
Bersama-sama Sammy, Rae, orang tua Rae serta bibi Rose dan suaminya mengantarkan nenek Asha ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Awalnya bibi Rose sedikit sedih karena nenek Asha sudah seperti ibunya sendiri. Tapi itu semua demi kebaikannya.
"Bibi harap, nenek Asha bisa lebih baik kondisinya dengan pengawasan dokter."
"Aku juga ingin melihat nenek bisa sembuh. Mengingat aku sebagai cucunya."
"Kalian tidak perlu khawatir, mamah akan mencarikan dokter yang terbaik dari luar negeri untuk menangani nenek Asha," ucap Sora.
"Terimakasih Mah, aku tidak tau bagaimana membalas kebaikan mamah dan papah." Sammy sangat beruntung.
"Kau hanya perlu menjaga putri kami dengan baik. Iya kan Pah," seru Sora.
"Iya, kalau sampai Rae terluka. Papah sendiri yang akan memberimu pelajaran." William memperingati menantunya.
"Pah ... aku bukan anak kecil lagi. Untuk apa menitipkan aku padanya." Rae protes.
"Aku tidak akan mengecewakan kalian," jawab Sammy. Sekarang dia sudah berjanji, meskipun nantinya dia tidak yakin pernikahannya itu akan bertahan lama atau tidak. Dia berjanji, meski nanti tidak jadi suami Rae. Sammy akan tetap menjaga wanita itu.
Apa sih janji-janji segala. Rae menautkan alisnya.
...
Hari ini semuanya kembali pada rutinitasnya. Rae dan Sammy mulai kembali bekerja. Mereka sarapan bersama.
"Apa kalian yakin tidak akan berbulan madu?" tanya Sora hampir saja membuat sepasang suami-istri itu tersedak.
"Tidak sekarang Mah, aku masih banyak pekerjaan." Rae menjawab singkat.
"Ada papah yang akan membantu kalau kalian pergi bulan madu. Tenang saja," kata Sora.
Kapan-kapan saja Mah, Sammy juga masih menjaga neneknya. Iya kan?" Rae memandang suaminya.
"Iya Mah, aku masih mengawasi kesehatan nenek."
"Hmm baiklah, padahal mamah sudah ingin sekali menimang cucu. Kalian tidak boleh menunda-nunda momongan, nanti mamah akan carikan dokter yang bagus untuk berkonsultasi agar kalian cepat dapat momongan."
"Mahhh ... Mereka baru saja menikah dan belum lama kenal. Biarkan mereka lebih mengenal lebih dulu." William membela putrinya.
"Ahh papah ini, apa papah tidak mau segera mempunyai cucu." Sora mencebikkan bibirnya.
"Benar kata papah, mah. Aku dan Sammy sudah sepakat untuk tidak memiliki anak sekarang." Rae canggung, mereka saja hanya menghabiskan malam dengan saling memunggungi. Bagaimana akan jadi anak. Meski malam itu kemungkinan benih yang beberapa kali Sammy tanam entah sudah berkembang atau gagal. Sampai sekarang Rae tidak merasakan apapun.
"Kau itu harus belajar menghormati suaminya, Rae. Jangan panggil namanya agar lebih mesra. Coba panggil sayang," kata Sora.
"Uhuk-uhuk ..." Rae benar-benar terdesak.
"Minumlah." Sammy mengambilkan air dan menepuk punggung istrinya.
"Kenapa, apa mamah salah bicara. Seharusnya kalian mulai hubungan kalian dengan hal-hal sederhana seperti itu. Kalau tidak mana mungkin hubungan kalian akan maju." Sora memberi petuah lagi.
"Sudah-sudah, selesaikan makanan kalian. Jangan terlalu banyak bicara saat makan," tegur William.
...
Di mobil.
Suasananya begitu canggung. Rae duduk di depan, tidak lagi di belakang karena mamahnya protes.
"Soal ucapan mamah tadi, menurutmu aku harus memanggilmu apa?" tanya Rae.
"Itu tidak perlu, seperti biasa saja yang membuat kamu nyaman," Sammy tidak banyak menuntut. Dia terlalu patuh pada istrinya. Itu membuat Rae sedikit merasa bersalah, apa sebagai istri dia sudah terlalu bosy.
Sampai di kantor. Mereka tampak seperti atasan dan bawahan seperti biasa. Rae masuk bersama Vera yang sudah menunggunya di depan. Sammy pun membaur dengan karyawan biasa.
Mereka sama-sama sedang menunggu lift masing-masing. Saling membelakangi. Sammy terdengar berbincang dengan karyawan lain.
"Kamu kemana saja Sam, kami tidak melihatmu beberapa hari ini?"
"Ah itu, aku ada keperluan jadi meminta ijin beberapa hari." Sammy menggaruk kepalanya. Pasalnya para karyawan biasa tidak ada yang tau perihal pernikahannya dengan Rae.
"Ohh, aku kira kenapa. Soalnya CEO kita juga tidak terlihat beberapa hari ini. Kabarnya CEO kita baru saja menikah."
"Oh ya, ini kabar yang mengejutkan. Siapa pria yang mau dengan wanita galak itu."
Sammy berdehem, apa mungkin rekannya tidak menyadari kalau CEO yang mereka bicarakan ada di belakangnya.
Rae yang menelinga semua pembicaraan mereka pun kesal. Seburuk itukah dia sampai karyawannya berbicara seperti itu. Yang dia tahu selama ini banyak laki-laki yang mau dengannya.
"Apa saya perlu mengingatkan mereka nona?" bisik Vera.
Rae memberi tanda untuk membiarkan mereka.
"Kau jangan sembarang bicara, banyak laki-laki yang mau menikah dengan CEO kita. Secara dia cantik, kaya dan sukses. Siap yang tidak mau." Salah satu karyawan membela Rae. Membuat perempuan itu bangga.
"Hahaha, paling-paling laki-lakinya mau memajukan bisnisnya juga dengan menikahi CEO kita. Biasalah kalau orang kaya itu biasanya semacam pernikahan bisnis yang saling menguntungkan."
Rae mengepalkan tangannya. Sementara Vera malah tersenyum sendiri.
Ting. Pintu lift terbuka. Mereka selamat karena kalau sampai keluar kata-kata yang tidak enak didengar lagi pasti Rae tidak menahan diri lagi.
Sammy dan rekannya masuk ke dalam Lift. Begitupun dengan Rae membuat mereka bersitatap sebentar sebelum akhirnya pintu lift hampir tertutup.
"Bukankah itu nona Rae?" para karyawan yang tadi membicarakan CEO mereka menelan ludah. Berharap CEO mereka tidak mendengar apapun.
"Tunggu!" Seseorang berlari saat pintu lift hampir tertutup. Sammy yang kebetulan ada di depan membantunya. Tak sengaja memegang tangan wanita itu dan terlihat oleh Rae.
"Karin ... tumben kamu terlambat."
"Eh iya aku tadi ketinggalan bus."
Sammy yang menyadari kalau Rae melihatnya memegang tangan Karin. Dia langsung melepaskannya. Tapi itu membuat Karin agak kecewa.
"Ah maaf, aku tidak sengaja," ujar Sammy.
"Tidak apa-apa, seharusnya aku berterima kasih. Ohh iya ini, kopinya sebagai ucapan terimakasih." Karin memberikan kopi yang ia bawa.
"Ehheemm, sudah ada Sammy. Sekarang tidak ada yang memberiku kopi lagi. Padahal dari kemarin aku sangat senang mendapat kopi gratis tiap pagi," ledek teman Karin.
"Apa sih, ini aku juga dapat gratis." Karin malu.
"Ohh iyaa ... pantas saja kamu telat. Beli kopi itu kan antriannya sangat panjang." Teman-teman Karin makin senang meledek mereka.
Sammy tersenyum canggung, dia tidak enak pada Karin kalau menolaknya tapi dia juga tidak bisa membiarkan wanita itu begitu baik padanya. Untunglah pemandangan itu tidak dilihat oleh Rae.
"Maaf, teman-teman ku suka sekali meledek. Jangan kamu masukan ke dalam hati," bisik Karin.
"Tidak apa, aku tau." Sammy tersenyum simpul. "Terimakasih kopinya. Aku berhutang banyak padamu."
Pipi Karin memerah, dia senang akhirnya bisa melihat Sammy lagi.