
Bibir mereka saling beradu dan lidah mereka saling membelit. Hampir sepuluh menit lamanya, mereka sama-sama tidak ingin mengakhirinya. Kerinduan yang lama sekali terpendam seakan bisa tersalurkan juga. Entah bagaimana awalnya, kini Rae sudah duduk di pangkuan suaminya. Dia atau sofa ruangan itu, mereka saling bertukar saliva. Menyalurkan rindu dan g41rah yang lama padam.
"Hempp ... hah ...." Mereka hanya melepasnya saat mengambil nafas dan kembali memperkenalkannya setelah itu. Kembali saling menyesap dan mengabsen rongga mulut masing-masing.
Sammy yang sudah lama sekali mengubur h4sr4tnya tentu saja saat ini tubuhnya kembali berkobar. Padahal awalnya dia sama sekali tidak berniat mencium bibir istrinya, tapi bagaimana dia bisa menolak bibir peach yang sedikit terbuka itu. Melihat Rae menutup mata, semakin membuat Sammy berani bertindak. Kalau tidak sekarang dia pasti akan menyesalinya karena tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik untuk memperbaiki hubungan mereka.
Rae mengalungkan tangannya pada leher sang suami. Bukan hanya Sammy yang mulai merasa gerah. Perempuan itu pun merasakan perasaan yang tidak biasa. Jika dulu mereka melakukan hubungan suami-istri dengan pengaruh obat dan Rae samar mengingatnya. Sekarang mereka sungguh melakukan itu tanpa paksaan dan mungkin sudah dengan perasaan yang mungkin belum mereka sadari.
Ciuman mereka semakin intens, Sammy semakin erat memeluk pinggang istrinya dan menahan tengkuk wanita itu. Rasa manis, lembut dan hangat itu tidak ingin Sammy akhiri. Tubuhnya yang lain juga sudah bereaksi. Apabila saat teringat tubuh istrinya yang begitu menggoda meski sudah pernah melahirkan dan m€nyusui.
"Hah ... Sam ... hemmppp ...." Dahi Rae mengeluarkan keringat saat merasakan tangan suaminya menyusup ke dalam dress-nya. Laki-laki itu mengusap bagian kaki atasannya dengan sangat lembut. Demi Tuhan, saat ini pikiran Rae benar-benar kacau. Tubuhnya semakin memanas, dia menginginkan hal lebih dari suaminya.
Menyadari reaksi tubuh istrinya yang m€n€g4ng, Sammy pun menarik kembali tangannya. Dia juga melepaskan ciumannya. Dia tidak mau membuat istrinya takut dengan sentuhannya yang tiba-tiba sedangkan hubungan mereka baru saja membaik. Sammy takut karena perbuatannya yang buru-buru akan membuat hubungan mereka kembali renggang.
"Maaf, apa aku membuatmu terkejut?" tanya Sammy dengan lembut. Dia menempelkan keningnya pada kening sang istri yang saat ini wajahnya memerah.
"Hah ...." Hampir saja jantung Rae seperti ingin terlepas. Dia sangat berdebar saat Sammy mulai menyentuh permukaan kulitnya. Meski dia tidak menolak tapi ini termasuk pertama kali baginya melakukan hal itu secara sadar.
"Tidak, aku hanya sedikit terkejut saja." Semakin memerah wajahnya. Rae akui dia ingin merasakan sentuhan itu lagi tapi di situasi seperti ini dan tempatnya juga tidak memungkinkan.
"Seharusnya kau mendorongku jika tidak menginginkannya. Maaf, aku terlalu terburu-buru padahal kita baru saja lebih dekat. Aku akan menahan diri lain kali." Sammy begitu takut Rae akan menghindar lagi.
"Tidak, bukan begitu. Aku tidak membencinya. Sebenarnya aku juga menikmatinya tadi," ujar Rae sambil memalingkan wajahnya. Dia malu sekali mengakui hal seperti itu.
Apa Sammy tidak salah dengarkan, Rae tadi mengatakan kalau dia menikmatinya. Apa artinya dia juga menginginkan hal yang sama. Bukankah itu artinya Sammy bisa melakukan hal lebih.
Pria itu mengangkat dagu istrinya yang sedang malu-malu. Mata mereka bersitatap, menatap begitu dalam. "Kalau kau tidak menyukainya kau boleh mendorongku."
"Eh tunggu- hemmppp." Rae tidak bisa berkata-kata lagi saat bibirnya kembali dibungkam dengan bibir suaminya. Pria itu kembali merasakan manisnya bibir peach sang istri.
Rae membulatkan matanya, dia memang tidak membencinya tapi bukankah mereka sudah terlalu lama di ruangan itu. Bagaimana kalau putra mereka tiba-tiba masuk saat mereka sedang seperti ini.
"Tunggu Sam ... hah ... tunggu." Rae kehabisan nafas karena ciuman pria itu kali ini begitu menggebu-gebu.
"Maaf, aku sungguh tidak bisa mengontrol diriku. Apa kau tidak apa-apa." Sammy mengusap wajahnya kasar. Bagaimana dia bisa lepas kendali.
"Tidak, bukan itu tapi kita sudah terlalu lama di sini. Bagaimana kalau Felix masuk tiba-tiba."
"Ahh ya, aku hampir lupa. Putra kita juga ada di sini. Maaf ... aku terlalu tidak sabaran." Sammy merapikan rambut istrinya yang sedikit berantakan karena ulahnya.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita lihat Felix lebih dulu. Aku khawatir dia membuat karyawanmu kesulitan. Kau tau kan bagaimana putra kita," ujar Rae.
"Ya, dia selalu membuat orang-orang kerepotan. Tapi aku rasa karyawanku juga tidak akan protes karena putra kita sangat menggemaskan sepertimu," goda Sammy.
Rae tersenyum malu-malu, kenapa pria itu cepat sekali berubah jadi perayu ulung. "Bisa kau lepaskan tanganmu. Kalau begini bagaimana aku turun dari sini."
Tangan Sammy memang masih memeluk pinggangnya dengan erat. Mendengar permintaan sang istri, pria itu bukannya melepaskan malah semakin merapatkan tubuh mereka dengan menarik pinggang istrinya. Hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa centi.
Deg. Rae berdebar kencang mendapat tatapan dalam dari sang suami. Apalagi jarak mereka yang begitu dekat.
"Jadi, apa bisa kita mulai dari awal. Maukah kau memulai hubungan kita dari awal, kita saling membuka diri dan tidak membatasi diri lagi. Apa kau mau?" tanya Sammy tiba-tiba. Dia benar-benar tidak akan melewatkan kesempatan.
"Hah ... Bukankah memang seperti itu. Kalau tidak mana mungkin aku biarkan kamu menciumku," ujar Rae. Dia tidak bisa egois lagi. Meski selama ini mereka menjadi partner yang baik untuk putra mereka tapi mereka tidak pernah menunjukkan rasa kasih sayang diantara orang tua. Mereka hanya memberikan kasih sayang pada Felix tapi tidak pernah menunjukkan kalau mereka saling menyayangi. Rae tidak ingin putranya berpikir kalau orangtuanya tidak saling menyayangi.
"Terimakasih ... terimakasih sudah memberiku kesempatan. Aku pasti akan bisa membuktikan kalau aku bisa membuat kalian bahagia. Aku juga akan memberikan cinta yang berlimpah untuk kalian."
Rae membalas pelukan sang suami dan tersenyum. "Aku menunggunya. Berikan kami cinta seperti yang kamu katakan."
"Mommy ... Daddy ...." Klek. Felix berlari dan membuka pintu ruangan Sammy begitu saja. Untunglah posisi mereka sudah tidak seperti tadi.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu, di sini sedikit licin. Bagaimana kalau kau terjatuh." Sammy langsung menangkap putranya. Betapa takutnya dia melihat sang putra berlarian. Di restoran itu tentunya banyak minyak yang tidak sengaja terjatuh dan menyipret. Itu menyebabkan lantainya sedikit licin meski sudah berulang kali membersihkannya.
"Daddy, aku sudah kenyang memakan sayap ayam. Jadi aku lari-lari agar perutku tidak buncit." Ah anak itu entah mendapatkan pelajaran seperti itu dari mana. Dia tau saja kalau memakan makanan cepat saji akan membuat lemaknya bertumpuk.
"Jika kau ingin berolahraga, bilang pada Daddy. Kita akan pulang dan berolahraga di rumah."
"Benarkah? Daddy akan menemaniku kan?"
"Tentu saja. Mommy juga akan menemani. Iya kan, Sayang?" tanya Sammy pada istrinya.
Deg. Panggilan sayang itu begitu tiba-tiba. Membuat perempuan itu salah tingkah.
"Ahh iya, Mommy juga harus ikut. Horeeee ayo kita olahraga sama-sama."
"Ehh kenapa mommy harus ikut, Mommy kan tidak makan banyak sepertimu, nak." Rae pura-pura protes.
"Tidak apa-apa, Mommy juga harus rajin berolahraga agar Daddy tidak melihat wanita lain seperti tadi," ujar Felix. Rupanya dalam ingatan bocah itu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Sammy jadi merasa bersalah karena sudah membuat putranya salah paham padanya.
"Tidak boy, Daddy tidak pernah melihat wanita lain selain Mommy mu. Tidak ada wanita yang lebih cantik dari Mommy mu. Hanya Mommy mu yang ada di mata Daddy." Sammy meyakinkan putranya.
"Benarkah? Daddy tidak bohong kan?"
"Tentu saja nak. Daddy tidak berbohong."
Kedua laki-laki itu saling menautkan jari kelingking untuk berjanji jika hanya ada satu wanita dalam hidupnya. Yaitu Rae.
Rae begitu bahagia melihatnya. Pilihannya tidak salah mempertahankan pernikahannya. Dia yang dulu begitu egois dan arogant kini mengerti akan arti sebuah keluarga yang sesungguhnya.
...TAMAT...
Terimakasih yang sudah mau membaca cerita othor 🙏🙏🙏.
Akhir yang bahagia selalu ada di setiap cerita yang othor buat. Seperti apa yang kita inginkan selalu dalam hidup ini. Semoga kalian semua juga memiliki akhir yang bahagia dengan versi masing-masing.
Terimakasih. Salam hangat dari othor.
Jangan lupa baca juga cerita baru othor yang berjudul Tawaran Presdir Tiran. 👇
Ditunggu kehadirannya ya bestie 🤗🤗🤗.
Oh iya othor juga baru aja bikin grup chat. Yang berminat Monggo klik profil othor dan bergabung biar bisa berbincang hangat dengan othor.