My Arogant Wife

My Arogant Wife
16. Melindungi Sammy



Sammy tiba-tiba memeluk pinggang istrinya posesif. Dia ingin menunjukkan pada laki-laki di depannya itu kalau Rae sudah memiliki suami.


"Kami bertemu tidak sengaja dan aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama," katanya. Berhasil membuat Rae tercengang. "Iya kan sayang?" apalagi kali ini dia bahkan memandang Rae dalam jarak yang begitu dekat.


"I--iya benar, kami tidak sengaja bertemu." Rae tersenyum kaku.


"Syukurlah kalau kalian sungguh-sungguh saling mencintai. Aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi." Dewa tersenyum tulus walaupun dia sedikit kecewa.


Mereka pun makan siang bersama. Rae duduk di samping suaminya dan Dewa memilih duduk di kursi yang ada di depan mereka. Rae sesekali mengobrol dan melempar candaan pada Dewa.


"Kakak, ayo makan yang banyak. Ini bukankah makanan kesukaan kak Dewa." Rae meletakkan beberapa lauk pada piring Dewa.


"Iya nak, kamu tidak pernah sungkan. Anggap saja rumah sendiri," sambung Sora.


"Terimakasih Rae, terimakasih Tante. Aku sangat senang kalian masih menganggapku seperti dulu meski kita sudah tidak bertetangga lagi."


"Kamu itu bicara apa, kamu sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri. Ayah dan ibumu sudah seperti saudara kita. Iya kan Pah?"


"Benar nak, jangan malu-malu. Dulu saja kamu sering sekali menghabiskan masakan istriku," timpal William.


"Itu karena masakan Tante sangat enak. Masakan ibuku saja kalah," ujar Dewa.


"Hahaha kau bisa saja. Ibumu akan sedih kalau kau mengatakan itu di depannya." Sora menyahut.


"Tidak Tante, ibuku juga mengakui keenakan masakan Tante." Mereka pun tertawa, suasana siang itu begitu cair. Walaupun ada satu orang yang kurang nyaman dengan keberadaannya di sana.


Sammy sejak tadi diam saja, dia merasa asing dengan keluarga istrinya. Apa mungkin dia sudah berlebihan kalau menganggap pernikahannya cukup sekali seumur hidup dengan atasannya sendiri itu. Sedangkan dia merasa sangat jauh berbeda dengan mereka.


"Sayang, ambilkan suamimu lauknya lagi," perintah Sora pada putrinya.


"Iya mah," Rae pun mengambilkan lauk yang sama seperti yang ia berikan pada Dewa tadi. Dia letakan di atas piring suaminya.


"Terimakasih. Kau juga harus makan yang banyak. Jangan cuma daging, kau juga harus makan sayur." Sammy pun mengambilkan sayuran untuk sang istri.


"Ah Maaf, Rae tidak suka daun bawang." Perkataan Dewa membuat suasana menjadi canggung. Terutama bagi Sammy, dia merasa tidak berguna dan tidak tau apa-apa tentang istrinya. Malah dia mengambilkan makanan yang tidak disukai wanita itu.


Sora memahami menantunya. Sebagai orangtua dia harus menjadi bijak. "Tidak apa-apa nak, nanti perlahan kau akan tau. Rae ini memang terlalu pilih-pilih makanan," ujar Sora.


Sammy segera mengambil kembali sayur itu dari piring Rae. "Maaf aku tidak tau kau tidak menyukai ini."


"Tunggu! Biarkan tetap di situ. Aku akan memakannya. Terimakasih sudah mengingatkanku untuk makan makanan yang sehat. Padahal dokter juga selalu mengatakan kalau aku harus banyak makan sayur. Kalau kamu tidak mengingatkanku pasti aku lupa." Rae pun memakan sayuran yang tidak ia suka itu dengan terpaksa. Dia tidak ingin Dewa mencurigai hubungannya dengan sang suami.


"Waahh ini keajaiban, baru kali ini ada orang yang berhasil membujuk Rae memakan sayur. Bahkan mamah dan papah saja sampai lelah membujuknya. Mamah memang tidak salah menilai, kamu memang suami yang tepat untuk putriku." Sora menyanjung Sammy.


Sammy tersenyum simpul, dia berterimakasih pada mertuanya yang telah menyanjungnya tapi dia lebih tak nyaman kalau misal Rae terpaksa memakan makanan itu demi menutupi keadaan hubungan mereka di depan orang lain.


"Benarkah tidak masalah kamu memakannya?" tanya Dewa yang mencurigai gelagat Rae. Wanita itu seperti terpaksa menelan makanan itu.


"Iya, aku baik-baik saja. Ternyata rasanya tidak seburuk yang aku bayangkan." Rae mengunyah kembali. Ya, awalnya dia terpaksa tapi lama-kelamaan lidahnya terbiasa memakan sayuran itu. Jika dulu dia langsung mual, sekarang tidak.


"Kakak tinggal di mana? Apa kepulangan kak Dewa akan lama kali ini?" tanya Rae.


"Di apartemen, mungkin sebentar lagi aku akan kembali setelah urusanku selesai. Aku tidak akan tenang meninggalkan ibuku terlalu lama."


"Apa ada masalah? Apa aku bisa bantu?"


"Kenapa? Apa kamu ingin aku segera pergi lagi?" Dewa tersenyum perih.


"Ah tidak, aku justru senang kak Dewa kembali. Aku hanya ingin membantu dan menunjukkan pada kak Dewa kalau sekarang aku sudah bisa diandalkan juga."


"Aku mengerti, Rae sekarang sudah dewasa." Dewa mengusap lembut kepala Rae. "Kalau aku butuh bantuan pasti akan menghubungimu. Aku pergi dulu." Dewa masuk ke dalam mobilnya.


"Hati-hati kak." Rae melambaikan tangannya.


Dewa memandang Rae dari spion. Gadis yang ia kira masih kecil sudah sangat dewasa dan cantik sekarang. Salahnya yang terlalu percaya kalau gadis itu akan menunggunya. Tapi dia juga tidak bisa menyesali apapun. Dia juga tidak bisa berbuat banyak saat sang ibu membutuhkannya.


"Kakak harap kamu bahagia bersama pasanganmu."


...


Malamnya. Sora dan suaminya membicarakan perihal nenek Asha. Mereka menyarankan seperti apa yang dikatakan Rae. Akhirnya Sammy pun setuju. Dia tidak enak menolak niat baik mereka. Dia juga sangat berharap neneknya bisa segera sembuh.


Malam ini. Setelah makan malam Sammy memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Rae pun ikut, meski tadi Sammy sudah melarangnya.


"Terimakasih," ujar Sammy tiba-tiba saat mereka dalam perjalanan pulang.


Rae menoleh. "Untuk?" tanyanya.


"Untuk semuanya, kamu, mamah dan papah begitu baik padaku dan nenek. Aku pasti akan membalas kebaikan kalian seumur hidupku ini."


Rae berpikir, apa maksudnya seumur hidup. Apa dia berniat menjalankan pernikahan itu selamanya.


"Rae ..." panggil Sammy.


"Ah iya ... ada apa?"


"Kenapa kamu melamun. Oh iya, maaf aku tidak tau kalau kamu tidak suka sayur. Lain kali kamu tidak perlu melakukan itu, seperti memakan makanan yang tidak kamu suka untuk melindungiku. Nanti aku akan mempelajari apa yang kamu suka dan tidak pada asisten Vera."


"Tidak apa-apa, aku memang tidak menyukainya tapi rasanya tidak buruk. Aku masih bisa menelannya," kata Rae. Dia tidak bohong.


"Ohh iya, apa aku boleh bertanya sesuatu? Apa kau dan laki-laki itu begitu dekat? Kelihatannya dia menyukaimu, aku bisa melihat dari tatapannya padamu."


"Siapa? Apa maksudmu kak Dewa. Aku dan dia sudah seperti kakak dan adik. Dulu kami sangat dekat karena rumah kami bersebelahan. Saat sekolah juga bareng, dia selalu melindungiku dan mengajariku. Dia juga yang selalu membelaku saat papah terus memaksaku belajar." Mengingat masa-masa dulu. "Kamu jangan asal tebak, mana mungkin kak Dewa menyukaiku." Rae tertawa.


Dari yang Sammy lihat sepertinya Rae tidak menyadari perasaan laki-laki itu bukanlah sekedar kakak beradik tapi suka layaknya laki-laki dan perempuan dewasa. Entah Rae yang tidak menyadari karena dia sudah nyaman dengan hubungan mereka atau karena Rae memang tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari hubungan mereka.


Apapun itu, entah mengapa Sammy merasa lega.