My Arogant Wife

My Arogant Wife
12. Pulang Sendiri-sendiri



Setelah kepergian sang mamah dan asisten yang usil itu Rae kembali ke dalam. Membawa segelas susu hangat dari sang mamah. Dia meletakkan di atas nakas.


"Apa Mamah mengatakan sesuatu? Mereka tidak curiga kan?" tanya Sammy.


"Tidak, mamah hanya memberikan ini." Rae meminumnya juga. Dia tidak ingin sang mamah curiga nanti. Perutnya terasa penuh sekarang, setelah tadi makan makan malam.


"Apa itu? Apa kamu biasanya meminum itu sebelum tidur?"


"Tidak," jawab Rae singkat.


"Baiklah, kalau begitu istirahatlah. Aku akan kembali ke sofa."


"Ehh tunggu, tidurlah di ranjang. Maksudku, aku takut mamah tiba-tiba datang lagi. Jadi lebih baik kamu juga tidur di ranjang saja," ujar Rae. "Aku akan menaruh bantal di tengahnya sebagai pembatas. Kamu bisa tidur di sisi itu," tunjuk Rae.


Wanita itu kemudian masuk kedalam selimut dan membelakangi suaminya. Sammy juga kembali meletakkan bantalnya. Lalu merebahkan tubuhnya di sana. Ranjang yang luas membuat jarak mereka cukup jauh saat ini.


Rae merasa sangat gugup, meski ini bukan pertama kalinya mereka tidur satu ranjang tapi tetap saja berbeda karena saat ini dia sadar sepenuhnya. "Dia tidak akan melakukan apapun kan," ujarnya dalam hati.


Sementara Sammy mencoba memejamkan matanya, meski sebenarnya dia sangat mencemaskan neneknya. Meski ada bibi Rose yang menjaganya tapi tetap saja Sammy tidak tenang.


...


Paginya. Mereka terbangun dari tidur. Meski masih berjauhan tapi saat ini posisi mereka sudah tidak saling membelakangi lagi. Mereka saling berhadapan dan terkejut saat membuka mata. Sammy yang tidak menyangka akan bisa melihat wajah Rae yang begitu cantik saat bangun tidur.


"Cantik," ujar Sammy.


"Hah apa?!" Rae terkesiap mendengar pujian dari laki-laki itu. Sudah dua kali dia mendengar pujian itu.


"Ah tidak, maaf. Aku akan mandi." Sammy bergegas turun dari ranjang.


"Dia kenapa sih," gumam Rae.


...


Setelah sarapan mereka memutuskan untuk pulang. Sammy mengatakan dia tidak bisa meninggalkan neneknya terlalu lama. Akhirnya Rae pun ikut pulang, padahal seharusnya mereka masih bisa menginap dua hari lagi di hotel itu.


Rae pulang mengendarai mobilnya sendiri, sementara Sammy menggunakan taksi. Mereka tidak searah, Sammy juga masih ragu untuk mengajak Rae bertemu dengan neneknya. Dia takut wanita itu menolak.


"Lohh sayang, kamu kok sudah pulang. Kalian kan masih bisa menginap dua hari lagi. Lalu di mana suamimu? Kenapa kamu pulang sendirian?" tanya Sora. Mencecar putrinya dengan pertanyaan.


"Kami tidak bisa menginap lebih lama. Sammy mengkhawatirkan neneknya," ujar Rae. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Ya ampun, mamah lupa kalau Sammy masih mempunyai nenek. Mamah akan mencarikan perawat yang bisa menjaga nenek suamimu. Lalu kenapa kamu pulang, seharusnya kamu ikut dengan suamimu. Bukankah kau belum pernah menemui nenek dari suamimu." Sora berkacak pinggang.


"Ada apa ini Mah, ribut-ribut apa pagi-pagi begini?" William baru turun dari lantai dua.


"Ini lihat putrimu. Seharusnya dia ikut suaminya untuk mengunjungi neneknya tapi malah pulang ke rumah," Ujar Sora mengadu.


"Nak, kau tidak boleh begitu. Bagaimanapun, Sammy adalah suamimu sekarang. Bagaimana tanggapan orang-orang kalau melihatnya pulang sendiri."


"Maaf Pah, aku tidak memikirkan hal itu." Dan lagi tadi suaminya juga tidak berkata apa-apa. Dia sama sekali tidak berusaha mengajaknya untuk ikut.


"Sekarang kamu susul suamimu, lihatlah neneknya. Kamu juga harus mengenal keluarganya."


"Sekarang Mah?!" kaget Rae.


"Tidak, tahun depan. Ya sekarang dong sayang. Sana kamu ganti pakaian, mamah akan siapkan beberapa makanan untuk kamu bawa nanti."


"Tapi aku baru saja sampai, aku akan istirahat lebih dulu."


"Kamu bisa istirahat di rumah suamimu, mulailah terbiasa," ujar Sora. Menarik tangan putrinya untuk bangun.


"Itu tergantung suamimu, di manapun dia berada kamu harus mengikutinya. Kalau dia memang mau tinggal di rumahnya kamu ikuti saja."


"Pah..." Rae meminta tolong pada papahnya.


"Benar kata mamahmu, kamu harus belajar jadi istri yang baik. Tapi kalau suamimu mau tinggal di sini, tentu saja sangat boleh. Kami akan senang tinggal bersama kalian." William tidak bisa apa-apa kalau sang istri sudah merencanakan sesuatu.


"Sudah sana ganti pakaianmu!" perintah Sora.


"Memangnya kenapa dengan pakaianku yang ini Mah. Ini juga bagus," protes Rae. Dia memperlihatkan penampilannya yang menggunakan celana panjang dan kaos, terlihat sangat santai.


"Kamu itu baru pertama kali bertemu dengan keluarga suamimu. Kamu harus tampil cantik. Sudah sana ..." Mendorong tubuh putrinya untuk menaiki tangga.


Rae pun tidak bisa menolak perintah mamahnya lagi, dengan malas dia naik ke lantai dua dan berganti pakaian.


"Apa mamah yakin akan mengijinkan anak kita tinggal di rumah laki-laki itu," cemas William, pasalnya sang putri sudah sejak baru lahir menggunakan sendok emas. Tidak pernah hidup susah sekalipun.


"Dia menantu kita Pah, tenang saja. Mamah ingin putri kita bisa menghargai suaminya." Sora sibuk menyiapkan beberapa makanan yang akan dibawa putrinya.


...


Di rumah. Sammy baru saja sampai di rumah. Bibi Rose dan suaminya masih di sana untuk menjaga nenek Asha.


"Aku pulang." Sammy melepas sepatunya.


"Sammy, kamu pulang sendiri? Di mana istrimu?" tanya Rose.


"Bibi, istriku masih ada pekerjaan jadi belum bisa datang. Kapan-kapan aku akan mengajaknya ke sini."


"Ohh iya, pasti dia sangat sibuk. Kata pamanmu, istrimu itu CEO perusahaan B'tek itu. Perusahaan terbesar di negara ini. Waahh, kamu kenapa tidak cerita pada bibi kalau kamu menikah dengan nona Rae itu. Bibi sangat suka melihatnya di televisi dan majalah. Dia wanita yang hebat."


"Ohh iya, apa bibi mengenalnya?"


"Tentu saja tidak, bibi hanya mengaguminya. Masih muda tapi sudah berhasil membuat perusahaan raksasa itu. Ohh ya, bagaimana kalian bertemu? Coba ceritakan pada bibi dan paman." Mereka mengajak Sammy untuk duduk.


Sammy menghela nafasnya. "Tidak ada yang perlu diceritakan, aku ingin melihat nenek dulu."


"Tunggu nak, tidak perlu cemas. Nenekmu baru saja tertidur, semalam dia terus mencarimu dan tidak tidur. Dia baru saja tertidur setelah sarapan."


Mendengar penjelasan bibi Rose membuat Sammy merasa bersalah karena sudah meninggalkan neneknya terlalu lama.


"Maafkan aku bibi, nenek pasti merepotkan kalian," lirih Sammy.


"Tidak apa-apa nak, kami mengerti keadaan nenekmu. Duduklah, ada yang ingin bibi tanyakan padamu."


Sammy menatap paman Frans, laki-laki itu menganggukkan kepalanya. Sepertinya mereka menyadari sesuatu.


"Apa yang ingin bibi tanyakan?"


"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini? Apa kalian saling mencintai? Maaf kalau bibi terlalu ikut campur, hanya saja bibi dan paman ingin melihatmu bahagia. Kami sudah melihatmu tumbuh sampai sebesar ini. Kami sudah menganggapmu seperti putra kami sendiri. Kami hanya ingin melihatmu bahagia."


Sammy memegang tangan bibi Rose. Wanita itu dan suaminya adalah orang yang sangat baik. Dia mengerti apa yang mereka cemaskan.


"Aku bahagia bi, kami juga saling mencintai."


"Syukurlah, kami senang mendengarnya. Bibi harap istrimu bisa mengerti keadaanmu, dan bisa mengurusmu dengan baik." Bibi Rose mengusap punggung Sammy.


Maaf bibi, aku tidak bermaksud membohongi kalian.