
Rae sebenarnya ingin pergi dari sana setelah melihat bagaimana suaminya berinteraksi dengan seorang wanita. Akan tetapi, sang putra sudah terlanjur menampakkan diri dengan menghampiri Daddynya.
"Daddy ... what are you doing?" Felix melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap nyalang pada Daddynya.
Mendengar suara sang putra tentu saja Sammy langsung menghentikan pembicaraannya dengan seseorang yang duduk bersamanya. Dia mengedarkan pandangan, mencari sosok ibu dari anaknya.
"Kenapa kamu sendirian? Di mana Mommy?" tanya Sammy.
"Maaf aku membawa Felix ke sini tanpa memberitahumu," ujar Rae yang muncul tiba-tiba. Perempuan itu membungkukkan tubuhnya pada rekan sang suami. Entah siapa wanita itu, dia hanya merasa harus menghormati tamu suaminya.
"Tidak apa-apa, kalian selalu bisa datang kapanpun tanpa perlu ijin dariku. Sini nak, duduk dengan Daddy." Sammy mengulurkan tangannya pada sang putra yang berwajah masam. Pria itu sepertinya tau kalau putranya sedang kesal.
Rae menyadari situasi canggung ini, dia tidak enak kalau Felix bertindak tidak sopan.
"Aku akan membawa Felix pulang, sepertinya dia lelah. Kami akan mampir lain kali," katanya pada sang suami. "Ayo nak," ajak Rae pada putranya.
Felix melirik tajam pada wanita yang sedang bersama Daddynya. Dia benar-benar tidak suka melihat ada wanita di sekitar sang Daddy. Sebagai laki-laki, Felix sudah paham tentang artinya sebuah hubungan meski dia masih kecil. Dia tau kalau sudah punya pasangan artinya tidak boleh berdekatan dengan orang lain.
Kemudian anak itu membuang muka, membalikkan tubuhnya dan pergi lebih dulu dari sana.
"Astaga anak itu, maaf karena sikapnya yang tidak sopan. Kami pergi dulu." Rae membungkukkan tubuhnya pada Sammy dan wanita itu. Lalu menyusul sang putra.
Sammy menyadari kesalahannya, tidak seharusnya dia membiarkan wanita manapun mendekatinya meski sekarang hubungan kerjasama. Tadinya saat melihat istri dan anaknya berkunjung, dia sangat bahagia karena biasanya mereka hanya datang saat Sammy meminta. Namun, karena dirinya sendiri sudah membuat putranya menatap penuh kekecewaan.
"Tuan jadi bagaimana dengan kerjasama kita. Nanti kita akan bersama-sama membuat restoran ini semakin maju. Aku yakin kalau ayahku berinvestasi akan bisa memajukan bisnis ini." Wanita itu senang setelah ibu dan anak itu pergi. Jujur saja dia mengagumi sosok Sammy, dia sering makan di restoran itu dan melihat Sammy. Jadilah dia minta ayahnya untuk menawarkan investasi.
"Maaf Nona Maya. Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan pembicaraan kita karena putra saya tidak menyukai Daddynya berdekatan dengan wanita lain. Sekali lagi saya minta maaf, saya harus menyusul putra dan istri saya." Sammy bangun dari duduknya, membungkuk sebagai permintaan maaf. Baginya keluarga lebih penting dari apapun. Sekalipun bisnisnya mungkin bisa terancam, dia tidak peduli.
"Apa maksud Anda, Tuan Sam. Saya sudah menawarkan bantuan yang sangat besar dan saya juga akan membuat bisnis Anda semakin maju tapi Anda menolaknya mentah-mentah! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Anda! Apa ada yang lebih penting dari pada masa depan bisnis Anda?" Wanita itu tersulut emosi.
"Keluar, keluar lebih penting dari apapun. Maaf, saya harus pergi sekarang." Keyakinan Sammy tidak bisa diganggu. Baginya apa yang ia miliki sekarang jauh lebih penting.
Secara tidak langsung para tamu yang sedang makan pun kagum melihat Sammy yang begitu menyayangi keluarganya. Sudah tampan, mapan, sayang keluarga. Sungguh pria idaman, sayang sudah ada yang punya.
"Sialan!!! Kau berani menolakku. Awas saja!" Wanita mengepalkan tangannya di atas meja.
Semakin kesal saat ada banyak orang yang melihatnya dengan tatapan jij1k. Sudah tau Sammy memiliki keluarga tapi wanita itu begitu tidak tau malu dan sudah jelas kalau istri dari Sammy jauh lebih cantik. "Apa lihat-lihat!!" bentaknya pada orang-orang.
...
Sammy mengejar istri dan putranya. Mereka sedang berjalan menuju mobil. Pria itu segera berlari menghampiri mereka.
"Rae ...," panggil Sammy.
"Kalian jangan pulang dulu, ayo kita makan siang bersama," ajak Sammy.
"Ah tapi, kau sedang ada tamu. Kami akan makan siang di rumah saja," tolak Rae.
"Tidak ada, aku sudah selesai. Dia hanya menawarkan kerjasama tapi aku sudah menolaknya." Berbicara tanpa beban, padahal dia baru saja menolak uang miliaran rupiah yang akan diinvestasikan ke bisnisnya.
"Hah, kenapa?" terkejut Rae.
"Karena putraku tidak suka. Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh putraku," ujar Sammy menatap sang putra yang masih tidak mau melihat ke arahnya. Dia berinisiatif menekuk lututnya untuk mensejajarkan diri dengan sang putra.
"Apa kau masih marah pada Daddy?" tangannya.
Felix menoleh lalu berkata, "Apa Daddy benar-benar sudah menolaknya?"
Sammy mengangguk. "Iya boy, apa kau tidak percaya pada Daddy?"
Felix berhambur memeluk Daddynya.
"Jadi kalian mau kan makan siang di restoran Daddy?"
Rae tidak masalah, dia terserah pada sang putra.
"Bagaimana boy??" tanya Sammy sekali lagi.
"Ayoo ... tapi aku mau makan sayap ayam. Bolehkan Dad?"
"Tentu, kau boleh makan apapun yang kau mau."
Bocah itu pun kembali berlenggang memasuki restoran itu. Dimana para karyawannya sudah mengenal anak bosnya itu. Jika Felix datang maka dia akan jadi pusat perhatian para karyawan. Biasanya anak itu akan lebih sering menghabiskan waktu di dapur bersama karyawan Daddynya. Di sana anak itu bisa makan apa saja, makanan cepat saji yang tidak bisa ditemukan di rumah.
"Maaf, karena kedatangan kami membuat kamu kehilangan investor." Rae merasa bersalah pada suaminya.
"Tidak ada hal seperti itu, aku sendiri yang menolaknya. Justru karena kalian datang aku jadi sadar kalau keluargaku lebih berharga. Oh iya Rae, bisakah kau dan Felix lebih sering datang jika kau tidak sibuk? Aku senang melihat kalian di sini."
"I--iya, jika kamu yang minta maka kami akan sering datang." Meski mereka sudah lama bersama tapi ditatap dengan jarak yang sangat dekat oleh suaminya masih membuat Rae salah tingkah.
Rae yang malu-malu seperti itu sungguh menggoda bagi Sammy. Jarak mereka begitu dekat dan dia bisa melihat wajah istrinya merona. Mereka sedang makan di ruangan Sammy, duduk di sofa bersebelahan. Kini tatapan Sammy tertuju pada sudut bibir istrinya. Ada sisa saos di sana. Dia berniat membersihkannya.
"Tunggu sebentar, diamlah," ujar Sammy menatap lekat bibir peach sang istri.
"Ke--kenapa?" Melihat suaminya semakin mendekat, Rae memejamkan mata sambil meremat ujung dress yang ia pakai. Sangat gugup rasanya, ia pikir sang suami akan menciumnya sekarang.