ini semua gara-gara obat itu, sangat memalukan. Bagaimana dia akan menghadapi laki-laki yang semalam menyelamatkannya itu. Rae menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.


"Nona, apa anda sudah bangun."


Deg. Tubuh Rae mematung saat tangan Sammy menyentuh pundaknya yang terbuka. Jantungnya berdegup sangat kencang saat kulit mereka bersentuhan. Dia langsung beringsut menjauh.


"Maaf nona, saya tidak bermaksud untuk menyentuh anda." Sammy menyadari hal itu, mungkin nonanya marah padanya karena kejadian semalam.


Rae mengigit selimut, dia tidak mengerti dengan reaksi tubuhnya yang berlebihan. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Saya akan bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan tadi malam," ujar Sammy terlebih dahulu.


"Apa maksudmu bertanggungjawab, mau bertanggungjawab dengan cara apa?"


"Mari menikah nona, agar aku bisa bertanggungjawab."


Rae tidak bisa berkata-kata mendengar hal itu. Menikah, bukan prioritas utamanya dalam hidup. Haruskah dia menikah karena mereka sudah menghabiskan malam bersama. Tidak, mereka tidak saling mencintai. Bagaimana mungkin akan menikah.


"Lupakan! Anggap saja tidak terjadi apa-apa," ucap Rae, anehnya hatinya terasa sakit saat mengatakan hal itu.


"Tapi nona ...."


Tok tok tok.


"Nona, apa anda sudah bangun? Bolehkah saya masuk, saya membawakan pakaian untuk anda." Suara asisten Vera terdengar dari luar.


Sammy sedikit panik, bagaimana kalau asisten Vera melihatnya seperti ini. Wanita itu pasti akan sangat marah karena tidak bisa menjaga nonanya dengan benar.


"Nona, itu asisten Vera. Apa saya perlu bersembunyi."


Rae pun terkejut tapi kemudian dia sadar kalau asistennya itu pasti sudah tau apa yang terjadi. Bahkan mungkin sudah tau kalau dirinya sudah tidur dengan Sammy. Buktinya sang asisten membawakan pakaian ganti.


"Tidak perlu, dia juga sudah tau." "Buka pintunya." Rae duduk dengan memegangi selimut untuk menutupi tubuhnya.


Sammy turun sesuai perintah, dalam keadaan tidak memakai apapun dia mencari celananya. Lalu memakainya di depan Rae.


Wanita itu buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah, dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa laki-laki itu tidak malu sama sekali berjalan ke sana-kemari tanpa pakaian.


Klek. Sammy membukakan pintu, dia sedikit takut pada asisten Vera. Wanita itu terkenal jago beladiri juga. Dia tidak akan berani melawan, bukan karena takut tapi karena dia menyadari kesalahannya.


"Selamat pagi Nona, saya membawakan pakaian anda."


"Terimakasih Vera." Rae turun dari ranjang dengan meringis menahan sakit di area bawahnya.


Sammy mau membantu tapi asisten Vera lebih dulu membantu nonanya. "Anda tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Vera cemas.


Wajah Rae semakin memerah, bagaimana dia menjelaskan kalau dia terluka karena melakukan hal itu.


"Maafkan saya asisten Vera, nona kesakitan karena saya. Maafkan saya tidak bisa menjaga nona dengan benar."


"Daim kau! Siapa yang menyuruhmu berbicara," bentak Rae, perkataan Sammy membuatnya malu.


Sementara Vera baru menyadari setelah melihat bercak merah di atas seprai. Nonanya bukan terluka karena kejahatan tapi karena kenikmatan. Dia tersenyum diam-diam.