My Arogant Wife

My Arogant Wife
30. Felix tumbuh gigi



Pagi itu mendadak rumah keluarga tuan William heboh. Bagaimana tidak, kalau sang cucu pertama yang merupakan calon pewaris perusahaan kakeknya yang sebentar lagi usianya menginjak satu tahun. Tiba-tiba saja demam tinggi. Seisi rumah dibuat panik karena bayi yang sedang lucu-lucunya itu terus menangis dan tidak mau diam. Saling menyalahkan, dengan apa yang terjadi.


Tentu saja semua orang bingung, bagaimana bisa bayi yang mempunyai beberapa suster sekaligus. Bayi yang mendapatkan begitu banyak kasih sayang dari kedua orangtuanya, kakek dan neneknya, beserta orang-orang disekelilingnya. Kenapa bisa sampai demam.


Saat dilanda kepanikan, semua orang menjadi tidak bisa berpikir jernih. Mereka lupa jika sehat dan sakit ada yang mengaturnya yaitu Sang Pencipta.


"Oee ... oee ... oee ...." Bayi kecil menggemaskan itu tak berhenti menangis. Dia hanya diam saat tertidur sebentar atau sedang m€nyusu. Makan pun tidak mau.


"Sayang, apa yang sakit. Mommy ada di sini. Kamu jangan menangis lagi ya." Sejak dini hari tadi suster membangunkannya. Rae tetap setia menemani putra semata wayangnya. Menggendong dan memeluk bayi kecil yang sedang demam itu. Bahkan Rae sama sekali tidak mau bergantian dengan suster yang menjaga putranya. Di saat seperti ini, rasanya dia begitu patah hati melihat sang putra menangis tanpa sebab.


"Biar aku yang menggendong Felix. Ini hampir siang dan kau belum sarapan sejak pagi," ujar Sammy. Dia juga sama, menemani dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Ah padahal dia sendiri pun belum makan. Melihat putranya sakit tentu itu membuat n4psu makannya hilang, ditambah melihat istrinya yang begitu sedih.


"Benar kata suamimu, sayang. Kau juga harus makan dan mengisi perutmu. Jangan sampai kau juga ikut sakit, nanti siapa yang akan menjaga Felix." Sora mengerti bagaimana perasaan putrinya yang beru pertama menghadapi anak yang sakit. Dia pun berusaha menenangkan sang putri.


Apa yang mereka katakan benar, kalau dia ikut sakit nanti Rae tidak bisa menjaga putranya.


"Baiklah, tapi aku akan makan di sini saja. Aku tidak ingin jauh dari Felix," ucap Rae yang masih menggendong sang putra.


Sammy, Sora dan William lega karena Rae mau makan juga. Sora segera menyuruh pelayan untuk membawakan makanan untuk Rae dan menantunya. Ya, Sora tau kalau menantunya juga belum makan.


"Sini berikan Felix pada Oma. Kalian makanlah dulu," perintah Sora.


Otomatis Rae menatap suaminya. Ternyata pria itu juga belum makan. Dia menyodorkan sebuah suapan makanan ke depan mulut suaminya yang sudah tidak menggendong Felix.


"A--aku ambil sendiri saja." Sammy menolak suapan dari istrinya. Di sana banyak orang yang melihat, dia merasa tidak enak.


"Sudah tidak apa-apa. cepatlah aaa ...." Rae tetap menyodorkan sendok yang ia pegang.


Sora dan William senang melihat mereka begitu kompak. Walaupun mereka khawatir pada cucu kesayangannya tapi melihat bagaimana kompaknya Rae dan Sammy merawat sang anak menjadi kelegaan tersendiri. Ya, nyatanya mereka sadar akan hubungan anak-anak mereka yang tampaknya tidak baik-baik saja. Meski tidak ada pertengkaran tapi juga tidak begitu dekat seperti Sora dan William.


Akhirnya Sammy menerima suapan demi suapan dari istrinya. Kata wanita itu agar lebih cepat dan lebih berselera makannya. Terbukti mereka menghabiskan cukup banyak nasi dalam satu piring berdua.


Untunglah drama baby Felix yang rewel karena demam berakhir setelah dua hari. Bayi menggemaskan itu sudah kembali ceria saat sesuatu terlihat keluar dari dalam persembunyiannya. Ya ternyata gigi pertama baby Felix telah tumbuh. Ukurannya masih sangat kecil karena baru saja keluar dari dalam gusi. Setelah berkonsultasi pada dokter itu hal yang wajar anak demam saat tumbuh gigi, sebenarnya ada satu pertanda lagi yaitu dia akan sering menggertakkan gusinya saat m€nyusu. Benar, beberapa kali Rae harus menjadi korban saat bayi itu sedang mengasi.


"Aaa ... sayang. Kau menggigit Mommy lagi nak?" pekik Rae saat sang putra kembali membuatnya meringis menahan sakit. Meski begitu Rae sama sekali tidak berniat berhenti mengasihi hanya karena hal itu. Baginya itu adalah proses dimana putranya tumbuh dan tidak ingin kehilangan momen penting itu. Baby Felix hanya menggunakan botol saat Rae pergi bekerja, selain itu Rae akan mengasihi secara langsung meski sedang lelah sekalipun.


"Anak Daddy kenapa nakal sekali sekarang. Kau membuat Mommy mu kesakitan lagi," ujar Sammy yang ada di sebelah sang istri.


Lihatlah bayi laki-laki itu, dia tersenyum saat orangtua mereka tampak kompak. Dia tergelak saat Sammy menggodanya dengan menciumi perutnya.


"Ahaaa haaa pa ... paa ...."


Sammy dan Rae terkejut mendengar putra mereka mengeluarkan sebuah kata yang terdengar seperti kata 'Papa'.


Namun sayangnya, si kecil Felix tidak mengeluarkan kata itu lagi.


"Selamat kata pertama yang keluar darinya adalah Papa." Rae pun yakin kalau dia mendengar hal itu.


"Kau juga mendengarnya tadi? Jadi benar kalau dia bilang Papa." Sammy sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Putranya sungguh memiliki banyak kejutan setelah demam dua hari kemarin.


...


Lima tahun kemudian.


Tahun ini baby Felix berusia 6 tahun. Dia sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Di usianya yang baru akan menginjak enam tahun ini, dia lebih pintar dari teman sebayanya. Anak itu sudah bisa menjawab pertanyaan anak sekolah dasar. Tapi Rae dan Sammy sepakat tidak akan terlalu memforsir anak mereka, jadi Felix dibiarkan tetap ada di taman kanak-kanak agar menikmati masa kecilnya bersama teman-temannya.


Hubungan Rae dan Sammy lebih baik dari tahun ke tahun. Mereka seperti teman yang baik, partner yang baik dalam mengurus anak mereka. Mengenai hubungan suami-istri, mereka biarkan saja mengalir seperti air. Namun jika berurusan dengan sang putra maka mereka akan sangat kompak.


"Sayang, sebenar lagi kau ulang tahun. Apa ada yang kau inginkan?" tanya Rae pada sang putra yang baru saja ia jemput di sekolahnya.


Anak itu menggeleng, dia sudah punya semuanya. Tidak ingin apa-apa lagi. Yang dia inginkan adalah komputer canggih untuk bermain game tapi sang mommy tidak akan mengabulkan hal itu.


"Benarkah tidak ada?"


"Mommy tau apa yang aku inginkan. Jadi tidak usah bertanya."


Hah, jika itu orang lain pasti akan terkejut jika berbicara pada Felix yang seperti sudah dewasa.


"Apapun itu, kau mau minta mainan apapun pasti Mommy akan belikan tapi tidak dengan komputer. Nikmatilah masa anak-anak kamu nak, Mommy akan memberikannya nanti setelah kamu lulus sekolah dasar."


"Huft, sekarang pun aku bisa menyelesaikan soal ujian kelas enam tapi Mommy selalu menyuruhku untuk bersekolah sesuai umurku. Itu membosankan Mom."


Rae tersenyum melihat putranya protes. Tampak lucu. Dia hanya tidak ingin putranya kehilangan masa-masa kanak-kanaknya yang tidak akan mungkin terulang kembali.


"Pikirkanlah kau mau apa. Ohh ya apa kau mau mampir ke tempat Daddy?" ujar Rae lagi.


"Ayo Mom, aku juga ingin melihat Daddy."


Sammy telah mewujudkan impiannya, dia membuka bisnisnya sendiri. Dia mendirikan sebuah restoran yang awalnya kecil tapi dia berhasil mengembangkannya hanya dalam setahun. Kini restoran itu sudah besar dan menjadi salah satu restoran yang paling diburu di kota itu.


"Itu kan Daddy, Mom. Sedang dengan siapa dia?" tanya Felix melihat ke arah ayahnya yang sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik.


Rae tidak berkomentar. "Ayo kita pulang, lain kali saja kita ke sini," ajak Rae. Namun sayangnya, Felix telah mendekat pada sang ayah tanpa sepengetahuan Rae.


"Daddy ...."